
...Maaf atas keterlambatanku menyadari Sepenting itu hadirmu.'...
..._Alindya Sheila Putri_...
"Besok gue sibuk." Ucap seseorang dari seberang sana.
Begitu kiranya kalimat terakhir yang Alindya dengar.
Pemilik suara itu sudah pasti cowok bernama lengkap Reynladi Pratama. Ini adalah hari ke-8 Alindya berada di kota ini. Masih sekitar 6 hari lagi ia menetap sebelum akhirnya harus kembali ke kota pelajar. Hari kedelapan ini juga Alindya tidak bertemu Reynaldi. Padahal Rey tahu dengan pasti berapa lama Alindya akan berada di sini.
Terakhir kali mereka bertemu ketika Alindya sampai untuk pertama kalinya di kota ini. Hari-hari berikutnya Rey jarang sekali memberi kabar atau bahkan menemuinya secara langsung. Alasannya pasti selalu merujuk pada kegiatan studinya.
Alindya mencoba memaklumi semua kesibukan Rey. Tetapi lama-kelamaan Alindya akui ia mulai egois karena terus-menerus menginginkan waktu Rey. Meskipun hasilnya selalu nihil dan berujung penolakan. Alindya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Rey sebelum akhirnya kembali ada jarak diantara mereka. Tetapi mungkin memang benar, sesuatu yang dipaksakan apalagi oleh satu pihak pasti akan selalu berakhir menyakitkan.
Alindya bingung jika bersama teman-teman kuliahnya, Rey selalu bisa menyempatkan waktu untuk berkumpul. Tetapi jika dengan ia sendiri selalu ada ribuan alasan yang seakan tidak pernah habis adanya.
Sebenarnya Alindya sudah mengetahui perihal satu cewek yang mungkin sudah mengisi hati kekasihnya itu. Satu cewek yang mungkin lebih baik dari dirinya. Satu cewek yang jika mungkin Rey mau berucap jujur, Alindya akan dengan senang hati melepasnya. Bukankah sedari awal Alindya sudah berpegang teguh bahwa jika memang posisinya sudah terganti. Ia akan dengan sukarela keluar dan pergi. Menjauh dan hilang agar tidak banyak orang yang nantinya akan terluka.
Hanya menunggu waktu, hanya menanti lara, dan hanya menjeda rasa kecewa. Apapun yang semesta tuliskan untuknya. Alindya yakin itu yang terbaik bagi ia dan Reynaldi. Jika terus seperti ini akan ada banyak yang terluka. Alindya terluka karena ia seakan menghambat kebahagiaan Reynladi dan cewek idamannya kini. Cewek itu pun mungkin terluka karena tidak kunjung mendapat kepastian. Reynladi juga akan lebih terluka karena ia melukai dua hati sekaligus, mungkin.
Terluka dan melukai adalah hukum alam yang pasti terjadi pada kehidupan setiap insan.
Alindya baru menyadari bahwa di dunia ini tidak ada tawa tanpa jeda. Justru yang ada adalah harga yang harus dibayar untuk setiap tawa yang tercipta. Keteguhan hati mulai ia bangun meskipun entah ia akan sanggup atau sebaliknya.
**
Perlahan Alindya mulai merasa bosan ia memutuskan untuk bermain gadgetnya. Jari jemarinya dengan lincah menekan satu demi satu pengalih perhatiannya. Bosannya mulai teralihkan dengan tawa hingga akhirnya 'Deggg'. Hatinya pilu melihat satu foto yang kini berada tepat di layar gadgetnya.
Satu foto yang mampu meloloskan satu butiran bening dari kelopak matanya. Perih, adalah ungkapan yang paling mewakili perasaannya saat ini.
"Gue kira elo benaran sibuk Rey." Monolog Alindya sembari menyeka butiran bening di matanya.
"Sepatu itu ..." Ucapnya lagi.
Alindya kembali menutup gadgetnya. Foto itu berhasil membuat mood Alindya seketika down. Foto Reynladi bersama cewek yang bisa dibilang sudah familiar bagi Alindya sendiri. Cewek yang sama dengan beberapa foto yang Alindya dapatkan dari teman- temannya yang satu fakultas dengan Reynladi. Cewek yang berhasil membuat Rey mengalihkan fokusnya dari Alindya.
**
Malam harinya, Alindya dikejutkan oleh kedatangan Rey.
"Mukanya kaya enggak suka gitu gue datang Lin." Ucap Rey.
"Perasaan elo doank kali." Ujar Alindya.
"Ini gue bawain makanan kesukaan elo Lin." Ucapnya sembari memberikan bingkisan kepada Alindya.
"Thanks ya Rey, btw tumben pakai sepatu itu?"
"Iya soalnya kan mau ketemu elo."
"Katanya sayang masih baru sepatunya."
"Lebih sayang lagi kalau enggak dipakai. Ini kan hadiah anniversary 3 tahun dari elo Lin."
"Perdana dipakai ceritanya?" Goda Alindya.
Rey hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
"Oh gitu." Ucap Alindya.
25 Mei 2020,
Dua hari kemudian, Alindya berinisiatif datang ke rumah Reynladi. Seperti biasa Rey tidak tahu perihal rencana Alindya ini. Setibanya di rumah Rey Alindya bertemu Papa Reynadi. Beliau menyambut Alindya dengan sangat ramah. Selang beberapa menit Rey keluar dari kamarnya.
"Cie udah akrab sama camer." Goda Reynaldi.
"Apa sih Rey, gue kan sering ke sini ya pasti papa elo tahu gue lah."
Ketika asyik berbincang tiba-tiba dering telpon Rey mengalihkan fokus mereka.
"Mama gue, bentar ya Lin."
"Ok."
_________
Reynaldi Pratama
Iya ma kenapa?
^^^Ibu Desti Pratama^^^
^^^Ada Alindya di rumah nak?^^^
Reynaldi Pratama
Iya ma ada
^^^Ibu Desti Pratama^^^
^^^Iya udah kalau gitu mama cuma mau mastiin aja^^^
Reynaldi Pratama
Iya ma
^^^Ibu Desti Pratama^^^
^^^Jaga dia baik-baik nak jarang loh ada sahabat sebaik Alindya.^^^
Reynaldi Pratama
Iya ma, udah dulu ma Rey tutup telponnya.
____________
"SAHABAT???" Ujar Alindya di dalam hati.
__ADS_1
Setelah menutup gadgetnya Rey kembali duduk di samping Alindya.
Untuk beberapa waktu keheningan menyelimuti keduanya. Alindya sangat penasaran perihal pernyataan mama Reynaldi tadi. Apa mungkin selama ini Reynaldi menyembunyikan status mereka. Hingga akhirnya Alindya mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertanya secara langsung kepada Rey.
"Rey maaf kalau boleh tahu 3 tahun ini mama papa elo tahunya gue apanya elo?"
Reynaldi diam untuk beberapa saat hingga akhirnya ia kembali bersuara.
"Iya Lin maaf gue belum berani ngasih tau mama papa kalau elo cewek gue."
"Maksudnya tiga tahun ini mereka tahunya gue sahabat elo?"
"Iya Lin, Sekali lagi maaf. Mama enggak mau gue pacaran dulu sampai lulus kuliah. Dia mau gue fokus belajar. Makannya gue bilang elo sahabat gue."
"Elo malu punya gue?"
"Enggak gitu Lin. Sekali lagi maaf."
"Enggak papa lupain aja." Ucap Alindya sembari tersenyum penuh arti.
...'Aku hanya bagian dari perjalanannya bukan tujuannya.'...
..._Alindya Sheila Puteri_...
Tiba di mana hari itu datang. Hari yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan ia alami. Terlalu banyak cela dalam hubungan yang dengan kuat ingin ia pertahankan. Katanya satu cinta untuk dua orang itu cukup. Tapi ternyata, tidak pernah ada kata cukup jika itu hanya dari satu pihak yang berjuang. Kenyataannya berjuang sendirian itu lebih dari kata menyakitkan.
Yah, kebenaran itu mulai terungkap. Pada akhirnya ia melepaskan genggamanya. Pada akhirnya ia jatuh ke jurang sendirian. Terlalu dalam, sampai tidak ada secercah cahaya yang mampu menyapanya. Kebenaran itu memang menyakitkan, tetapi jauh lebih baik dari pada kepalsuan yang terus menyelimuti.
Cewek itu, pemilik seutuhnya atau memang dari awal Alindya yang sudah terhapus. Terhapus dari tempat di mana dulu hanya ia pemilik tahtanya. Alindya menyadari bahwa kehadiran ia mungkin terlalu lama tidak terlihat. Celah terbesarnya jarak atau mungkin memang sedari awal ia yang terlalu berharap. Bukankah Rey pernah berkata ia tidak sanggup tanpa adanya pertemuan dalam sebuah hubungan?
Bukan salah siapa tapi mungkin takdirnya yang begitu tercipta.
Lara kini menjadi teman sunyinya yang abadi. Ia pun hanya bisa bertaruh dengan waktu. Tentang siapa yang akan lupa dan siapa yang akan selamanya membawa luka.
Yang paling membekas dalam ingatan Alindya adalah penolakan. Yah, untuk pertama kalinya dalam hidup Alindya ia ditolak tanpa adanya sebuah pertemuan dari si penolak. Benar adanya Alindya memang sedari awal tidak disukai oleh Ibu Reynaldi. Alasannya sudah pasti karena Alindya hanya gadis biasa. Gadis dari keturunan yang tidak sesukses keluarga Pratama. Belum lagi Alindya hanya lulusan Sekolah Menengah Atas.
Alindya hanya berusaha meskipun pada akhirnya ia harus mengakui kekalahannya. Pada akhirnya ia harus mundur dan menyerah pada semesta.
______________
In Call
Ibu Desti Pratama
Hallo
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Hallo, maaf ini siapa?^^^
Ibu Desti Pratama
Ini mamanya Rey nak Alindya
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
Ibu Desti Pratama
Tante dengar kamu bukan hanya sahabatan dengan anak Tante?
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^I..Iya, maaf Tante.^^^
Ibu Desti Pratama
Tante enggak masalah, tapi kamu tahu kan keadaan keluarga Tante gimana?
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Tahu Tante.^^^
Ibu Desti Pratama
Sebenarnya banyak sih teman-teman Tante yang mau jodohin anaknya. Tapi karena Rey maunya sama kamu apa boleh buat.
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Maksudnya Tante?^^^
Ibu Desti Pratama
Intinya jangan ganggu kuliah anak tante. Tante juga dengar kamu sering berantem gara-gara anak tante banyak teman cewek di kampusnya.
^^^Alindya Sheila Puteri ^^^
^^^Alindya enggak maksud gitu tante.^^^
Ibu Desti Pratama
Kalian masih pacaran, jadi kalau anak tante mau milih yang lain enggak papa. Kan harus milih yang terbaik.
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Iya Tante Alindya tahu itu.^^^
______________
Sepenggal percakapan yang masih Alindya ingat dengan jelas. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Ibu Reynaldi. Alindya memang sekalipun tidak pernah bertemu Ibu Rey. Karena jika Alindya ke rumah Rey, pasti hanya ada papa dan adik lelakinya saja.
Tetapi entah mengapa Ibu Reynaldi seakan menolak Alindya. Yang Alindya tidak habis fikir lagi mengapa Rey selalu mengadu pada ibunya jika mereka bertengkar. Karena pasti Ibu Reynaldi akan langsung menelpon Alindya dan menyuruh Alindya untuk meminta maaf. Walaupun objek pertengkaran Alindya dan Rey selalu berporos pada sikap Reynaldi sendiri.
Benar adanya sekuat apapun kita menggenggam hati seseorang pasti akan terlepas juga. Karena sejatinya ia akan tetap tinggal jika itu karena keinginannya bukan paksaan.
16 Juni 2020,
_________
__ADS_1
Reynaldi Pratama
Lin ...
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Kenapa Rey?^^^
Reynaldi Pratama
Maaf Lin
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Maaf buat apa?^^^
Reynaldi Pratama
Maaf elo cari cowok lain aja di sana. Maaf hati gue enggak di elo lagi. Gue juga takut elo direndahin keluarga gue Lin. Kita udah enggak Sederat lagi.
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Maksudnya??^^^
Reynaldi Pratama
Gue yakin elo faham Lin
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Elo mutusin gue lewat chat??^^^
Reynaldi pratama
Sekali lagi maaf
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Tapi Rey gue salah apa??^^^
Reynaldi pratama
Elo enggak salah
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Apa karena gue banyak kekurangan ?^^^
Reynladi Pratama
Enggak
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Tapi ...^^^
Reynaldi Pratama
Gue ijin unfriend semua akun sosmed elo Lin
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Semua?^^^
Reynaldi Pratama
Iya, semoga elo dapat yang lebih baik dari gue. Semoga elo enggak nangis lagi dan selalu bahagia.
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Rey elo kenapa sih ko tiba-tiba gini?^^^
Reynaldi Pratama
........
___________________
Pesan terakhir yang Alindya terima dari sosok yang ia kagumi. Sebelum akhirnya sosok itu hilang bersama waktu dan segala kenangannya. Akhir kisah yang tidak pernah Alindya bayangkan sebelumnya. Di mana ia diterbangkan oleh harapan dan dipatahkan oleh janji yang diucapkan.
Cinta pertama itu memang indah, sama seperti kata yang diucapkan oleh para pujangga. Tetapi cinta pertama yang berakhir tidak sesuai harapan. Rasanya sama seperti mendayu sendirian di tengah lautan, kehilangan arah dan tujuan.
"Gue udah lakuin permintaan elo. Jadi cepat pulang, gue butuh elo." Monolog Alindya penuh arti.
( Di lain tempat )
"Elo gila ya Boy!!" Suara lantang seseorang dari balik pintu.
Rey beranjak dari tempat ia duduk dengan santainya. Ia kini tengah berada di markas kesayangannya. Fokusnya kemudian tertuju ke arah di mana suara itu tercipta. Sedangkan lawan bicaranya kini mulai memasang netra elangnya. Rey tidak bergeming sedikitpun. Anak-anak anggota dedrick lainnya hanya diam memperhatikan.
"Elo kenapa?" Tanya Arjun mulai membuka suaranya.
"Elo gila boy!!" Ucapnya semakin membara untuk kedua kalinya.
"Yang jelas kalau ngomong!" Ucap Reynaldi mulai naik pitam.
"Elo tahu sesulit apa dulu gue ngelepas dia buat elo. Tapi sekarang elo ngebuang dia gitu aja. Enggak punya hati elo boy." Ujar Javas penuh penekanan.
"Elo suka sama dia?" Ucap Rey.
"Iya gue suka dan gue ngelepas dia karena gue yakin elo bisa bahagiain dia. Tapi gue salah, elo selamanya memang cowok ber*ngs*k boy." Ujar Javas.
"Gue benar-benar enggak bisa ngatur hati gue Jav." Ucap Rey kembali naik pitam.
"Gue nyesel kenal elo." Ucap Javas penuh amarah kemudian ia berlalu pergi sembari membuang jaket bertuliskan 'DEDRICK' di hadapan Reynaldi dan yang lainnya.
"Jav elo mau kemana!" Teriak Arjune mula memahami situasi menegangkan di antara dua sahabatnya.
__ADS_1
Dengan sigap Arjune mengambil jaket sahabatnya itu. Kemudian ia menatap ke arah Javas yang mulai berlalu. Ia berbalik dan menghadap Reynaldi sembari menatap Rey penuh arti.