PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
22. Heart Necklace


__ADS_3

...Dalam diamku terselip kagum tanpa cela...


...Tawamu bahkan jadi penawar hati nan gunda...


...Kadang bersamamu ada rasa tak percaya...


...Bersamamu jua bagai hayal tak berujung nyata...


...Ada harap tak bertepi terus terpupuk adanya...


...Ada ragu yang kecewa menjadi akhir pelabuhannya...


...Lewat syair sederhana ku ungkapkan isi hati yang terpana...


...Lewat bait penuh aksara ku curahkan sepenuh raga...


...Mencintaimu sederhana adanya...


...Memilikimu jadi kasta tertinggi letaknya...


...Titaku pada Tuhan sang pemilik semesta...


...Jadikan bahagia sebagai akhir cerita kita.'...


..._Alindya Sheila Puteri_...


Bunyi bel tanda istirahat membuyarkan fokus Alindya. Dengan sigap ia mengambil buku serta bolpoin kemudian beranjak. Seperti biasa, waktu istirahatnya ia gunakan untuk berkunjung ke tempat favoritnya. Perpustakaan? Sudah pasti tentunya, hari ini ia berniat untuk menyelesaikan semua tugas yang dibebankan padanya. Tugas apalagi kalau bukan dari club yang ia naungi, club matematika.


Alindya sudah sarapan di rumah bersama bunda dan ayahnya. Jadi ia tidak perlu repot-repot pergi ke kantin. Kalaupun ia ingin pasti di sana ia hanya membeli air mineral saja. Alindya mengambil beberapa buku dari rak yang berada tidak jauh dari radarnya. Sesekali ia melirik jam yang bertengger manis di tangan kirinya. Memastikan ia tidak ketinggalan jam pelajaran berikutnya.


Hampir semua teman Alindya pasti tahu kebiasaan ia ketika mengerjakan soal. Sekalipun namanya dipanggil berkali-kali. Alindya pasti tidak akan menyahutinya. Alasannya karena ia terlalu fokus pada soal yang ia kerjakan. Ia juga tipikal orang yang bisa fokus hanya saat keadaan sekitar hening. Ketika suasana ramai Alindya bisa dibilang tidak akan maksimal mengerjalan setiap tugasnya.


Tapi, Alindya ini tipikal orang yang juga tidak terlalu pelit perihal berbagi kunci jawaban. Bagi Alindya asalkan temannya tidak mengganggu konsentrasinya ketika mengerjakan. Ia akan dengan sukarela membaginya setelah itu. Kecuali ketika ujian akhir semester, Alindya pasti tidak akan melayani kunci jawaban gratis pada teman-temannya.


Hal lain yang membuat Alindya mudah mendapatkan banyak teman dan dihargai oleh orang sekitarnya. Tentu karena Alindya adalah anak yang selalu bisa menjadi pendengar dan penasehat yang baik di waktu bersamaan.


Kembali lagi pada kegiatannya kali ini di perpustakaan. Alindya mengerjakan soal demi soal tanpa kendala. Hingga waktu menunjukan 10 menit lagi sebelum jam berikutnya dimulai. Alindya memutuskan untuk mencari keberadaan Rey guna memberitahunya bahwa sepulang sekolah nanti ia ingin memberikannya sesuatu.


Satu minggu sebelumnya, saat Alindya tengah berkunjung ke mall bersama bunda dan ayahnya. Tanpa sengaja ia melihat sepasang Heart Necklace yang sangat elegan. Ia ingat bahwa sebentar lagi adalah hari Ujian Akhir Semester. Alindya berniat memberikan sebuah hadiah untuk Rey. Agar ia bisa semangat mengerjakan ujian di hari-hari berikutnya.


Ketika orang yang hendak ia cari berada tepat di hadapannya. Dengan segera Alindya menghampiri Reynaldi saat itu yang tengah bermain bola voli bersama teman-temannya.


"Rey!" panggil Alindya dari kejauhan.


"Boy dicariin Eneng." Celetuk Arjune.


Rey sontak menoleh ketempat di mana Alindya berdiri. Ia tersenyum kemudian berlari kecil menghampiri Alindya.


"Kenapa Lin?" ujar Rey masih dengan senyum di wajahnya.


"Pulang nanti tungguin ya?"


"Pasti gue tungguin atuh." Jawab Rey sembari mengacak-acak rambut Alindya gemas.


"Ok deh klo gitu gue balik ke kelas dulu ya a."


"Cie sekarang udah berani nyamperin gue pas banyak orang." Goda Rey.


"Apaan sih orang cuman berempat doank."


"Biasanya juga enggak berani terus ngumpet-ngumpet pas mau manggil."


"Tahu ahh mau balik ke kelas dulu." Ucap Alindya sembari melangkahkan kakinya begitu saja tanpa memperdulikan Rey.


"Ngambek ini ceritanya???" tanya Rey sembari menahan tawanya.


"Enggak, mau ke kelas beneran atuh." Ucap Alindya dari kejauhan.


Rey hanya tersenyum dan terus memandangi Alindya Dari kejauhan.


Arjune dengan jahilnya melempar bola voli ke arah Rey. Rey yang sedang tidak siap dengan lemparan itu pun terkejut.


"Enggak sengaja maaf boy." Ujar Arjune berbohong.

__ADS_1


Rey dengan sigap mengambil bola voli yang berada tidak jauh dari tempat ia berdiri. Smirik terlukis begitu saja di bibirnya. Ia kemudian berjalan mendekati Arjune. Arjun yang tahu ada gelagat balas dendam dari Rey pun berlari dengan spontan.


Terjadilah drama saling kejar di lapangan itu.


Javas hanya tertawa terbahak-bahak di tepi lapangan. Mengejek Arjune dari kejauhan sembari sesekali melempar bola voli lain yang berada di dekatnya, yah meskipun tidak berarah.


Sepulang sekolah,


Alindya tengah menaiki anak tangga guna menuju tempat Rey berada. Tadi saat Alindya tengah merapikan buku-buku nya ke dalam tas. Freya memberitahu bahwa Rey sedang menunggu dirinya. Tepatnya di lantai 2 dekat LAB Komputer. Dengan segera Alindya pun beranjak, dihiasi senyuman manis yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.


Ketika melihat seseorang yang dicarinya berada tepat di hadapannya Alindya pun kembali tersenyum.


"Bahagia banget keliatannya." Ujar Rey sembari menarik tangan Alindya.


"Harus donk masa iya sedih terus."


"Iya deh iya."


"Javas sama Arjune kemana? Tumben enggak ngekor ke Aa."


"Lagi kumpul sama anak-anak paskib."


"Aa enggak ikut kumpul?"


"Enggak males, lagian kan udah ada janji sama elo Lin."


"Iya juga sih." Ucap Alindya sembari tersenyum.


"Ayu pulang." Ajak Rey.


"Ehh tunggu, ini buat Aa." Ucap Alindya sembari menyodorkan sebuah kotak hitam ke arah Rey.


"Apa ini??" tanya Rey sembari membuka kotak tersebut.


"Waktu jalan-jalan ke mall bareng bunda sama ayah enggak sengaja lihat ini. Cute gitu jadi gue beli." Ujar Alindya.


"Tapi gue enggak biasa makai kalung Lin." Ucap Rey jujur.


Rey hanya mengangguk dan dengan seketika wajah Alindya berubah sedih.


"Tapi kalau gue simpen di dompet gue boleh kan?" tanya Rey.


"Emmm boleh deh, tapi beneran di simpen kan?" tanya Alindya.


"Iya atuh. Tapi ini bukannya couple ya?"


"Iya, ini satunya." Ucap Alindya sembari memperlihatkan kalung yang ia pakai.


"Makasih ya." Ucap Rey sembari tersenyum.


"Sama-sama."


"Mau langsung pulang atau gimana?" tanya Rey dengan lembut.


"Makan dulu gimana? Bunda sama ayah lagi enggak di rumah. Males kalau makan sendiri."


"Ok deh kita makan dulu." Ucap Rey.


Mereka akhirnya berjalan berdampingan menuju parkiran sekolah. Seperti biasa Rey memakaikan helm di kepala Alindya. Karena cuaca sedang dingin dan Alindya tidak membawa jaket. Alhasil Rey menyerahkan jaket yang ia kenakan kepada Alindya. Alindya sempat menolak tetapi karena Rey terus memaksa, ia pun memilih memakainya.


Mereka berdua kemudian berlalu meninggalkan halaman sekolahnya itu.


"Gue masih belum relaiin elo Lin." Ucap seseorang lirih dari kejauhan.


***


Desiran ombak menemani Alindya yang tengah duduk tepat di tepi pantai. Semburan sang senja mulai tampak di atas cakrawala dengan eloknya. Burung-burung camar bersorak riang kesana kemari menghiasi. Ada rasa tenang yang hadir dalam diri Alindya. Penat dan bosannya kini hilang bersama desiran ombak yang kembali ke tengah lautan.


Dengan dua tangan yang dipenuhi camilan dan minuman. Rey berlari kecil ke arah Alindya. Jaket navi bertengger di salah satu bahunya. Senyuman terlukis begitu kentara saat cowok itu memanggil nama Alindya dengan penuh kasih.


Sekarang adalah libur semester. Hari ini Alindya dan Rey memutuskan untuk melihat senja di pantai dekat daerahnya. Tentu saja harus melewati banyak drama dengan kedua orang tua Alindya. Yang notabenya sangat menjaga putri kesayangannya itu. Tapi dengan penuh kesungguhan untuk meyakinkan kedua orang tua Alindya itu. Rey akhirnya mendapat izin membawa Alindya keluar sampai pukul 21.00 malam.


Alindya memang tidak pernah diizinkan keluar di malam hari kecuali dengan keluarga dan sahabatnya, Alfarezi Kavindra. Selain itu jam malam Alindya meskipun bersama Alfa, hanya sampai pada pukul 21.00 malam. Sama seperti yang dibebankan pada Rey saat ini.

__ADS_1


Alindya meraih camilan dan minuman yang berada di tangan Rey. Mengajaknya duduk sembari menikmati semburan senja yang indah itu.


"Lin kenapa sih pesen minumannya harus ini?" Protes Rey sembari menunjuk salah satu minuman.


"Cappucino? Emang kenapa atuh?" Tanya Alindya yang mulai kebingungan.


"Enggak papa sih, cuman gue enggak suka minuman itu." Jawab Rey.


"Aa enggak suka cappucino?" tanya Alindya.


"Emmm." Jawab Rey singkat.


"Udah pernah coba sebelumnya atau emang punya alergi a?" tanya Alindya mulai penasaran.


"Udah pernah coba, enggak suka aja sama rasanya."


"Mau coba lagi??"


" Enggak mau."


"Dikit aja, please."


"Dikit aja ya." Ucap Rey sembari mengambil minuman tersebut dan mulai mencoba rasanya kembali.


"Anak baik." Ucap Alindya sembari tersenyum dan membelai rambut Rey dengan lembut.


Sejak kejadian itu Rey yang awalnya tidak suka cappucino jadi penganggum berat minuman tersebut. Setiap kali mereka jalan entah ke mall ataupun pantai. Pasti Rey akan memesan minuman yang sama dengan Alindya, Cappucino.


Satu lagi yang tidak disukai oleh Reynaldi yaitu mie instan kemasan cup. Ini dikarenakan dulu Rey sempat mabok perjalanan dan saat itu ia tengah memakan makanan satu ini. Jadi kalian pasti tahu donk lanjutan ceritanya bagaimana?? Nah, itu alasan kenapa Rey malah mual dan memilih menjauh jika melihat mie instan kemasan cup.


Ia terus mengingat momen itu, jujur Alindya tertawa saat Rey menceritakan hal itu. Terlalu sepele dan kekanak-kanakan menurut Alindya, tetapi ia berusaha memahaminya.


Sekarang ketika rey berkunjung ke rumah Alindya. Ia pasti akan meminta minuman itu kepada Alindya, capuccino. Untung saja Alindya memang suka sekali dengan minuman cappucino dan juga cokelat. Jadi bunda Alindya memiliki banyak stok di dapur mereka.


Rey datang sembari membawa salah satu camilan kesukaan Alindya, martabak telor.


Mereka berniat merayakan ulang tahun Rey di rumah Alindya. Hanya berdua menghabiskan waktu berharganya itu. Sebenarnya ulang tahu Rey tepat pada tanggal 16 Desember dan itu jatuh pada esok hari. Tetapi alindya memiliki acara pada hari itu. Alhasil mereka merayakannya saat ini.


Alindya menyiapkan sebuah kado untuk Rey. Kado yang hanya ia dan Rey yang tahu isi dan maknanya.


"Makasih yang Lin buat kadonya." Ujar Rey.


"Sama-sama atuh." Ucap Alindya.


Alindya sungguh bahagia saat ini. Meskipun tidak ia pungkiri ketika dirinya bersama Rey. Waktu bersama teman-temannya pun berkurang. Ini sudah pasti karena hampir setiap hari Alindya menghabiskan waktunya bersama Rey.


Sejak bersama Rey juga teman laki-laki Alindya jarang sekali bisa dekat dengannya. Meskipun itu hanya sebatas mengerjakan tugas sekolah. Alindya memilih mengerjakan tugas kelompoknya sendiri. Meskipun teman-teman Alindya tahu itu merepotkan diri Alindya. Tetapi mereka juga faham akan watak Reynaldi. Tanpa Rey sadari ia mengekang Alindya sedikit demi sedikit. Sejujurnya Alindya menyadari hal itu. Hanya saja sulit untuk lepas dari cowok satu ini.


Ada banyak hal yang semakin Alindya mencoba masuk ke dunia Rey. Justru dirinya semakin dibuat takut akan banyak hal. Rey itu tipikal cowok yang humble pada semua cewek. Meskipun berkali-kali Alindya menegurnya. Rey selalu beralasan bahwa itu hanya sekedar bergaul seperti biasanya.


Bahkan Freya yang notabenya sepupu Rey sama sekali tidak menyetujui keputusan Alindya untuk bersama Rey. Tapi Alindya berfikir itu hanyalah firasat belaka. Alindya belum menemukan fakta dan bukti tentang kebenaran sosok Rey ini. Banyak teman-temannya yang tahu seberapa tidak baiknya sosok Rey.


Alindya berusaha mempercayai Rey demi janjinya pada seseorang. Keputusan sudah diambil dan Alindya enggan untuk berbalik kembali. Hanya satu inginnya yang terbilang berlebihan. Alindya ingin Rey jadi yang pertama dan pastinya terakhir untuknya.


Alindya tahu bahwa ia adalah cewek ke-11 yang pernah singgah di hati Rey. Alindya percaya fakta satu itu dan bisa dibilang Alindya hafal siapa saja cewek-cewek itu.


Kembali lagi pada janjinya dahulu, ia sungguh ingin menepati itu semua. Alindya tahu hanya dia yang selalu menganggap Rey sebagai prioritas. Rey sendiri tidak melakukan hal yang sebaliknya. Berbanding terbalik? Yah, Alindya sungguh dapat memahami itu sepenuhnya.


Cinta itu buta Atau Memang janjinya yang terlalu ia pegang dengan erat itu. Janji yang mungkin suatu hari nanti akan mengarahkan belati ke arah dirinya sendiri. Hanya janji itu yang bisa menjadi penguatnya selalu.


Alindya tersenyum kembali saat Rey memanggil namanya. Alindya melamun untuk kesekian kalinya saat Rey berada di sampingnya.


"Gue ijin pulang ya Lin." Ucap Rey.


"Ehh iya udah mau jam 21.00." Ujar Alindya.


"Jangan malam-malam tidurnya." Ucap Rey lembut.


Alindya hanya mengangguk kemudian mengantar Rey sampai di depan pintu gerbangnya.


Rey melambaikan tangannya dan perlahan hilang di tengah malam yang semakin gelap dan sunyi.


"Gue kangen elo." Ucap Alindya lirih sembari menatap langit malam.

__ADS_1


__ADS_2