
Tepat jam empat pagi aku terbangun, kulihat keyle dan Aila masih tertidur dengan pulasnya. Lalu aku bergegas menuju kamar mandi dengan sedikit tertatih-tatih untuk berwudhu kemudian mengerjakan shalat malam. Aku sudah terbiasa bangun untuk shalat malam. Karena disitulah aku selalu menitip rinduku padanya.
"Assalamualaikum warahmatullah..."salamku diakhir sholat malam dengan menolehkan mukaku kekanan dan kekiri, lalu menengadah tanganku keatas untuk meminta kepada Allah agar mengikhlaskan semua rasa yang masih ada itu untuk nya.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kau yang maha menguasai seluruh alam, kau yang maha mengetahui mana yang terbaik untukku dan mana yang tidak baik untukku, ya Allah, bantu hamba untuk menerima semua keputusan ini, bantu hamba untuk mengikhlaskan semuanya, bantu hamba untuk tidak memikirkan dirinya lagi, bantu hamba untuk bisa menerima takdir yang kau berikan pada hamba, ya Allah ya Rahman, ya Rahim, aku berduduk bersimpuh memohon dihadapanmu, dengan segala kekuasaanmu, bantu hamba untuk bisa menerima dia sebagai suami hamba, jika ini jalan hamba maka ikhlaskan....ikhlaskan hati hamba, engkau lah yang maha membolak-balik hati manusia, maka dari itu hamba mohon kuatkan hamba dengan kekuatan dan dengan kekuasaan_Mu.
Dan untuk Arfan, hamba mohon jagakan selalu dia ya Allah, semoga ia bahagia disana dan bisa mendapatkan sosok seorang yang lebih baik dariku...semoga cita-cita yang ia inginkan terkabul ya Allah atas izin_Mu...hamba mohon pada_Mu ya Allah, tolong kabulkanlah doa doa hamba ya Allah...
Aamiin....ya Rabbal Aalamiin....
Setelah selesai shalat akupun langsung membangunkan kedua sahabatku.
"Key, Ai...bangun....ini udah pagi"
Hening, tak ada jawaban.
"Key...Ai, ayo bangun..
Ku tepuk tepuk wajah keduanya agar cepet mereka terbangun dari tidur pulasnya itu.
"Emm...udah pagi ya Fa..."ucap Ai, sambil mengusap wajahnya.
"Iya..ayo cepat bangun, siap siap sana bentar lagi waktu subuh sampai lho..."
"Hoamm....dah azan ya Fa? Tanya keyle.
"Belum key...ayo sana buruan bersih bersih..."
Lalu mereka pun bergegas menuju kamar mandi bergantian. Sambil menunggu waktu subuh datang aku menyempatkan untuk membaca Al Qur'an. Hingga waktu subuh pun datang dan kamipun mengerjakan shalat subuh bersama-sama.
"Fa gimana kaki kamu? Udah mendingan kan?
"Alhamdulillah Ai, walaupun masih agak nyeri sedikit seh, tapi gak apa-apa ko, aku kan kuat..." Aku berusaha menguatkan diri sendiri walaupun yang sebenarnya aku rapuh.
"Haha, kamu ini, ngata diri sendiri kuat, tapi nyatanya sering nangisss.."kekeh keyle.
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata key, keyle memang benar, aku memang terus berusaha kuat tapi nyatanya tangisku selalu pecah didepan mereka.
Aku bersyukur Allah beri aku sahabat seperti mereka. Ku harap semoga nanti kita akan selalu bersama hingga Jannah_Nya....Aamin_batinku.
"Oo ya Fa, kamu udah buka grup gak? Tanya Aila yang masih sibuk dengan mukenanya.
Aku yang masih membereskan alat alat sholat pun menoleh kearah Aila.
"Gak ada Ai, emang ada kabar apa? Tanyaku heran.
"Hari Senin ini kita udah mulai aktif lho mondok.."
"Ma syaa Allah, Senin ini? Berarti habis pernikahan aku sama Fathan dong? Tanyaku refleks.
Mereka pun mengangguk mengiyakan ucapanku.
"Kok baru bilang sekarang sehh..." Tanyaku memelas.
"Maaf ya Fa, kami kira kamu udah tahu kabar ini...eh ternyata belum toh.." jawab key.
Ditengah asik asiknya kami ngobrol tiba-tiba...
Ceklek...
Kudengar suara pintu terbuka, kamipun menoleh kearah pintu dan disana muncullah Abi dan Ummiku. Aku baru ingat kalau pagi ini mereka ingin menjemputku untuk membawaku pulang kerumah.
"Ee, ada key sama Ai ya disini, kenapa belum pulang? Tanya Ummi.
"Hehe, Ummi..emang sengaja Ummi, mau nemenin Syifa disini..iya kan Ai? Tanya key pada Aila.
"Iya Ummi, kasian Syifa gak ada yang ngejagain, ya udah kami aja deh yang jagain..."kekeh Aila.
"Kalian ini, terima kasih ya sudah jagain anak Ummi..."
__ADS_1
Mereka pun mengangguk mengiyakan ucapan Ummi.
"Ayo kita pulang sayang..."
Aku yang mendengar ucapan Ummi hanya mengangguk.
"Kalian pulang bareng Ummi aja yaa.."
"Em, gak usah Ummi, nanti ngerepotin..."
"Eh kalian ini, gak ngerepotin ko, Ummi seneng malah..yakan bi? Tanya Ummi pada Abi.
"Iya, kami gak merasa direpotkan ko nak..."ucap Abi.
Mereka pun saling pandang memandang, entah apa yang sedang mereka pikirkan.
"Anu Abi, kami bukan bermaksud menolak, tapi ada sesuatu yang harus diurus pagi ini. Ya kan Ai.." tanya key pada Aila.
"Ah...i-iya betul Ummi..." Ucap Aila gugup.
Aku yang melihat tingkah mereka berpikir, pasti ada sesuatu yang mereka simpan dariku. Tapi entahlah, aku tak boleh berprasangka buruk kepada mereka.
"Ya sudah kalau itu kemauan kalian kami gak memaksa..."Ucap Ummi final.
"Kalau gitu kami pulang dulu ya Fa, Ummi, Abi... assalamualaikum" lalu mereka menyalami Ummi sebelum pergi dari tempat itu.
Kamipun menjawab salam mereka. Lalu akupun mengantar mereka sampai depan pintu kamar, Aku yang menatap mereka hingga punggung mereka tak terlihat lagi dari koridor rumah sakit hanya mengucapkan syukur kepada Allah, karena Allah telah memberikan sahabat sebaik mereka.
Setelah selesai membereskan kamar yang bernuansa putih itu, kamipun langsung pergi menuju rumah.
Diperjalanan aku hanya diam tanpa bergeming lagi. Sekarang aku benar benar bingung. Sebentar lagi pernikahan itu akan terjadi. Memang ini adalah permintaan ku untuk tetap melanjutkan pernikahan ini, kalau tidak dilanjutkan semua persiapan hanya ada kesia-siaan. Walaupun sesak yang kurasa tapi aku tak mau mengecewakan mereka.
Sesekali aku menengok kesamping kaca, kulihat orang orang belum begitu ramai menggunakan jalan ini.
Sepi?!...iya sepi jalan ini seperti sepinya hati ini tanpa ada penerang lagi seperti dulu.
Tes..
Air bening itu keluar lagi dengan sendirinya, tanpa pikir panjang aku langsung menghapusnya, agar tak ada yang melihatku kalau aku sedang menangis.
Cukup lama diperjalanan kamipun sampai dirumah, kulihat orang sudah ramai dipenuhi keluargaku, akupun tidak tau kalau keluarga datang, kemarin ia dirumah gak ada satupun yang datang, tapi saat ini, bener bener ramai.
'Mungkin sejak malam tadi mereka datang, tapi ko bisa bersamaan...kan gak mungkin, au ahh pusing aku mikirinnya_batinku.
"Auntyy syifaaaa....
Kulihat keponakan ku datang dengan berlari dan memelukku.
"Ee, hati hati ponakan auntyy, nanti jatuh..
"Hehe, soalnya Ara rindu auntyy..."
Aku hanya tersenyum melihatnya yang begitu bahagia.
"Fa ayo nak, periasnya sudah nunggu dikamar kamu..biar Ummi anter yaa.."
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ummi.
"Ara, tunggu disini ya, aunty mau kekamar dulu..."
"Ah aunty kan baru sebentar ini..." Renggeknya.
"Nanti aunty ke...
Belum sempat meneruskan perkatanku, tiba Tante Yola memotong pembicaraan ku dengan Ara.
"Ara ayo nak, kita kedapur...ya udah mbak kesana geh bawa syifa nya.." ucap Tante Yola.
"Eh Tante...
__ADS_1
Kepeluk langsung tubuhnya, ia pun membalas pelukanku.
"Eh, Tante Syifa rindu banget sama Tante.."ucapku.
"Tante juga rindu ko, ya udah sana buruan, periasnya sudah nungguin dari tadi...."
Dan akupun pamit pada nya kemudian langsung pergi menuju kamarku.
Lumayan lama aku dirias oleh mbak Risa. Sebelumnya ia sudah memperkenalkan dirinya dihadapnku, maka dari itu aku mengetahui namanya. Dia memang perias handal, lihatlah sekarang, aku tak percaya bahwa yang berada di pantulan cermin itu adalah aku. Dulu aku pernah bermimpi kalau ini adalah pernikahan yang sangat membahagiakan diriku, tapi hari ini aku tak merasakan kebahagiaan itu datang padaku. Walaupun dilihat dari wajah aku berusaha untuk berbahagia dengan pernikahan ini, tapi sebenarnya aku tak seperti itu, aku sakit, lebih tepatnya hati aku yang sakit.
"Ehh neng, kenapa nangis? Ning jangan nangis nanti riasan wajahnya luntur lhoo..." Ucapnya.
Aku yang mendengar ucapannya langsung meraba kepipiku dan langsung melihat kearah pantulan cermin ternyata air itu menetes lagi. Kenapa ya Allah? Aku tak kuat! Aku selalu menangis! Sungguh aku sangat rapuh sekarang!.
"Aku gak papa ko mbak..ini cuma tangisan kebahagiaan..." Ucapku bohong, aku mencoba untuk tersenyum padanya walaupun rasanya getir sekali.
Kebahagiaan?
Apa yang kuucapkan tadi?
Aku tak bahagia dengan semua ini!
Hatiku berontak sekarang...
Ingin ia kabur dari semua ini tapi aku tak mau menghancurkan semua kepercayaan orang yang aku sayang....
Aku hanya bisa menangis dalam diam sekarang. Tanpa ada seseorang pun yang tahu kalau sekarang ini aku sedang rapuh!
'Aku harus kuat, aku gak boleh lagi nangis, Ayo aku harus bangkit! Jangan biarkan keterpurukan ini menjadikan suasana yang tidak diinginkan...iya aku harus bisa_monologku.
"Semangat ya Fa, kita akan ada ko untuk kamu, kamu jangan sedih lagii..."ucap Aila lembut.
Aila dan key sudah berada dikamar ku sejak beberapa menit yang lalu, mereka menemani ku yang dirias oleh mbak Raisa.
"Makasih ya Ai, Key...kalian selalu ada untuk Syifa..."lirihku lalu akupun memeluk mereka dan mereka pun membalas pelukanku.
"Bismillah Fa, pasti bisa...oke..."ucap key menyemangati ku.
"Iya....Bismillahirrahmanirrahim..."
Ucapku getir.
"Oo iya Fa, kami keluar dulu ya, mau cari Zahra soalnya..."ucap key padaku.
"Tumben kalian cari Zahra ada apa.?tanyaku penasaran.
Aila dan Keyle pun saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan.
"Hmm, gak ada apa-apa ko yakan key? Tanya Aila pada key. Aku yang merasa bingung dengan tingkah kedua sahabatku pun hanya mengangguk pasrah mengiyakan ucapannya.
"Ya sudah kami pergi dulu yaaa, assalamualaikum Syifa...."ucapnya dan kubalas waalaikumsalam. Lalu mereka pun pergi meninggalkan aku seorang diri di kamarku.
Heningg...
Tidak ada siapapun dikamar ini, hanya ada aku dan kesepian. Sungguh aku benar-benar belum bisa menerima keadaan ini. Entah seperti apa aku nantinya, ku harap ini adalah jalan terbaik darimu untukku ya Allah.
"Assalamualaikum mbak..maa syaa Allah mbak cantik sekali hari ini...tapi ko mata mbak merah, mbak hbis nangis yaa..." Tanyanya Anna yang tiba-tiba datang kekamar ku.
"Ya Allah, Anna...kapan datang? Ko gak bilang bilang...." Ucapku kaget.
"Baru aja mbak, mbak gak apa-apa kan? Tanyanya lagi.
"Iya mbak gak apa-apa..." Jawabku bohong. Maafkan aku Anna, jika aku cerita pun kau gak akan pernah ngerti_batinku.
Entah kenapa saat aku menatap Anna mataku berkeinginan melihat kearah pintu. Pada saat aku melihat kearah pintu, mataku langsung membola. Aku sungguh terkejut.
"Arfan...."
..........
__ADS_1