Penantian Halalku

Penantian Halalku
Part 19


__ADS_3

^^^Jakarta, 23-03-2015^^^


Ini adalah sebuah ungkapan spesial buku tentang rinduku padamu. Kau tau! Aku sungguh tak kuat menerima kabar kepergianmu saat itu!! Kau pergi meninggalkanku dengan semua kenangan yang kau berikan saat itu juga, pada saat hari itu tanggal 02-01-2014 kau mengatakan padaku bahwa kau ingin mengejar impianmu, tangisku pecah saat aku mendengar kabar itu, dan yang paling sakitnya aku tidak bisa lagi berkomunikasi denganmu, itu yang membuatku sangat sesak!!


Aku mohon datang laahhh, aku tak tau sudah berapa buku untuk mengungkapkan semua kata kata ini, mungkin sudah 5 atau 6 buku, aku tak menghitungnya, karena jika aku melihat buku buku itu, aku merasa kau seakan akan hadir di depanku.


Aku cuma berharap kepada Allah, semoga kau disana selalu dalam penjagaan yang terbaik dan selalu sehat. Semoga cita-cita yang kau impikan cepat terkabul, aku hanya bisa mendoakanmu...


Selamat berjuang Arfan! Kuharap kau tak lupa dengan ku jika Allah menakdirkan kita bertemu kembali.... Aamiin.


Deggg!!


Hatiku rasanya ingin menangis saat membaca kata demi kata itu, aku kira itu tulisan Fathan dan ternyata itu adalah tulisan tangannya Syifa.


Kulihat Fathan hanya diam ditempat, ia tak dapat lagi berkata kata, begitu juga aku.


"Kamu sudah membaca awalnya.." Tanyanya.


Aku yang ditanya pun hanya mengangguk.


"Lalu bacalah halaman terakhir...kita tak punya banyak waktu Arfan...."


Dengan cepat aku membuka halaman terakhir walaupun tanganku agak sedikit gemetaran memegang buku ini. Tak seharusnya seorang Arfan membuka buku harian milik Syifa dihadapan calon suaminya, tapi mau gimana lagi ini adalah kemauannya Fathan.


Sebelum aku ingin membalik halaman terakhir aku melihat ada sebuah foto yang tertempel dipertengahan buku itu dengan hati hati aku melihatnya, sesekali aku melirik Fathan agar ia tak mengetahui ku yang saat ini sedang melihat sebuah foto yang tertempel itu.


Dan ternyata...


Itu aku! Iya itu adalah sebuah foto ku yang tertempel. Foto itu adalah foto kenangan ku waktu masih mondok di pesantren sebelum aku pergi ke Kairo.


'Ya Allah...apa maksud dari semua ini? Aku sungguh sangat bingung!?' batinku.


Aku tak ingin terlalu bergulat lama memandangi foto itu, tanpa pikir panjang aku langsung membuka halaman terakhir dan membacanya.Β 


^^^Jakarta, 13-01-2018^^^


Arfan...


Jika nanti kita bertemu ku harap kau akan tersenyum padaku, anggap saja semua kisah kita hanyalah hayalan belaka.


Sebentar lagi aku akan jadi istri orang, iya seorang istri dari laki laki yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Dan lebih tepatnya aku tak MENCINTAINYA


Tapi ketahuilah satu hal Arfan....


Aku akan tetap selalu mencintaimu...


Akan selalu dan selalu...hingga Allah yang merubah semua rasa itu hilang dengan sendirinya...


Walaupun penantian itu sudah begitu lama ku tunggu tunggu, dan sampai sekarang kaupun tak kunjung datang padaku...

__ADS_1


Tapi aku yakin jodoh takkan kemana, semua manusia diciptakan Allah itu berpasang pasangan bukan?


Jika engkau bukan takdirku yang dipilihkan Allah untukku, maka aku akan berusaha untuk bahagia, walau rasa bahagia diatas sesak itu menyakitkan!


Dulu aku merasa sangat bahagia, kau tahu Arfan? Allah mempertemukan aku denganmu pada waktu yang tak pernah terpikir olehku, Allah mengirimmu untuk merubahku dari semua masa lalu kelamku. Aku bersyukur bisa mengenalmu sedalam ini, kuharap kau disana juga akan bahagia.


Salam hangat dari seseorang yang sangat merindukanmu_Syifa.


..._...


'Astagfirullah...Ada apa ini ya Allah...?batinku.


"Sudah kau baca Arfan?" Tanya Fathan.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Sebegitu besarnya cintanya untukmu, hingga ia tak mau menghilangkan cinta itu darimu...."ucapnya sendu.


"Arfan...(jeda sebentar).....aku hanya ingin dia bahagia, aku sayang sama dia, entah sejak kapan rasa sayang itu ada, tapi jika kebahagiaan itu tak ia dapatkan bersamaku, aku akan mengabulkan kebahagiaannya bersama dirimu..." Lirihnya.


Aku yang mendengar nya mengerutkan alisku. Aku tak mengerti kemana arah pembicaraannya sekarang.


"Maksud anda apa?" Tanyaku datar dengan bahasa yang sedikit formal.


"Aku hanya ingin dia bahagia, aku ingin melihat orang yang aku sayangi bahagia, tapi aku lihat dia tidak bahagia jika bersamaku, dan kupikir dia akan bahagia bersamamu..."Β 


Hening....


"Apa maksud anda, ini pernikahan bukan permainan yang bisa dimainkan kapan saja...." Ucapku datar, ingin rasanya aku memarahi orang yang berada di depan ku ini, tapi untuk saat ini aku gak boleh emosi, aku masih bisa untuk menahannya.


"Aku mohon Arfan, lakukan ini agar kau dan Syifa sama sama bahagia, kau jangan pikirkan aku, aku gak apa-apa....mungkin Syifa bukan jodoh untukku dan aku sudah memikirkan matang matang akan hal ini, walaupun rasanya aku sedih harus kehilangan orang yang ku sayang, aku akan berusaha ikhlas menerima semua ini, karena aku percaya akan takdir Allah, dimana suatu saat nanti akan ada kebahagiaan setelah kesedihan datang..."


"Maaf saya gak bisa.." kupalingkan wajahku ketempat orang ramai diluar sana.


"Aku mohon Arfan, gantikan posisiku saat ini, ini semua untuk kebahagiaan nya! dan lebih juga untuk kebahagiaanmu..."lirihnya lagi.


"Maaf, saya gak bisa.." ucapku lalu aku pergi belum beberapa langkah untuk menjauh dari keadaan ini tiba tiba...


"Arfan! aku gak pernah melihat Fathan memohon seperti ini kepada orang lain, jika itu pernah dan itu hanya kepada orang tuanya saja!" Ucap Raihan tegas.


"Asal kamu tahu Arfan! kami adalah sahabatnya dan kami tahu seperti apa Fathan ia bukan tipe orang yang pandai untuk memohon seperti ini...." Sambungnya lagi.


Akupun berbalik dan kulihat Arfan hanya tertunduk lesu. Entah pikiran apa yang sudah merasukinya.


"Aku mohon Arfan...waktu kita tak banyak lagi, tinggal satu jam pernikahan ini akan berlangsung..." Ucapnya lesu.


Kini aku melihat kearah nya kasian. Bagaimana bisa aku harus menggantikan posisi ini, itu bukanlah hal yang mudah untukku.


Hmmmmm

__ADS_1


Terdengar helaan nafas yang panjang. Kini aku tak bisa berpikir jernih lagi. Aku bingung, disisi lain aku sangat bahagia jika ia mundur begitu saja, tapi disisi lain aku juga sedih melihat Fathan yang menyerah begitu saja. Ini bukan hanya mendapatkan cinta tapi ini juga pengorbanan seseorang terhadap calonnya.Β 


"Anda begitu tulus mencintai nya, aku percaya anda orang yang baik, teruskan saja acaramu ini, maaf saya gak bisa menerima permintaan anda" ucapku datar.


"Haruskah aku berlutut di hadapanmu untuk menerima permintaan ku ini? Tanyanya memohon.


"Aku gak butuh yang hal semacam itu..."


"Arfan! Aku mohon!!" Kini suaranya ia tinggikan satu oktaf.


Heningg...


"Arfan ku mohon terima ini, aku rasa ia cocok untukmu..." Sambungnya lagi.


"Tapi ka....belum sempat melanjutkan kata kata selanjutnya tiba tiba Fathan memotongnya.


"Aku mohonn..." Ucapnya lesu.


"Hmm... baiklah jika itu permintaan kamu, tapi sebelum berlangsung saya mau kita bicarakan dulu bersama keluarga mu dan keluarga Syifa..."Β 


"Terimakasih Arfan.....


"Kuharap ini adalah keputusan yang terbaik untukmu dan juga untukku..."


"Aamiin...kita bicarakan ini didalam saja, aku akan panggilkan orang tua Syifa...."


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.


Kini kamipun telah berkumpul dikamar ruang tamu, disana ada orang tua Fathan, Syifa dan Ummi ku yang menghadiri pembicaraan ini, dan Syifa nantinya pasti akan terkejut jika yang akan menjadi suaminya bukanlah Fathan melainkan diriku, Arfan! Muhammad Arfan lebih tepatnya.


Setelah semua sudah setuju dengan keputusan Fathan lalu pernikahan pun berlangsung.


Rasanya aku tak percaya orang yang selalu aku sebut namanya disetiap doaku, kini sebentar lagi akan menjadi istrinya, Ya Allah, semoga kau meridhoi kami dengan menyempurnakan separuh dari agamaku...aamiin_batinku dalam hati.


Inilah saat nya yang aku tunggu-tunggu, bersalaman dengan mertua, untuk menjabat tangannya dan mengucapkan janji suci itu, keringat dingin kini mulai keluar, rasanya aku gugup, beginilah rasanya saat berhadapan dengan beliau, ada rasa semburat kekakuan saat tangan ini menyentuh tangan beliau.


"Gak usah gugup nak, kamu pasti bisa... serahkan semuanya pada Allah..."ucap Abi Syifa dengan menepuk pundak ku seraya memberi kekuatan supaya tidak gugup saat mengucap janji suci itu.


"Bismillahirrahmanirrahim....."lirihku, sesekali aku mengatur nafasku yang kini agak kesusahan cuma gara gara gugup.


.


.


...


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, Wallahu waliyu taufiq..."ucapku lantang.


Sah!!!!

__ADS_1


..........


Jangan lupa tinggalkan jejak vote kalian yaa setelah selesai membaca πŸ˜‰πŸ™ silahkan share ceritanya keteman teman kalian juga yaa, bantu author untuk mengshare cerita ini πŸ€—πŸ™


__ADS_2