
Saat sedang menikmati mimpi indah, tiba tiba tidur ku terusik. Ada sebuah tangan yang menepuk pipiku dengan pelan, namun tak ku hiraukan.
"Sayang bangun....." Suara itu remang remang terdengar oleh telingaku.
Tapi suara itu terdengar sedikit asing ditelinga ku, seperti seorang laki-laki.
"Sayang bangun, mari kita sholat bareng..."
Dengan segera aku membuka mata, saat aku membuka mata yang kulihat pertama kali adalah seorang sosok laki laki yang sudah lama ku rindukan. Aku pun terkejut dan refleks langsung berteriak. Tapi dengan cepat laki laki tadi menutupi mulutku dengan tangannya.
"Sttt, kenapa teriak heh? Ini mas...bukan siapa-siapa..." Ucapnya sedikit bingung.
"Astagfirullah...maaf mas...tadi aku kaget, soalnya___..." Ucapku terhenti dan sedikit grogi.
"Soalnya kenapa? Tanyanya heran.
"Emmm, gak apa-apa..."
Kulihat mas Arfan sedikit heran melihatku. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang, tapi ya sudah lah, aku tadi cuma kaget.
Akupun menghela nafas, sebab kaget. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga lewat.
"Mas mau sholat yaa? Tanyaku dengan menatapnya.
"Iya, Ayuk kita sholat bareng, kamu duluan atau mas duluan ambil wudhu nya?
"Em, mas lupa ya? Kalau Syifa lagi dapet? Ucapku pelan.
"Astagfirullah...mas lupa sayang...jadi mas sholat sendiri lagi gitu...." Akupun mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Ya udah, mas sholat dulu yaa, kalau mau tidur, tidur aja lagi...." Ucapnya sambil mengusap kepalaku dan mencium keningku.
"Em, gak deh mas, mau nemenin mas aja....ya udah sana buruan sholat nya...." Ucapku dengan sedikit mendorong nya.
"Ya udah....mas ambil wudhu dulu ya..." Akupun mengangguk mengiyakan ucapannya.
Mas Arfan pun langsung beranjak dari duduknya dan langsung mengambil wudhu. Sebelum mas Arfan keluar dari kamar mandi, akupun langsung menyiapkan alat sholat nya dan mencarikan pakaian nya, setelah dipilah pilih pakaian yang mana yang bagus untuk dikenakan nya lalu ku letakkan diatas kasur .
Tak berselang lama pintu kamar mandi pun terbuka, dan aku pun tersenyum melihat aura mas Arfan yang begitu mempesona saat melihat nya. Bekas air wudhu nya membuat nya semakin ganteng.
"Ya Allah ganteng nya suamiku ini..."ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat. Sampai aku tak sadar kalau dia sedang kebingungan melihatku yang tersenyum senyum sendiri.
"Kamu kenapa sayang? Hello??
"Sayang??
"Astagfirullah sayang?! Kamu kenapa? Tanya nya sambil menggoyangkan badanku.
"Astagfirullahhalazim...maaf mas..."ucapku malu malu.
"Eee, dasar bodoh!! Syifa, Syifa....kamu malu maluin aja dehh!! Cerocosku dalam hati.
"Kenapa senyum senyum sendiri? Ooo, mas tahu, kamu kagum kan sama kegantengan mas ini..." Dengan pede nya mas Arfan mengatakan itu dihadapan ku.
"Eee, apa seh mas...udah ah, sana sholat...."
"Haha, iya kan sayang, buktinya aja, tuh merah pipinya.." godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan seh...udah sana sholat..." Ucapku sambil memalingkan wajahku dari hadapannya, aku benar-benar malu dibuatnya.
"Ya udah mas sholat dulu yaa...."
"Iya...."ucapku singkat.
Mas Arfan pun langsung mengerjakan sholatnya, aku hanya menunggunya sambil memperhatikan gerakan sholat nya mas Arfan. Begitu tenang nya mas Arfan dalam melaksanakan sholatnya.
Tiba tiba pikirinku tertuju kepada buku harian yang beberapa hari ini sudah tak ku hiraukan lagi. Akupun beranjak dari tempat dudukku dan langsung menuju meja belajarku untuk mencari buku itu.
"Ya Allah dimana ya buku harian ku? Monolog ku.
"Iiss, kemana seh tuh buku, perasaan semalam aku tarus disini deh...tapi kok gak ada yaa..."
Akupun terus mencari buku itu sampai semua kitab dan buku yang ada di meja belajarku berantakan.
"Aduh kemana seh? Apa jangan-jangan diambil Zahra? Kan Zahra sering masuk kamar aku mau minjam novel novel aku? Batin ku bertanya tanya.
Sesekali aku memeriksa lemari, dimana tempat buku harian ku yang lainnya berada.
"Apa mungkin disini ya aku simpan? Tapi perasaan terakhir aku ambil pas aku nangis waktu itu? Monolog ku lagi. Aku terus mencari sampai aku gak sadar kalau mas Arfan sudah berada di belakangku.
"Astagfirullahhalazim!! Mas, Syifa kaget! Kok diam disitu? Tanyaku beruntun.
"Seharusnya mas yang nanya, kamu mau cari apa sampai kamu berantakin semua ini, liat tuh meja belajarnya sampai berserakan begitu, sekarang lemari juga kamu berantakin? Tanya mas Arfan gak percaya.
__ADS_1
Aku sudah yakin, walaupun ini kamarku tapi dia sudah menjadi suamiku, dan ia juga berhak dengan kamar ini, sudah pasti saat ini aku akan dapat ceramahan gratis dari suamiku ini.
"Kenapa diam? Mas tanya sama kamu sayang...mau cari apa sampai kamu berantakin semua ini? Syifa bisa bilang sama mas, nanti mas bantu cari..."
"Itu mas, Syifa mau cari.....mau cari...itu...." Ucapku terbata bata.
"Mau cari apa? Tanya mas Arfan bingung.
"Emmm...buku harian...."cicitku pelan.
"Apa? Mas gak denger, coba sedikit kencangkan suaranya..."
"Itu mas, buku hariannya Syifa....hilang..." Ucapku menunduk.
"Ya Allah sayang, cuma cari buku harian kamu sampai berantakin kamar ini?
"Maaf mas, nanti Syifa beresen kok..."ucapku cepat.
"Ya udah nanti dibereskan yaa..." akupun langsung menganggukkan kepalaku tanda iya.
"Sini ikut mas..." Tanganku ditarik tiba tiba, aku heran mau kemana mas Arfan menarik ku.
"Sekarang duduk..." Akupun langsung menuruti ucapannya.
"Mau ngapain duduk disini...di depan Al Qur'an lagi? Tanya ku bingung.
"Dari pada kamu gak ada kerjaan, lebih baik kamu dengerin mas ngaji aja, temenin mas disini..."
"Emm, ide mas bagus juga, ya udah ayo cepetan baca Al Qur'an nya, Syifa mau denger...." Ucapku bersemangat dan diangguki oleh mas Arfan.
Mas Arfan pun memulai membacanya, suaranya begitu indah di dengar, jika sekarang ini mas Arfan membaca Al Qur'an didepan santriwati di pondok, sudah pasti semuanya terkagum-kagum mendengar suara merdunya.
Aku hanya tersenyum melihat suamiku yang sedang membaca Al Qur'an dengan tenang, sesekali ia melirikku dan kubalas dengan senyuman.
Suara mas Arfan terlalu indah hingga mataku tak kuasa lagi untuk menahan kantuk, sesekali aku tertunduk tunduk menahan kantuk yang kini menyerangku. Hingga akupun tertidur didekat mas Arfan, suamiku.
............
Tok tok tok!!!
"Syifa! Bangun nak! Ini udah pagi! Astagfirullahhalazim!
Suara ummi yang sedikit cempreng membuat tidurku terusik.
"Syifa!! Teriak ummi.
Ceklek....
Aku pun langsung membuka pintu dan menemukan ummi yang sudah berdiri didepan pintu sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Ummi, kok teriak-teriak, masih pagi ini Ummi..."ucapku memelas.
"Astagfirullah, kamu ini kenapa seh, itu liat jam kamar kamu, jam berapa sekarang...." Tunjuk Ummi kearah jam.
Aku pun kaget melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 05.45.
"Ya Allah Ummi, kok gak dibangunin pas azan pagi...."ucapku histeris sambil masuk kekamar, dengan cepat aku mengambil handuk dan langsung masuk kekamar mandi.
"Ummi, maaf ya, hari ini Syifa gak bantuin dulu, soalnya Syifa buru buru ummi, nanti Syifa telat kepondok nya...." Teriakku didalam kamar mandi.
"Ya udah cepetan siap siap kami tunggu dibawah..." Ucap Ummi dan langsung berlalu meninggalkan kamar Syifa.
"Eeeee, Syifa sebel eh, kok mas Arfan gak bangunin aku seh, mentang mentang aku lagi dapet, seenaknya gak bangunin gitu.....Eee, sebel...harus buru buru ini, kalo gak bisa telat aku kepondok nya..."cerocosku.
Dengan cepat aku menyelesaikan ritual mandi ku, tak ingin berlama lama berada di kamar mandi akhirnya pun aku selesai.
Sehabis mandi akupun langsung keluar dan berlari ke lemari mencari gamis yang akan ku kenakan hari ini. Setelah itu dengan cepat aku menyiapkan segala keperluan di pondok.
"Ayo Syifa buruan, ini sudah telat...mana diperjalanan membutuhkan 2 jam lebih, bisa telat aku kalau sudah sampai pondok!!
"Cepettt Syifa!!! ucapku pada diri sendiri.
"Allah, kemana lagi ini kaos kaki ku!! Ya Allah mana ini, waktu itu aku taruh disini deh tapi kok gak ada ya?? Dengan tergesa-gesa aku mencari kaos kaki kesana kemari hingga aku menabrak seseorang.
Brukkk!!
"Astagfirullah..."
"Allahhu Akbar!!!
Ucap kami berbarengan hingga keadaan kami sekarang seperti di film-film, mas Arfan menyandang badanku supaya jangan terjatuh kelantai. Wajah kami begitu dekat hingga tak ada jarak sedikit pun.
__ADS_1
"OMG!!! Apalagi ini??!! Ucapku dalam hati sedikit tak percaya dengan keadaan seperti ini. Kini jantung ku tak terkontrol lagi karena berlari kesana kemari menyiapkan keperluan dipondok, sekarang berhadapan dengan manusia ini lagi. Ya Allah jantung ku kini bagaikan lari maraton. Tatapannya membuat ku mati rasa sekarang.
"Emm, maaf..." Ucapku sambil membenarkan posisi ku.
"Ah iya....." Ucapnya sambil berdehem.
"Kenapa lari lari begitu? Kaya orang di kejar setan aja..."ucap nya heran.
"Em itu....ini semua juga salah mas, masa iya istri gak dibangunin seh, kan jadi kucar kacir begini kan..." Cerocosku.
"Ya mas gak tega aja liatnya, tidurmu nyenyak banget, pasti lelah kan karena acara kemarin..."
"Hmm..."
"Ya udah gak usah ngambek gito, mas minta maaf ya, mas cuma gak mau kamu kelelahan, lagian kamu juga gak sholat kan, ya udah mas biarin aja..."
Hening....
"Maseh ngambek nih ceritanya? Ya udah kalau ngambek, gak usah sekalian kepondoknya...." Ucap mas Arfan santai dan berjalan menuju tempat tidur dan langsung duduk.
"Kok gitu mas, ya gak bisa dong...aku mau kepondok hari ini...titik gak pake koma!!" Ucapku tak terima.
"Kalau mau kepondok sekarang cepetan geh siap siap, itu ummi bilang tadi, cepetan turun kita sarapan dulu..."
"Ini sudah siap semua kok, cuma kaos kaki aja yang gak ada...." Ucapku sambil mencari keberadaan kaos kakiku yang entah dimana ia terselip.
"Nih kaosnya.... cepetan pake. Setelah ini mas yang anterin kamu...."
"Alhamdulillah, makaseh mas sudah nemuin kaos kakinya Syifa, ya udah ayo kita turun..."
Kami pun langsung menuruni tangga satu persatu dengan bergandengan tangan.
"Ehemm, yang baru mah beda ya kan Yol..." Tanya mbak Yola kepada mbak Sarah.
Mereka yang berada di meja makan hanya tertawa. Akupun hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan Tante Yola.
"Mari kita makan..."ucap Abi kepada kami.
"Mas mau makan apa? Tanyaku.
"Terserah kamu aja..." Ucapnya santai.
"Kok gitu? Monolog ku heran dan dengan terpaksa aku memilih kan makanan yang sama dengan ku untuk nya.
Sarapan pagi pun berjalan dengan lancar, tak ada terdengar suara sedikitpun, sampai selesai.
"Ya udah ummi, maaf ya ummi, Syifa gak bisa bantu bereskan ini semua, soalnya sudah telat, maaf ya Ummi, gak apa-apa kan? Tanya ku hati hati.
"Iya gak apa-apa ko nak, kan ada Tante Yola sama Tante Sarah..." Ucapnya sambil tersenyum.
"Ya sudah Ummi, Syifa berangkat yaa, Ummi jaga kesehatan disini..."
"Iya sayang...ya sudah sana pergi nanti tambah telat..."
"Ya udah, Syifa pamit ya semuanya... assalamualaikum..." Pamitku kepada semua keluarga.
"Waalaikumsalam..." Balas semuanya.
"Ayo mas..." Dan diangguki oleh mas Arfan.
Kami pun langsung bergegas berjalan menuju bagasi, sebelum sampai di begasi aku melihat Abi yang sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi.
"Abi...."
"Eh, anak Abi..."
"Abi, Syifa pamit yaa, Abi jaga kesehatan, jangan terlalu cape, nanti kalau Abi sakit Syifa pasti sedih..."
"Iya sayang, kamu disana juga jaga kesehatan ya, Ummi sama Abi selalu mendoakan Syifa supaya bisa menjadi anak yang Sholehah dan bisa membanggakan Ummi sama Abi...."
"Aamiin, makaseh Abi, ya udah Syifa pamit ya...nanti Syifa telat...assalamualaikum Abi..." ucapku sambil menyalami tangannya.
"Waalaikumsalam, hati hati...."
"Iya Abi..." Akupun langsung mengangkat barang keperluan ku menuju mobil yang sudah disediakan mas Arfan.
Kulihat mas Arfan sedang berbincang dengan Abi, entah apa yang mereka bicarakan. Tak pikir panjang aku langsung memasuki mobil dan diikuti oleh mas Arfan.
"Dah Abi...Syifa pamit... assalamualaikum..."teriakku dalam mobil, hingga mobil pun kian melaju menelusuri jalan di pagi hari.
............
Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan like kalian yaa setelah selesai membaca 🙏 silahkan share ceritanya keteman teman kalian juga, bantu author untuk mengshare ceritanya.
__ADS_1