Penantian Halalku

Penantian Halalku
Part 22


__ADS_3

"Syifa rindu...hiks hiks hiks..kenapa ba...hiks hiks hiks..baru dateng...hiks hiks hiks..... Arfan? Tangisnya pun pecah.


"Ssttt!! Jangan nangis, nanti make up nya luntur lho, sebentar lagi kita mau turun kebawah mau menyambut para tamu yang datang..."


Iapun melonggarkan pelukannya dan menghapus air matanya, kemudian akupun menyentuh ubun-ubun nya dan membacakan doa keberkahan.


Cup


Satu kecupan mendarat di keningnya, kulihat ia tersenyum padaku dan akupun membalas senyumannya, sungguh senyum yang sangat aku rindukan beberapa tahun yang lalu.


"Mari kita turun, semua sudah menunggu..." Ia pun mengangguk mengiyakan ucapanku.


Lalu kamipun turun kelantai bawah saling bergandengan tangan, kini mataku seolah olah terhipnotis melihat mata indahnya dan akupun tersenyum melihatnya, lalu ia pun membalas senyumanku.Sesekali aku melihat para tamu, mereka sedang menatap kepada kami.


"Wah pengantin baru saling pandang memandang tuhh..." Ucap seseorang perempuan yang berada dipojokan.


Kulihat Syifa sedang menundukkan pandangannya setelah mendengar ucapan seseorang itu.Β 


"Syifa..." Panggilku pelan.


"Hmm.."


"Kamu cantik hari ini Humairahku..."Β 


Kini ia salah tingkah karena ulahku, dan lihatlah pipi itu merona sekarang, aku memang sedikit menggodanya, karena aku suka dia seperti ini. Manis sekali_batinku.


"Wahh, pipi istriku sekarang merah yaa.." godaku.


"Au ah, kamu ngeledek mulu, kesel Syifa..." Ucapnya kesel.


"Gak usah cemberut gitu nanti cantiknya ilang lho..."


"Ngeledek mulu deh kamu..." Dengan muka yang sedikit cemberut.


"Hehe, maaf ya.." ucapku.


Hening....


.


.


.


"Syifa...."panggilku.

__ADS_1


"Iya...ada apa? Jawabnya.


Aku pun mendekatkan wajahku ke wajahnya, ia sangat terkejut melihat ku seperti ini, dengan cepat ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu aku membisikkan sesuatu padanya.


"Ana uhibbuki Fillah ya jauzati..."ucapku pelan didekat telinganya. Ia pun terlonjak mendengar kata-kata dariku sambil menurunkan kedua tangannya. Kini ia tersipu malu dengan perlakuanku yang begitu menggodanya.


'Ya Allah beginikah rasanya dekat dengan pasangan halal, sungguh sangat membahagiakan_batinku.


"Ciee...cieee... pengantin baru mah biasa, yakan Anna? Aku sedikit terlonjak atas kedatangan Anna dan teman temannya.


'Ini anak menggangu saja, baru ingin menggoda istri, ee malah mereka yang datang, sabar Fan!! Sabarr!'_batinku bermonolog.


"Yaa elaaa Syifa....Syifa..gak usah begitu juga kali matanya, udah santai aja..." Ucapnya lagi. Aku memang tidak mengenalnya, tapi dilihat dari keakraban nya pasti ia adalah sahabat istriku.


"Eh mbak..semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah yaa, mbak jangan nangis lagi, aku sedih lo liatnya.." ucap Anna.


"Ingat bang! Jagain mbak Syifa yang benar benar, awas aja kalau dibikin sedih! Jika Abang bikin sedih mbak Syifa....abang akan berurusan dengan kita kita...ya kan Ai, key?" Tanya Anna pada kedua sahabatnya yang diiringi dengan anggukan keduanya.


"Esss, adek Abang ini.....perhatian nya maa syaa Allah..."ucapku sambil mengusap-usap kepala Anna.


"Iiii Abang...nanti berantakan lagii!! Kebiasaan deh Abang ini..." Ucapnya kesel.


"Mbak Syifa, wahh!!! Mbak cantik sekali..." Tiba tiba suara itu datang dari arah yang berlawanan, kupalingkan wajahku kearah suara itu dan ternyata ada beberapa anak anak. ( Bukan anak anak kecil seh melainkan anak anak dewasa:-D ).


"Ya Allah, Diva, Amel, Cici...maa syaa Allah kalian datang? Tapi ko ada yang kurang...." Ucap istriku.


"Ooh...Laila ya mbak, kemarin ia bilang ke kita katanya dia gak bisa kesini, dia dan orang tua nya ada acara di rumah kakeknya di Bandung, dan ia titip salam sama kado ini untuk mbak Syifa...."ucap salah satu dari mereka dan menyerahkan sebuah kado tidak terlalu besar tapi sangat menarik dilihat dari bingkisannya.


"Maa syaa Allah, ucapkan terimakasih ya div sama Laila, dan mbak titip salam balik untuknya.."ucap istriku antusias dan diangguki oleh mereka.


"Oo ya mbak....Abang yang di sampingnya siapa namanya?? Tanya temannya yang disamping anak yang barusan bicara dengan Syifa, istriku.


"Nama__" belum sempat istriku mengatakan namaku tapi terpotong oleh ucapanku.


"Nama Abang Muhammad Arfan, panggil aja bang Arfan yaa...."ucapku tersenyum.


Mereka pun hanya manggut-manggut setelah aku memperkenalkan diriku kepada mereka.


"Eh Syifa, kami duluan ke sana yaa mau makan dulu, soalnya dah lapar ini perut si key..." Kekeh temannya yang disamping Anna yang ku tahu namanya Aila.


Plaaakkkk!!!


Satu tamparan mendarat ketangan Aila dari sang empu, sebab Aila menyentuh perut temannya. Dan ia pun sedikit kesel dengan Aila.


"Eh, enak aja, yang lapar siapa yang dikata siapa!! Hehh!! Ucapnya kesel.

__ADS_1


"Udah ah! ayo cepetan!! Disini mah cuma mengganggu aja kerjaan kalian, ayo Anna, Ai..."sambungnya sambil menyeret keduanya.


Keduanya pun terkekeh melihat temannya yang satu ini, lalu mereka pun berlalu dan pergi kemeja makan yang sudah disediakan.


"Mbak, kami mau pergi ke sana juga ya mbak... assalamualaikum..." Ucap anak yang sedikit gemuk badannya.


"Iya, waalaikumsalam..."jawab kami.


Dan kini tinggallah kami berdua sambil menyambut para tamu yang berdatangan.


..........


Di tempat lain, Fathan melihat ketempat dimana Syifa dan Arfan bersama, mereka begitu sangat bahagia.


'Ku harap kau menemukan kebahagiaanmu kembali Syifa, apapun ini sudah direncanakan Allah untukku dan untuk kalian juga....'


Tes...


Satu tetes air bening itu lirih dengan sendirinya. Aku sangat terharu melihat pemandangan seperti ini. Kini aku akan pergi jauh dari kehidupan mereka setelah ku satukan mereka kembali.


'Jika seandainya aku tak tahu tentang semuanya pastilah aku akan ada disana, dan pasti aku juga merasa bahagia bisa memiliki mu seutuhnya, tapi, jika kau akan jadi milikku aku juga sangat merasa bersalah telah merebut kebahagiaanmu, karena kau begitu sangat mencintainya, mungkin ini lah jalanku, dan inilah takdir ku, dan kau bukan jodohku, melainkan jodohnya....terimakasih kau telah memberikan sedikit warna di hidupku, walaupun hanya satu Minggu, itupun sudah sangat berharga...'lirih batinku.


"Bang, Abang pasti sedihkan melihat mbak Syifa dengan 'Dia' itu..."tunjuk Nisa pada Arfan.


"Gak usah sedih ya bang, berarti mbak Syifa bukan jodoh yang ditulis Allah untuk Abang, yakin bang sama Allah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk Abang...."sambungnya lagi.


Aku hanya bisa menatap kearah depan dengan kekosongan. Aku memang bisa membuat diriku bersabar dihadapan orang-orang yang ku sayang, tapi tidak dengan hatiku. Hatiku menjerit sungguh sangat memilukan saat aku memandangi orang yang ku sayang menikah dengan orang lain.


"Fathan, ayo nak kita pulang, Ummi gak mau ngeliat kamu sedih begini, ikhlaskan dia nak, bukankah ini juga kemauan kamu? Jangan berpikir yang aneh-aneh yaa ya nak...pikirkan saja bagaimana kamu memperbaiki diri, tapi jika niat kamu untuk memperbaiki diri jangan semata-mata hanya karena ingin jodoh baik, tapi niatkan semata-mata hanya Allah, Ummi yakin anak Ummi ini pasti kuat, pasti bisa melalui semuanya dengan kesabaran, Ummi yakin itu...."ucap Ummi yang tiba-tiba datang menghampiri ku dan Nisa.


"Apa Fathan bisa Ummi?? Tanyaku pada Ummi dengan suara parau.


"Ummi yakin, Fathan pasti bisa..."Β 


" Ummi Fathan ingin melanjutkan S2 lagi, ummi mau kan izinin aku untuk melanjutkan studyku itu? Tanyaku pada Ummi yang diikuti dengan anggukannya.


"Terimakasih Ummi.. " ucapku lalu kupeluk tubuhnya dengan erat, rasanya aku tak mau lagi jauh jauh dari orang tuaku, tapi apa boleh buat, aku gak mau membuat luka itu semakin berlebar lagi, udah cukup setitik luka, itupun begitu sangat sulit untuk menghilangkan nya.


"Ayo nak kita pulang, Abi sudah menunggu kita didepan..."ucap Ummi, lalu kamipun pergi dari tempat pernikahan itu dan ditempat inilah semua kenangan itu akan aku usahakan membuangnya jauh-jauh, aku gak mau terlalu memikirkan seseorang yang sudah bersuami, itu bukan Fathan namanya.


'Selamat tinggal kenangan, sampai berjumpa lagi dilain waktu Syifa, terimakasih untuk semuanya, ku harap kau akan bahagia bersamanya.....Assalamualaikum mantan calon istriku....'lirih batinku sambil memandangi kebahagiaan diantara mereka dengan senyuman yang kian memudar.


Lalu kami pun pergi dari tempat itu menyisakan semua tentangnya dihatiku, kuharap esok atau nanti aku akan bisa untuk menerima keadaan ini.


...........

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan like kalian yaa setelah selesai membaca πŸ˜‰πŸ™ silahkan share ceritanya keteman teman kalian juga πŸ˜‰ bantu author untuk mengshare cerita ini πŸ€—πŸ™


__ADS_2