Penantian Halalku

Penantian Halalku
Part 20


__ADS_3

Dikamar Syifa...


Sebentar lagi aku akan jadi seorang istri. Rasanya aku tak percaya aku akan menikah secepat ini. Tapi inilah takdir Allah, yang sudah Allah janjikan kepada setiap manusia.


Sahhh!!


Suara itu terdengar sedikit sayup-sayup ditelinga ku.


Kini badanku terasa panas dingin, dan jantungku seperti berpacu lebih cepat dan biasanya.


YA ALLAH...Apa ini?


"Selamat ya mbak, mbak sudah sah jadi seorang istri...." Kulihat kesamping kiriku. Anna, dia begitu bahagian melihat aku yang sudah berstatus sebagai seorang istri.


"Makasih Anna..." Ucapku sambil tersenyum, ah ralat!!! Lebih tepatnya hanya senyum keterpaksaan.


"Syifa, ingat ya jadi seorang istri yang baik, jangan nyusahin aja kerjaannya...." Ucap Aila antusias. 


Aku yang melihatnya hanya tersenyum getir. Bagiku pernikahan ini sulit untuk kuterima.


 


Tiba tiba pintu kamarku di ketuk.


Tok tok tok..


"Syifa,,,kamu jangan nangis lagi yaa, itu suamimu sudah datang kami keluar dulu, ayo Ai, Anna.." lalu mereka pun keluar dari ruangan itu. 


Saat ini aku tak berani memandangnya,aku hanya menunduk dan menunduk.


"Assalamualaikum..."


Aku yang meliriknya sedikit demi sedikit, ia duduk disampingku. Kini rasanya jantungku seperti mau keluar dari tempat persembunyiannya.


"Assalamualaikum Humairah...." Ia mengulangi salamnya lagi.


"Eh, waalaikumsalam..." Jawabku gugup.


Aku terlonjak saat melihatnya duduk didepan ku, tapi yang lebih terkejut nya ia bukan Fathan melainkan Arfan.


"Arfan..." Aku tak peduli kalau mataku saat ini sedang membola.


"Ngapain kamu disini? Mana Fathan? Tanyaku khawatir, aku tak mau kalau Fathan melihat adegan ini, bisa bisa ia akan marah padaku.


"Ini....(sambil menyerahkan sebuah surat)...bacalah.."


Aku kini yang khawatir berubah menjadi kebingungan. Apa maksudnya_batinku.


"Ayo ambil..."


Lalu aku mengambil surat itu dan langsung membacanya.


_____________________________________________


From : Fathan Azhari


To. : Hairatus Syifa.


Assalamualaikum Syifa.


Kamu pasti terkejut kan kenapa yang didepannya saat ini bukan aku melainkan Arfan...


'Hah? Maksudnya apa ini? Apa dia sudah tahu? Entahlah!! Aku dilanda kebingungan sekarang! Lalu aku lanjutkan kembali membaca surat tersebut.


Maaf, aku gak cerita ke kamu sebelumnya, aku sudah tahu yang sebenarnya. Maaf kemarin itu aku membaca buku harianmu, maaf banget, aku lancang membaca bukumu itu, aku juga berterima kasih pada Allah karena lewat buku itulah aku tahu yang sebenarnya, dari situlah aku mengetahui segalanya, tentangmu, dan tentang Arfan.


Deg!!


Buku harian ku? Mas Fathan membacanya, astagfirullahhalazim, dari mana ia mendapat buku itu?_tanya batinku syok.


Tak mau bergalut berlama-lama memikirkan pertanyaan pertanyaan itu, lalu aku melanjutkan membaca surat itu lagi, mungkin saja disana ia menjelaskan lebih jelas lagi tentang semuanya ini.


Sebelum pernikahan berlangsung, aku bertemu dengan Arfan di taman depan, lalu aku menghampirinya, kau pasti bingungkan dari mana aku tahu yang mana Arfan?


Haha, aku tahu Arfan dari buku diary mu juga Syifa, maaf ya aku membuka buku privasi mu itu, sebab waktu dirumah sakit kemarin ummi menyerahkan buku itu padaku dan ia menyuruh ku untuk membacanya.

__ADS_1


Saat aku mengetahui semuanya aku merasa sakit..ia sangat sakit! tapi apa boleh buat, ini mungkin takdir Allah untukku, dan mungkin kau bukan jodohku hingga Allah tidak menyukai kita untuk bersama, dan aku yakin bahwa jodoh itu gak pernah tertukar, Allah punya beribu ribu cara untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai dan menjaga.


Dan aku menghampiri nya aku memperkenalkan diriku padanya, kulihat dari raut wajahnya dia sangat terkejut mendengar bahwa aku adalah calon suamimu.


Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengannya, aku hanya menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan, dan aku juga yang memintanya untuk menggantikan posisiku. Aku berusaha membujuk Arfan tapi ia nekat dengan pendiriannya, ia tetap menolaknya tapi aku tak menyerah saat membujuk Arfan, sampai ia mau menggantikan posisiku.


Aku hanya ingin kau bahagia bersama orang yang sudah kau tunggu beberapa tahun lamanya. Maaf aku lancang dengan perbuatan ku yang satu ini....Tapi, ketahuilah! Aku bahagia melihat mu jika kau bahagia bersamanya. Lagi pula jika kita bersama kau pasti akan selalu menangisi semua ini kan? Dari pertaama aku mengenalmu, sampai saat ini, aku tak pernah melihat ada cinta untukku dimatamu, melainkan untuk Arfan.


Aku selalu melihatmu menangis saat kita bersama, aku merasa bahwa aku laki laki bodoh dan tidak tahu menahu tentangmu. Tapi saat aku menanyakan keadaanmu kau selalu bilang nggak ada apa-apa...padahal kau menyimpan banyak cerita. Tapi sekarang cerita itu sudah terbuka, aku bersyukur kepada Allah pernikahan aku dengan mu tidak terjadi, jika terjadi mungkin hanya ada kebohongan didalam rumah tangga nanti. 


Aku bahagia bisa menyatukan kalian lagi, tanpa ada aku yang jadi penghalang antara kau dan Arfan. Bahagia selalu bersama nya Syifa, aku ikhlaskan kau bersama nya. Jangan cari aku lagi yaa, aku sudah pergi jauhhh dari kalian, sangaattt jauhh!


Wassalamu'alaikum....


^^^Fathan Azharisman^^^


_____________________________________________


Rasanya aku ingin menangis, betulkan Yang didepanku ini suamiku, Muhammad Arfan?


"Arfan...." Lirihku.


Aku melihatnya yang mengangguk sambil tersenyum, lalu kuhamburkan rasa kerinduan yang sudah bertahun tahun ini tersimpan.


"Arfan...apa semua ini benar..."ucapku yang dibarengi dengan tangisan kecilku.


"Iya Syifa, kau bahagia?"tanyanya.


Aku yang tak dapat berkata-kata hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Syifa rindu...hiks hiks hiks..kenapa ba...hiks hiks hiks..baru dateng...hiks hiks hiks...Arfan? Tanyaku. Tangis ku pecah tak dapat lagi ku bendung saat ini.


"Ssttt!! Jangan nangis, nanti make up nya luntur lho, sebentar lagi kita mau turun kebawah mau nyambut para tamu yang datang..."


Kolonggarkan pelukan ku dan kini aku menghapus air mataku dengan berhati hati agar tak jadi berantakan lagi seperti yang pertama tadi.


Kemudian ia menyentuh ubun ubunku, lalu membacakan doa keberkahan dan aku hanya mengaminkannya.


Cup


Satu kecupan singkat di keningku yang baru pernah aku rasakan dalam hidupku, rasanya segerombolan kupu kupu ingin keluar dari perutku. Akupun tersenyum melihat nya dan ia pun membalas senyumanku.


'Ya Allah terima kasih kau sudah mengabulkan doa doa ku_batinku.


"Mari kita turun, semua sudah menunggu.." aku pun mengangguk mengiyakan. 


Kini tangan ku dan tangannya saling bergandengan dan saling menatap hingga menuruni tangga. Banyak mata yang tertuju pada kami saat kami menuruni tangga. Kulihat Arfan, dia tersenyum melihat ku lalu akupun membalas senyumannya.


"Wahh penganten baru saling pandang memandang tuhh" teriak seseorang, dan orang-orang disana pun ikut bersorak mendengar ucapan itu.


Blushhh...


Rasa panas menjalar di pipiku, pasti sekarang pipinya sudah seperti tomat. Siapa seh yang bicara seperti itu, heh..bikin malu aja_batinku.


Kucari siap yang sudah membuatnya malu itu, dan ternyata aku melihat ada yang melambai-lambai tangannya didekat pojok belakang, aku terlonjak saat tahu kalau yang teriak tadi adalah keyle, sahabat sendiri. Memang ya tuh anak!! Awas aja nanti_ batinku.


"Syifa..."panggil Arfan.


"Hmm..."


"Kamu cantik hari ini Humairahku..." 


Blushhh...


Kini pipiku kembali panas lagi, bak kepiting rebus. Bisa bisanya saat seperti ini ia ngegombal.


"Wah pipi istriku sekarang merah yaa..." Ledeknya.


"Au ah, kamu mah ngeledek mulu, kesel Syifa..." aku kesel dibuatnya hari ini, baru beberapa menit jadi suami, Ee...sudah buat aku kesel, apalagi kalau ketemu setiap hari!_batinku.


"Gak usah cemberut gitu nanti cantiknya ilang lho..."


"Ngeledek mulu deh kamu..."keselku.


"Hehe, maaf ya..." Ucapnya.

__ADS_1


Hening....


"Syifa...."panggilnya.


"Em, iya....ada apa? Tanyaku.


Kulihat ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku yang merasa akan terjadi sesuatu hal pun terlonjak kaget dan refleks menutupi wajahku dengan kedua tanganku.


"Ana uhibbuki Fillah ya zaujati..." Ucapnya pelan didekat telingaku. 


Geli? 


Iya, aku merasa geli saat Arfan memperlakukan aku seperti ini. Aku kira ia akn menciumku didepan para tamu kan bisa malu dibuatnya.


'Ya Allah aku bahagia sekali...semoga kebahagiaan ku dan kebahagiaan Arfan tidak pernah luntur sampai maut memisahkan_doaku dalam hati.


"Ciee cieee.... pengantin baru mah biasa, yakan Anna?


Aku yang mendengar Keyle bicara seperti itu dihadapan suaminya agak merasa malu langsung melototkan mataku, tanda aku kesel padanya.


"Ya elaa Syifa...Syifa, gak usah begitu juga kali matanya, udah santai aja.."


'Iiii...bener bener ni anak! Bisa bisa nya ia ngeledeknya seperti itu! Awas aja nanti!!_batinku.


Aku pun tersenyum kecut terhadapnya. Ia yang melihatku seperti kesel padanya hanya cengar-cengir.


"Eh, mbak semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah yaa, mbak jangan nangis lagi, aku sedih lho liat nya.."ucap Anna.


"Ingat bang jagain mbak Syifa yang benar benar, awas aja kalau dibikin sedih! Jika Abang bikin sedih mbak Syifa....Abang akan berurusan dengan kita kita, yakan Ai, key!...tanya nya pada Aila dan Keyle.


Mereka pun mengangguk mengiyakan ucapan Anna.


"Esss adek Abang ini... perhatiannyaaa ma syaa Allah..." Ucapnya sambil mengusap ngusap kepala Anna.


"Iii, Abang nanti berantakan lagii!! Kebiasaan deh Abang ini..."ucapnya kesel.


Melihat pemandangan seperti ini, rasanya aku merasakan mempunyai seorang adik yang sangat sayang kepada kakaknya, dari dulu aku gak pernah merasakan sayangnya seorang adik kepada kakaknya sendiri, dia selalu bersikap acuh kepadaku, dan kadang ia jutek, tapi dibalik sikapnya seperti itu, aku yakin ada kelembutan yang tersimpan dalam hatinya.


"Mbak Syifa, wahhh! mbak cantik sekali.." ucapnya antusias. Aku terkejut melihat teman-teman nya Zahra yang datang kepadaku.


"Ya Allah, Diva, Amel, Cici...ma syaa Allah kalian datang? Tapi ko ada yang kurang..." Pikirku.


"Laila mana?" Sambungku.


"Ooh...Laila ya mbak, kemarin ia bilang kekita, katanya dia gak bisa kesini, dia dan orang tuanya ada acara dirumah kakeknya di Bandung, dan ia titip salam sama kado ini untuk mbak Syifa...."ucap diva, dan iapun menyerahkan sebuah kado dari Laila lalu aku mengambilnya.


"Ma syaa Allah, ucapkan terimakasih ya Div sama Laila, dan mbak titip salam balik untuknya...."balasku.


Mereka pun mengangguk mengiyakan ucapanku.


"Ooo ya mbak...Abang yang disampinya siapa namanya? Tanya Amel antusias.


"Nama_"belum sempat menyebutkan nama mas Arfan tiba tiba di potong mas Arfan.


"Nama Abang Muhammad Arfan, panggil aja bang Arfan yaa..."


Mendengar Arfan memperkenalkan dirinya mereka hanya manggut-manggut mengiyakan.


"Eh Syifa, kami duluan ya kesana mau makan dulu, soalnya dah lapar ini perut si key.." kekeh Aila sambil memegang perut keyle.


Plakkkk!!


Satu tamparan dari tangan key untuk Aila yang suka mengatakan hal aneh menurut nya dan juga sudah berani menyentuh perutnya tanpa seijin pemiliknya.


"Eh, enak aja, yang lapar siapa yang dikata siapa!! Hehh! " Kesel Keyle tak terima namanya disebut sebut.


"Udah ayo cepetan!! Disini mah cuma mengganggu aja kerjaan kalian, ayo Anna, Ai.." sambung key sambil menyeret kedua sahabatnya.


Anna dan Aila pun terkekeh-kekeh melihat sikap satu temannya ini, dan mereka pun lalu pergi meninggalkan Syifa.


"Mbak, kami mau pergi kesana juga ya mbak... assalamualaikum..."ucap Cici.


"Iya...waalaikumsalam" jawab kami.


Dan kini tinggallah kami berdua dengan menyambut para tamu undangan yang berdatangan.

__ADS_1


..........


Jangan lupa tinggalkan jejak vote kalian yaa setelah selesai membaca 😉🙏 silahkan share ceritanya keteman teman kalian juga 😉 bantu author untuk mengshare cerita ini 🤗🙏


__ADS_2