
Arfan POv
.
.
.
Setelah mengucapkan Ijab Qabul selesai, ucapan syukur tak henti-hentinya ku ucapkan, aku bersyukur kepada Allah karena Allah telah melancarkan acara pernikahan ini.
Hari ini aku benar-benar tidak menyangka, takdir memang sulit untuk ditebak. Lihatlah sekarang aku sudah menikah dengan orang yang ku cinta. Allah telah mendengar doa doa ku, tadinya aku telah putus asa karena aku akan menikah dengan Fathan tapi nyatanya itu tidak. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah, jodoh memang tidak ada yang tahu kecuali Allah saja.
Kini rasa sesak yang ku dapat sekarang sudah hilang dan Allah gantikan dengan rasa kebahagiaan. Kalian pasti tahu sebahagianya aku hari ini, bagaimana aku tidak bahagia karena 'Dia' sudah menjadi seorang istri dari Muhammad Arfan.
Istri??
Hm, kata yang sangat menghangatkan batinku.
Ku harap 'Dia' adalah jodoh dunia dan akhiratku.
Aku berjanji pada diriku sendiri Syifa, aku akan selalu buat kamu tersenyum dan selalu akan buat kamu bahagia, dan aku akan menjauhkan kamu dari kata menangis lagi! Sudah cukup kau selalu menangis dalam menungguku, akan ku buat kau selalu tersenyum jika melihatku, jika seandainya kau menangis maka akan kupastikan itu bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan! Batinku.
"Fan...
Aku terlonjak kaget saat ada yang menepuk punggungku dan saat aku berbalik ternyata itu Fathan.
"Fan, aku mohon jagain Syifa ya..aku tahu ini memang sulit untukku berbuat ikhlas, tapi jika itu bisa membuat dia bahagia aku akan melakukan apa pun itu..." Ucapnya.
Aku tak bergeming, biarkanlah dulu ia mengutarakan apa isi hatinya sekarang, aku juga tau ini sangatlah sulit untuk diterima, tapi...aku juga tak mau menyalahkan siapa-siapa, inilah takdir, iya takdir Allah yang sudah di tulis di Lauhul Mahfudz. Baik itu rezeki, jodoh, dan kematian itu sudah Allah gariskan sebelum kita dilahirkan ke dunia ini.
"Aku tak tahu kapan rasa itu ada Fan, yang aku tahu, saat aku berada di sampingnya aku merasa bahagia, tapi tidak dengan nya, aku tak pernah melihat kebahagiaan dimatanya saat aku bersama dengannya, ku harap kau bisa menjaganya. Untuk soal mengikhlaskan, in syaa Allah aku akan ikhlaskan Syifa untukmu, mungkin 'Dia' adalah.......jodohmu bukan jodohku..." Ucapnya lirih.
Sebenarnya aku merasa iba terhadapnya, tapi aku bisa berbuat apa sekarang, ini semua juga kehendak nya dan lebih-lebih lagi ini adalah kehendak Allah, lagi pula saat aku bertemu dengannya, aku sudah menolak permintaan nya tapi ia tetap bersikukuh untuk menerima permintaannya itu.
"In syaa Allah, selama Allah masih memberi nafas padaku, aku akan berusaha membahagiakannya..." Ucapku datar.
"Kupegang janjimu Fan." Ucapnya tegas sambil memegang pundakku.
"Afwan, saya gak mau berjanji, karena bisa bisa saja suatu saat nanti saya mengingkarinya, karena saya bukanlah manusia sempurna melainkan saya hanya orang biasa yang bisa lalai akan janji yang dibuat, maka dari itu saya hanya bisa berusaha..."
Hening...
__ADS_1
Kini ia tak lagi bicara sepatah kata pun setelah mendengar penjelasan ku, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Nak, ayo kita kesana dulu Abi mau bicara..." Ucap Abi yang tiba tiba datang menghampiri kami. Dan aku hanya mengiyakannya, lalu berpamitan kepada Fathan.
"Arfan...tunggu! " Panggil Fathan agak sedikit berteriak karena jarak sudah sedikit jauh.
Akupun membalikkan badanku lalu ia menghampiriku, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan lagi_batinku.
"Ini...(sambil menyerahkan kertas putih)
Aku yang merasa agak bingung dengan kertas itu bertanya padanya.
"Apa ini? Tanyaku.
"Berikan pada Syifa..ini adalah surat pertama dan surat terakhir untuknya.."ucapnya lirih, tapi masih terdengar ditelingaku, walaupun sedikit samar samar.
"Baiklah.." kau aku mengambil surat itu dan aku berinisiatif untuk memberikan surat ini setelah aku menemui Abi.
"Syukron Fan.."ucapnya.
Akupun mengangguk mengiyakan, kemudian aku berpamitan dengannya, lalu pergi berlalu dari hadapannya, dan aku langsung bergegas menuju tempat dimana Abi ingin berbicara denganku.
"In syaa Allah Abi, Arfan akan berusaha semampu Arfan membuatnya bahagia dan selalu tersenyum.." ucapku tegas.
"Baiklah nak, kalau begitu pergilah kelantai atas, kamar paling ujung, temuilah istrimu, pasti dia sudah menunggumu..."
"Baik abi..."
Akupun pergi ke lantai atas untuk menemui istriku. Ya Allah, aku benar-benar gak menyangka, takdir memang sulit ditebak, kini dia sudah menjadi pelengkap dari separuh agamaku. Semoga Kau selalu meridhoi jalan kebaikan ini ya Allah_batinku.
Saat ini aku sudah berada di depan kamar Syifa, ku coba menetralkan detak jantung yang ingin meloncat pergi dari tempat asalnya. Sebelum aku mengetuk pintu ini ku tarik nafas dulu agar rasa gugupku sedikit berkurang, tapi nyatanya tidak sama sekali.
Tok tok tok
Dan kini gagang pintu itu bergerak dan terbuka, aku kira yang membuka pintu ini adalah Syifa ternyata Anna dan teman temannya.
"Wahh bang...jangan macem-macem dulu yaa, itu tamu kasian nunggu dibawah.." ucapnya sedikit menggodaku. Ku tatap matanya dengan tatapan tajam, dan ia pun hanya cengar-cengir begitu saja hingga berlalu dari hadapan ku bersama teman temannya itu.
Kulihat Syifa hanya duduk diatasnya kasur dengan menundukkan pandangannya, apa ia tak mau menyambut ku sekarang? Apa lantai itu lebih menarik dari pada diriku hingga ia menunduk dan tak menyambut kedatanganku?
"Assalamualaikum....."
__ADS_1
Hening, ia tak bergeming sedikitpun tapi saat aku ingin mendekatinya aku melihatnya sesekali melirik kearah ku, apa ia malu sekarang? Pasti dia akan terkejut melihatku yang berada di depan nya bukan Fathan. Tapi aku akan menerima seperti apapun itu reaksinya.
"Assalamualaikum Humairah..." Ku ulangi lagi salamku.
"Walaikumsalam..."jawabnya gugup.
Saat ku menunduk didepan nya, ia terlonjak kaget, aku sudah menduga itu.
"Arfan.." ia sangat terkejut dengan kehadiran ku disini hingga matanya pun sedikit membola.
"Kamu ngapain disini? Mana mas Fathan?
Ku lihat wajahnya ada segurat kekhawatiran. Tapi aku berusaha tersenyum walaupun ada rasa sesak dihati saat mendengar respon ini. Inilah logika nya ia tidak tahu yang sebenarnya, jadi aku sudah menerima apapun resikonya.
"Ini..(sambil menyerahkan kertas putih yang diberikan Fathan)....bacalah.." ucapku tersenyum.
Kini kekhawatirannya berganti dengan kebingungan.
Iya! Sekarang ia bingung dengan apa yang ku beri itu, sesekali ia menatap surat dan menatapku dengan bergantian.
Menggemaskan sekali istriku ini. Lihat saja wajah bingungnya itu, agak sedikit lucu bagiku.
"Ayo ambil.." lalu iapun mengambil surat itu dari tanganku, dan membacanya.
Setelah membaca surat itu ia pun sedikit terisak.
"Arfan.."lirihnya.
Akupun mengangguk dan ia pun langsung memelukku.
"Arfan..apa semua ini benar?? Tanyanya sambil menangis.
"Iya Syifa...kau bahagia.."ucapku sambil tersenyum.
Iapun mengangguk mengiyakan ucapanku.
"Syifa rindu...hiks hiks hiks...
.........
Jangan lupa vote dan like nya yaa 🤗
__ADS_1