
"Arfan..." Lirihku.
Nama itu keluar dari mulutku tanpa kusadari, aku terkejut melihat dirinya yang sedang berada di depan kamarku, ia sedang menemani sepupunya, ia adalah Arfan, Muhammad Arfan! Sepupunya Anna.
"Syifa..."
Kudengar sayup-sayup dia menyebut namaku.
Apa?! Dia memanggilku, aku yang mendengarnya pun terkejut. Apa Mungkin aku memanggil namanya tadi terdengar oleh telinganya? Mungkin saja, karena aku terkejut akan kedatangannya.
Aku tak kuat melihatnya yang sedang berada di depan mataku, ingin rasanya kerinduan ini ku hamburkan kedalam pelukannya, tapi apalah dayaku, aku bukan siapa siapa baginya, dan aku juga bukan mahramnya yang bisa kupeluk sesuka hatiku. Tanpa kusadari kaki ini refleks berlari setelah melihatnya, dan lihatlah sekarang aku hanya bisa duduk di balkon kamarku seorang diri dengan pakaian seperti ini.
Dengan pakaian pernikahan! Iya hari ini aku akan menikah dengan seseorang yang aku memang tidak pernah mengenalnya. Aku hanya korban perjodohan!
Saat ini aku tak kuasa menahan air mataku, hingga bulir bulir bening itu menetes dan terus menetes dengan sendirinya.
Kalian boleh saja sebut aku cengeng, tapi ketahuilah!! Rasa ini sungguh menyesakkan!!
'Kenapa kau datang setelah lamaran itu ku terima Arfan_batinku.
"Syifa...selamat ya, setidaknya kau tidak berlama-lama lagi menungguku, aku ikhlaskan dirimu untuknya, walaupun sesak yang kurasakan " ucapnya lirih.
"Maafkan aku, aku gak bisa menepati janji yang pernah kuucapkan padamu waktu itu..."sambungnya, dan aku hanya bisa diam dan bungkam dengan tangisan yang sangat sulit aku hentikan.
Aku yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya bisa menangis, aku tak perduli dengan make up yang ku kenakan ini berantakan!!
"Syifa... ikhlaskan hatimu menerima 'Dia' sebagai pendampingmu, Allah sudah mengirimkan seseorang yang terbaik untukmu, aku yakin ia laki laki baik, percayalah" lirihnya.
Setelah mengatakan itu ia pun berlalu tanpa mengucapkan salam. Aku tak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya. Apakah sama dengan pikirinku sekarang?
Berantakan!!
Iya sekarang sudah berantakan!!
Bagaimana ia bisa menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai sama sekali dihadapan Arfan? Sedangkan Arfan adalah seseorang yang sudah menghiasi hidupku dimasa lalu hingga saat ini.
Kalian boleh sebut aku egois, tapi satu hal yang harus kalian ingat!! aku tak akan bisa membuang semua kenangan tentangnya, apalagi dia adalah orang yang pertama meluluhkan hatiku.
Sungguh rasanya dunia memang tidak pernah adil terhadapku!! Sekarang aku tak kuat menahan semua rasa ini hingga tangisku pun kembali pecah, aku tak lagi mempedulikan semuanya, tentang makeup yang ku gunakan ataupun tentang acara yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.
"Astagfirullah mbak, mbak kenapa?
Tiba tiba Anna datang dan menghampiri ku dengan keadaan seperti ini. Lalu kupeluk tubuhnya dengan erat, aku berharap dengan seperti ini beban pikiranmu bisa berkurang.
"Mbak istighfar, mbak gak boleh seperti ini...aku minta maaf mbak sudah mengajak bang Arfan kesini maaf mbak..." ucapnya lirih.
Kulonggarkan pelukanku terhadap Anna. Kulihat ada semburat kesedihan diwajahnya.
"Iya Anna, mbak gak apa-apa...apa kau juga mengajak keluargamu datang kesini? Tanyaku. Ku berusaha menghentikan tangisku.
"Iya mbak, kata Ummi...dia mau ikut, dan.....(jeda sebentar)....ah sudahlah, gak usah dipikirin mbak.." ucapnya lagi.
Aku pun keheranan melihat nya. Apa Anna menyembunyikan sesuatu dariku_batinku.
"Aduh mbak gimana seh mbak, liat deh makeup dan tatanan fashion nya berantakan, ayo mbak masuk..."kamipun masuk dan saat aku masuk aku menemukan kedua sahabatku yaitu Aila dan Keyle berada di depan pintu, rasa senang dan rasa sedih kini tercampur rata hingga aku tak menyadari kalau mereka memandangku begitu terkejut dengan keadaan ku yang seperti ini, sangat berantakan!
"Mbak bisa tunggu sebentar disini, Anna mau manggil tatariasnya dulu, mbak jangan kemana-mana yaa, Ai, key, jagain yaa"ucap ana pada mereka yang diikuti dengan anggukan, lalu ia berlalu hingga punggungnya tak terlihat lagi olehku.
"Astagfirullah Fa...kamu kenapa? Kok bisa berantakan begini? Tanya keyle khawatir.
"Baru aja ditinggal udah begini.. "sambungnya lagi.
__ADS_1
Hening....
Tak ada jawaban sedikitpun untuk Keyle.
"Fa!! kini Aila yang bersuara dengan nada satu oktaf dinaikkan nya.
"Eh i..iya..ada apa? Tanyaku gugup.
"Astagfirullah Syifa....Syifa...kamu kenapa Fa?! Tanya key geram.
"Aku....gak apa-apa ko..."jawabku bohong. Maafkan aku ya Allah, maaf kan aku Ai, key...batinku dalam hati.
Dan mereka pun hanya melongo mendapatkan jawaban yang super duper memuakkan, Syifa selalu bilang tidak ada apa apa, tapi nyatanya ada apa apa dibalik semua yang terjadi saat ini.
Setelah beberapa menit menunggu, Anna pun datang dengan mbak Risa penata rias yang tadi telah merias dirinya hingga akupun tak mengenali diri ku sendiri.
"Ya Allah neng, neng ko bisa berantakan begini..." Tanyanya agak khawatir.
"Maaf mbak Risa, maaf.." lirihku.
"Ya sudah gak apa-apa, kalau begitu neng cuci mukanya lagi ya, nanti kita rias ulang.." ucapnya final.
Aku pun mengangguk mengiyakan ucapannya tanpa banyak tanya lagi padanya. Lalu aku membersihkan mukaku, kemudian aku kembali dirias oleh mbak Risa.
"Lo kok belum selesai Risa.." tiba tiba Ummi datang, aku pun menoleh kearahnya. Aku hanya bisa diam menatap nya, entah kenapa bibirku sangat Kelu untuk mengeluarkan suara walaupun hanya sepatah kata.
"Iya Rahma, tadi seh sudah selesai, tapi tiba-tiba berantakan lagi, ya udah aku rias ulang aja gitu..." Jelas mbak Risa.
"Emang ada apa nak.." tanya Ummi yang kini menghampiri ku dan duduk didekat Anna.
Aku diam tak bergeming, aku merasa Ummi ku ini sekarang gak peka terhadap ku. Aku sudah memberikan penjelasannya melalui buku harianku. Aku kira Ummi akan paham maksud ku tapi ternyata itu hanya hayalanku belaka.
"Maaf Ummi boleh aku bicara sama Ummi, tapi kita bicara diluar..."tiba tiba Anna mengajak Ummi ngomong berdua dengannya.
"Eh, iya silahkan nak.."
Lalu ia pun berlalu keluar kamarku, dan menyisakan aku, Aila, Keyle dengan mbak Risa, sipenata rias.
....
Ditempat lain....
"Ummi maaf ya Ummi..Anna salah, ini semua gara gara Anna yang udah bikin mbak Syifa begini...."
"Lhaaa ko kamu tuh nduk..kamu kan gak salah..." Jawab Ummi.
"Ummi.... Ummi tau Arfan kan? Tanya Anna datar.
"Em, ummi Kayak pernah dengar nama itu tapi....dimana ya.."
"Dibuku mbak Syifa...iya kan Ummi? Tanya nya lagi.
"I..iya iya..ko kamu tahu nduk.."
"Ummi, Anna sahabat mbak Syifa di pondok jelas tahu semuanya, dan Anna sepupunya Arfan, Anna udah tahu semuanya kalau mbak Syifa dan bang Arfan itu saling mencintai, kemarin sebelum bang Arfan pulang dari Kairo, bang Arfan sempat bilang ditelpon kalau hari Ahad ini ia akan datang kerumah ini dan akan mengkhitbah mbak Syifa, dan saat Anna mendengar itu hati Anna rasanya mencelos gitu, ada rasa kesedihan dalam hati Anna. Ingin rasanya Anna mengatakan pada bang Arfan kalau mbak Syifa akan menikah hari Ahad ini, tapi niat itu Anna urungkan. Anna tak tega jika melihat Abang Anna sedih. Anna gak bisa.." Ucapnya lirih
"Setelah itu Anna hanya bisa diam dan tak bisa lagi berkata kata, kalau boleh jujur Ummi, dari dulu bang Arfan selalu berusaha untuk bisa mempercepat kuliahnya, ia terus belajar dengan giat agar skripsi nya berjalan dengan lancar dan dengan cepat ia selesai maka cepet juga ia pulang ke Indonesia untuk mengkhitbah mbak Syifa, tapi inilah kenyataannya, saat Anna tadi kekamar mbak Syifa dan Anna minta ditemani bang Arfan, mbak Syifa malah syok melihatnya, begitu juga dengan bang Arfan. Ia tidak tahu kalau ini adalah pernikahan nya, ia kira ini adalah pernikahan saudaranya mbak Syifa. Pas ia bertemu dan saling tegur sapa, mbak Syifa malah menangis, air matanya tak mau henti, tangisnya sulit untuk dihentikan. Anna yang melihat ini merasa bersalah, seharusnya Anna bilang ke bang Arfan kalau ini adalah pernikahan mbak Syifa, mungkin tidak akan menjadi seruyam ini..."
Ummi yang mendengar penjelasan Anna pun tak habis pikir air matanya sesekali menetes lalu ia hapus secara kasar.
"Ummi, kalau Ummi gak percaya Ummi bisa tanya ke mbak Syifa, seperti apa perasaan nya terhadap bang Arfan.." kini mataku berkaca-kaca, aku tak boleh menangis aku harus kuat menceritakan semuanya_batinku.
__ADS_1
Cukup lama Anna menceritakan yang sebenarnya, tanpa Anna sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan bersama Ummi, iya dia adalah Syifa.
Rasanya aku tak percaya bahwa Anna akan menceritakan semuanya, terima kasih Anna_batinku.
Lalu kemudian aku berlalu dan menyisakan Anna, Ummi dan segala cerita yang ada diantara mereka.
..........
Fathan POV
"Ayo nak..."ucap Ummi. Setelah selesai berpakaian dan sebagainya, akupun langsung bergegas pergi kerumah Syifa untuk melantunkan ijab qabul.
'kuharap ini adalah jalan yang terbaik dari_Mu untuk ku ya Allah..bismillahirrahmanirrahim..semoga engkau ridho ya Allah.." lirihku.
Lalu kamipun berangkat menuju kediaman Syifa. Sekitar satu jam lebih kami pun sampai di rumah Syifa, orang orang begitu ramai menyambut kebahagiaan.
Kebahagiaan? Apa aku bahagia? Dan apa dia juga bahagia? Hemm...yang pasti, aku sudah tahu apa jawabannya. Tapi biarkanlah Allah yang akan menjalankan sesuai skenario_Nya.
"Nak ayo..."ajak Ummi dan kamipun berlalu memasuki tempat yang sudah disediakan sedemikian rupa.
Saat berjalan akupun bertemu dengan kedua sahabatku, iya mereka adalah Farhan dan Raihan.
"Assalamualaikum Ummi, apa kabar Ummi.." tanya Raihan.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik nak, kamu gimana? Tanya Ummi balik.
"Alhamdulillah Baek juga Ummi..."
"Kalau begitu Ummi kedalam dulu yaa...Ummi mau menyambut tamu-tamu dulu, Fathan kalau acara sudah dimulai cepet datang yaa...." Ucapnya, kami pun hanya mengangguk dan ia pun berlalu hingga punggungnya tak terlihat lagi.
"Hai bro...."ucap Farhan asal.
"Assalamualaikum dulu bocahhhhh.." sergahku.
"Iya iya ustazah...assalamualaikum.."
Aku yang mendengar ia mengatakan aku ustadzah pun hanya melongo.
"Apa lho bilang? Ustazah..hahaha" kamipun tertawa bersama. Inilah yang selalu Fathan inginkan, ingin selalu bersama dengan sahabat sahabat nya walaupun sering buat ulah tapi mereka sangat berarti dalam hidupnya. Kini kedatangan mereka membuat beban ku sedikit berkurang, ya walaupun itu hanya sedikit, tapi setidaknya aku tak banyak banyak memikirkan masalah itu lagi.
Kamipun berjalan sambil melepas rindu, terakhir bertemu mereka saat membagikan undangan waktu dicafe.
Brukkkk....
Tiba tiba aku menabrak orang, saat kulihat wajahnya agak sedikit murung. Tapi sepertinya aku pernah melihat...tapi dimana yaa_batinku.
"Afwan mas, ana gak sengaja.." ucapnya datar.
"I...i...iya gak apa-apa..." Ucap ku pangling. Lalu iapun berlalu setelah mengucapkan salam. Kami pun menjawabnya.
Sekali lagi kuperhatikan, dan ternyata aku ingat satu hal bukan kah itu seseorang yang sama persis difoto dalam buku harian Syifa.
"Apa dia Arfan?" Alibiku.
"Apa? Arfan? Lho bicarain siapa seh?" Tanya Raihan bingung.
"Han, Far... lho harus bantu aku, tolong ikuti laki laki itu aku mau kesana sebentar..." Ucapku lalu pergi tanpa mengucapkan salam pada keduanya. Raihan dan Farhan pun yang melihat kejadian ini hanya saling pandang memandang.
..........
jangan lupa like nya yaaa🤗
__ADS_1