Penantian Halalku

Penantian Halalku
Part 24


__ADS_3

Saat sedang asyik-asyiknya bermain dengan Zulfa tiba tiba Arfan datang menghampiri ku.


"Sayang, ini siapa namanya? Tanya Arfan. Akupun langsung menoleh dan tersenyum.


"Nama aku Zulfa om.."ucap ku meniru suara anak kecil sambil melambai-lambaikan tangan Zulfa.


"Ohh Zulfa ya..sini ikut om..."ucap Arfan lalu mengambil alih Zulfa dan bermain-main dengan nya.


Hening...


"Kamu sudah sholat magrib? Tanya Arfan.


"Em, aku lagi ada halangan...jadi maaf ya, kamu sholat nya sendiri dulu.."ucapku sedikit gugup.


"Ohh, gitu..."


"Hah?! Cuma gitu doang respon nya? Tanya batinku.


"Em...Syifa mau kesana dulu ya...." Ucapku sedikit kaku.


"Panggil mas aja..."ucapnya dengan tersenyum padaku.


"Em, i..iya..ya udah aku kesana dulu sebentar...jagain dulu Zulfa nya..."


"Iya..mas jagain kok, tenang aja..."ucap Arfan tersenyum dan aku pun membalas nya lalu berlalu pergi kebelakang.


"Ummi, Syifa bantuin ya nyiapin makan malamnya..." Ucap ku lalu menghampiri ummi.


"Iya sayang, kamu goreng ikan dulu ya, nanti Ummi yang masak yang lainnya..." Kata Ummi.


Kulihat Ummi begitu kelelahan, seharian ia beraktivitas tanpa ada istirahat sedikitpun, aku terharu, begitu besarnya pengorbanan seorang ibu untuk anaknya supaya anaknya bahagia tanpa memikirkan kondisinya sendiri. 


"Ya Allah sehatkan selalu Ummi hamba, jagalah selalu dia begitu juga dengan Abi...jauhkan mereka dari segala hal buruk ya Allah...Aamiin..."doaku dalam hati.


"Syifa, kok melamun? Tante panggil panggil gak nyaut nyaut, eh ternyata melamun rupanya..." Ucap Tante Yola mendramatis.


"Hehehe, maaf tan, sengaja emang.."kataku dan dihadiahi gelak tawa dari orang sekitar.


"Syifa, Syifa, udah gede juga, udah nikah juga, masih aja kayak anak kecil, nanti jangan begitu ya kalo sama suami..."kata Tante Sarah yang tiba-tiba datang menimbrung pembicaraan kami.


"Eh Tante Sarah...kapan disito? Tanya ku malu malu.


"Gak usah malu begitu kali Fa, masa sama Tante sendiri malu,,,haha"


 


"Emm,,Tante mah..."renggek Syifa.


"Udah punya suami, tapi masiih aja kayak anak kecil, dasar bocahh..haha"


Aku benar benar malu sekarang, Tante tantenya selalu menggodnya dan terkadang suka meledeknya.


"Ya Allah, Syifa malu digodain terus, lebih baik tenggelamkan Syifa aja, dari pada malu..."monolog ku dalam hati sambil menahan rasa malu.


"Iiisss, Ndak Baek begitu Sarah, Yola.." tegur Ummi.


"Tau tuh Ummi, Tante Yola sama Tante Sarah ledekan Syifa terus kan Syifa kesel!..." Adu Syifa.


"Hehe, maaf mbak, habisnya lucu anak nya...ya kan Yola..haha..."


"Iya tuh betul, hahaha...aduh Syifa, sakit perut Tante ini..huh.."


"Ledek aja terus Tan, sampai mulut berbusa pun Syifa gak PERDULI!! Ucap Syifa kesel lalu pergi berlalu meninggalkan Ummi dan Tante Tante yang sedikit menyebalkan bagi Syifa.


"Tuh kan ngambek Syifa nya, kalian seh..."


"Maaf mbak, kita mah cuma bercanda, udah lama kan kita gak bercanda kayak gitu..."ucap Tante Sarah.


"Yaudah ini sudah pada siap semua, letakkan di meja makan ya, nanti kita makan sama sama setelah sholat isya..."kata Ummi dan diiyakan oleh Sarah dan Yola.


...........


Sedangkan Syifa, sangat kesel dengan ledekan dari kedua Tantenya sambil mengoceh ngoceh gak jelas. Tanpa disadari nya ia berlalu menuju ruang tamu.


"Iiihhhh, sebel sebel sebel, Tante mah gito mulu..." Cerocosku.


"Kamu kenapa? Kok terlihat kesel begitu?" tanya Arfan kebingungan.


"Gak pa-pa..."jawabku santai.


"Kok gak pa-pa jawabnya? Tanya Arfan lagi.


"Au ah, Syifa mau ke kamar..." Ucap ku lalu pergi meninggalkan Arfan yang kebingungan dengan tingkah ku.


Dikamar aku hanya duduk termenung memikirkan hari besok. Gimana gak kepikiran coba, besok sekolah sudah mulai aktif.


"Emm, Arfan bolehin aku gak ya besok sekolah, kan sebentar lagi ujian, kalau sering libur, bisa bisa nilai ku nanti anjlok, Ummi sama Abi pasti sedih.." monolog batinku.


Allahu Akbar Allahu Akbar....


.


.


.


"Alhamdulillah, sudah adzan.."


Akupun langsung beranjak dari tempat dudukku, dan langsung turun menuju ruang keluarga lalu menyalakan televisi.


"Eh sayang, kok nonton tv? Emang sudah sholat? Tanya Ummi lembut.

__ADS_1


"Gak Ummi lagi dapet, makanya Syifa gak sholat...hehe" kekeh ku.


"Yaudah, kalau gak sholat siapin geh makanan makanan dimeja makan..." Kata Ummi dan diangguki olehku.


Lalu akupun beranjak menuju ruang makan dan langsung menata makanan yang sudah dimasak tadi.


Sekitar dua puluh menitan sholat isya berjamaah di mushalla rumah pun selesai, seluruh keluarga pun berkumpul di meja makan.


"Ma syaa Allah, om Syam..kapan dateng? Tanya ku terkejut saat melihat om Syam suaminya dari Tante Sarah dan langsung memeluknya.


"Siang tadi om Dateng....ini anak masih aja manja sama om, dari dulu sampai sekarang..."Kata om Syam sambil mengelus kepalaku.


"Oo ya ummi dari tadi Syifa gak liat Zahra, kemana emang? Tanya ku pada Ummi dan langsung melepaskan pelukanku dari om Syam.


"Ohh Zahra, tadi sore dia izin kerumah teman, katanya ngerjain tugas, sebab besok harus dikumpul katanya..." Jelas Ummi, dan aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ummi.


"Kok pada ngobrol semua, kapan ini acara makan malam nya dimulai..."ucap Abi yang sudah tak sabar ingin menyantap makanan yang sudah disiapkan.


"Ah iya,,ayo mari kita makan...ngobrolnya nanti kita sambung lagi.."ucap Ummi.


"Syifa, siapin makanan untuk suami kamu..." Sambung ummi dan aku hanya mengiyakan ucapannya.


Makan malam pun berlangsung dan tak ada yang berbicara sedikit katapun yang terdengar hanya dentingan sendok.


"Alhamdulillah... sudah selesai, Ummi...Abi mau ke kamar dulu yaa..." Kata Abi dan diiyakan Ummi.


"Ummi, biar Syifa aja yang bereskan. Ummi temenin Abi aja..."kataku sambil membersihkan piring piring yang kotor.


"Emang sanggup? Tanya Ummi meyakinkan.


"In syaa Allah sanggup Ummi...yaudah sana, temenin Abi..." 


"Iya, iya...bersihkan semuanya ya.." Nasehat ummi dan diangguki olehku.


"Mau dibantu fa? Tanya Tante Sarah


"Gak usah tan, Tante urusin aja deh si Zulfa, pasti dia lagi rewel.."


"Ya udah, Tante tinggal dulu ya, mbak Yola, duluan ya...."pamit Tante Sarah pada kami.


"Iya..."ucap ku dan Tante Yola bersamaan. Tante Sarah pun pergi meninggalkan kami berdua diruang makan.


"Tante Yola juga, harus istirahat kan, kasian dede bayinya, kan gak boleh cape, ini biar Syifa aja yang beresen semuanya...."ucapku lalu mengambil alih beberapa piring kotor dari tangannya.


"Biar Tante bantu, gak apa-apa ko sayang.. kasian kamu kalau beresen semua ini, kan banyak....." 


"Gak apa-apa ko Tan, udah Tante istirahat aja, nanti Syifa beresen semuanya, tenang aja deh Tan kalau sama Syifa mah.."ucapku pede sambil mencuci piring.


"Beneran nih? Tanya Tante Yola sedikit ragu.


"Iya taan, beneraann..."ucapku meyakinkan.


"Lagian Tante pasti cape ngurusin pernikahan Syifa tadi siang, udah istirahat aja sana..."sambungnya.


"Iya gak pa-pa ko Tan..."


"Ya udah, Tante kekamar dulu ya.." pamit Tante Yola dan diiyakan oleh ku.


Saat sedang mencuci piring tiba tiba ada tangan yang melingkar di perutku. Aku sedikit terlonjak. Saat ku lihat ternyata mas Arfan suamiku sendiri.


"Iihh, bener bener nih suami, ngagetin aja.., alhamdulillahh Syifa gak punya penyakit jantung, kalau punya sudah terbaring kaku Syifa..."cerocosku.


"Astagfirullah, gak boleh ngomong begitu, gak baik..."nasehat Arfan.


"Iya iya, salah sendiri seh ngagetin mulu.."keselku.


"Ya udah mas minta maaf deh, mas yang salah..." 


"Ya harus dong minta maaf, kan salah..." 


"Iya mas tahu itu, maaf ya..."


"Iya, Syifa maafin, tapi jangan diulangi lagi ya..."


"In syaa Allah..." Jawab Arfan.


"Laaa, ko in syaa Allah seh mas? Tanya ku pakai embel-embel mas.


"Emmm, sudah berani ya manggil pakai embel-embel mas? Goda Arfan sambil menoel noel hidungku.


"Tauk ah, bikin sebel aja..." Keselku, dan berlalu pergi menuju kamar dan diikuti mas Arfan, karena semua cucian piring kotor sudah selesai. 


"Ko cemberut gitu muka nya, gak boleh kayak gito loh dihadapan suami..."ucap Arfan menghibur..


Hening....


Ceklek...


Syifa membuka kamar nya dan mendudukkan badannya di tempat tidurnya.


"Ya Allah, rupanya harga kacang naik lagi yah?? Ucap Arfan mendramatis


"Gak enak kalau dikacangin begini nya Allah.." doa Arfan dengan wajah sedikit lesu.


Aku yang melihat ekspresi suami anehnya ini tertawa geli dengan sekuat tenaga aku menahan tawa agar suami ku ini gak tahu kalau aku sedang menertawakan dirinya.


"Dosa gak ya tertawaain suami.." tanya batinku.


"Yaa Allah ampuni hamba..."rapalku dalam hati.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja..."ucapnya sedikit datar.

__ADS_1


"Haha, muka mas lucu kalau kayak gitu..." Akhirnya tawaku pun pecah.


"Tawain aja terus...."ucapnya sedikit memelas.


"Udah mas, sakit perut Syifa ini tertawa terus...." Akupun berhenti tertawa melihat wajah mas Arfan yang sudah di tekuk dari tadi.


"Siapa suruh tertawa ha?? Tanyanya sambil mengelitik pinggangku.


"Hahahaha, ampun mas, iya Syifa salah, ampun...hahaha" 


"Makanya jangan nakal...."nasehatnya.


"Iya, huh.. huh...cape mas, tertawa terus..." Ucapku lalu merebahkan badanku di kasur kesayangan ku. Mas Arfan pun menatap ku dengan penuh kasih sayang.


"Mas..." Panggil ku.


"Em, ada apa? Sahutnya dan masih menatapku.


"Em...besok...besokkk..."ucapku sedikit gugup sambil memainkan ujung kerudungku.


"Hm, besok ada apa? Tanya mas Arfan bingung. Keningnya sedikit mengerut menunggu jawaban dariku.


"Gimana ya, jadi gini Syifa besok....sudah mulai sekolah...bentar lagi ujian akhir..." Jelasku dalam keadaan gugup.


"Terus..." Ucap mas Arfan santai.


"Terus...Syifa besok mau mondok...." Ucapku jujur.


"Jadi??" Tanyanya lagi.


"Laa, kok gitu respon nya? Tanya ku dengan nada yang sedikit meninggi.


"Emang harus gimana responya? Tanyanya heran.


"Ya gini kek 'boleh dong...' gituu..."cerocosku.


"Ha? Kan kamu belum tanya ke mas, boleh gak besok mondok nya..." Ucapnya lembut.


"Iya kah? Tanyaku sambil berpikir dan diangguki olehnya.


"Hehe, lupa Syifa mas.."kekeh ku.


"Bolehkan? Tanyaku memastikan.


"Em, boleh gak ya? Pikirnya.


"Please..bentar lagi lulus lo, masa iya Syifa gak diijinkan sekolah lagi, tanggung mas, dikit lagi lulus..." ucapaku menunduk sedih.


"Hehe, boleh dong sayang, siapa yang melarang kamu untuk berbuat kebaikan, apalagi soal menuntut ilmu, itu sudah pasti mas ijinin..." Ucapnya sambil mengusap kepalaku.


Mataku berbinar mendengar ucapannya dan langsung memeluknya, aku sungguh sangat senang. Ternyata mas Arfan gak melarang diriku untuk melanjutkan sekolah lagi.


"Makaseh mas.."


"Sama sama sayang..." Sambil membalas pelukan ku dan mengecup keningku cukup lama.


"Ya sudah, yuk tidur...nanti pagi kamu telat bangunnya..kan mau pergi kepondok..."


"Iya mas..."


"Apa sudah dibicarakan sama Ummi dan Abi? Tanya mas Arfan.


"Sudah mas, kata Ummi...ummi ngijinin, tapi ijin juga sama suami...gitu kata Ummi..." Jelasku.


"Ya sudah, nanti pagi mas yang anter kamu..."


"Jangannnn..."tolakku.


"Kenapa? Tanya mas Arfan heran.


"Em..anu...apa itu ya..."gugup ku.


"Kenapa? Tanyanya lagi.


"Em, nanti Syifa di anter sama Abi aja deh.." ucapku dengan hati hati dan langsung merebahkan tubuhku membelakangi nya.


"Mas mau penjelasan mu, ayo bangun dulu, kalau gak mau menjelaskan ya udah mas gak ngijinin kamu kepondok besok pagi..."


Syifa yang mendengar perkataan suaminya itu dengan cepat ia bangun.


"Kok gitu, ya udah nih Syifa jelasin....Syifa gak mau kalau teman teman Syifa tau, kalau Syifa sudah menikah, nanti apa kata temen-temen, Syifa gak mau nanti diejek atau dikata katain yang jelek jelek...." Ucap Syifa sedikit menunduk.


"Jadi hanya itu? Tanya Arfan memastikan dan hanya diangguki oleh Syifa.


"Jadi kamu malu gitu sudah menikah dengan mas? Tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng kepala tanda tidak.


"Terus kenapa teman teman nya gak boleh tahu, kan bagus sayang, kalau orang-orang tau kalau Syifa mas ini sudah ada yang punya, jadi gak ada lagi yang berani mengganggu kamu..."


Aku hanya menunduk mendengarkan nasehat nya, sebenarnya aku ingin memberi tahukan ini pada teman-teman ku, tapi waktu itu belum tepat.


"Kenapa diam, heh..."


"Sini peluk mas...." Sambung nya. Ia pun langsung memelukku dan akupun langsung membalas pelukannya.


"Besok biar mas yang anter kamu yaa..kasian Abi, pasti Abi banyak pekerjaan dikantor nya, apalagi mas denger dari Abi, kalau kantor Abi sedikit ada masalah..." Ucapnya sambil mengusap kepalaku dengan lembut dan sesekali ia mengecup keningku.


"Ya udah, tapi mas janji, gak boleh ikut keluar, mas diam dimobil aja.."


"Iya, mas janji...ya udah kamu tidur geh, mas mau kebawah dulu..." Ucapnya dan diangguki olehku.


Mas Arfan pun keluar dari kamarku, dan menutup kembali pintu kamarku dan hilang. Kini tinggal Syifa di kamar kesayangan nya, tak pikir panjang, aku pun berbaring dan memejamkan mataku hingga aku terlelap menuju dunia mimpi.

__ADS_1


............


Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan like kalian yaaa 😊 dan jangan lupa share juga cerita ini keteman teman kalian, dan terus bantu support yaa 🤗🙏


__ADS_2