
"Assalamualaikum...
Terdengar ucapan salam, kulihat Abiku sudah datang cepet cepat aku menuju kearahnya dan menyalami tangannya.
"Waalaikumsalam Abi..ko Abi baru pulang?"
"Tadi Abi datang dari rumah sakit"
Aku yang mendengarnya terlonjak, dan langsung bertanya siapa yang sedang sakit.
"Abi sakit, mana yang sakit Abi, sini biar Syifa pijet"
Kulihat, Abiku terkekeh melihat tingkahku secerewet ini.
"Haha, kamu ini, bukan Abi yang sakit tapi istrinya Adnan..."
Sepertinyaaa aku pernah mendengar nama itu tapi siapa yaaa_batinku.
"Siapa dia bi?" Tanyaku.
"Itu Umminya Fathan masuk rumah sakit"
"Apa?? Ummi Fathan masuk rumah sakit? Ko bisa bi? " Tanyaku antusias.
"Ya bisa lah Syifa, Umminya Fathan kan juga manusia sama seperti kita" ucap Abiku.
"Aduh Abi, bukan itu maksudnya, maksudnya Syifa begini, ko bisa Ummi Fathan masuk rumah sakit, emang kenapa? Begitu Abiii...." Cibirku.
"Gak apa-apa, kata dokter cuma kelelahan biasa aja.." jelas Abiku.
Aku hanya berooh ria mendengar penjelasan dari Abi.
"Oo iya, Ummi mana.."
"Katanya tadi mau pergi sebentar, mau kerumah teman lama.."
"Kapan Ummi pergi.."
"Barusan aja tadi pergi, tadinya seh nungguin Abi supaya bisa nganterin kata Ummi, tapi Abinya malah lama baliknya, yaudah kata Ummi pergi sendiri aja.." jelasku.
"Kok begitu seh, emang kerumah siapa seh?
"Emm, saat Ummi telponan tadi Syifa dengar nama yang disebut Ummiiii....Yu..Yu...Yu, Yu apa ya tadi?? Yang ada na....na gitu Abi, Syifa lupa namanya siapa, nanti Abi tanya sendiri deh ke Ummi.."
"Terus si Zahra kemana? Tanya Abi lagi.
"Katanya tadi mau belajar kelompok dirumah teman.." jelasku.
"Ya udah kalo begitu Abi kekamar dulu ya, lanjutin sana nonton TV nya..." Ucap Abi,aku hanya mengangguk. Kemudian ia berlalu, dan aku pun melanjutkan acara tontonan kesukaanku.
"SYIFA, KATA FATHAN NANTI SORE IA AKAN JEMPUT KAMU, DAN IA BILANG ADA YANG INGIN DIBICARAKANNYA..IA PESAN SAMA ABI TADI..."
Itu suaranya Abi, sungguh Abi ini gak bisa dipelankan apa tuh volume suara!_batinku.
"IYA ABI..."teriakku.
Mau bicarakan apa ya dia?_batinku.
Kulihat arloji ku sekarang menunjukkan pukul 02.45. ya Allah, berarti sebentar lagi dong, lebih baik aku siap aja dulu, nanti keburu ia datang duluan, kan gak enak dia nunggu berlama-lama_gumanku.
Aku pun langsung bergegas pergi kekamar untuk membersihkan diri dan bersiap siap.
...........
Sedang ditempat lain, Zahra dan teman-teman nya sedang berkumpul dirumah Cici.
"Ni gaes, aku undang kalian semua kepernikahan mbak gue, lo lo pada harus dateng yaaa..." Ucap Zahra, mereka sedang berkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok, selain kerja kelompok ia juga disuruh Syifa untuk membagikan undangan nya untuk teman teman Zahra.
"Waahhh mbakk Syifa sudah mau nikah yaa?..." Tanya Amel antusias.
"Iya.."kata Zahra jutek.
"Waaahh, sama siapa mbak Syifa nikahnya? Ganteng gak orangnya ra? Tinggi ? Gemuk atau kurus?" Cerocosnya, ia agak sedikit cerewet seh kalau mendengar sesuatu yang mengejutkan baginya, ia adalah Diva, teman Zahra masih kecil.
"Mana aku tahu, nanti kalian bisa lihat sendiri.." ucapnya jutek. Sebenernya Zahra tahu seperti apa calon mbak nya itu, tapi ia tidak mau terlalu diintrogasi seperti polisi saja mengintrogasi sang pencuri. Ia tahu betul sahabat kecilnya ini, memang agak sedikit cerewet.
"Ee Ra ko jutek gitu jawabnya, kayak gak suka aja..." cerocos Laila.
"Aduh kalian ini kaya gak tahu Zahra aja deh, dia kan gak suka dengan mbaknya itu.."jawab Sinta sinis. Ia dan Sinta memang jarang akrab, kalau sekarang pun mereka sekolompok mengerjakan tugas ini itu hanya karena gurunya yang memilih Sinta untuk ikut dikelompoknya.
"Zahra..Zahra, kamu ini, kenapa seh kamu bersikap seperti itu kepada mbak mu, mbak mu itu baik lho, seharusnya kamu itu bersyukur bukan seperti ini, jutek selalu terhadap mbakmu itu..."jelas seseorang yang agak gemuk badannya, namanya Cici.
"Ee, Cici aku tak mau tahu, ya terserah aku lah mau seperti apa..." Ucap Zahra sinis.
"Kamu ini Zahra tidak boleh seperti itu, kalo aku ada ada diposisi kamu, mesti aku sangat bersyukur punya mbak seperti mbak Syifa, dia baik, perhatian sama kamu, dan lebih pentingnya aku lihat Dimata mbak Syifa itu dia sangat menyayangimu, tapi kau malah berkelakuan seperti orang yang tak beruntung akan hal itu, jika aku berada diposisi mu pasti akan selalu buat dia bahagia, dan aku akan berusaha untuk menjadi adik yang baik untuknya, yakan Lia..."tanya Sarah pada Lia.
"Iya tuh, betul kata Sarah..."
"Aahhhh, sudah!! sudah! Aku sudah lelah memikirkan semua hal tentang mbak Syifa! jadi aku minta tolong sama kalian, jangan buat aku kesel!! Lagian aku kesini cuma untuk mengerjakan tugas bukannya untuk diceramahin!!!" Jawabnya kesel.
Teman teman nya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Zahra yang seperti ini.
Mereka pun mengerjakan tugas kelompok yang diberi oleh gurunya bahasa Indonesia untuk mengerjakan tugas membikin sebuah drama yang akan dipentaskan dihadapan teman teman sekelasnya.
Setelah selesai mereka pun pulang kerumah masing-masing terkecuali Cici, iya mereka mengerjakan tugas kelompok dirumah Cici.
............
Ting tong!!
Kudengar suara bel berbunyi cepat cepat aku turun kebawah untuk membuka pintu siapa tahu itu dia yang sudah sampai dan ingin menjemputku.
Dan saat kubuka ternyata benar dugaan ku, Fathan sudah sampai dan kulihat hari ini ia agak berbeda, ia hanya memakai kaos oblong dan celana jeans. Mau kemana ya Fathan membawaku, somoga aja nanti dia hanya ingin membicarakan tentang pernikahannya nanti, bukan hal yang lain_batinku.
"Assalamualaikum..."
"Eh...sudah sampai, waalaikumsalam salam, mari masuk..." ucapku.
Fathan pun hanya mengangguk mengiyakan ucapanku. Ku suruh ia duduk di ruang tamu sebentar untuk menunggunya mengambil tas.
__ADS_1
"Kamu tunggu dulu disini sebentar ya aku mau ambil tas dulu.."ucapku, ia hanya mengangguk mengiyakan, lalu aku langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil tas.
Setelah mengambil tas, akupun langsung kembali menuju ruang tamu menemui Fathan. Dan kami pun berangkat menggunakan mobil mas Fathan.
Diperjalanan hanya ada keheningan, aku tak berani membuka suara untuk menanyakan mau kemana pun sangat susah.
Flash back
Drrttt...
Arfan
Assalamualaikum Syifa...
Kulihat ponsel ku yang berdering tadi, dan ternyata ada satu pesan dari seseorang, ya dia adalah Arfan, Muhammad Arfan lebih tepatnya. Yang kini masih setia bersemi dalam hatiku. Seseorang yang sangat aku kagumi dengan sikap kedewasaannya. Walaupun umur kami berbeda kurang lebih dua tahun, dan bisa dikatakan lebih tua ku dari padanya. Tapi rasa itu tak bisa dibohongi aku sangat sangat mencintainya.
Pasti kalian berpikir kenapa menyukai berondong?. Tapi ketahuilah satu hal, dulu sebelum aku bertemu dengannya aku merasa risih dan aneh, tapi entah kenapa rasa ingin tahu itu ada dan semakin membesar untuknya, aku ingin mengenal dirinya lebih jauh lagi. Hingga ego ku pun kalah untuk tidak menyukainya, hatiku berkata lain, hatiku memaksa ku untuk terus mengenalnya sejauh apapun itu.
Tapi seiring waktu berjalan, aku dapat mengambil beberapa pesan dari pertemuan ku dengannya. Pertemuan ku dengannya bukan kehendak ku, melainkan kehendak Allah. Dan disanalah aku mengerti, cinta bukan hanya memandang umur dan fisik, melainkan akhlak dan Budi pekerti. Sungguh sejauh ini aku mengenalnya, dia adalah sosok seorang laki-laki yang tahu agama, dan terkadang sesekali ia mengajariku tentang apa apa yang tidak ku ketahui sebelumnya.
Tak berpikir lama aku langsung saja membalas pesannya dan mengirimnya.
Aku
Waalaikumsalam, iya ada apa?
Tak berselang lama ponselku berdering lagi.
Arfan
Aku mau ngomong sesuatu Fa...
Aku yang membaca nya agak sedikit penasaran, mau ngomong apa dia.
Aku
Iya silahkan, ngomong aja....
Pesan itu lalu kukirim kepada Arfan. Dan beberapa menit aku menunggu akhirnya pesan yang ku tunggu tunggu pun masuk keponselku.
Arfan
Sebenarnya aku tak berani lagi menghubungi mu Fa,
Baru membaca awalnya ada semburat kesedihan yang kurasakan sekarang ini.. kenapa?? Pertanyaan itulah yang membuatku untuk melanjutkan bacaan pesan yang sempat tertunda itu.
Maaf ya, karena kata ustadz, percuma kita sebulan beramal ibadah dan saat pulang akhir bulan kita berkomunikasi dengan lawan jenis, itu sama saja diibaratkan kita mengisi air kedalam baskom, kita mengisi air nya diibaratkan itu adalah ibadah kita, dan airnya adalah pahala, tapi jika kita melakukan maksiat atau diibaratkan berkomunikasi kepada lawan jenis, sama saja melobangi baskom itu dan pahala yang kita dapat pun berkurang, kan sia sia kita beramal ibadah kalau pahala terus berkurang...
Itulah pesan panjang darinya, sungguh aku tak dapat berkata apa apa lagi sekarang.
Tinnn tinnn tin!!!.
Aku terbangun dari lamunanku, suara itu membuatku kaget, kulihat kesamping, Fathan melirikku.
"Maaf, aku hampir menabrak trotoar itu, tadi ada anak kecil lewat didepan, aku gak pokos nyetirnya...maaf yaa..."ucapnya.
"Iya gak apa-apa... alhamdulillahh kita selamat, dan anak kecilnya mana...." Tanyaku kebingungan, kulihat didepan tidak ada lagi anak itu.
Menangis? Apa aku menangis? Dengan cepat aku meraba pipi ku, dan ternyata air mataku menetes lagi tanpa aku sadari, lalu langsung menghapusnya, dan lebih parahnya aku menangis didepan Fathan. Lebih tepatnya calon suami!!
Allah!! Kenapa lagi hamba mengingat semua itu, rasanya aku ingin mengeluarkan semua kenangan itu dari pikiranku_batinku.
"Syifa, kamu gak apa-apa? Tanya lagi dengan nada yang sama.
"Engga ada apa apa ko...."jawabku, aku tak berani memandangnya lagi, kupalingkan wajahku keluar kaca, supaya dia tak menemukan kebohongan yang sedang kusimpan. Maaf Fathan bukan maksudku untuk membohongimu, tapi aku hanya berusaha berdamai dengan keadaan, jika nanti sudah saatnya aku akan ceritakan semuanya_batinku.
Kemudian setelah insiden tadi kamipun melanjutkan perjalanan, beberapa menit pun telah terlewati, dan kini kami sudah Sampai.
Kulirik tempat ini sepertinya aku pernah kesini, dan ternyata itu benar aku pernah kesini dengan sahabatku. Cafe, iya...Fathan membawaku ke cafe ini. Mau apa_batinku.
"Mari kita masuk, aku membawa kesini cuma ingin menanyakan beberapa hal ko" ucapnya lalu berjalan lebih dulu daripada ku.
Lalu aku mengiringi Fathan. Saat sampai dimeja yang sudah kami duduki tiba tiba pelayan cafe menghampiri kami dan menyerahkan menunya.
"Syifa, kamu mau mesen apa? Tanyanya padaku.
"Cappucino aja deh...."
Setelah memilih minuman, Fathan pun langsung memesankan kepada mbak pelayan tadi.
"Mbak cappucino nya dua yaa.."
"Baik mas, mbak...ada lagi? Tanya pelayan itu.
"Sudah itu aja..." Jawab Fathan.
Kemudian pelayanan itu pergi dan menyisakan kami berdua, kulihat cafe ini memang ramai tapi tetap saja suasana canggung ini tidak menyenangkan, bagaimana aku tidak canggung dengan orang yang belum aku kenal. Walaupun ia sebentar lagi akan menyandang status sebagai istrinya.
"Syifa aku mau nanya.."ucapnya.
Aku hanya menatapnya sebentar lalu memalingkan wajahku ke arah tempat lain.
"Mau nanya apa? Tanyaku to the poin dan masih memandangi pemandangan sekitar.
"Tapi kamu jawab jujur yaa..."
Aku yang mendengarnya menautkan alisku karena bingung. Pasalnya aku tak mengerti dengannya mau bicara apa dia. Kulihat wajahnya menunjukkan keseriusan.
"In syaa Allah, jika Syifa mampu menjawabnya, pasti Syifa jawab..."jawabku. Aku berusaha menatap orang disekitarnya, memang saat ini aku tak berani memandangnya.
"Sebelum kita menikah, aku ingin tanya..."
"Kenapa kemarin kamu nangis saat kita menuju butik waktu itu dannn kamu juga menangis dimobil tadi, apa ada sesuatu yang terjadi?." Fathan pun mengeluarkan uneg-uneg yang membuat pikirannya jadi tak konsentrasi cuma gara gara ia melihat Syifa menangis, rasa penasaran sungguh sangat tinggi.
Degg!!!
Allah!!Β
Kenapa ini? Kenapa dia tanya seperti itu??
__ADS_1
Aku harus jawab apa ya Allah??!
Saat ini aku belum bisa untuk menceritakan semuanya.
'Ya Allah bantu aku...' monolog batinku.
"Mas, mbak ini minumannya..." Kulihat pelayanan tadi datang menyerahkan pesanan kami. Sebelum pelayanan cafe itu pergi aku pun langsung berpikir untuk menghindari pertanyaan yang menarik hati ku rasanya sesak!
'Aku harus mencari alasan lain supaya aku tak menjawab itu. Bukan aku gak mau menjawab pertanyaan itu, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan semuanya, untuk saat ini waktu itu sangat sangat!! Belum tepat!!' ucap batinku.
"Em, iya makasih mbak.."ucap Fathan.
Setelah selesai pelayan itu lalu pergi, dan menyisakan diriku dengan perasaan yang campur aduk sekarang. Harus apa aku!!.
"Syifa, aku hanya mau nanya..apa aku tidak boleh tau tentangmu, kan sebentar lagi kamu juga akan jadi istriku..."
Istri?
Kata itu..... membuat ku menegang sebentar. Sekarang aku bingung, kenapa suasananya jadi seperti ini ya Allah_batinku.
"Kamu kenapa tanya seperti itu? Bukankah Syifa sudah mengatakan pada kamu didalam mobil tadi, bahwa Syifa gak apa-apa... ucapku agak sedikit gugup. Aku berusaha menetralkan rasa gugupnya menjadi biasa biasa saja agar Fathan gak curiga padanya, jika ia curiga, ia pastikan Fathan akan selalu menanyainya dengan pertanyaan yang sama seperti saat ini.
"Aku hanya ingin tahu, bukankah disetiap hubungan itu harus ada kejujuran? Jika ingin hubungan itu selalu baik baik saja, aku hanya minta kamu jujur padaku..."ucapnya lagi.
Hening...
Hingga aku tak bisa berkata-kata lagi sekarang.
Aku harus cari cara agar menjauh dari pertanyaan ini_batinku. Aku berpikir sejenak hingga aku mendapatkan solusi dari ini.
"Emm...maaf, aku mau ketoilet sebentar.."
Hmm...
Terdengar helaan napas nya, mungkin ia sedikit kecewa padaku, tentang pertanyaan ini, bukan maksud hati untuk tidak ingin menjawab cuma saja ini belum saatnya!
Lalu ia pun mengangguk mengiyakan ucapanku. Lalu aku pergi dengan tergesa-gesa supaya ia cepat cepat pergi dari tempat yang membuat jantungnya serasa mau copot. Bukan perlakuan Fathan yang membuatku jadi seperti ini melainkan karena pertanyaan yang membuat sesak di dada.
Kini aku sudah sampai di toilet lalu aku masuk kedalam dan menguncinya. Dadaku terus bergemuruh dan membuatku kewalahan menghadapi rasa ini datang. Sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya tangisan yang keluar dari mulutku. Rasanya aku tak percaya, yang terjadi padaku hari ini sungguh diluar dugaanku, aku tak menyangka kalau dia akan menanyakan hal ini.
Cukup lama aku berdiam di toilet. Kulihat arloji ku sekarang menunjukkan jam 17.30.
"Astagfirullah. Fathan pasti khawatir kalau aku sudah lama di toilet..."monolog ku.
Lalu aku bergegas membersihkan mukaku, dan mengolesi sedikit bedak yang kubawa dalam tasku. Dan langsung pergi menuju meja di mana Fathan menungguku.
"Ko lama..."ucapnya khawatir. Betulkan perkiraanku ia pasti khawatir.
"Maaf, tadi ketemu teman lama sebentar.."ucapku bohong. Maaf kan aku ya Allah sudah bohong padanya_batinku.
"Ya sudah, ayo du......
Tiba-tiba ucapannya terhenti sebab mendengar ponselku berdering. Akupun minta ijin sebentar untuk mengangkat telpon ini, dan menjauh sedikit dari hadapannya.
Kulihat tertara nama Ummi di layar ponselnya, dengan cepat aku menekan tombol yang berwarna hijau itu.
Assalamualaikum umi...
....
Ini lagi di cafe sama Fathan, emang ada apa Ummi?
....
Oo, iya Ummi, katakan saja padanya tunggu aja dulu, aku bakalan pulang ko, sebentar lagi ini....
....
Di toko mana Ummi?
....
Ooo, iya Ummi nanti Syifa kesana....
....
Iya Ummi, waalaikumsalam..
Lalu kututup ponselku dan menghampiri Fathan untuk meminta ijin kepada nya pulang duluan, sebab Ummi nya menyuruh mengambil pesanan kuenya di tempat langganan Ummi.
"Emm...maaf ya, Syifa pulang duluan..."ucapku.
"Ko buru-buru kan baru sebentar...."
"Tadi Ummi nelpon katanya disuruh cepat pulang.." ucapku datar.
"Ya sudah ayo.."lanjutnya.
"Eh, mau kemana? Tanyaku, aku bingung dengannya mau kemana dia.
"Kan tadi mau pulang, ayo kita pulang.."
Subhanallah...apa aku harus pulang bersamanya lagi? Aku tak mau lagi dengar pertanyaan itu lagi jika bersamanya, aku berpikir sejenak untuk mencari solusi agar tidak semobil bersamanya lagi, bisa bisa ia nangis lagi karena pertanyaannya tadi.
"Em, gak usah...Syifa bisa sendiri pulangnya lagian syifa mau mampir nanti ketoko kue untuk mengambil pesanan Ummi..."
"Tapi kan aku tadi yang mem......
"Gak apa apa, Syifa bisa pulang sendiri...." Potongku.
"Nanti kalau Ummi nanya gimana.."
"Gak apa-apa, ya sudah Syifa pulang duluan yaa.. assalamualaikum.." aku berlalu begitu saja tanpa mendengar jawaban salam Fathan. Maaf Fathan_monologku.
Saat ini aku sedang celingak-celinguk mencari taksi. Sungguh disini agak sepi. Akupun berjalan dan terus berjalan hingga aku menemukan mobil taksi didepan.
"Taksi!!...ucapku lantang.
Dan taksi itupun berhenti pas didepanku. Kemudian akupun berangkat menuju tempat tujuan, yaitu ketoko kue.
__ADS_1
..........
Jangan lupa follow akun ini yaa π€π vote nya juga jangan lupa π