Penantian Halalku

Penantian Halalku
Part 5


__ADS_3

Terdengar suara mobil berhenti tepat didepan rumahku, ku lihat di jendela kamarku dan ternyata itu adalah keluarga mas Fathan.


"Ya Allah Fathan dan keluarganya sudah datang, bantu hamba ya Allah, semoga jawabanku ini adalah jawaban yang tepat untukku ya Allah"lirihku, tak terasa bulir bening itu menetes lagi dengan sendirinya.


Masa lalu?


Kenapa kau selalu datang padaku?


Apakah kau tak bosan selalu menjelma dalam pikiranku?


Sungguh itu adalah sesuatu yang sulit aku hilangkan begitu saja.


Walaupun aku sudah berusaha untuk membuangnya.


Tapi semua itu hanya sia sia belaka.


Tiba tiba...


"Syifa, ayo nak...lo kok nangis anak Ummi? kenapa?"


Kupeluk Ummi dengan erat, untuk membuang rasa sesak itu supaya tak tersisa lagi, tapi nyatanya masih saja ia bertahan didalam sana.


"Lo ko nangis? Ada apa? Coba ceritakan sama Ummi..."


"Ummi...hiks hiks hiks, Ummi tau kan gimana rasanya cinta?"


"Haha,,,Oalah anak Ummi jatuh cinta ya, Ummi juga pernah muda lo, Ummi tahu ko apa itu cinta.."jawab Ummi.


"Terus kenapa nangis kalau cinta sama Fathan gak usah nangis kan bentar lagi kalian menikah..."


Menikah?


Apa itu harus ku lakukan secepatnya ya Allah?tanya batinku.


"Ee,, Ummi, bukan itu maksudnya_ belum sempat mengatakan sudah dipotong pembicaraanku oleh Ummi.


"Sudah sudah, gak usah ngelak sekarang ayo kita turun, mereka sudah nungguin di bawah..."


Lalu aku dan Ummi berjalan menuju ruang tamu. Aku yang merasakan semua ini rasanya sangat menyesakkan. Gimana tidak sesak hatiku, kalau nama seseorang itu selalu terngiang-ngiang dipikiranku. Tanpa kusadari air bening itu menetes lagi dan cepat cepat ku hapus air bening itu agar tidak ada yang tahu kalau aku sedang sakit, iya sakit! Sakit yang membuatku tak dapat berpikir dengan tenang sekarang.


"Ooalahh, ini to Ummi....calon istrinya bang Fathan?" 


Ku lihat ada seorang perempuan yang seumuran dengan Zahra, terlihat pancaran kesenangan dalam matanya, mungkin ia terlalu berharap_batinku.


"Aw...sakit Ummi..."


"Kamu ini bisa diam gak? Maaf ya Rahma, Ali, maklum terlalu senang ia melihat abangnya ingin menikah"


"Iya gak apa apa..."ucap Ummi.


"Mari kita mulai acara ya Adnan..."kata Abi, kuharap aku lebih baik pergi saja dari sini, semua membuat aku sakit ya Allah_batinku.


"Baiklah Ali, saya disini ingin melamar nak Syifa untuk anak saya Fathan, dan penjelasan selebihnya dilanjutkan Fathan, nak ayo..."


Aku hanya diam menunduk tanpa aku menoleh kepada lawan bicara.


"Syifa, maksud kedatangan saya dan keluarga ingin menjadikan kau pendamping hidup saya hingga menuju Jannah_Nya bersama sama, akan saya perlakukan kamu dengan sebaik baiknya, saya memang belum sempurna tapi jika kita terus belajar bersama-sama pasti kita akan memenuhi kesempurnaan itu, maukah kamu berjuang bersama saya?" 


Bingung?


Ya kebingungan itu datang lagi!


Harus apa dia sekarang?


Harus jawab apa?


"Syifa, heyy...itu, nak Fathan tanya ke kamu, ko malah melamun? Bisik Ummi yang tak kuhiraukan ucapannya.


"Syifa..


"Ah iii...ii..yaaa, maaf Ummi...." Jawabku terbata-bata.


Rasanya mataku sudah berkaca-kaca,ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya, tapi apalah dayaku hanya bisa diam, diam dan diam.


"Gimana?

__ADS_1


"Gimana apanya Ummi? Tanyaku.


"Ya Allah Syifa, kamu kenapa nak? Ko jadi begini? Tanya Ummi bingung.


"A..ku gak..gak..apa apa..ko Um..mi"jawabku terbata-bata.


"Terus jawaban kamu apa nak? Tanya Abi dengan lembut.


"Hmm, bismillahirrahmanirrahim....iya Abi Syifa terima"


Tak terasa air bening itu turun dengan sendirinya, ia tak bisa lagi berkata apa apa, hanya ada air mata yang jadi saksi akan rasa yang ia simpan.


Ku dengar semua orang yang berada diruang tamu mengucap syukur.


"Baiklah, tanggal pernikahan nya sebaiknya kita percepat atau ditunda dulu setelah kelulusan anak kamu Ali?


"Lebih baik di percepat, kan tidak baik menunda nunda kebaikan"


Ya Allah di percepat?


Allah aku harus apa?


Tolong bantu aku!


"Em, baik, gimana kalau minggu depan acara pernikahan nya dan resepsi nya bisa kita adakan nanti setelah kelulusan anak kamu.."


"Iya, saya setuju"


Sambil menikmati hidangan yang sudah di siapkan oleh Ummi. Setelah selesai makan mereka pamit untuk pulang.


"Yasudah kalau begitu kami pulang dulu ya, nanti untuk kesiapan biarkan kami yang urus..."


"Iya Adnan, terimakasih ya maaf kalau kami merepotkan"


"Haha Ali...Ali, kaya sama siapa saja, lagian gak merepotkan ko ya kan mi?


"Iya, gak merepotkan ko"


"Ya sudah kami pamit dulu ya, assalamualaikum..."


Setelah mereka pergi, aku berlari menuju kamarku.


Hanya menangis!


Menangis sekencang-kencangnya pun tak akan mengembalikan masalah seperti semula, dan sekarang aku hanya harus belajar mengikhlaskan semuanya, aku yakin dibalik semua kejadian pasti ada hikmah yang tersembunyi didalamnya.


Hiks Hiks Hiks....


Ting...


Suara ponselku membuat aku berhenti menangis.


Nomor yang tak di kenal?


Siapa yang berani iseng iseng malam malam begini coba_batinku.


+62835********


Assalamualaikum calon bidadari, semoga selalu sehat ya sampai hari_H😉


Begitulah isi pesan dari orang yang tak aku kenal, kulemparkan saja ponselku di atas tempat tidurku, mood ku sedang tidak baik, maka dari itu aku tak ingin membalas pesan itu, dan aku juga tahu siapa pengirimnya, pasti itu Fathan, emang dapat nomor dimana yaa_batinku.


"Au ah....gak penting..."ucapku acuh tak acuh


.............


Hari ini rasanya sungguh sakit, lima hari lagi acara pernikahannya, aku harus apa sekarang?


Bingung?!


Itulah kata yang selalu datang memenuhi pikiranku saat ini.


Kebingungan membuatku bungkam akan semuanya.


"Huh lelah aku mikirkan semuanya, lebih baik aku ketaman belakang aja.."gumamku sambil menguatkan diriku.

__ADS_1


Akupun pergi ke taman belakang rumahku sekedar menghilangkan beban pikiranku, walaupun hanya sedikit asalkan beban ini tak terlalu mengganggu konsentrasiku.


Indah....


Sangat indah, adem banget saat aku melihat bunga bunga yang bermekaran.


Bau wanginya sangat menggoda, ingin sekali aku memetiknya, tapi kaki ini tak bisa diajak kompromi, kalau sudah seperti ini aku hanya bisa diam duduk di bangku taman, melihat keindahan suasana disini.


"Mbak, itu bang Fathan didepan nungguin mbak, katanya ingin menjemput mbak"


Menjemput?


Tak paham dengan apa yang diucapkan adiknya tadi, lalu langsung saja ku tanyakan pada Zahra.


"Menjemput? Ngapain? Emang aku ada janji dengan nya?" Ucapku datar tanpa memandang kearah Zahra.


"Aduh mbak,,, banyak tanya tau gak, udah sana cepetan temui didepan" ketusnya.


Aku pun mengangguk mengiyakan ucapannya, lalu aku pun langsung kedepan untuk menemuinya.


"Emm...ada apa? Tanyaku langsung to the poin.


"Kata Ummi kita fitting baju pengantin hari ini, dan saya disuruh menjemput kamu, Ummi sudah nungguin di tempat langganan toko baju keluarga kami"


"Ya udah kalau begitu aku siap siap dulu ya..." Ucapku datar.


"Ah, iya silahkan..." Ucapnya dan iapun tersenyum kepadaku dengan senyuman yang sangat manis. Hingga jika ada yang melihat senyum nya pasti merasa luluh hatinya. Tapi tidak dengan Syifa, ia hanya membalasnya dengan senyuman tipisnya.


Saat aku berbalik ingin pergi kekamar tiba tiba....


"Eee, ada nak Fathan, sudah datang ya, kapan nak?


"Baru saja Ummi.."


Tak pikir panjang ku tinggal mereka berbincang bincang berdua.


Setelah aku selesai siap siap lalu kami pergi ketempat toko baju langganan keluarga mas Fathan, sebelum pergi kamipun tak lupa berpamitan pada Ummiku.


Diperjalanan...


Hanya ada keheningan...


.


.


.


Melamun? 


Iya aku sedang melamun sambil melihat lihat indahnya ciptaan Allah, entah kenapa masa lalu itu selalu datang di waktu yang tidak tepat, hingga saat aku melamun gak sadar bahwa Fathan memanggil namaku.


"Syifa...kamu gak apa apa? Tanyanya.


"Eh, iya gak apa apa.." jawabku gugup.


"Saya lihat kamu sepertinya banyak pikiran begitu, emang ada apa? Dari tadi saya manggil nama kamu gak di jawab jawab"


"Gak apa apa"


Jika seandainya kau tau Fathan apa yang sedang terjadi dengan diriku, pasti kau kecewakan_batinku.


"Kamu nangis?"


Kata itu membuatku tersadar dari lamunanku, dan ku raba di pipiku ternyata air bening itu kembali menetes tanpa ku sadari. Langsung saja ku hapus air mataku dengan tangan kasar.


"Kamu beneran gak apa apa kan? Tanyanya lagi, kulihat sekilas wajahnya penuh dengan kekhawatiran dan ku coba beri pengertian padanya agar jangan terlalu mengkhawatirkan diriku.


"Iya, aku gak apa apa..."


"Ya sudah kalau begitu, ayo turun sudah sampai Ummi pasti kecapean nunggu di dalam..."


Kami pun pergi ke tempat fitting baju, dan disana aku disuruh memilih motif yang seperti apa yang akan ku kenakan di hari yang istimewa itu.


.............

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak vote kalian yaa setelah selesai membaca, silahkan share ceritanya keteman teman kalian juga😉 bantu author mengshare cerita ini, jangan lupa juga follow akun ini yaa 😊...


__ADS_2