
"kau tau pedang ini, kau juga mengenal pemiliknya, lalu siapa yang kau panggil sebagai tuan itu?"
"paduka raja Way Ying,, begitulah manusia menyebutnya"
"baiklah kalau seperti itu aku percaya kepadamu! , karena orang yang kau sebut sebagai tuan itu adalah kakek leluhur yang memberikan pedang ini kepadaku" Liang jun kemudian menyimpan pedangnya kedalam cincin semesta,
Monster burung yang mendengar hal itu langsung menundukkan kepalanya menyentuh tanah seakan akan bersujud di hadapan Liang Jun
"hey.. apa yang kau lakukan?"
"sebelum tuanku mati dia melepaskan ikatan jiwa antara kami, agar aku tidak ikut mati,, dia berpesan kepadaku bawah suatu saat nanti akan ada dari keturunannya yang akan mewarisi semua tekhnik dan pusaka yang ia miliki, maka hari ini aku bertemu dengan orang yang tuanku pernah ramalkan itu"
"ha ha ha.. baik lah aku paham.. dengan begini apakah aku sekarang menjadi tuan mu?"
"betul tuan. kau sekarang adalah tuanku.. maka aku bersumpah akan patuh denganmu dan mengorbankan diriku untukmu"
"baik.. tapi karena kau telah membunuh para penduduk desa dan menghancurkan rumah serta lahan pertanian mereka, maka aku akan menghukum mu" ucap Liang Jun dengan tegas
"maaf tuan.. aku tidak membunuh manusia.. kecuali para kultivator yang berniat membunuhku, selain itu aku hanya membawa mereka ke tempat tinggal ku untuk menemani aku di sana.. dan lahan pertanian yang aku ambil itu untuk keperluan mereka"
"haaahhh.. apa yang kau katakan itu benar..?"
"benar tuan.. saat ini semua penduduk yang aku bawa dalam keadaan baik baik saja"
sementara itu, para penduduk yang menyaksikan mereka dari dalam rumah heran dengan apa yang terjadi.. mereka tidak dapat mendengar pembicaraan antara Liang Jun dan monster burung tersebut
"kalau memang seperti itu, cepat bawa mereka kesini!" ucap Liang Jun dengan nada memerintah
"baik tuan.. dengan senang hati aku akan melakukannya"
setelah mengatakan itu Monster Burung tersebut bangkit kemudian segera terbang ke arah sebelumnya ia datang.. Liang Jun yang menyaksikan hal itu merasa sangat beruntung mendapatkan warisan seekor hewan yang telah memiliki kecerdasan
"Jun'er.. apa yang terjadi.." ucap Xiuan sambil berjalan ke arah Liang Jun di ikuti oleh pria paruh baya yang bersamanya
"aah kakak.. kau mengagetkan saja.. "
"kemana monster itu?"
"dia sudah pergi.. tapi mungkin sebentar lagi dia akan kembali"
"haaaah.... kalau begitu . .. lebih baik kami sembunyi lagi" ucap pria paruh baya yang datang bersama Xiuan
"tidak perlu paman.. dia tidak akan menyakiti siapapun... sekarang suruh saja semua penduduk keluar.. semua sudah aman!"
"tapi tuan muda..... "
"sudahlah paman, percaya saja dengan saudaraku ini.. semua akan baik baik saya !" ucap Xiuan meyakinkan pria paruh baya yang ia panggil paman itu.
"baiklah"
kemudian pria itu memanggil semua penduduk untuk berkumpul, setelah semua penduduk berkumpul , Liang Jun menjelaskan tentang obrolan terakhir antara dirinya dan monster burung tersebut..
__ADS_1
tak berapa lama kemudian
"kripak kripak kripak " suara kepakan sayap terdengar menggema tidak jauh dari tempat mereka berkumpul,, seekor burung besar langsung mendarat di depan mereka semua
"tuan, aku sudah kembali"
"bagus.. cepat turunkan mereka semua "
"ba baik tuan" monster burung tersebut langsung merendahkan tubuhnya agar orang orang yang ada di atas punggungnya bisa turun,, tanpa menunggu sekitar 50 orang segera turun dari punggung monster burung tersebut dan berlari kearah keluarga yang selama ini mereka tinggalkan..
tangis haru terdengar , mereka sangat bahagia akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka.. selama ini mereka tinggal di suatu lambah yang dalam.. walaupun mereka dibiarkan hidup bebas , namun tetap saja mereka tidak bisa meninggalkan lembah itu karena setiap sisi lembah terdapat tebing tinggi yang tidak mungkin bisa dilalui
awalnya mereka tidak percaya dengan apa yang Liang Jun katakan, namun saat monster itu datang dan penduduk yang selama ini hilang telah kembali bahkan dalam keadaan yang jauh lebih baik dari mereka , barulah mereka benar benar percaya,
namun masih ada satu maslah lagi belum selesai.. yaitu masalah kelaparan..
"paman , apakah kalian masih punya bibit tanaman pertanian " tanya Liang Jun
"kami tidak punya tuan muda?"
"bagaimana dengan kalian ?" tanya Liang Jun kepada orang orang yang selama ini hidup bersama dengan monster burung tersebut
"kami memilikinya tuan.. tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah.. sebab butuh waktu 4 bulan dari mulai tanam hingga panen, sedangkan dengan sebagian besar dari kami tak akan mampu bertahan selama itu tuan muda"
"tidak perlu kalian pikirkan hal itu,, serahkan saja semua bibit yang kalian miliki"
Liang Jun berencana menanam semua bibit itu di dimensi cincin semesta untuk mempersingkat waktu yang mereka butuhkan
"baik tuan.. "
"kakak.. aku butuh bantuan kali ini" Liang Jun berkata dengan pelan kepada kakak sepupunya
"apa yang harus aku lakukan Jun'er"
"kakak cukup mengawasi mereka agar bekerja menanam semua bibit ini dengan baik di dimensi yamg aku miliki"
"baiklah aku paham.. ' ucap Xiuan dengan tegas
" aku minta 10 orang dari kalian yang biasa bertani untuk maju ke depan "
sepuluh orang pun segera maju menghadap Liang Jun, walaupun sebenarnya mereka bingung dengan apa yang akan Liang Jun lakukan..
"aku minta kalian menanam semua bibit ini di tempat yang telah aku siapkan"
"baik tuan muda kami siap melakukanya"
"berapa lama kalian sanggup menanam ini semua" Liang Jun menanyakan hal itu untuk menghitung kapan waktu ia akan mengeluarkan mereka semua
"5 hari tuan.. "
"baiklah sekarang pejamkan mata kalian"
__ADS_1
setelah mereka memejamkan mata, Liang Jun mengibaskan tangannya ke arah mereka semua,, seketika itu Xiuan dan 10 orang lainnya menghilang
penduduk desa yang melihat hal itu sangat kaget..
"tuan Muda kemana mereka pergi" Pria paruh baya sangat penasaran dengan apa yang terjadi..
"tenang paman , mereka hanya pergi sebentar saja.. " ucap Liang Jun sambil tersenyum, membuat pria tua dan semua penduduk desa semakin bingung,, namun setelah 10 menit kemudian Liang Jun mengeluarkan mereka kembali
"bagaimana kakak.. apakah sudah selsai?"
"iya jun'er.. sua bibit sudah ditanam.. tinggal menunggu saja.."
"bagus.. kita tunggu beberapa jam agar bisa dipanen" penduduk yang mendengar perkataan Liang Jun semakin bingung
namun Liang Jun tidak perduli dengan kebingungan semua penduduk.. dan diapun tidak berniat untuk menjelaskan.. dia lebih tertarik untuk menghampiri monster burung yang ia tidak tau harus bagaimana memanggilnya
"hai burung besar. apakah kau punya nama? "
"iya tuan, aku memiliki nama.. kalau dulu tuanku biasa memanggilku dengan nama Huosi"
"ha ha ha.. nama yang bagus Huosi.. "
Liang Jun berbicara berapa hal kepada Huosi termasuk tentang kakek leluhurnya.. seiring berjalannya waktu merekapun semakin akrab..
tak terasa 3 jam sudah berlalu.. Liang Jun menemui semua penduduk hendak pamit melanjutkan perjalanan..
"paman.. dan saudara semua .. kami tidak bisa berlama lama disini.. kami harus segera melanjutkan perjalanan"
"tapi tuan muda.. bagaimana dengan keadaan kami seperti ini"
Liang Jun tidak menjawab, namun dia hanya mengibaskan tangannya di hadapan mereka sua,, semua jenis tanaman yang sebelumnya hanyalah berupa bibit tanaman.. sekarang sudah menjadi tumpukan padi, gandum dan berbagai sayuran..
melihat hal itu semua mereka sangat kaget dan langsung bersujud di hadapan Liang Jun
"terimakasih dewa.. terimakasih "
"semuanya bangkitlah. aku bukan dewa.. aku hanya manusia .. "
"tidak tuan.. kau bagaikan dewa penolong bagi kami.. "
"ha ha ha.. sudah lah. ayo bangkit . kami akan segera pergi..."
mereka semua bangkit, dan menatap dengan tatapan sedih kepada Liang Jun dan Xiuan yang berdiri di hadapan mereka
"aku tinggalkan 2 ekor kuda itu untuk kalian..manfaatkanlah dengan sebaik baiknya. semoga saja suatu saat nanti kita bertemu lagi.. "
"baik tuan.. terimakasih.. "
"kakak.. ayo kita berangkat.. " Liang Jun langsung melompat keatas monster burung yamg sudah siap untuk berangkat, diikuti oleh Xiuan
"Huosi ,, ayo berangkat.. "
__ADS_1
"baik tuan"
monster burung tersebut mulai mengepakkan sayapnya.. dan berlahan terbang meninggalkan desa itu menuju kota Dong