PENDEKAR PETIR BIRU

PENDEKAR PETIR BIRU
Penyerangan


__ADS_3

Di pinggiran pantai, seorang pria sepuh terlihat berdiri tegap menyilangkan tangannya dibelakang pinggang, memandang mata hari yang perlahan terbenam, sesekali bola matanya bergerak melihat langit. Angin tak hentinya berhembus menyambar dirinya, rambut dan jenggot panjang yang berwarna putih seakan menari-nari terbawah angin.


Lie Jing seorang patriark dari sekte Petir Putih yang berada tidak jauh di dekat pantai. Pria sepuh itu memikirkan sesuatu, raut wajahnya seakan merenungkan sesuatu yang melukai hatinya.


Seseorang berjalan ke arahnya dengan menggendong seorang anak kecil berusia lima tahun. Lie Jing merasakan kehadiran seseorang dan melihat mereka dibalik punggungnya.


Lie Ming yang tidak lain adalah anak dari Lie Jing, wajahnya terlihat khawatir sembari mengendong anak kecil itu di atas punggungnya.


"Ayah... apa kau yakin dengan keputusanmu" Lia Ming bertanya ragu.


"Anak ku.... aku sudah memikirkannya jauh hari, dan keputusan hari ini adalah yang terbaik"


Lie Jing berdiri membelakangi Lie Ming dan tetap menghadap menatap lautan.


"Ayah....." bola mata lie Ming berkaca-kaca.


"Ibu turunkan aku ......." anak kecil yang digendong sejak tadi memberontak meminta ibunya melepaskan gendongannya.


Ia menapakkan kakinya ke tanah dan berlari ke arah Lie Jing yang tak lain adalah kakeknya.


anak kecil itu mengangkat kedua tangannya memandangi sang kakek.


"Kakek... tolong gendong aku..." pinta cucunya.


"Lie Han cucuku.... sini kakek gendong... haap..." Lie Jing meraih cucunya lalu menggendongnya.


Raut wajah Lie Jing berubah, wajah yang tadinya pucat pasi kini mulai melepaskan rasa bahagia. Beban pikiran lie Jing seakan hilang sejenak setelah melihat cucunya berlari padanya.


Lie Ming mendekat menyusulnya mencoba mengambil kembali Lie Han dari pelukan lie jing , ia khawatir anaknya akan mengganggu suasana hati dan pikiran lie jing yang sekarang sedang kacau.


"Han' er. jangan ganggu kakek" lie Ming mencoba menarik Lie Han


"Jangan......." lie Jing menahan lie Ming dengan lengannya


Lie Jing tak ingin mengakhiri kebahagiaan ini dengan cepat, ia memeluk erat cucunya sesekali menggesek jenggotnya ke pipi Lie Han, mereka tertawa bersama menandakan hubungan yang begitu dekat.


"Lie Ming..... jangan tunjukkan wajah sedih itu pada Lie Han" Lie Jing menegur sembari menurunkan Lie Han dari gendongannya.


"Ayah... aku..." membuang muka dengan sedih


"Aku tahu ini berat.... tapi setelah semua ini akan terjadi.... Lie Han hanya memiliki dirimu"


"Aku tidak yakin jika itu tanpa ayah...." ucap Lie Ming sedih.


"Anak ku, ketika aku tiada.. Lie Han butuh seseorang yang membimbingnya, bagaimana ia akan percaya padamu jika kau memperlihatkan wajah sedih mu" jelas kakek dengan tegas.


Lie Han memperhatikan mereka berdua menatapnya bergantian, ia seakan mengerti apa yang mereka berdua bicarakan tapi Lie Han tak berniat memasuki percakapan mereka berdua.


"Kakek... aku ingin bertarung denganmu..." Lie Han berlari ke arah Lie Jing.


"Rasakan pukulan maut ku .. hiaaaa...." Lie Han berlari melompat memukul Lie Jing.

__ADS_1


"Waaaah.... pukulan apa itu, rasanya begitu kuat" Lie Jing memegangi perutnya berpura-pura sakit.


"Itu belum seberapa.... sekarang rasakan tendangan ku..." Lie Han mengangkat kakinya tapi sayangnya ia malah terjatuh karena terpeleset.


"Aduh... kepalaku" lie Han mengusap belakang kepalanya.


"Sepertinya... kau masih belum bisa mengalahkan ku anak muda" Lie Jing berlari ke arah Lie Han yang terjatuh dan menggelitik tubuhnya


Mereka berdua kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Lie Ming memerhatikan mereka berdua dan mulai melepaskan senyum lalu menghapus air mata yang sejak tadi ingin jatuh dari kantong matanya.


Lie Han berlari ke bibir pantai menjauhi mereka berdua, Lie Jing yang memandanginya dari kejauhan sesekali tersenyum bahagia melihat Lie Han bermain di bibir pantai dengan jaket bulunya.


"Kelak Lie Han akan menjadi pendekar yang hebat dan melampaui diriku" Lie Jing membuka percakapan


"Ia memiliki ambisi seperti ayah..." lanjut Lie Ming membenarkan.


"Hahahaha... iya benar-benar cucuku" tawa sang kakek menggelegar.


"Kenapa semua ini harus terjadi ayah?" lie Ming kembali memasang wajah sedih.


"Ini semua karena kekuatan..... mereka berniat merebut kitab petir penghancur gunung dan cincin pengetahuan"


"itu..... lalu kenapa mereka sampai harus berbuat sebesar ini?" tanya Lie Ming keheranan.


"Mereka mengira dengan kedua benda itu mereka akan memiliki kekuatan yang besar, tapi mereka salah" lanjut Lie Jing.


"Salah..?" lie Ming penasaran.


"lalu kenapa tidak memberitahukan ke mereka?" Lie Ming makin susah mengerti.


"Beberapa hari yang lalu... ketua mereka kang Gouw menemui ayah"


Lie Jing menjelaskan pada saat pertemuan mereka berdua, Kang Gouw meminta kitab petir penghancur gunung dan cincin pengetahuan tapi Lie Jing menolak.


kang Gouw mengancam akan menyerang sekte petir putih dan meratakannya dengan tanah jika Lie Jing menolak memberikan kedua benda itu.


Lie Jing menjelaskan meski memiliki kedua benda pusaka itu Kang Gouw tidak akan bisa menguasai satupun jurus didalamnya, tapi kang Gouw tidak mempercayainya


"Apa ilmu dalam kitab itu begitu besar?"


"Anakku... kitab petir penghancur gunung bukan hanya sekedar nama saja, dalam kitab itu memang terdapat jurus dengan tingkat level tinggi yang bisa menghancurkan gunung" terang Lie Jing.


"Apa....?" bola mata Lie Ming melebar terkejut.


"Kalau begitu... kenapa ayah tidak menyerang mereka lebih dulu dengan jurus itu" lagi-lagi Lie Ming tak mengerti.


"Tidak mudah menguasainya.. ayah pun Masi belum sampai ke tahap jurus itu"


"Tidak mudah..." akhirnya Lie Ming sedikit memahami maksud ayahnya .


"Yah.... untuk menggunakan jurus itu, seseorang harus memiliki Qi dalam dirinya"

__ADS_1


"Qi yahh... jadi cerita itu benar"


"Untuk membangkitkan Qi..... harus di serta i dukungan dari sumber daya "


"Apakah mereka benar-benar tidak tahu" Lie Ming mencari tahu.


"Hmmm.... walau mereka tahu mustahil mempelajarinya.... tapi tetap saja jalan terbaik menurut Kang Gouw adalah memusnahkan jurus mengerikan itu"


"apa ia mereka merasa terancam?"


"yahh kau benar.."


Lie Jing menjelaskan begitu jauh, ia menjelaskan semua apa yang ia bisa sampaikan selagi masih memiliki waktu, sampai salah satu murid terlihat berlari mengarah pada mereka.


"Patriark......" murid itu mengambil posisi berdiri diantara telapak dan lututnya.


"Laporkan semuanya" Lie Jing tegas.


"Para pasukan penyerang Hantu Tengkorak terlihat di depan pintu gerbang" lapor murid.


"Berapa jaraknya.." lie Jing bertanya dengan cepat.


"Sekitar 1 mil dari pintu gerbang patriark" menjawab dengan menunduk.


"Berapa jumlah mereka..?"


"Aku tak tahu pasti... tapi menurut pengamatan ku... jumlah mereka sekitar 10,000"


"Sesuai dugaan ku.... ia tidak akan meremehkan kita" kata Lie Jing.


Lie Jing kemudian berbalik ke arah lie Ming.


"Anakku sudah saatnya... kau dan Lie Han pergi dari sini" perintah Lie Jing pada putrinya.


"Tapi ayah .."


"Tak ada waktu lagi" tegas Lie Jing.


Lie Ming memanggil Lie Han yang masih berlari di bibir pantai. Mereka bertiga menuju kesebuah kapal kecil yang akan mengangkut mereka berdua.


"Ayah... aku tak tahan dengan semua ini" Lie Ming masih tak rela jika harus pergi


"Anak Ku... aku titipkan Lie Han padamu" Lie Han menitipkan wasiat, tangannya mengarah pada peti hitam lalu membukanya.


"Ini ...?" mata lie Ming melebar


"Yahh.. ini adalah sumber daya yang mendukung Lie Han untuk menjadi pendekar hebat nantinya" jelas Lie Jing.


"Jadi ayah menyimpannya selama ini dan tidak menggunakannya.."


"Aku sudah merencanakannya sejak lama, bahwa lie Han lah yang akan mewarisi semua itu"

__ADS_1


"Ayah..." mata lie Ming kembali melebar


__ADS_2