PENDEKAR PETIR BIRU

PENDEKAR PETIR BIRU
Kalimat Terlarang


__ADS_3

Mereka berdua berangkat begitu pagi, sebelum Lie Han meninggalkan rumah ibunya hendak menahannya sejenak. Dengan wajah bertanya-tanya Lie Han menemukan jawaban dari sikap ibunya yang melepas senyum penuh kasih.


Lie Ming berjalan menghampiri putra tercintanya, entah sejak kapan ia benar-benar tersadar bahwa putranya sudah sebesar ini dan akan mulai menjalankan misi pertamanya.


Dengan membuka kepalan tangan, Lie Ming memegang sebuah cincin, dan meminta Lie Han memakainya.


"Ibu ini cincin apa?"


"Itu cincin pemberian kakek mu, sudah saatnya kau memakainya"


"Apa cincin ini memiliki sesuatu atau hanya semacam benda berharga biasa?"


"Namanya adalah cincin pengetahuan, sekarang mungkin ia belum berfungsi"


"Belum berfungsi... maksud ibu?"


"Maaf Han-er ibu juga tidak begitu mengerti. Yang pastinya cincin ini akan berguna untukmu suatu saat nanti."


"Jadi aku harus mencari tahu sendiri cara menggunakannya?"


"Ibu percaya padamu Han-er" Lie Ming menutup dengan memegang pipi putranya.


Cincin yang mulai terpasang di jari Lie Han seketika berubah menyesuaikan dengan jari pemakainya. Ibu dan anak itu melebarkan mata dengan keterkejutan.


Mereka tertegun beberapa saat.


"Ibu aku pergi dulu.."


"Jaga dirimu baik-baik Han-er"


Senyum Lie Ming menyudahi pertemuan mereka. Lie Han menurunkan pundaknya membentuk busur 90° menghadap ibunya, sebagai penghormatan dan mengharapkan sebuah keberkahan yang akan melindunginya dalam perjalanan.


Lie Han kemudian berdiri meninggalkan kediamannya. Mata lie Ming terus mengawasi putranya sepanjang perjalanannya menuju keluar dari sekte.


Beberapa saat kemudian Lie Han bertemu Lim Kim di pintu keluar yang terlihat sudah menunggunya sejak lama.


"Kita akan melewati jalur barat." ucap Lim Kim sambil berjalan meninggalkan pintu keluar.


"Bukankah di pegunungan itu banyak binatang buas?"


"Iya, tapi.. disana ada jalur khusus yang dibuat sekte, agar para pendekar yang menjalankan misi lebih mudah melewati gunung itu."


"Lalu bagaimana dengan jalur laut?"


"Disana terlalu beresiko. Banyak perompak yang akan kita temui di lautan, kita mengindari hal-hal yang tidak perlu."


Kekaisaran Wei terletak pada wilayah daratan tengah. Mereka berdua berjalan melalui jalur belakang sekte melewati pegunungan lalu mengambil arah Utara memutar melewati sebuah daratan yang menghubungkan perjalanan mereka keKaisaran Wei.


Sepanjang perjalanan mereka berlari dalam waktu cukup lama. Setelah lelah mereka berjalan kaki. Mereka berdua memilih untuk mengirit tenaga. Selain karena jarak kekaisaran masih cukup jauh, mereka juga khawatir jika bertemu dengan sesuatu yang merepotkan di perjalanan.


Langit sudah mulai gelap, memberi mereka keterbatasan dalam melanjutkan perjalanan. Dengan tubuh yang lelah, Lim Kim menyarankan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan mereka esok hari.


Lie Han membuka sebuah kotak makan pemberian ibunya yang berisikan kue kering, lalu menatapnya cukup lama. Dirinya berpikir tidak mungkin menghentikan rasa lapar dengan ini.


"Ini...berbeda dengan bekal makan siang tadi." wajah kecewa Lie Han.


Lim Kim menatap wajah pasrah muridnya dengan tawa kecil.

__ADS_1


"Ibumu tidak mungkin memberi bekal nasi hingga malam hari kan... itu akan basi."


"Yah.. kau benar guru." Lie Han kemudian mengambil kue kering dari dalam kotak dan memakannya.


"Jangan di habiskan dulu."


"Kenapa?.... guru mau?"


"Tidak, bukan itu."


"Lalu apa?"


Lim Kim menghela nafas.


"Sebagai seorang pendekar....kau harus bisa mencari makan sendiri."


"Maksud guru dengan membeli makanan ketika kita sampai di kota?" Lie Han mengingat cerita ibunya.


"Yah.. itu benar, tapi kota masih jauh dari sini"


"Lalu...?"


"Para pendekar biasanya berburu pada malam hari ketika mereka berada dalam hutan seperti ini"


"Begitu yah...?"


"Lie Han kau tunggu disini.. aku akan mencari ayam hutan untuk kita makan."


Lim Kim berlari kedalam hutan, setelah beberapa lama ia kembali dengan wajah senang gembira dengan dua ekor ayam hutan ditangannya.


"Lie Han ayam ini cukup besar bukan."


"Sekarang kau buat api."


"Baik guru."


Lim Kim lalu menguliti dan membelah ayam hutan itu lalu di panggang diatas api. Masing masing dari mereka memegangi kayu yang menusuk daging ayam kemudian memutarnya.


Lim Kim mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah toples yang berisikan racikan bumbu masakan, kemudian ia taburi diatas daging ayam.


"Apa guru sering melakukan ini?"


"Tentu saja... Inilah momen yang ku rindukan ketika menjalankan misi."


Setelah daging ayamnya matang, mereka berdua mulai menyantap. Aroma harum dari bumbu daging ayam membuat Lie Han begitu berselera.


"Aromanya sangat enak.. apa guru memang pandai memasak?"


"Ah tidak juga...hanya saja karena sering memasak di rumah, aku jadi terbiasa."


"Apa guru tidak kerepotan mengurus rumah sendiri... kenapa guru tidak menikah saja?"


Lim Kim tiba-tiba tersedak makanan mendengar perkataan Lie Han.


"uhuk uhuk... air air." Lim Kim mengambil air dalam tasnya.


"Guru ada apa?"

__ADS_1


"Lie Han kau baru saja menyebutkan kalimat yang merusak organ-organ didalam tubuhku"


"Kalimat yang merusak organ tubuh guru?" Lie Han tak mengerti.


"Yang barusan kau sebut itu!!" Lim Kim mengingatkan.


"Kenapa guru belum menik.."


"Hentikan-hentikan.. kau akan membunuhku jika mengatakannya dua kali, sekarang saja aku sudah terluka parah karena ulah mu."


"Terluka parah?" Lie Han menggaruk kepalanya tak mengerti, ia benar-benar terperangkap dalam kebingungan.


"Ini salah ku karena tak memberi tahu mu lebih cepat."


"Memberi tahu apa guru?"


"Lie Han yang baru saja kau katakan, adalah kalimat terlarang. Kau akan mendapatkan hukuman dari para petinggi sekte jika mereka mendengarnya. Ingat jangan mengatakan itu lagi pada orang dewasa yang belum menikah."


Tatapan wajah Lim Kim begitu dingin dengan memegang kedua pundak Lie Han, membuat muridnya itu mengangguk dan menelan ludah ketakutan.


Keesokan harinya setelah beristirahat mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan berlari beberapa kilometer. Setelah beberapa jam berlari mereka kemudian mulai berjalan untuk mengirit tenaga.


Di tempat mereka berjalan terdengar suara burung-burung seperti sedang memanggil satu sama lain.


"Guru tempat ini di penuhi banyak burung, mereka seperti sedang bernyanyi saja."


Langkah Lie Han tiba-tiba terhenti oleh telapak tangan menyentuh dadanya.


"Lie Han ada suara burung!!"


"Iya, aku baru saja mengatakannya." Lie Han menghela nafas dengan mata malas.


"Psssttt." Lim Kim menempelkan jari telunjuknya ke bibir.


Lie Han memiliki perasaan aneh setelah melihat raut wajah gurunya yang terlihat begitu serius dan waspada.


"Itu bukan suara burung." Lim Kim memberitahu dengan bersuara pelan.


"Lalu apa?"


"Itu suara para bandit yang sedang mengincar mangsa, mereka mungkin sedang berada diatas pohon tidak jauh dari sini."


"Kenapa suaranya seperti burung?"


"Karena mereka sedang berkomunikasi dengan temannya yang lain, untuk menghindari kecurigaan mereka bersuara dengan meniru suara burung."


"Apa yang akan kita lakukan?" wajah penasaran Lie Han.


"Lie Han apa kau bersedia mencegah para bandit itu melakukan perampokan?"


"Mencegah mereka?" Lie Han bertanya-tanya dalam hati apakah dirinya bisa melakukan sesuatu untuk melawan para bandit itu.


Lim Kim tahu situasi yang dirasakan muridnya yang sedang dalam kondisi gugup. Lim Kim tersenyum menatap Lie Han, sikap muridnya itu tentu adalah tindakan yang masih wajar, karena ini adalah pengalaman pertamanya bertemu musuh diluar sekte.


"Lie Han percaya padaku, kau hanya perlu melawan rasa gugup mu."


"Baik guru.." Lie Han menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan gurunya Lie Han mendapatkan sedikit kepercayaan dirinya.


__ADS_2