
Setelah para bandit itu pergi meninggalkan mereka dan menghilang tanpa jejak, pemimpin pendekar pengawal datang menghampiri Lim Kim dengan menangkupkan kedua tangan memberi salam.
"Terima kasih Pendekar. Berkat bantuan Anda, kami akhirnya terhindar dari masalah besar karena bandit itu."
"Ahh tidak usah sungkan, sesama pendekar sudah seharusnya saling membantu ketika ada kesulitan." kata Lim Kim santai.
"Terima kasih Pendekar. Dengan apa kami bisa membalas kebaikan pendekar?" tiba-tiba pimpinan pedagang menyahut.
"Tuan, tidak usah repot-repot. Ini sudah kewajiban kami." tolak Lim Kim.
"Kalau begitu, aku berharap Pendekar mau menerima ini." ujar Pimpinan pedagang sambil menyodorkan 1 kantong kecil penuh koin perak.
"Tidak-tidak. Di sekte kami, tidak dibenarkan mengambil uang dari orang yang kami tolong."
Pimpinan pedagang awalnya membujuk agar Lim Kim mau menerima tanda terima kasih tersebut dan melepaskan dirinya dari rasa berhutang budi. Tapi Lim Kim tetap menolak, menurutnya itu tidak sesuai dengan ideologi yang dianutnya.
Pimpinan pedagang sebenarnya ingin memaksa Lim Kim menerima uang itu, tetapi yang ada dihadapannya adalah pendekar dari aliran putih. Ia takut menyinggung prinsip Lim Kim.
Meski itu tidak mengurangi harta bawaan Pimpinan pedagang, tetapi tetap saja Ia merasa berat hati karena tidak bisa membalas budi.
"Pendekar, kalau boleh tau pendekar dari sekte mana?" pemimpin pengawal tadi bertanya.
"Kami dari sekte Pulau Persik." jawab Lim Kim.
Pemimpin pengawal tersedak.
"Apa? Pulau Persik?, suatu kebanggaan bagi kami dapat bertemu dengan salah satu pendekar hebat dari Pulau Persik." ujar nya hati-hati.
"Hahahaha, tidak usah berlebihan begitu." Lim Kim sedikit merasa bangga tapi menyikapinya dengan rendah hati.
"Maaf Senior, bagaimana saya bisa memanggil anda?"
"Senior? kenapa tiba-tiba memanggilku seperti itu?"
"Maaf Senior, sudah sepatutnya kami menyebut Senior kepada pendekar yang lebih tua dari kami."
Sikap pendekar pengawal lebih menghormati Lim Kim setelah tau ia dari sekte ternama.
"Hah? Tua?"
Tanya Lim Kim sambil memegangi wajahnya. Kenyataan itu tidak sesuai dengan harapan Lim Kim. Sikap hormat pendekar pengawal justru menyinggung perasaan Lim Kim.
Lie Han melihat wajah gurunya, Ia tahu kalau gurunya sedang dalam perasaan buruk.
"Guru, kau memang pantas disebut senior karena para bandit itu kabur setelah melihat kemampuan guru. itu menandakan Guru begitu hebat. Bukankah begitu?" Lie Han menatap Pemimpin Pengawal meminta persetujuan sambil mengedipkan mata.
Melihat wajah Lie Han seperti memberi kode, pendekar pengawal mengira sadar telah mengucapkan kata yang menyinggung Lim Kim.
__ADS_1
"Ahh, iya itu benar sekali pendekar muda."
jawab pendekar pengawal dengan yakin.
"Ohh begitu yah, hampir saja aku salah paham." perasaan Lim Kim jadi sedikit lebih baik.
Setelah mereka berbincang cukup lama dan saling bertukar nama, para pendekar dibuat terkejut oleh postur tubuh tinggi Lie Han yang ternyata Masi berusia 12 Tahun dengan kemampuan bisa mengalahkan 5 bandit dengan cepat tanpa kendala. Tapi keheranannya tak berlanjut lama.
"Mau heran, tapi ini Pulau Persik" Ucap dalam hati pendekar pengawal.
Pendekar pengawal kemudian bertanya ke arah mana tujuan Lim Kim dan Lie Han. Lim Kim menjawab jika tujuan mereka ke Ibu Kota Kekaisaran Wei. Karena arah tujuan mereka sama, pendekar pengawal itu menyarankan agar mereka bisa bersama-sama menuju ibu kota.
Lim Kim menolak dengan alasan dirinya dan muridnya harus menuju ke suatu tempat lebih dulu untuk mengurus hal yang penting.
Mendengar itu, pendekar pengawal tidak punya lagi kalimat untuk membujuk Lim Kim agar mau ikut bersama mereka.
Rombongan pedagang pun mulai meninggalkan lokasi dan menuju ke Ibu Kota. Lim Kim juga mulai berjalan dan mengambil arah yang lain.
"Guru, kenapa kita tidak ikut bersama mereka? Bukankah tujuan kita sama?"
"Karena kita akan ke suatu tempat lebih dahulu sebelum ke Ibu Kota,"
"Kenapa Guru baru mengatakannya sekarang?"
"Ah itu,... "
"Tadi Kemampuanmu mengalahkan 5 bandit itu sangat keren, Aku tak menyangka kau bisa bergerak secepat itu" Lie Han merubah topik, tapi sebenarnya ia benar-benar penasaran dengan kemampuan muridnya yang melebihi ekspektasi.
"Kenapa guru mengalihkan pembicaraan" Lie Han menegur, juga sedang berusaha menghindari pertanyaan gurunya.
"Lie Han bukan kah kau lapar?. sekitar 2 kilometer dari sini ada kota kecil, didalamnya ada restoran yang memiliki masakan yang sangat enak.. kau pasti menyukainya" Lim Kim menggoda Lie Han agar terhindar tekanan.
"Wah apakah makanannya lebih enak dari ayam bakar semalam?"
"Aaaaa itu... yah tentu saja." Lim Kim terpaksa mengiyakan agar Lie Han mengikuti kemauannya.
Setelah berjalan sejauh 2 kilometer mereka akhirnya tiba di sebuah Desa kecil, Desa dimana dulu Lim Kim sering kunjungi ketika sedang menjalankan misi. Meski tempatnya sekarang serasa lebih sepi dari biasanya, Lim Kim nampak tak begitu peduli dengan itu, ia buru-buru menuju ke sebuah restoran makan yang sudah menjadi langganannya sejak dulu.
Mereka berdua akhirnya sampai di restoran dan duduk di kursi meja makan. Seperti biasa ia di sambut dengan para pelayan yang menawarkan menu makan, Lim Kim kemudian memesan. Lie Han sedikit kebingungan akan memesan apa, Tapi Lim Kim menyarankan untuk memesan seperti yang ia pesan saja.
Setelah menunggu cukup lama, masakan akhirnya datang, dan mereka menikmati makanan dan begitu lahap, Lie Han sepertinya tak berniat mengkritik gurunya karena sudah memperlambat perjalanan, karena rasa masakan di restoran membuat alasan gurunya masuk akal.
Lim Kim seperti baru saja kembali pada mode sadar setelah kekenyangan, ia memerhatikan disekitarnya yang terlihat begitu sepi, tak ada pengunjung lain selain ia dan muridnya.
Lim Kim mulai mengamati lebih jauh dan mengingat jika pelayan yang melayani mereka barusan tampaknya bermuka masam, itu berbeda seperti biasa, dulu pelayan disini selalu bersikap ramah. Lim Kim mulai berpikir mencari tahu dengan situasi aneh ini.
"Guru ada apa?" Lie Han merasakan sesuatu dipikiran gurunya.
__ADS_1
"Lie Han nampaknya aku merasakan ada sedikit yang aneh"
Lie Han memperhatikan sekitar
"Makanan seenak ini tapi sepi pengunjung" Ucap Lie Han setelah mengamati.
"Ini adalah restoran langganan ku, baru kali ini aku melihatnya sepi seperti ini"
"Guru waktu kita masuk ke kota, aku hanya melihat beberapa orang yang lalu lalang"
"Jadi kau memperhatikannya yah.. tadi aku kehilangan fokus, mungkin karena kelaparan"
"Jika penghuni kota sepi begini,. bukankah para pedagang dan restoran disini akan merugi yah"
"Otak mu semakin baik saja" Lim Kim memuji muridnya.
Lim Kim memanggil pelayan dan menanyakan itu dengan hati-hati dan tidak menyinggung, tapi pelayan hanya menggelengkan kepala lalu pergi, kecurigaan Lim Kim semakin dalam.
"Ada yang tidak beres disini" Ucap Lim Kim datar.
Pikiran Lie Han sama seperti gurunya. Setelah beberapa lama tak menemukan jawaban, mereka kemudian membayar bill nya dan mulai meninggalkan restoran.
"Hari sudah mulai gelap, malam ini kita beristirahat di penginapan dekat sini"
"Baik guru"
Ketika hendak meninggalkan restoran, tiba-tiba mereka bertemu dengan 4 orang pria paruh baya berpenampilan aneh menuju kedalam Restoran, Lim Kim mengamati tapi tak menatap mereka, setelah 4 pria itu lewat, mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan mencari penginapan.
***
"Hei... bawakan aku makanan yang enak, dan jangan membuatku menunggu lama"
"Siap tuan"
"Hei kau... hahahaha, tubuh mu oke juga, malam ini kau harus temani aku."
"Maaf tuan, hamba tidak bisa" Pelayan menolak permintaan salah satu dari ke 4 pria yang memesan makanan.
"Jadi kau berani menolak ku, mau ku hancurkan tempat ini?"
"Jangan tuan"
"Ya sudah.. turuti kemauanku"
"Tapi tuan"
Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu dan masuk kedalam Restoran.
__ADS_1
"Jadi ini alasan restoran disini sepi pengunjung?" Lim Kim berbicara dengan nada tegas bersama Lie Han di sampingnya.