
Lim Kim menuju ke markas para perompak, memanfaatkan gelap malam untuk menutup keberadaan, ia mulai mengamati sekeliling markas, terdapat beberapa perompak yang berjaga diluar.
"Apa 4 orang tadi belum memberi tahu tentang keberadaan kami?" Lim Kim belum melihat gerakan perompak yang mencari mereka.
Di dalam markas, kapten perompak bersama dengan dua bawahan kepercayaannya sedang berkumpul bersama.
"Kita harus cepat meninggalkan tempat ini, cepat atau lambat keberadaan kita akan diketahui."
"Anda benar kapten, kabar dari dua orang itu belum terlihat lagi sampai sekarang, kemungkinan mereka sudah pergi."
"Kapten, akan berbahaya jika dua orang itu menyebarkan berita keberadaan kita di desa ini." satu bawahan lain berpendapat.
"Bagaimana dengan barang bawaan dan hasil jarahan kita?" ucap Kapten perompak.
"Kami sudah mengamankan semuanya."
"Baguslah, besok pagi sebelum matahari terbit kita kembali ke kapal, sampaikan kru kapal yang berada di sana untuk menyiapkan keberangkatan."
"Baik kapten."
Satu bawahan kapten perompak kemudian terlihat meninggalkan markas dan menuju ke pantai yang berjarak 10 kilometer dari desa. Ia berjalan begitu terburu-buru.
Ketika sudah meninggalkan markas cukup jauh tiba-tiba, ia dikejutkan dengan sesuatu yang begitu cepat, sebuah pedang sudah mengalungi lehernya dan bisa mencabut nyawanya kapan saja.
"Jangan bergerak sedikitpun, atau nyawamu melayang, jangan berbicara apapun selain menjawab pertanyaan ku." Lim Kim kemudian membawa bawahan kapten perompak ke tempat yang lebih jauh dan cukup tersembunyi.
***
Untuk sampai ke penjara bawah tanah memiliki dua rute, Lie Han memilih rute yang di beritahu Kepala Desa, dengan melewati jalan di bawah kediaman Kepala Desa yang menghubungkan ke penjara bagian bawah tanah.
Menurut Kepala Desa, jalur ini adalah jalur rahasia yang hanya diketahui olehnya, Selain jalur ini menghubungkan ke penjara bawah tanah, jalur ini juga sebagai alternatif jika ingin keluar dari desa tanpa melewati gerbang utama.
Alasan Kepala Desa untuk tidak meninggalkan desa karena Ia menganggap desa dan penduduk adalah rumah dan keluarganya, tidak ada alasan untuk meninggalkan desa. Jika untuk keluar secara sembunyi untuk meminta bantuan itu bisa saja, tapi itu akan memakan waktu lama.
Ia sudah mendapatkan ancaman dari perompak yang akan membunuh semua penduduk desa apa bila dirinya melakukan tindakan melarikan diri atau meninggalkan desa. Satu hal yang tidak diketahui kepala desa adalah, dirinya akan tetap mati pada akhirnya jika para perompak sudah meninggalkan desa.
__ADS_1
Lie Han mulai menelusuri jalan yang begitu gelap dengan hanya menggunakan lilin sebagai penerangan jalan terowongan yang begitu sempit.
Ketika hendak sudah sampai ke ruang dimana para prajurit desa di penjara, Lie Han kemudian bersembunyi dan mulai mengamati, disana terdapat 4 penjaga yang sedang melawan rasa kantuk karena kelelahan berdiri dalam waktu yang lama.
"Ruangan ini cukup jauh ke bawah, orang-orang di atas tidak akan mendengar apapun jika aku menyerang 4 penjaga itu secara langsung." Lie Han mulai memperhitungkan rencananya.
Tak butuh waktu lama, Lie Han kemudian berjalan ke arah penjaga dengan santai, perlahan mencabut pedangnya lalu membentangkannya. Sontak para penjaga mengambil posisi siap.
"Siapa kau?"
"Bagaimana kau bisa masuk?"
"Apa penjaga di atas membiarkanmu masuk?"
"Hei cepat katakan, kau musuh atau teman kami?"
"Apa kau mengenal wajahku? Jika tidak, itu artinya aku bukan temanmu." ucap Lie Han sambil menghunuskan pedangnya menyerang penjaga.
"Dia penyusup, serang Dia." teriak salah satu penjaga.
Dengan langkah terburu-buru mundur menjauhi pertarungan, Lie Han berusaha mengatur rencana lain. Setelah melakukan pertukaran serangan, para penjaga rata-rata memiliki kemampuan setara pendekar kelas satu. Sebagai pendekar ahli tingkat awal dengan 200 lingkaran tenaga dalam, tentunya Lie Han masih sulit untuk untuk mengalahkan mereka berempat.
"Gawat.. kekuatan ku belum cukup menghadapi mereka berempat sekaligus." Wajah Lie Han memucat.
Hal lain yang ditakuti Lie Han adalah jika memaksa mengeluarkan tenaga dalam yang banyak melawan para penjaga, ia akan kehabisan tenaga dalam bahkan sebelum mengalahkan mereka semua, yang masing-masing memiliki setidaknya 100 lingkaran tenaga dalam.
"Hahahaha.. jadi kau pendekar muda, sepertinya kau salah perhitungan yah?" para penjaga serentak tertawa.
"Tidak juga, hanya saja aku tak mengira jika para penjaga sekuat ini, kalian seharusnya bertugas di tempat yang lebih layak." ejek Lie Han
"Apa maksudmu? kau merendahkan kami?" Ucap salah satu penjaga berpakaian seragam perompak.
"Maaf jika menyinggung mu." Lie Han tersenyum sinis.
"Setelah terpojok kau masih bisa tersenyum.. apa kau mengira omongannya itu bisa membuatmu menang melawan kami?" Penjaga mulai geram.
__ADS_1
"Orang seperti kalian jika hanya memberi pelajaran akan percuma... Jalan terbaik adalah dengan membunuh kalian." Lie Han dengan wajah dingin.
Lie Han berjalan dengan membentangkan pedangnya. Mulai mengalirkan masing-masing 20 lingkaran tenaga dalam di dua garis dan menakannya satu sama lain, aliran petir mulai terlihat mengalir menyelimuti pedang, dengan sinar yang begitu menyala menerangi seisi ruangan, suara aliran petir tak kalah bisingnya ditelinga.
Melihat itu penjaga mulai khawatir, mata mereka melebar bertanya-tanya. Para penjaga kembali merasa waspada.
"Itu apa?"
"Itu seperti listrik, bukankah akan bahaya jika mengenai kita?"
"Jangan lengah, ia bersiap menyerang."
"Seni petir, pedang petir, jurus pedang mengacak bunga." Lie Han mulai menggunakan jurus petir nya.
Dengan menggabungkan jurus pedang Pulau Persik dan Petir Putih, Lie Han kemudian bergerak dengan cepat menyerang para penjaga, kecepatannya meningkat berkali lipat, daya rusak serangannya juga membuat pertahanan musuh tak berdaya. Dua diantara penjaga berakhir dengan pedang yang patah jadi dua bagian. Belum sempat mengeluarkan semua kekuatannya, para penjaga tak menyangka jika serangan dari pendekar muda itu berhasil merenggut nyawanya dengan cepat. Butuh dua sampai tiga serangan hingga para penjaga akhirnya tewas satu persatu.
Usai membunuh para penjaga, wajah Lie Han sedikit syok. Dengan wajah berkeringat dan nafas memburu, mata Lie Han membelalak tak percaya bahwa dirinya telah menjadi seorang pembunuh.
"Sensasi apa ini? ada perasaan puas dan ketakutan." Lie Han mengangkat kedua telapak tangannya yang berlumuran darah.
Dengan berdiri kaku beberapa saat, Lie Han merenungi apa yang baru saja terjadi.
***
"Kapten, sepertinya semua penduduk desa sudah tertidur."
"Cepat gerakkan semua pasukan untuk membunuh mereka semua sebelum matahari terbit."
"Baik kapten."
Satu bawahan terpercaya kapten perompak kemudian keluar markas dan mengatur pasukan untuk membunuh semua penduduk desa. Setelah semuanya siap mereka kemudian buru-buru menjauhi markas dan berniat menyerang para penduduk dengan menyebar.
Karena sudah mengetahui rencana para perompak dengan mendapatkan informasi dari bawahan yang ia tahan, Lim Kim bergerak cepat menghadang 50 pasukan perompak sebelum mereka menyebar.
"Hentikan.. hadapi aku dulu." Lim Kim berlari dan berteriak, semua pasukan perompak yang mendengarnya kemudian menghentikan langkah menatap orang yang baru saja berlari dan berhenti di hadapan mereka.
__ADS_1