
Setelah melakukan kelas latihan dan latihan tambahan bersama Lim Kim, Lie Han pulang ke rumah dengan tubuh yang begitu kelelahan. Di rumah ia sudah disambut oleh ibu yang menyediakan makan siang untuknya.
"Han-er sudah pulang?."
"Iya ibu.. hari ini aku kelelahan."
"Bukan kah hampir setiap hari kau terlihat kelelahan."
"Yah itu benar" Lie Han menghela nafas dengan mata malas menuju ke kamar mengganti pakaian.
Lie Ming mulai memperhatikan anaknya yang sudah tumbuh menjadi pria remaja. Tapi tidak, Lie Ming memotong kembali khayalannya, anaknya baru berusia 9 tahun.
Akhir-akhir ini, karena sering menjalankan misi, Lie Ming merasa kurang memperhatikan perkembangan anaknya, meski sumber daya membuat perkembangan fisik Lie Han terlihat seperti anak berusia 13 tahun sekarang.
Dengan pondasi kekuatan setara pendekar kelas 2, Lie Ming berpikir sudah saatnya Lie Han mulai mempelajari kitab petir Penghancur Gunung.
Lie Han menyantap makanan dengan lahapnya, itu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi Lie Ming. Sejak pertama Lie Han mengonsumsi ginseng air, nafsu makannya bertambah berkali lipat.
Ketika hendak menyelesaikan makannya, Lie Han tersadar dirinya telah di awasi sejak tadi. Itu membuat anak berusia 9 tahun yang memilki mental pria remaja ini berasa sedikit canggung.
"Ada apa?." Lie Han berwajah bingung.
"Ehh." Lie Ming terbangun dari lamunan.
"Ibu selalu melihat ku dari tadi. ada apa?" memastikan.
"Han'er apa kau punya waktu untuk berlatih dengan ibu sore ini?"
"Berlatih?" Lie Han sedikit merasa tidak terbiasa dengan ajakan ibunya.
"Iya... setelah ibu pikir-pikir, sudah sangat lama kita tidak melakukan latihan bersama."
"Apa ibu tidak kelelahan?"
"Aku... ah tentu tidak?"
"Tapi ibu...aku baru saja mengatakan kalau aku kelelahan." Lie Han menaikkan alisnya.
Lie Ming tersadar anaknya lah yang kelelahan.
Dan dirinya baru saja mengatakan itu.
"Owh iya yah.... hehehehe." tawa canggung Lie Ming.
Hubungan mereka terasa sedikit aneh sebagai ibu dan anak. Lie Ming mengira itu karena mereka jarang bertemu dan melakukan komunikasi. Ia mulai menyalahkan keadaan karena padatnya misi, sehingga berpengaruh pada sikap Lie Han. Lie Ming berencana untuk meminta cuti misi untuk beberapa Bulan ke depan dan fokus untuk memberi waktunya pada Lie Han.
Lie Han yang telah menyelesaikan makannya mulai beranjak dari kursi menuju ke kamar. Setelah hendak membuka pintu dirinya di hentikan oleh suara dingin wanita yang ia kenal.
"Han-er besok kau libur kan.. Ibu ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Ucapan dingin Lie Ming mengejutkan anaknya yang tak berbalik memandanginya. Meski begitu Lie Han menyimak apa yang ibunya katakan padanya.
"Besok jam 6 pagi .. Ibu tunggu di luar Gerbang."
Ucapan Lie Ming menutup percakapan lalu beranjak keluar meninggalkan rumah.
Lie Han yang masih dalam posisi berdiri, mulai membalikkan badan setelah tidak merasakan kehadiran ibunya.
__ADS_1
"Di luar gerbang.. jam 6 pagi?" Lie Han berucap dengan pelan, seolah mengulangi kalimat ibunya.
***
Hari masih begitu pagi, Lie Han berangkat keluar dari pintu gerbang dengan rasa penasaran yang besar. Sikap dingin ibunya kemarin membuat dirinya ingin mencari tahu alasannya.
Setelah meninggalkan gerbang sejauh 1 kilometer, Lie Han mulai bertanya dalam hati, tempat mana yang ibunya maksud. pandangannya mulai melirik ke kiri dan kanan, yang terlihat hanyalah pepohonan.
Setelah berjalan beberapa langkah, Lie Han di hentikan oleh suara dari balik pepohonan. Bersamaan dengan itu sosok Lie Ming perlahan berjalan ke arahnya.
"Aku pikir kau tidak akan datang." senyum Lie Ming seraya menghampiri anaknya.
"Ibu memanggilku.... aku harus menurutinya kan." Lie Han membalas senyum ibunya.
Melihatnya Lie Ming merasa hubungan ibu dan anak Kembali terasa, untung saja suasana yang kurang baik kemarin hanyalah dugaannya saja.
"Han-er mungkin kau pernah mendengar atau melihat ini" Lie Ming memperlihatkan sampul kitab di antara jarinya.
"Petir Penghancur Gunung?" ucapan pelan Lie Han membaca sampul kitab.
Setelah membacanya Lie Han mulai mengingat sesuatu. Pikirannya kembali ke masa lalu, di saat Ia dan ibunya beranjak dari sekte Petir Putih, ketika itu kakeknya menyebut buku itu ketika berbicara dengan ibunya.
"Ibu apa itu milik kakek?" Lie Han menyipitkan mata mencari tahu.
"Yah.. benda pusaka yang Kakek wasiatkan padamu."
"Wasiat?" Lie Han tak mengerti.
Lie Ming mulai menjelaskan tujuan buku itu di wasiatkan padanya. Lie Han yang awalnya kebingungan perlahan mulai mengerti bahwa dirinya adalah pewaris ilmu dari para leluhurnya yang terkumpul dalam kitab itu.
"Ibu tak bisa mengajarimu apa isinya, kau harus mencari tahu sendiri... tapi ingat jaga baik-baik buku ini."
Mendengarnya Lie Ming menelan ludah dengan cepat. Berpikir sesaat mengetuk kepalanya dengan jari.
"Ah itu..... mmm Han-er kau harus mulai berlatih dengan buku itu.. karena didalamnya terdapat jurus yang memilki daya hancur yang besar, kau harus berlatih di alam luar seperti ini?"
"Begitu yah..." Lie Han memegang dagunya mengerti.
"Jika kau berlatih di dalam sekte... Ibu khawatir tak punya uang untuk membayar ganti rugi jika kau tak sengaja merusak sesuatu." Tawa tipis Lie Ming menutup percakapan.
Lie Ming meminta Lie Han untuk memulai membaca dan mempelajari isi kitab itu.
lalu pergi meninggalkan anaknya sendiri, Lie Han sempat menahannya tapi ibunya hanya tersenyum padanya lalu melanjutkan perjalanan. Lie Han mulai menatap dan membuka isi kitab Petir Penghancur Gunung dengan serius.
Sehari penuh Lie Han hanya membaca halaman demi halaman Kitab Petir Penghancur Gunung.
Didalamnya terdapat 7 jurus ampuh membangkitkan seni petir.
-Petir Pemotong
-Tombak Petir
-Sapuan Petir
-Langkah Kilat Petir
-Baju Pelindung Petir
__ADS_1
-Petir Mengalir
-Petir Penghancur Gunung
Selain membaca 7 jurus itu, Lie Han juga membaca langkah-langkah membangkitkan ya, namun masih belum terlalu mengerti.
Yang Lie Han tahu adalah untuk menguasai jurus-jurus tersebut harus dimulai dengan menguasai jurus pertama.
Jurus pertama berfungsi sebagai jembatan untuk menguasai jurus kedua dan begitu selanjutnya.
Semua jurus terhubung satu sama lain, dengan kata lain setiap tingkatan jurus adalah pengembangan dari jurus sebelumnya.
Catatan sejarah dalam buku menjelaskan, para Leluhur menciptakan 1 jurus dan mengembangkannya di tiap generasi pelanjut. Yang berarti 7 jurus itu tercipta dari 7 generasi.
Satu Hal yang membuat Lie Han bingung adalah, dalam membangkitkan dan menggunakan jurus itu di dalam kitab ada kalimat
'M**engalirkan Qi dalam dua jalur berbeda dan menggesekkan secara bersamaan, bertujuan membangkitkan sifat dasar Qi klan Lie yaitu petir'
Lie Han berasumsi bahwa Qi yang di maksud dalam buku itu mungkin adalah tenaga dalam, Ia lalu mencobanya.
Keesokan harinya Lie Han mulai mempraktekkan apa yang ia pelajari dalam Kitab Petir Penghancur Gunung. Setiap kali Lie Han mengalirkan tenaga dalam pada dua jalur berbeda dan menggesekkan secara bersamaan di tangannya, selalu berakhir dengan kegagalan. Lie Han berpikir dirinya butuh kontrol tenaga dalam yang lebih baik.
"Ahh sulit sekali mengontrolnya" keluh Lie Han.
Satu hari latihan tidak berjalan lancar, Lie Han masih belum bisa memperlihatkan tanda-tanda bangkitnya petir di tangannya sampai ia kehabisan tenaga dalam. Lie Han memutuskan untuk melanjutkannya esok hari.
Esok harinya setelah Lie Han berlatih sehari penuh dan masih dengan hasil yang sama. Lie Han tak menyerah, ambisinya begitu kuat. Ia memegang kepercayaan kakeknya padanya, Lie Han membulatkan tekad untuk berlatih dengan keras.
Hari demi Hari berlalu hingga mencapai waktu satu bulan, Lie Han sudah bisa mengontrol jalur tenaga dalamnya lebih baik namun masih belum bisa membangkitkan energi petir ditangannya.
Dua bulan setelahnya Lie Han makin mahir mengontrol tenaga dalamnya, tapi tetap saja masih belum bisa membangkitkan Petir. Lie Han memilih untuk beristirahat 1 Minggu ke depan.
Ia sudah hampir berada pada titik lelah dan ingin menyerah.
Untuk menghibur diri Lie Han berniat untuk jalan-jalan di sekitaran sekte. Di perjalanan ia tak sengaja melihat dua pendekar sedang berlatih tanding.
Dua pedang berbenturan terus menerus sehingga menghasilkan percikan api. Mata Lie Han membelalak melihatnya seakan menemukan sesuatu dalam pikirannya.
"Jadi begitu yah... benturan itu sama dengan gesekan, ketika terjadi terus menerus maka merubah sifat pedang menjadi panas, akibat dari itu percikan api pun terjadi"
Kecerdasan Lie Han mulai terlihat, karena beberapa bulan terakhir otaknya di paksa berpikir keras oleh Kitab Pusaka itu.
Lie Han buru-buru kembali ke tempat latihannya selama ini.
"Kali ini aku melakukan ini dalam waktu yang lama, aku harap ini berhasil."
Lie Han mulai mengalirkan tenaga dalamnya di dua arah. Bedanya dari hari kemarin, Sekarang Lie Han mengalirkan tenaga dalam di kedua tangannya kemudian menyilangkannya.
"Dengan ini kontrol tenaga dalam ku bisa lebih baik dan mempertahankannya jauh lebih lama"
Lie Han menyilangkan tangan dan mulai menggesekkan tenaga dalam secara bersamaan. Dalam waktu 1 menit belum ada tanda kebangkitan aliran petir di tangannya, tapi Lie Han tak menyerah.
"Tanganku mulai panas .. Ayolah.... haaaaaaaa." Lie Han berteriak dengan keras memaksa.
Tak lama kemudian aliran petir berwarna putih perlahan bangkit dan menyelimuti tangannya.
lie Han memisahkan tangannya dan menaruh selimut petir itu pada tangan kanannya.
__ADS_1
"Ini... luar biasa..." mata Lie Han melebar. benar-benar tak percaya dirinya telah berhasil setelah mencobanya selama berbulan -bulan.