PENDEKAR PETIR BIRU

PENDEKAR PETIR BIRU
Jurus Langkah Kilat Petir


__ADS_3

Mereka berdua mendekati sumber suara dengan menyembunyikan aura keberadaan dengan berjalan pelan melewati pepohonan lalu bersembunyi di balik semak-semak. Dari kejauhan terlihat para pedagang yang berjalan didalam hutan, dan di kawal oleh enam pendekar yang mereka sewa.


Dua di antaranya adalah pendekar ahli tingkat awal dan menengah, sedangkan empat lainnya adalah pendekar kelas satu dan dua.


"Guru... enam orang itu berpakaian seragam dan pedang"


"Dilihat dari pakaiannya sepertinya dia pendekar yang di bayar untuk mengawal para pedagang itu"


"Kalau begitu bisa dibilang mereka aman dari para bandit?"


"Kita masih belum bisa memastikan... lagi pula para bandit itu berjumlah 15 orang"


"Berarti mereka masih kalah dalam jumlah, apa kita harus membantunya sekarang?"


"Jangan sekarang, kita harus mempelajari situasi dulu... tunggu sampai para bandit itu menghadang mereka"


"Baik guru" Lie Han mulai fokus membaca situasi.


Belasan pedagang yang membara kereta pengangkut barang bawaan melewati jalan tanpa kecurigaan, sedangkan enam pendekar mengawalnya berjalan di masing-masing sisi kereta dengan berjaga-jaga.


Setelah berjalan cukup dekat dengan lokasi dimana para bandit itu bersembunyi, salah satu pendekar tingkat ahli tiba-tiba melompat menggunakan ilmu meringankan tubuh ke barisan depan dan menghentikan langkah para pedagang.


"Berhenti" ucap pengawal sembari memperhatikan situasi disekitarnya.


"Ada apa pendekar?" ketua rombongan mencari tahu.


"Ada yang tidak beres disini,. tetaplah berhati-hati"


Mendengar itu lima pendekar yang lain mencabut pedangnya secara bersama dan mulai meningkatkan kewaspadaan.


Tak berselang lama 10 bandit bertopeng melompat dari atas pepohonan dan mendarat di hadapan para rombongan pedagang.


"Tak ku sangka kau bisa merasakan keberadaan kami" salah satu bandit bertopeng hitam memuji.


Topeng hitam adalah pemimpin para bandit itu, delapan lainnya memakai topeng hijau, dan satu lagi memakai topeng merah. Warna topeng mereka menentukan tingkatan kekuatan, di mana warna hijau adalah yang terendah, kemampuan mereka setara pendekar kelas dua.


Lima bandit yang masih bersembunyi di atas pohon juga memakai topeng berwarna hijau.


"Siapa kalian?" satu pendekar yang bertindak sebagai kapten menghunus pedang ke arah bandit bertopeng.


"Apa kami perlu memberitahu mu?.. aku rasa tidak, tapi aku akan mengatakan sesuatu yang penting"


"Apa itu katakanlah" pemimpin rombongan bertanya dengan wajah menahan takut.


"Kami hanya butuh uang kalian... berikan atau kalian semua mati disini"

__ADS_1


"Kau berbicara seolah kau bisa saja" Pendekar pengawal menantang.


*


Di sisi lain, Lie Han dan Lim Kim sedang merencanakan bantuan.


"Lie Han apa kau punya rencana, kita harus bisa menyelesaikan ini tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga"


"Kenapa bertanya padaku Guru?" tanya Lie Han bingung.


"Tentu saja, ini termasuk ujian mu, kau harus memaksa berpikir mulai sekarang"


"Baik guru" Lie Han kemudian mulai berpikir mengamati, dan setelah beberapa lama.


"Guru tadi kau mengatakan kalau mereka berjumlah 15 orang tapi yang terlihat disana ada 10 orang"


"Yah.. 5 lainya di atas sana" Lim Kim menunjuk masing-masing posisi 5 bandit yang masih bersembunyi di atas pohon.


"Guru jika kita maju sekarang, apakah pihak kita lebih unggul?"


"Yah bisa dibilang andai saja mereka hanya berjumlah 10 orang, tapi ketika 5 lainnya bergabung kekuatan di pihak kita jauh di bawah mereka"


"Begitu yah... berarti kita harus menyingkirkan 5 orang dulu"


"Guru aku punya rencana"


"Cepat katakan, waktu kita sedikit"


Lie Han memberi tahu gurunya tentang rencananya yang akan menjadikan gurunya sebagai pengalihan. Detak jantung Lie Han tiba-tiba berdetak lebih cepat, ia mengatur nafas untuk menjaga keseimbangan tubuh dari rasa gugup.


*


Para bandit bertopeng masih melakukan negosiasi, mereka berniat merampas harta tanpa bertarung dengan menjatuhkan mental para pendekar pengawal itu.


"Pendekar, tolong jangan biarkan mereka mengambil harta bawaan."


"Hahahaha hei orang tua ..apa kau tidak melihat para pengawal mu sedang dalam situasi yang buruk?"


Karena sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan para pengawal hanya merapatkan gigi dan tak bisa berbuat lebih untuk sementara.


"Tuan... untuk sementara kau mundur dulu, biar kami yang mengatasi mereka"


"Hahahaha apa semua pendekar seperti kalian pandai membual, aku tahu kalian hanya tidak ingin terlihat lemah, karena itu akan merusak nilai kalian dimata para pedagang"


Perkataan pemimpin bandit itu tentu benar, para pendekar pengawal jelas tahu jika mereka sedang terpojok. Tapi mereka tidak ingin tampang putus asa itu terlihat, karena itu akan menurunkan jumlah permintaan pengawalan pedagang pada mereka suatu saat nanti.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang berlari di balik semak-semak dengan berteriak, semua mata memandangnya tanpa terkecuali.


"Hei.. kau bandit sialan, aku akan menghabisi kalian tanpa sisa" Lim Kim berlari lalu melompat tepat di samping pendekar pengawal, suaranya begitu menggelegar.


"Apa kau datang sebagai bantuan?... tambahan satu orang hanya akan menambah jumlah uang yang harus kalian berikan pada kami hahahaha".


"Apa kau sudah buta... sekarang posisi kalian sedang buruk, tapi masih bisa ketawa" Lim Kim berbicara dengan nada mengejek.


"Bicara apa kau.... kami masih punya pasukan yang bersembunyi" Bandit bertopeng tersenyum percaya diri.


"Apa yang kau maksud, para cecunguk yang bersembunyi di atas pohon?"


"Aaaa jadi kau sudah tahu?" mata ketua bandit melebar.


"Tentu saja" Lim Kim menaikkan pundaknya.


"Tunggu apa lagi kalian cepat turun..." ketua bandit berteriak ke arah atas pohon.


Sesaat kemudian 5 bandit yang sejak tadi bersembunyi terjatuh dari pohon dengan kondisi tidak sadarkan diri, tubuh mereka jatuh terpental ke tanah.


"Apa yang terjadi?" ketua bandit terkejut tak mengerti.


Satu orang lain lagi terlihat turun melompat dari atas pohon dan mendarat dengan sempurna.


"Guru tugas berhasil..." Lie Han dengan senyum ke arah gurunya.


Di saat Lim Kim berlari dengan berteriak, itu adalah bentuk pengalihan, tidak hanya ketua bandit bersama pasukan disampingnya dan para pendekar pengawal yang melihat Lim Kim dengan mendadak. Pandangan 5 bandit yang bersembunyi diatas pohon juga teralihkan dan menatap Lim Kim yang berlari.


Tanpa mereka sadari, seseorang sudah berada dibelakang dan melumpuhkan mereka dengan cepat. Lie Han menggunakan jurus langkah kilat petir dan menyerang mereka dengan pukulan yang dilapisi tenaga dalam ke titik sensitif mereka dengan begitu cepat. Meski belum sempurna, tapi bagi pendekar kelas dua kecepatan Lie Han membuat mereka tak sempat mengambil posisi bertahan, apa lagi serangan yang ia terima begitu tiba-tiba.


"Sekarang apa kalian ingin melanjutkan rencana perampokan.. atau pergi dari sini dan bawah para cecunguk itu" Lim Kim menunjuk 5 bandit bertopeng yang tergeletak tak sadar.


"Kami masih unggul dalam jumlah.. cepat serang dan bunuh mereka" Seketika raut wajah ketua Bandit bertopeng hitam begitu marah.


"Kalian ini tak bisa di peringati yahh" Lim Kim berjalan dengan wajah dingin lalu melepaskan tenaga dalam yang besar, membuat mata ketua bandit membelalak.


"Kau... kau... siapa kau?" Ketua bandit tertegun, para pasukannya juga mengentikan langkah dengan paksa, melihat kekuatan tenaga dalam pendekar di depannya, mereka merasa bisa tewas hanya dengan masing-masing 1 serangan dari pendekar itu.


Kedua bandit bertopeng hitam dan merah juga mengerti kondisinya, jika para pasukannya bisa mati seketika jika pendekar didepannya menyerang. Bandit topeng hitam kemudian mengambil posisi berlutut.


"Tuan maaf telah menyinggung mu, kami tidak berhati-hati"


"Baik, ini yang terakhir. Pilihan tadi masih berlaku" Lim Kim kemudian menarik kembali tenaga dalam yang ia lepaskan untuk menekan dan menggertak musuh tadi.


"Tunggu apa lagi.. ayo cepat pergi dari sini" Ketua bandit kemudian melarikan diri, bersama dengan para pasukannya yang membawa 5 kawanan yang masih dalam kondisi tidak sadar.

__ADS_1


__ADS_2