
Lie Han mulai berjalan perlahan dengan kilatan petir bersama pedangnya, Lim Kim memilih untuk mengamati muridnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai berdiri menyiapkan serangan pada musuh.
Dalam benak sang guru, apakah sang murid tidak merasakan ketegangan sebagai mana yang dirasakan oleh para pendekar muda yang baru kali pertama menjalankan misi, di tambah musuh yang ia hadapi sekarang termasuk musuh tingkat A atau bahkan melebihi itu.
Satu hal yang belum ia ketahui bahwa Gan cukup mempengaruhi suatu keturunan, Lie Han yang berasal dari keturunan yang tak biasa, terkenal berani dan pantang menyerah dalam pertarungan, Lie Han mewarisi sifat alami itu dalam dirinya, meski tentu dirinya merasakan ke gugupan dalam pertarungan ini, tapi sifat itu secara alami mendorongnya.
"Aku suka ekspresi wajahmu, sayang sekali kau terlalu cepat bertemu denganku" gertak Kapten perompak
"sebaiknya kau berdoa agar kalimat itu tidak berbalik padamu, itupun kalau kau masih memiliki keyakinan spiritual dalam dirimu" Lie Han balik mengancam
"hahahahaha.. Jangan salah paham aku sama sekali tidak berniat menekan semangat atau mentalmu, aku bahkan berkeinginan melihat keberanian mu lebih dari ini"
"terserah kau saja... Hiaaaa"
Lie Han mengambil langkah berlari mendekati musuh, sebelum akhirnya melepaskan serangan secara langsung. Kapten perompak pun tak tinggal diam, ia membalas serangan dengan Gada nya.
Senjata mereka pun berbenturan. Lie Han menggunakan jurus mengacak bunga khas Pulau Persik, kecepatannya meningkat berkali lipat karena di kombinasikan dengan jurus petir miliknya.
Bagi pendapat kapten perompak, tentu pendekar muda ini cukup cepat dan sudah pasti mengalahkan banyak Pendekar muda seusianya, tapi jika tolak ukurnya adalah dirinya sendiri, Kecepatan Lie Han masih belum bisa merepotkan dirinya.
Sepanjang pertukaran jurus Kapten Perompak sudah bisa membaca dan mendapatkan celah untuk melukai Lie Han, namun dia memilih untuk menikmati dengan melihat ambisi bertarung Pendekar muda yang dia hadapi.
Sayangnya Lim Kim juga membaca situasi tersebut itulah sebabnya sejak awal mereka merencanakan serangan kombinasi, Lim Kim melompat dengan cepat untuk menghindari luka yang mungkin akan diterima murid kesayangannya sebentar lagi.
"hmmmm... Kau pikir aku tak menyadarinya, kau terlalu meremehkan kami" Lim Kim menutup celah muridnya dengan melakukan serang di sisi kanan Kapten perompak.
Gerakan mereka berdua cukup solid dengan menggunakan jurus yang sama, kapten perompak berhasil mereka tekan dengan variasi serangan yang sulit untuk di baca.
"Sialll" suara geram Kapten perompak merapatkan giginya
Sayangnya kali ini sang Kapten yang berada pada pojokan, sesekali ia berusaha menghindari pertarungan namun Lim Kim tak berniat memberinya ruang.
Sesekali Lim Kim menengok muridnya, khawatir muridnya itu akan mencapai batasnya, sayangnya meski berhasil memojokkan musuh, namun ia masih belum menemukan celah.
Lie Han memiliki rencana yang bahkan tak disadari gurunya, tepat saat gurunya melakukan serangan, Lie Han suda menyiapkan kejutan.
"seni petir... jurus langkah petir"
__ADS_1
Gerakan secepat kilat mengejutkan keduanya, Lim Kim tak mengira muridnya mampu melakukan jurus semacam itu, Kapten perompak tak memiliki kesempatan menahan bahkan sejak dalam pikirannya maupun reflek tubuhnya.
"apa-apaan ini arrggghh" mengeram kesakitan
Kejadiannya begitu cepat seketika Lie Han menghilang dengan sekejap dihadapannya lalu muncul di belakang bersamaan dengan luka sayatan pada bagian dadanya, meski bukan termasuk luka yang bisa membunuhnya langsung, tapi luka itu cukup serius dan dalam, darah pun berlumuran.
Sialnya akibat dari luka itu Kapten perompak menurunkan fokusnya, Lim Kim melihat celah lalu mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya dengan cepat lalu menyerang musuh.
"beraninya kau menurunkan perhatianmu.. Hiaaaa" warna pedang Lim Kim membiru sebelum akhirnya berhasil mengenai pinggang Kapten Perompak.
"arggghhh... Kurang ajar" Kapten mengeram marah sebelum akhirnya memuntahkan dara segar dari mulutnya dalam posisi berlutut.
Dua pendekar berjalan perlahan mendekatinya, mereka berdua siap membunuh musuh kapan saja.
"Seharusnya kalian langsung membunuhku" Kapten sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya.
"jika benar ingin mati kau bisa membunuh dirimu kan? Silahkan kami tidak akan melarang" ucap lim Kim mengejek
"cuih... Kalian begitu sombong"
"Guru apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Lie Han menunjuk 50 pasukan perompak yang mulai berlari ke arahnya..
"baik guru"
Mereka berdua memasang kuda-kuda siap melawan, namun setelah 50 pasukan nyaris menyerang, seseorang menghentikan mereka.
Kapten Perompak mengangkat tangan sebagai bentuk instruksi untuk menghentikan pasukannya.
"kapten kenapa?"
"kita harus membunuh mereka kapten"
"kapten terluka parah, kami harus membalasnya"
Suara-suara pasukan bergantian membujuk sang kapten.
"Hmmmm tenanglah.... Kita hentikan ini dan kembali ke kapal"
__ADS_1
"tapi kap.."
"sudah.. Dengarkan saja atau ku bunuh kau"
"siap kapten"
Kapten Perompak kemudian menatap kedua pendekar di hadapannya.
"hahahaha... Maaf saja aku belum mau mati disini, aku harap kita bertemu lain kali... Dan kau" menunjuk Lie Han
"aku harap kita akan bertemu lain kali dengan melakukan pertarungan satu lawan satu, tapi sebelum itu kau harus mengasah kembali kemampuamu"
"tunggu" Lim Kim memotong dan kapten membalasnya dengan menatapnya
"apa yang membuatmu berpikir kalau kami akan melepaskanmu" lanjut Lim Kim
"hahahaha... Apa kau pikir bisa membunuhku?" tawa kecil Kapten
Lim Kim kemudian melihat 50 pasukan perompak di hadapannya, secara hitungan dengan sisah tenaga dalam yang mereka miliki, tentu akan sangat sulit membunuh mereka semua tanpa menerima luka juga.
Meski 100 Tentara desa yang telah siap menyerang yang tinggal menunggu aba-aba, tapi Lim Kim tak mau mengorbangkan mereka, Lim Kim kemudian tak bereaksi sama sekali.
"aku harap kau memahami situasinya, anggap saja aku memberi kalian kesempatan kedua ahahahaha" tawa kapten begitu puas.
"sial... orang ini" Lim Kim mengepalkan tangannya.
Di samping itu Lie Han hanya berdiam, bukan tanpa alasan, tapi tubuhnya terasa kurang baik-baik saja, rasanya ia akan terjatuh sebentar lagi, tapi demi menghindari perhatian musuh Lie Han mencoba bertahan dengan sisa tenaganya.
Lim Kim memahami kondisi muridnya, meski tak mengira Lie Han sebentar lagi akan terjatuh karena kelelahan.
Para pasukan Perompak dan Kaptennya akhirnya meninggalkan desa menuju ke kapal yang berjarak kurang lebih 10 kilo dari desa, Lim Kim hanya berdiam memandangi mereka semua meninggalkan desa, Lim Kim menahan amarah dalam dirinya, seharusnya ia memiliki kemampuan untuk membunuh, setidaknya dengan itu para perompak itu tak bisa lagi mengganggu penduduk yang ada di tempat lain.
***
Beberapa hari setelah pertarungan melawan para perompak, Lim Kim dan Lie Han hampir pulih 100% setelah beristirahat penuh, selain disiapkan penginapan yang layak mereka berdua juga di suguhkan makanan yang begitu enak.
Sudah sewajarnya para warga melakukan itu semua setelah apa yang mereka berdua berikan pada desa.
__ADS_1
Setelah pulih 100% mereka berdua akhirnya pamit untuk meninggalkan desa dan menuju ke ibu kota, awalnya mereka diminta untuk beristirahat lebih lama lagi, tapi lim Kim berpendapat sebaiknya warga mulai fokus untuk melakukan perbaikan.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju ibu kota untuk mengantarkan informasi penting pada Patriack di pertemuannya dengan Kaisar.