PENDEKAR PETIR BIRU

PENDEKAR PETIR BIRU
Pulau Persik


__ADS_3

Sebuah kapal berukuran sedang berada di tengah lautan dengan tiga orang diatasnya. Seorang wanita terlihat menggapai sebuah gulungan kertas kecil dari burung pembawa pesan. Isi tertulis tentang situasi Sekte Petir Putih usai penyerangan.


Setelah membaca isi pesan wajah Lie Ming berubah menjadi lebih buruk, ia menatap anaknya yang sejak dari tadi mengawasinya. Tak ingin hati anaknya ikut terluka ia lantas mencoba menutupinya dengan wajah riang.


Dengan rasa penasaran Lie Han menanyakan pada ibunya, surat apa yang sedang ia baca, tapi ibunya menjawab sebaiknya ia tak mengetahuinya. Lie Ming tak ingin lagi mengatakan sebuah kebohongan meski itu termasuk kecil, mungkin saja anaknya yang terlihat polos sudah memiliki asumsi dalam pikirannya.


Benar saja Lie Han membaca raut wajah ibunya sejak pertama kali ibunya membaca isi pesan surat dari burung pembawa pesan. Kemungkinan terbesar itu adalah pesan kondisi terakhir Sekte Petir Putih usai penyerangan, karena ibunya tak berniat memberi tahukan padanya itu pasti adalah berita buruk, Lie Han mengerti dan tak bertanya apa-apa lagi karena tak ingin merasakan kesedihan lebih besar.


*****


Hari ini adalah hari ketiga mereka berdua dan awak kapal berada di lautan dengan memakan bekal persiapan perjalanan yang mereka bawah dari Sekte, Lie Han bertanya setelah beberapa hari kebanyakan hanya terdiam.


"Ibu kita mau kemana?" suara imut Lie Han membangunkan ibunya dari lamunan.


"Ahhhh... Han'er kau bertanya padaku?" Lie Ming beranjak dari tempat duduknya mendekati anaknya.


"Kita akan kemana, sudah tiga hari kita berada di laut?" Lie Han kembali bertanya.


"Tentu saja Han'er, kita sedang menuju ke sebuah pulau, kakek menyuruh kita untuk kesana"


"Pulau?... apa disana ada orang?" tanya Lie Han.


"Tentu saja.. disana ada banyak orang".


"Apa mereka akan menerima kita?" tanya Lie Han lagi.


"Disana ada teman lama kakek yang sudah menunggu kita."


"Apa dia sudah tahu kedatangan kita"


"Itu....." Lie Ming teringat sesuatu..


Ia menuju ke sebuah peti hitam dan mencari sesuatu, sebelumnya ayahnya berpesan untuk menemui seseorang yang bernama Yue Fein ketika sudah tiba di Pulau Persik, untuk membuat Yue Fein percaya ayahnya menitipkan sebuah topeng emas. Ia mengatakan sahabatnya akan percaya jika mereka berdua adalah anak dan cucunya jika memperlihatkan topeng itu pada Yue Fein.


Melihat ibunya yang tiba-tiba bergerak mengambil benda mirip seperti topeng berwarna keemasan, Lie Han kembali bertanya tentang topeng itu.


"Ibu ada apa dengan topeng itu"


"Han'er, topeng emas ini yang akan membantu kita bisa bertemu dengan teman lama kakek"

__ADS_1


"Begitu yahhh." Lie Han mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk.


Memikirkannya lebih jauh karena tak mengerti, Lie Han berpikir mungkin saja topeng itu semacam benda milik teman lama kakek yang dulu di bawa kakeknya. Meski memiliki kualitas pikiran melebihi anak-anak lain seusianya lie Han tetaplah anak kecil yang masih belum memiliki pengalaman.


*****


Ini adalah hari ke empat mereka di lautan, dua orang ibu dan anak terlihat sedang beristirahat tidur siang, tiba-tiba mereka di bangunkan oleh suara seorang pria.


"Tetua Ming.. Tuan muda sebentar lagi kita akan sampe di Pulau Persik" suara awak kapal terdengar senang.


Sedang enak-enaknya tidur ibu dan anak itu terbangun, bukannya merasakan sakit kepala mereka justru terlihat buru-buru membuka mata dan berdiri memerhatikan lautan.


Benar saja tidak jauh dari mereka berdiri, sekitar 10 kilometer terlihat sebuah daratan pulau besar yang dipenuhi pepohonan rindang tinggi berdaun lebat.


Sesuai dengan ciri-ciri yang ayahnya katakan, jika melintasi lautan dengan arah lurus ke selatan beberapa mil setelahnya sebuah pulau akan terlihat banyak pohon rindang dan tinggi yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian lanjut dengan berjalan sekitar 2 kilometer lagi dari dermaga ke arah gunung, mereka akan menemukan sebuah pintu gerbang yang begitu besar tingginya sekitar 20 meter.


Setelah melewati sisa perjalanan, awak kapal mulai memarkir kapalnya. Mereka bertiga turun dari kapal mulai menarik nafas dengan kuat menghirup udara yang begitu segar, setelah berhari-hari melintasi lautan mereka tentunya kelelahan, untungnya kondisi lautan di saat mereka melintas cukup bersahabat.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati hutan dengan pohon-pohon yang begitu tinggi. Kok Shi, si awak kapal memikul peti berukuran besar di atas pundaknya mengikuti mereka berdua dari belakang.


Setelah berjalan hampir 2 kilometer mereka akhirnya melihat sebuah pintu gerbang besar, meski masih cukup jauh tapi itu terlihat jelas karena ketinggian ya.


"Hmmmm iya Han'er" mata Lie Ming menatap terpukau pada keindahan bentuk gerbang dan tembok pagarnya.


"Itu pintu gerbang apa?" tanya Lie Han dengan polos


"Itu pintu gerbang Sekte Pulau Persik" jawab Ibunya singkat yang masih terpukau.


Lie Ming terpana sepanjang jalan, dirinya tak menyangka bahwa sekte yang termasuk salah satu yang terkuat dan terbesar bukan hanya sebuah istilah, ia semakin tak sabar untuk melihat di baling pintu gerbang.


Di tengah perjalanan mereka tiba-tiba dikejutkan dengan anak panah yang melesat dari arah pepohonan menancap didepan langkah kaki mereka berdua kemudian menghentikan langkah terkejut.


Lie Ming meraih anaknya dengan waspada, awak kapal yang juga sebagai pengawal mereka berdua tak kalah terkejutnya.


"Siapa disana..." teriak Lie Ming mengambil posisi siap.


Tak lama ketika mendengar suara Lie Ming dua orang melompat dari pohon menggunakan tenaga dalam menghampiri mereka.


"Siapa kalian...?" tanya Lie Ming terkejut

__ADS_1


"Seharusnya kami yang bertanya.. sedang apa kalian disini?" salah satu pria yang baru saja mendarat bertanya balik.


"Kalian murid dari Sekte Pulau Persik" lie Ming buru- buru mengambil posisi hormat menjadi menunduk.


"Kami datang kemari ingin menemui Yue Fein" lanjut Lie Ming.


"Yue Fein?" dua penjaga gerbang Pulau Bunga Persik saling tatap.


"Apa urusan kalian dengan Petinggi Yue Fein?"


"Petinggi Yue Fein?" Lie Ming berbisik terkejut.


"Dari raut wajahmu sepertinya kau tak mengenal Petinggi Yue Fein" curiga penjaga gerbang


"Pergilah dari sini.. jangan memaksa kami untuk berbuat kasar"


"Maaf pendekar sepertinya kalian salah paham" Lie Ming mencoba menjelaskan.


"Apa kau punya jaminan?"


"Jaminan...?" Lie Ming mengingat topeng emas, lalu buru-buru mengambilnya.


"Apa kalian mengenal topeng ini?"


"Topeng emas..... apa itu?" wajah terlihat tak mengerti


Raut wajah Lie Ming berubah kecewa, sepertinya mereka akan tinggal lebih lama atau bahkan kembali meninggalkan Pulau Persik.


"Kau sebaiknya pergi...kami tidak punya waktu lagi"


"Tuan tolong bantu kami..." Lie Ming maju beberapa langkah berlutut.


Lie Han melihat ibunya dengan perasaan sedih, seharusnya tindakan seperti itu tak perlu di lakukan, tapi Lie Han mengerti ibunya pasti tak punya pilihan lain.


"Kami tidak mudah terpengaruh dengan trik murahan seperti itu nona" Salah satu penjaga gerbang menyuruh wanita itu menghentikan tindakannya.


Hati Lie Ming begitu terpukul mendekati putus asa, ia sudah tak tahu harus membujuk mereka dengan apa lagi.


Tiba-tiba seseorang pria terlihat melompat dari pohon satu ke pohon yang lain menggunakan ilmu meringankan tubuh, terlihat begitu lentur dan terbiasa, pria itu lalu mendarat di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Petinggi Yue Fein?" ucap dua penjaga gerbang serentak.


__ADS_2