
Sam ni mengelus pundak anak laki-laki yang terluka jidatnya itu, matanya medelong mengawasi api lilin: “suamiku dan mertuamua sejak kecil bertentangan, hubungan mereka sangat intim, meski sifat2 mereka tidak cocok, namun suamiku amat mencintainya. Saking gusar saumiku lantas minggat jauj ke Tayli, menjadi panglima pemimpin terntara, menjadi anak buah toan-hongya, perna suamiku bertemu dengan mertuamu terjadilah pertandigan yang seru, suamiku memang berangasan dan terlalu menggambur nafsu karana sakit hati, akhirnya dia bukan tandinggan mertuamu, sejak itu tindak tanduk agak sin-ting, baik sahabat katribnya atau aku sendiri tak dapat
menydarkan dia, dulu dia perna berjanji dengan mertuamu bahwa lima belas tahun kemudian bertanding lagi, siapa tau kedatangannya kali ini, kedua mertuamu ternyata sudah meninggal.”
Lip ting amat gusar, serunya sabil menggablok meja:”Kalau dia punya kepandaian, kenapa tidak datang sejak dulu, kini sudah tau ayahku sudah meninggal baru meluruk datang dan menculik jenajahya, terhitung orang gagah macam apa?”
“Omelan Liok-ya memang benar,” Ujar Bu Sam-nio “suamuki sudah kehilangan kesadaranya, tingka laku dan tutur katanya sudah tidak genah lagi, hari ini aku membawa kedua anaku ini kemari, bukan lain hendak inigin mencegah perbuatanya yang tidak keruan, dalam dunia sekarang ini, mungkin hanya aku seorang saja yang rada ditakutinya .”
Sampai disini sekarang ia berkata kepada kedua putranya:” lekas menyembah kepada liok-ya dan liok-toanio. “kedua anak itu langsung berlutut dan menyembah, Liok-toanio. Lekas membimbingnya bangun serta menanyakan nama meraka. Yang jidanya terluka bernama Bu Tun-ji, usianya dua belas tahun, adiknya bernama Bu siu-bun, satuh tahun lebih mudah.
__ADS_1
“Sungguh tak nyana suamiku tidak kunjung tiba, malah Jik-lian-sin-pu keburu membuat perkara dirumahmu... ai,” demikian kata sam nio lebih lanjut,”Dua pihak sama2 tidak melupakan cinta masalalu, cuman yang lelaki dan yang lain perempuan.”
Baru dia bicara sampai disini, mendadak diatas rumah ada yang berteria:”Anak Ji, anak Bum, ayo keluar!” suara ini datanya tiba2, sedikitpun tidak terdengar suara langka di atas genteng, mendadak suaranya kumandang ditengah malam buta, keruan lip ting suami istri sangat kaget, merak tau Bu Sam-tong telah tiba, Thia Eng dan Liok Bu-siang kenal suara siorang gila yang meraka temui siang tadi.
Tertampak sosok bayangan berkelebat, Sam-thong melompat turun, seorang satu tanggan, ia akan kedua putranya dan lari secepat angin, sebentar saja ia sudah tibah dihutan pohon Liu, tiba2 ia turunkan Bu Siu-bun, dengan hanya membawa Bu Tun-ji bayangnya lantas lenyap dalam sekejap mata, putra kecilnya dia tinggal demikain saja didalam hutan itu.
__ADS_1
Tapi Sam-thong sudah menghilang, terdengar suaranya berkumandung dari kejauhan: “ kau tunggu disitu, sebetar aku kembali menjemput kau.”
Siu-bun tahu tindak tanduk ayahnya rada sinting, maka ia tidak heran, tapi seorang diri berada didalam hutan yang gelap, hatinya rada takut, namun teringgat sebentar sang ayah akan kembali, maka termenung ia duduk saja dibawah pohon.
Duduk punya duduk, teringat olehnya akan kata2 ibunya bahwa ada musuh lihay entah
Yang mana hendak menuntu balas, belum tentu sang ibu bisa menandingi lawan, meski usia masih kecil namun Siu-bun sudah tahu berkuatis akan keselamatan ibunya, setelah menunggu sekian lamanya dan sang ayah tidak kunjung datang, akhir ia mengguman sendiri; “Biar aku pulang mencari ibu saja!” lalu ia menggeremet dan me-raba2 menujuh kearah datangnya tadi.
__ADS_1
Bocah kecil berada didalam hutan seorang diri, apa lagi malam pekat, mana mungkun bisa menemukan arah dan
tujuan? Semakin jalan ia menuju kearah hutan belukar yang makin dalam, Akhirnya ia tiba di sebuah lekukan gunung, dibawah adalah selokan setinggi tujuh delepan tombak, selayang pandang sekelilingnya hitam melulu. Saking gugup dan ketakutan Bu Siu-bun lantas berteriak: “Ayah! Ayah! Ibu! Ibu!” terdengar gema suaranya berkumandang dilembah pengunungan.