
Ho Tu mengejek orang Song hanya bisa mengandalkan kehebatan Kwee Ceng. Tetua Luk yang baru dilantik maju melayani Ho Tu, walau diakuinya ia baru menguasai 10% jurus Tongkat Pemukul Anjing. Keunggulan jurus ini adalah lincah dan tak mudah diduga, Ho Tu langsung kewalahan di awal, tapi lambat laun mudah dibaca. Yo Ko mengamati dan tak sengaja tertawa karena dalam hati sudah memprediksi kekalahan Tetua Luk. Kwee Hu dan Bu bersaudara menganggap Yo Ko sok tahu. Ho Tu melukai Tetua Luk dengan kejam hingga Tongkat Pemukul Anjing terlepas dari tangannya. Melihat ini, Oey Yong turun tangan merebut tongkat dari Ho Tu dengan jurus “Merebut tongkat dari mulut anjing” (yang pernah digunakan saat ia merebut tongkat dari Yo Kang – di PPR 2008 di Episode 38). Walau sedang mengandung, gerakan Oey Yong amat cepat. Ia tak mau mengaku pihak Song kalah karena Ho Tu baru merasakan 10% ilmu Tongkat Pemukul Anjing.
Ho Tu mengusulkan 3 ronde untuk menentukan pemenang: Ho Tu, kakak seperguruannya Dhaerba serta Hakim Roda Mas akan menghadapi 3 jagoan Song. Pertandingan dengan Tetua Luk tidak dihitung. Ronde pertama, Ho Tu akan menghadapi pengawal Kaisar Selatan yang bergelar Sastrawan.
Yo Ko mendadak mencium bau yang amat dikenalnya, ia mencari-cari dari mana sumbernya, ternyata Bibi Lung muncul di tempat itu. Yo Ko melompat menyambutnya. Perhatian pendekar teralih sejenak pada mereka. Yo Ko dan Bibi Lung saling melepas rindu dan bertatap mesra di tengah arena pertandingan, tak memperdulikan orang sekitar, sampai diusir oleh Ho Tu. Mereka menyingkir dari arena dan mengobrol berdua. Saking gembiranya Yo Ko malah lupa banyak hal yang ingin diceritakan ke Bibi Lung. Ia masih mengira Bibi Lung marah semata-mata karena ia menolak memanggilnya istri. Dengan tergagap ia berkata walau ia memanggil Bibi, tapi dalam hatinya ia selalu menganggap Bibi Lung adalah istrinya. Bibi Lung terharu dan bahagia mendengarnya. Melihat baju Yo Ko robek-robek, ia mengeluarkan peralatan menjahitnya dan menyulam baju Yo Ko seperti yang biasa dilakukannya di Kuburan Kuno.
__ADS_1
Sementara itu Sastrawan mempertontonkan kelihaiannya memadukan ilmu jari matahari dan senjata andalannya pena kaligrafi , dengan mengukir kata-kata ejekan di kipas Ho Tu. Hakim Roda Mas sempat memberi petunjuk, namun pertempuran panjang ini tetap dimenangkan oleh Sastrawan. Tapi di ujung pertandingan, Ho Tu menembakkan senjata rahasia. Ia berdalih bahwa “Tidak ada perjanjian dilarang menggunakan senjata rahasia”. Senjata rahasia ini meracuni Sastrawan, juga membuat pena kaligrafinya mencelat ke tempat Yo Ko dan Bibi Lung yang sedang asik mengobrol. Tinta hitam mengotori gaun Bibi Lung yang putih bersih. Melihat ini Yo Ko langsung marah dan maju ke arena pertandingan “Siapa yang mengotori baju Bibiku!”. Ho Tu menghina Yo Ko, tapi hinaan itu malah dibalikkan oleh Yo Ko hingga Ho Tu ditertawakan orang (adegan ini harus lihat sendiri, susah dijelaskan :D)
Yo Ko mengeluarkan jurus Tongkat Pemukul Anjing untuk menyerang Ho Tu, katanya ia tidak terima Ho Tu meremehkan Ang Cit Kong. Semua orang kaget, terutama Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko berbohong ia belajar saat mengintip Tetua Luk berlatih. (Oey Yong tak percaya sebab sepintar apapun tak mungkin bisa menerapkan jurus bila hanya mendengar teorinya). Yo Ko membuat para pendekar gembira karena selain jurusnya yang lihai, perkataannya mengundang tawa saat ia mempermalukan Ho Tu.
Yo Ko berkata gurunya juga ingin menantang untuk gelar pendekar, Ho Tu berkata kalau begitu ia harus menggunakan jurus ajaran gurunya, bukan Ang Cit Kong. Yo Ko meminta di antara hadirin untuk meminjamkannya pedang. Semua berebut memberikan pedang pada Yo Ko, termasuk Sun Put Ji, pendekar wanita dari Coan Cin. Tapi Yo Ko menolak pedang mustika Sun Put Ji, malah memilih pedang biasa milik orang tak dikenal. Ia sengaja mempermalukan orang Coan Cin. Ilmu pedang Yo Ko amat memukau untuk orang seusianya, ilmu Ho Tu sebenarnya masih lebih tinggi dari Yo Ko tapi tak mudah baginya mengalahkan Yo Ko. Kwee Ceng antusias campur haru dan bangga melihat kehebatan Yo Ko, ia berteriak-teriak sampai Oey Yong harus menenangkannya.
__ADS_1
Selanjutnya Dhalpa maju melawan Yo Ko. (Dhalpa ini sebenarnya lebih tinggi ilmunya dari Ho Tu, tapi orangnya lugu). Ia meneriakkan pertanyaan dalam Bahasa Tibet, Yo Ko tak mengerti dan mengulang perkataan Dhalpa. Terus demikian sehingga seperti terjadi percakapan yang membuat Dhalpa mengira Yo Ko adalah reinkarnasi dari kakak seperguruannya yang meninggal, jadi ia tidak sepenuh hati melawan Yo Ko.
Hakim Roda Mas tak sabar, ia menantang ‘guru Yo Ko’. Melihat lawannya hanya (seperti) perempuan usia belasan tahun, Hakim Roda Mas berkata kalau ia tak mampu mengalahkan guru Yo Ko dalam 10 jurus, maka gelar Pemimpin Pendekar jatuh ke tangan Siauw Liong Lie/Bibi Lung.
Pertandingan dimulai, tingginya ilmu Hakim Roda Mas membuat ubin retak dan penonton kagum, tapi ia juga tak menyangka selendang Bibi Lung yang lembut dapat mengimbangi tajamnya roda-roda bergerigi yang ia lancarkan. Yo Ko menghitung secara asal sampai 20, mengganggu konsentrasi Hakim Roda Mas, padahal belum ada 10 jurus. Setelah 5 jurus seimbang, Hakim Roda Mas sudah dapat mengungguli Bibi Lung dan hampir mengancam nyawanya. Bibi Lung mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan roda yang fatal. Melihat ini Yo Ko mencoba menyelamatkan Bibi Lung. Kwee Ceng takut keselamatan Yo Ko terancam, ia ikut maju. (Sebenarnya Kwee Ceng maju hanya untuk menyelamatkan Yo Ko dan melerai dengan jurus “Naga terbang di langit”, tidak berniat ikut melawan Hakim Roda Mas) Hakim Roda Mas malah menyambut pukulan Kwee Ceng, ingin pamer kehebatan, tetapi malah menyebabkan ia terluka dalam amat parah. Senjatanya terlempar dan diambil Yo Ko, Yo Ko mengejek “Sudah senjata diambil, tak mau mengaku kalah?” Hakim Roda Mas tak bisa menjawab karena terluka dan sibuk mengatur aliran darah, melihat ini Yo Ko malah makin mencerocos meledeknya. Rombongan Mongol akhirnya pergi.
__ADS_1
Hadirin amat gembira gelar Pemimpin Pendekar tidak direbut orang Mongol. Mereka berpesta dan menyanjung Bibi Lung dan Yo Ko dengan melempar-lempar keduanya ke udara. Perhatian semua orang pada Yo Ko membuat Bu bersaudara sebal, orang Coan Cin juga menjauh. Thio Cie Keng terus meledek In Cie Peng soal Bibi Lung. Kwee Ceng dan Oey Yong meresmikan Bibi Lung sebagai Pemimpin Pendekar. Bibi Lung bingung (imut banget dia kalo bingung), Yo Ko menjulurkan lidah dan menggoda Bibi Lung dengan tatapan mesra. Semua hadirin memberi hormat (kowtow) di depan Bibi Lung. Bibi Lung yang lugu dan tak tahu tata krama dunia persilatan terpaksa dipandu Kwee Ceng dan Oey Yong untuk ‘menerima hormat dan mempersilakan bangkit’.
Mereka duduk dalam satu meja. Kebahagiaan Kwee Ceng tak terkira, maka pada Bibi Lung ia mengutarakan maksudnya untuk melanjutkan ikatan keluarga Yo dan Kwee . Ia meminta restu Bibi Lung untuk menjodohkan Yo Ko dengan putrinya, Kwee Hu.