
Liok menarik napas panjang, ai angkat badan bagian atas, katanya tersendak.”
Liok...liok ya, aku tiada harapan lagi, kau lekas kau lari. Iblis itu berkata, di kolong langit ini hanya liok-tian goan yang boleh mengobati aku, putera tunggalnya tidak boleh.. kau lekas lari, sebentar dia berkata1” beberapa kata terakhir diucapkan dengan suara lirih hampir tidak terdengar, kejap lain iapun sudah menutup mata dan berhenti bernapas.
Nyonya itu menjuar serta bertanya: “aku punya mata tapi tidak bisa melihat, mohon tanya siapa she dan nama toanio?”
“Suamiku She Bu,” sambut nyonya itu.”kiranya tepat dugaanku, melihat kepandaian it-yang Toania, sudah lantas kuduga pastilah anak murid it-teng taysu dari tayli di hun-lam, silahkan masuk kedalam menikmati secangkir teh.”
__ADS_1
Maka meraka lantas masuk kedalam rumah, Lip ting memborong Bu siang tertampak mukanya pucat, namun sedapatnya menahan sakit, tidak menaggis dan tidak mengeluh, timbul rasa kasih sayang Lip ting tak terhingga pada putrinya tunggalnya ini.
Bu Sam-Nio, Nyonya tadi berkata: “ Begitu murid iblis itu pergi, gembong iblis itu akan segera datang sendiri Liok-ya, bukan aku pandang rendah dirimmu, kalau cuman tenaga kalian berdua suami istri, meski di tambah aku seorang juga bukan tandingan iblis ganas itu. Kukira laripun tidak berguna, terpaksa kita pasra pada nasib, biarlah kita tunggu kedatangannya di sini saja.”
Liok-toanio bertanya: “ sebetulnya orang macam apa gembong iblis itu ? ada dendam apapula dengan keluarga kita ?”
“katanya persoalan menyangkut mertuaku yang sudah meninggal itu, sebagai putera yang berbakti tidak enak membicarakan persoalan ayah-bundanya, dia sendiripun tidak begitu jelas akan seluk-beluk persoalan ,” tutur Liok-toanio.
__ADS_1
“Disitulah soalnya” ujar Bu Sam-nio menghela napas, “Aku orang luar, tiada halangan kuterangakan mertuamu Liok Tion-goan, Liok-loenghiong diwaktu mudahnya adalah pemudah ganteng, dia disebut pemudah romatis nomor satu dikalangan Bu-lim. Gembong iblis Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu itu...”
Mendengar nama Li Bok-chiu disebut, Liok Lip-ting seketika merinding seperti pangut ulas berbisa, Bu Sam-nio melihat perubahan air muka orang, katanya lebih lanjut. “Sekarang kaum persilatan bila menyinggung nama jik-lian-sian-ci pasti gemetaran ketakutan, tapi puluhan tahun yang lalu dia adalah gadis rupawan yang halus budi dan lemah lembut.
Mengkin memang sudah takdir, begitu bertemu dengan mertuamu, hatinya lantas jatuh cinta, belakangan setelah mengalami berbagai rintangan, perubahan dan pertikaian mertuamu akhirnya menikah dengan Ho Wan-kun, mertua perempuan sekarang, Bicara soal perempuanmu, mau tidak mau aku harus menyinggung suamiku juga. Soal ini cukup memalukan bila di tuturkan, tapi keadaan hari ini sudah amat mendesak, terpaksa aku sudah tidak perlu simpan rahasia lagi.”
Sejak kecil lip-ting sudah mendengar penuturan ayah bundanya bahwa selama hidup mereka mempunyai dua musuh besar yang paling tangguh, seorang adalah Jik-lian-sian-cu, seorang lain adalah Bu Sam-Thong, salah seorang murid kesayangan It-teng Taysu dari negeri tayli, tapi ia meninggalkan tahta dan cukur rambut menjadi Hwesio, lalu menerima empat murid, satu diantaranya ialah Bu Sam-thong! Sewaktu mudahnya Bu
__ADS_1
Sam-thong menjabat yang tinggi dinegeri Tayli, cuman bagiaman tiang-goan suami istri sampai mengikat permusuhan dengan dia tidak perna dituturkan kepada putranya. Maka waktu melihat Sam Nio menggunakan Ityang-ci menyambung tulang kaki putrinya tadi, sudah tentu lip ting kaget dan curiga, ternyata sam-ni malah membatu menhalau murid Jik Lio-sin dan menolong jiwanya, hal ini sudah di luar dugaannya.