
Mendadak kakek itu mengempit pula kedua anak dara itu dan dibawa lari ke arah pohon yang ditunjuk tadi. Dia lari lurus ke depan tanpa perduli rintangan apapun, kalau terhalang oleh sungai kecil, sekali lompat saja sungai itu lantas dilintasinya. Biasanya Liok Bu-siang sangat kagum terhadap Ginkang ayah-ibunya jika mengikuti latihan mereka, tapi kini kecepatan berlari si kakek dengan mengempit dua anak dara ternyata jauh terlebih hebat daripada ayah-ibu Bu-siang.
Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di bawah kedua pohon besar tadi. Kakek aneh itu melepaskan Thia Eng berdua, lalu berlari ke depan kuburan tertampak dua kuburan berjajar, setiap kuburan terdapat sebuah batu nisan dengan pahatan huruf-huruf yang diberi cat kuning yang kelihatan masih baru. Rumput di atas kuburan juga masih jarang-jarang, suatu tanda kedua kuburan itu memang belum lama didirikan.
Air mata si kakek berlinang-linang sambil memandangi kedua batu nisan kuburan, jelas terbaca tulisan di atas batu-batu nisan itu menyebut kuburan Liok Tian-goan dan isterinya: Ho Wan-kun.
Kakek itu berdiri terpaku di depan kuburan itu sampai sekian lamanya, mendadak pandangannya serasa kabur, kedua batu nisan seperti berubah menjadi dua sosok bayangan manusia, yang satu adalah gadis jelita yang sedang tersenyum manis dan yang lain adalah pemuda tampan romantis.
Dengan mata mendelik si kakek mendadak membentak: "Bagus, celana wanita ini kukembalikan padamu !" - Berbareng ia melangkah "maju, sebelah tangannya menghantam dada pemuda itu.
"Plak", bubuk batu bertaburan pukulannya itu mengenai batu nisan, sedangkan bayangan pemuda telah lenyap,
"Mau lari ke mana ?" bentak pula si kakek, tangan Iain lantas menghantam sekalian, "plak-plak", batu nisan itu sampai rompal sebagian, betapa hebat tenaga pukulan si kakek sungguh luar biasa.
Semakin memukul semakin mengamuk, tenaga pukulannya juga semakin hebat, sampai pukulan ke sembilan, kedua tangannya menghamtam sekaligus, "blang", batu nisan itu patah menjadi dua.
Sambil terbahak-bahak ia berteriak: "Nah, kau sudah ****** sekarang, untuk apa lagi aku memakai celana perempuan?" - Habis itu ia lantas merobek-robek celana wanita bersulam kupu-kupu yang dipakainya sendiri itu hingga hancur, lalu dilemparkan ke atas kuburan, maka tertampaklah celana pendek dari kain belacu yang dipakainya di bagian dalam.
Selagi tertawa terbahak-bahak, mendadak suara tertawanya berhenti, setelah tertegun sejenak, segera ia berteriak pula: "Aku harus melihat mukamu, aku harus melihat mukamu !" - Ketika kedua tangannya menjojoh, serentak kesepuluh jarinya menancap ke dalam kuburan Ho Wan-kun, waktu ia tarik kembali tangannya, dua gumpal tanah ikut tergali keluar.
Begitulah kedua tangan si kakek terus bekerja dengan cepat laksana cangkul saja, tanah bergumpal-gumpal tergali olehnya sehingga sebentar lagi peti mati, pasti akan kelihatan.
Thia Eng dan Bu-siang menjadi ketakutan, tanpa terasa mereka terus putar tubuh dan lari bersama, Karena asyik menggali kuburan, kakek aneh itu tidak memperhatikan kaburnya kedua anak dara itu.
Setelah berlari-lari dan membelok ke sana ke sini beberapa kali dan tidak nampak dikejar si kakek barulah kedua anak dara itu merasa lega. Mereka tidak kenal jalanan di situ, terpaksa bertanya kepada orang kampung, karena itulah sampai hari sudah gelap baru mereka tiba kembali di rumah.
"Wah, celaka, celaka !" Ayah, ibu, lekas kemari ada orang menggali kuburan nenek !" begitulah Bu-siang berteriak sambil berlari menerobos ke dalam rumah, setiba di ruangan tamu, dilihatnya sang ayah sedang bicara dengan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
Ayah Bu-siang bernama Liok Lip-ting, baik Lwekang maupun Gwakang sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, hanya sejak kecil kedua orang tua mengawasinya dengan sangat ketat dan melarangnya berkecimpung di dunia Kangouw, maka namanya sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan walaupun ilmu silatnya tergolong kelas: tinggi
Pada hari itu dia sedang duduk iseng di ruang tamu dan mengenangkan ayah-bunda yang sudah wafat, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di luar, tiga penunggang kuda berhenti di halaman luar dan seorang diantaranya lantas berseru: "Wanpwe mohon bertemu dengan Liok-locianpwe!"
Di daerah Kanglam pada umumnya orang jarang naik kuda karena jalanan sempit dan banyak sungai dan kali yang bersimpang siur, maka hati Liok Lip-ting tergerak ketika mendengar suara ringkik kuda tadi, demi mendengar suara seruan, cepat ia memapak keluar, Dilihatnya tiga lelaki baju hijau dengan penuh debu sudah berdiri di luar pintu.
Melihat Liok Lip-ting, ketiga orang itu lantas memberi hormat dan berkata: "Kami datang dari jauh dan mohon bertemu dengan Liok-locianpwe."
Mata Liok Lip-ting menjadi merah, jawabnya: "Sungguh menyesal, ayah sudah wafat tiga bulan yang lalu, Mohon tanya nama tuan-tuan yang terhormat."
Sejak berhadapan tadi sikap ketiga orang sudah kelihatan gelisah dan kuatir, demi mendengar jawaban Liok Lip-ting, air muka mereka menjadi pucat seperti mayat dan saling pandang. dengan melenggong,
Lalu Liok Lip-ting bertanya pula: "Tuan-tuan ingin bertemu dengan ayah, entah ada keperluan apakah ?"
Ketiga orang itu tetap tidak menjawab, seorang diantaranya menghela napas dan menggumam: "Sudahlah, biarlah kita terima nasib saja !"
Mereka lantas memberi hormat pula kepada Liok Lip-ting, lalu hendak mencemplak kuda ma-sing-masing. Tapi seorang diantaranya tiba-tiba berkata: "Liok-locianpwe ternyata sudah wafat, biarlah kita memberi hormat ke depan layonnya."
Lebih dulu ketiga orang itu mengebut debu di atas tubuh agar bersih, lalu ikut Liok Lip-ting ke ruangan belakang untuk memberi hormat di depan abu layon Liok Tian-goan dan isterinya, Ho Wan-kun. Seperti lazimnya, Liok Lip-ting berlutut di samping meja sembahyang itu untuk membalas hormat.
Selesai menjalankan penghormatan, waktu ketiga orang itu berbangkit, tak tertahankan lagi mereka menangis dengan sedih, Karena tangisan mereka ini, Liok Lip-ting menjadi berduka juga, iapun menangis keras-keras,
Yang bertubuh gemuk pendek di antara ketiga orang itu berkata kepada kawannya yang mengucurkan air mata itu: "Cu-hiante, marilah kita mohon diri kepada tuan rumah !"
Orang she Cu itu mengusap air matanya, ia memberi hormat kepada Liok Lip-ting dan lantas mohon diri.
Melihat gerak-gerik ketiga orang itu tangkas dan gesit, jelas memiliki ilmu silat yang lumayan, entah mengapa datang terburu-buru dan berangkat pula tergesa-gesa, tapi Liok Lip-ting tidak enak untuk bertanya, terpaksa ia mengantar keberangkatan mereka.
__ADS_1
Setiba di luar, ketiga orang itu memberi salam perpisahan pula, lalu mencemplak ke atas kuda masing-masing. Ketika orang she Cu itu naik ke atas kudanya lengan baju agak tergulung sedikit sehingga tertampak sebagian lengannya berwarna merah hangus.
Liok Lip-ting terkejut, dilihatnya kedua orang dibagian depan sudah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda.
Tentu saja kedua ekor kuda itu berjingkrak kaget dan meringkik Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh,
"Apakah Cu-heng ini terkena Jik-lian-sin-ciang ?" tanya Liok Lip-ting.
Mendengar disebutnya "Jik-lian-sin-ciang" (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat. serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya dan menyembah, kata mereka: "Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami."
"Ah, jangan sungkan," jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan ketiga orang itu. "Silahkan masuk ke dalam untuk bicara pula."
Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itulah Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak
ia tidak jelas apa yang diledakkan anak perempuannya, tapi ia lantas membentaknya: "Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa ? Lekas masuk sana !"
Tapi Bu-siang lantas berteriak pula: "Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek !"
Baru sekarang Liok Lip-ting terkejut, serentak ia melonjak bangun dan membentak: "Apa katamu ? Ngaco-belo !"
"Memang betul, paman," pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk
Liok Lip-ting tahu anak perempuan sendiri sangat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi
Dengan terputus-putus dan tak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi
Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera ia samber golok yang tergantung di dinding, ia minta maaf kepada ketiga tamunya, lalu berlari menuju makam ayah-bundanya. Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana,
__ADS_1
Setiba di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting, hampir saja ia jatuh kelengar, Ternyata makam ayah-ibunya sudah dibongkar orang, bahkan kedua rangka peti mati juga sudah terbuka. jenazah di "dalam peti mati sudah lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.
sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati sama meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas ******* pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang hebat Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi ****** dan dipaku pula sehingga sangat kuat, tapi orang itu mampu membongkarnya dengan bertangan kosong, maka betapa hebat ilmu silat orang itu sungguh sukar diperkirakan