Pendekar Rajawali

Pendekar Rajawali
Episode 21


__ADS_3

Yo Ko menelan setengah butir pil pemunah bunga cinta. Ternyata kata Kiu Cian Ci, hidup Yo Ko justru makin pendek, dari 36 hari jadi hanya 1Yo8 hari. Cara kerja pemunah adalah mengumpulkan racun pada suatu titik baru menetralkannya. Pada hari ke 18, saat itu racunnya terkumpul di suatu titik dan Yo Ko bisa mati kalau tak membawa kepala Kwee Ceng dan Oey Yong untuk mendapatkan setengah lagi pemunah. Li E gusar melihat kekejaman ibunya, tapi keputusan sudah dibuat. Yo Ko dan rombongan Mongol pergi meninggalkan Lembah.


Di Siangyang, para pendekar yang dipimpin Kwee Ceng sudah bersiap menghadang kedatangan tentara Mongol, tapi tentara dari pihak kerajaan belum juga siap.

__ADS_1


Menyadari hidupnya tinggal 18 hari, Yo Ko ingin menikmati waktu berdua dengan Bibi Lung sampai ajal menjemput, tak ingin 18 hari itu disibukkan urusan balas dendam pada Kwee Ceng dan Oey Yong. Tapi Bibi Lung sedih, 18 hari tak cukup rasanya, ia ingin bersama Yo Ko selama 100 tahun lebih. Kalau Yo Ko meninggal, ia juga tak bisa hidup. Akhirnya demi Bibi Lung dan ayahnya, Yo Ko bertekad membalas dendam dengan membunuh Kwee Ceng dan Oey Yong dan ditukar dengan pemunah. Rombongan Mongol mengingatkan mereka jangan lama-lama berduaan dan segera kembali ke kemah Mongol. Mo Kong Chow masih kesal dengan Hakim Roda Mas yang tidak menolong Yo Ko selama di Lembah Putus Cinta.


Keluarga Kwee bersiap maju ke medan perang. Sambil menjahit topi untuk calon anaknya, Oey Yong berbincang dengan suaminya. Seandainya ada Yo Ko, akan sangat berguna untuk membantu Kwee Ceng berperang. Kwee Ceng menyesali tindakannya memarahi Yo Ko di depan orang banyak, Yo Ko telah banyak menderita dan berjasa, kesalahan Yo Ko hanya karena ingin menikahi gurunya. Mereka berharap Yo Ko mengerti bahwa tindakan mereka waktu itu demi kebaikan Yo Ko. Oey Yong meminta Kwee Ceng memberi nama calon bayinya. Kalau lelaki akan diberi nama Kwee Poh Louw yang artinya ‘mengalahkan/membuat terobosan’, kalau perempuan akan dinamai Kwee Siang, sesuai dengan nama kota kelahirannya Siangyang.

__ADS_1


Di tenda Mongol, Yo Ko mengasah pisaunya. Bibi Lung ragu Yo Ko bisa membunuh Kwee Ceng, mengingat ilmu Yo Ko jauh dibawah Kwee Ceng. Yo Ko bilang ia akan pakai akal dan bertindak sesuai keadaan. Mereka berkuda ke Siangyang. Sampai di gerbang, Bu bersaudara membukakan gerbang kota.


Oey Yong mendapat laporan Chu Ciu Liu (Sastrawan yang mengalahkan Ho Tu dalam pertandingan pendekar) bahwa gerak gerik Yo Ko agak aneh, maka ia meminta Kwee Ceng berhati-hati terhadap Yo Ko.Walau Yo Kang tidak mati ditangan mereka, tapi Yo Kang mati setelah memukul Oey Yong. Tidak bisa dibilang tak ada hubungan.

__ADS_1


Kwee Ceng tidak khawatir, ia malah balik ke kamar dengan Yo Ko. Kwee Ceng langsung pulas karena seharian berperang. Saat itulah Yo Ko hendak menusuk Kwee Ceng, tapi kalah cepat, Kwee Ceng menangkis. Melihat lagak Yo Ko, Kwee Ceng mengira Yo Ko mimpi buruk dan tak bisa mengatur tenaga dalamnya. Dengan penuh kasih sayang Kwee Ceng justru menyalurkan tenaga dalamnya agar aliran darah/energi Yo Ko teratur. Yo Ko merasa terharu tapi makin bingung: walau sudah lelah berperang, Kwee Ceng malah merelakan tenaga dalamnya untuk menolong Yo Ko. Esoknya, ia takut Oey Yong curiga dan meminta Kwee Ceng tak menceritakan kejadian semalam, alasannya ia malu tak bisa atur tenaga dalam. Yo Ko dan Kwee Ceng berpatroli dengan kuda sambil mengobrol tentang sastra dan pejuang-pejuang negara seperti Zhuge Liang. Yo Ko makin mengagumi Kwee Ceng yang begitu tulus mencintai negaranya. Kata-kata Kwee Ceng diingatnya: siapapun yang peduli nasib bangsa dan negaranya ialah pahlawan, tak peduli apapun jabatannya.


Di gerbang Siangyang, tentara Mongol menggunakan siasat berbaur dengan rakyat Song yang mereka giring dari pinggiran kota menuju gerbang, hingga tentara Song tak punya pilihan selain tetap menyerang dan melepas panah untuk mempertahankan kota, walau panah tersebut mungkin melukai rakyat biasa. Hanya Kwee Ceng-lah yang ngotot melindungi rakyat tak berdosa, ia memarahi tentara yang terus memanah tanpa memperhatikan rakyat. Katanya, “Tujuan kita berperang adalah melindungi rakyat, kalau kita malah sampai membunuh rakyat tak berdosa, apakah itu bisa dikatakan melindungi?” Kwee Ceng turun tangan memimpin pendekar lain untuk menghalau tentara Mongol dari belakang dan menyelamatkan rakyat. Sikap Kwee Ceng yang berusaha untuk tidak membunuh orang yang tak berdosa, membuat Yo Ko sempat berpikir: apakah ayahnya berdosa hingga Kwee Ceng membunuhnya? Pertempuran hebat tak terelakkan, Kwee Hu, Bu bersaudara, Chu Ciu Liu, Tetua Luk bergabung. Saat terdesak, Kwee Ceng menyuruh yang lain mundur masuk gerbang sementara ia sendiri tak mempedulikan nyawanya. Dari jauh Kublai Khan mengagumi betapa heroik dan hebatnya Kwee Ceng. Orang Mongol terkenal mempunyai penghargaan tinggi terhadap pendekar sejati, walaupun itu di pihak lawan. Kwee Ceng terjebak di luar benteng, ia sempat menggunakan Pukulan Penakluk Naganya untuk menghalau ratusan prajurit Mongol. Chu Ciu Liu mengulurkan tali agar Kwee Ceng bisa memanjat dinding benteng, puluhan panah menghujani namun Kwee Ceng tetap bisa menghindar atau menangkap panah sambil memanjat tali. Melihat ini Hakim Roda Mas cerdik, ia bukan memanah Kwee Ceng tapi memanah tali yang dipanjat Kwee Ceng. Tali putus, Kwee Ceng terpaksa menggunakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh “Menaiki Tangga Langit” untuk memanjat benteng, Chu Ci Liu amat khawatir sebab taktik itu sekali diinterupsi akan gagal. Benar saja, Hakim Roda Mas menginterupsi hingga Kwee Ceng terjatuh. Merasa itulah ajalnya, Kwee Ceng meneriakkan kata terakhir “Jangan bunuh rakyat tak berdosa!!!” sementara di bawahnya ratusan tombak prajurit Mongol siap menghujam. Yo Ko menatapnya dengan penuh dilema, haruskah ia menolong atau membiarkan?

__ADS_1


__ADS_2