Pendekar Rajawali

Pendekar Rajawali
Episode 8 RACUN YG TIADA BANDINGNYA


__ADS_3

Betapapun bibir ting keturunan persilatan, meski gerak gerik kedua orang yang bertempur itu amat cepat, setiap jurus dan tipu serangan kedua pihak dapat ikutinya dengan jelas, tertampak tokoh itu menyerang dan menjaga diri dengan rapat, ganti-berganti ia mainkan ilmu pedangnya yang hebat, sebaliknya, sebaliknya sinyonya melayaninya dengan tenang dan mantap, setiap kesempatan pasti tidak ada disia-siakan untuk


melancarkan serangan yang mematikan.


 


 


Se-konyong2 terdengar “Tring”, dua pedang beradu, pedang di tangan kiri si tokoh mencelat terbang tinggi ke udara, sebat sekali ia mundur mundur dari pertempuran arena, mukanya yang putih halus besemu merah, matanya mendelik gusar, bentaknya: “aku mendapat perintah guru untuk membunuh habis keluarga Liok, apa sangkut pautnya dengan kau? ”


 


 


Nyonya itu menjengek dingin: “kalau gurumu berani dan punya kepandaian, seharusnya dia mencari liok


tian goan sendiri, kini dia sudah mati, tapi gurumu tidkk tau malu mencari perkara pada keturunannya.? ”


 


 


Si tokoh kebutkan lengan bajunya ,, tiga batang jarum menyamber, dua batang menyambar si nyonya, jarum


ketiga ternyata menyamber liok lip ting yang berdiri di pekarangan serangan mendadak dan cepat lagi, lekas si nyonya ayunkan pedangnya menangkis, terdengar liok lip ting menggerung gusar, dua jarinya dapat menjepit batang jarum yang menyerang tenggorokannya itu.


 


 


Si tokoh tersenyum dingin, dengan tangkas ia jumpalitan terus keluar, tiba2 terdengar suitan panjang kejauhan sana, dalam sekejap saja dia sudah berlari puluhan tombak jauhnya.


 

__ADS_1


 


Melihat ginkang orang begitu hebat, nyonya itupun tercengang, lekas ia turun kembali ke dalam ruangan, melihat Liok Lip ting sedang pegangi sebatang jarum, segera ia berseru: ”lekas buang!”


 


 


Sekarang liok lip ting tidak curiga lagi kepada orang, lekas itu melampar jarum itu ketanah, cepat


nyonya itu mengeluarkan seutus tali kain dari dalam bajunya terus mengikat pergelangan tangan Lip Ting dengan kencang.


 


 


Baru sekarang Liok Lip Ting dibuat kaget, serunya: “jarum itu berbisa?”


 


 


waktunya.


 


 


Liok Lip ting rasakan kedua jarinya sudah mati rasa, tak lama kemudian melepuh sebesar tebak, Lekas si nyonya bekerja pula mengirisnya dengan pedang, darah hitam mengalir keluar bersama busuk,


 


 

__ADS_1


Sungguh kejut bibir ting bukan kepalang, batinnya: “Jariku tidak lecet atau terluka, hanya tersentuh sedikit saja, racun sudah bekerja sedemikain lihay, kalau jariku kena terkena tertusuk sedikit saja, jiwaku sudah tentu melayang? ”


 


 


Baru sekarang nyonya Itu sempat memeyang liok-toanio, lalu ia memeriksa luka2nya. Ternyata Hui-Tiong-Hiat dibagian lututnya masing2 terkena sambitan sebatang jarum, tapijarum2 ini adalah jarum emas milik Liok Lip-ting yang biasanya untuk menolong orang.


 


 


Meski bencana belum terlalu, namun sementara keluargan masih dalam keadaan selamat, hati liok bibir


ting rada bersyukur, waktu ia melihat ketiga mayat tadi, berobar pula amaranya disamping bergetar. Ternyata ketiga mayat itu bukan lain adalah Liong, Jadi Dan Cu-piauthau dari An wan Piaukiok, waktu ia periksa luka mereka bertiga,dilihatnya jarum2 yang di gunakan kini sudah berpindah tempat, semula tusukannya untuk menghilangkan rasa sakit, kini jarum2 itu sudah menusuk pada Hiat-to yang mematikan.


 


 


Cukup sebatang saja pada Liong-piauthau rada meleset, maka jiwanya belum melayang. Sorot matanya


memancarkan rasa belas kasihan, se olah2 memohon pertolongan pada lip ting.


 


 


Bibir ting tidak tega, namun luka2nya, meski ada obat dewapun tidak bisa menolong jiwanya, katanya sambil menghela napas: ”Liong-Piauthau, berangkatlah dengan tenang.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2