
Liok-toanio menggut2,
saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokan,
Mereka masuk kembali
ke dalam rumah langsung menujuh kebalakang, tiba2 terdengar suara diatas tembok
sebelah timur, kiranya disana ada orang, Bibir Ting memburuh kedepan memburu
kedepan menghadang istrinya, waktu ia angkat kepala, dilihatnaya di atas tembok
sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya di kuncir dua menepang, bocah
itu sedang memetik kembang di atas pohon.
Lalu terdengar orang
berteriak di sebelah bawah: ”Awas lho, jangan sampai terjatuh!“Kiranya Thiea
eng, Liok-Bu- Siang dan seorang anak laki2 lain sedang menunggu di kaki tembok
sana, Lip Ting berpikir. ”kedua bocah ini meminta maaf menginap dirumahku, kenapa
bengini nakal? ”
Anak laki2 diatas
tembok itu sedang memetik sekuntum bunga, Liok Lip-siang segarah berteriak: “Nah
berikan padaku, berikan kepadaku! ”
Anak laki2 itu tertawa,
ia melempar bunga ke thia eng, lekas thia eng ulur tangan menangkapnya, lalu di
angsurkan kepada sang piau-moay, tapi Liok Bu- Siang naik pitam, ia memperoleh,
Kembang itu terus di banting dan di-injak2
Melihat empat bocah ini
bermain dengan riang gembira, sedikitpun
tidak tau bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Lip Ting
Suami-Istrie menghela napas, mereka masuk kedalam kamar.
“Piaumoay, kenapa kau
__ADS_1
marah? ”bujuk Thia Eng.
Liok Bu-Siang merengut,
katanya: ”aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik!” - sekali kaki kanannya
menutul tanah, badannya melejit keatas serta meraih akar rotan yang merambat di
atas tembok, sekali meminjam tenaga, seketika badanya melampung keatas pula
beberapa kali lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon.
Anak laki2 diatas
tembok itu bersorak gembira, teriaknya: ”Lekas kemari!”
Kedua tangan Liok
Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya
mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk keatas tembok. ”
Dinilai dari
namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki2 yang melempar bunga
Kepada Piau-Cinya tadi, memang sipat pembawaan anak perempuan ini suka
menangnya sendiri, maka tampa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat
di tengah udara.
Anak laki2 itu menjadi
kaget, teriaknya isi: ”Awas!Hati2!Segera ia ulur tangan
menangkap tangan Bu-Siang.
Kalau dia tidak
mengulurkan tangan, Liok Bu-siang sebetulnya bisa mencapai pagar tembok tapi
ketika melihat anak laki2 itu hanya menarik dirinya, segera ia menghardik: “minggir”
Badanpun menyingkir
__ADS_1
kesamping menghindari tarikan tangan orang, kepadaian jumpalitan di
tengah udara adalah ilmu ginkang tingkat tinggi, walaupun dia melihat
ayah-bundanya memaikannya, dia sendiri belum perna mempelajarinya, dengan
sedikit dukungan, jari2nya sudah tidak dapat meraih tembok, di teriak
kagetnya, badanya langsung jatuh kebawa,
Melihat Bu-Siang Jatuh,
anak laki2 yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan ulur tangan
melakukan badanya.Tapi tembok itu beberapa tembok, meski badan Bu Siang
kecil, tenaga luncurannya lintasan, jelas amat berat, meski anak laki2 itu berhasil
pinggangnya, tak tertahan akibat terbanting jatuh dengan keras.Terdengarlah
suara “krak”, tulang kaki kiri Bu-Siang “patah, demikian pula jidat anak laki2
Itu kebentur batu memantul, darah mengucur keluar,
Thia Eng dan anak laki2
diatas tembok itu memburu maju untuk menolong, anak laki2 itu merangkak bangun
sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput.Sambil
resep Piaumoaynya Thia Eng Segera berteriak: “ih-tio, ah-i (paman, bibi), lekas
datang! ”mendengar teriakannya, Liok-Toanio segera memburu keluar, tiba2 diatas
kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih sebuah
****** sekali Liok-toanio berkelit kesamping, dilihatnya yang dilempar
kearahnya itu ternyata ternyata ada seseorang.Tak sempat membawa goloknya segera ia
nomor ke wuwungan rumah, belum lagi ia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak
mukanya, ketika Liok-toanio membungkukan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi
lemas dan tidak berkuasa berdiri tegak, kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.
Kebetulan Lip Ting
sedang memburu keluar, melihat Liok-toanio terjungkil jatuh dari atas, segara
ia masuk kedepan dengan ilmu ginkang yang ia yakinkan selama berpuluh tahun,
meski jaraknya masih tiga tombok jauhnya, namun sekali lompat badanya meleset
seperti anak panah, telepak, sempat menyanggah punggung istrinya, karena
Tenaga sanggahan ini badan Liok-Toanio terlempar naik, di waktu meluncur turun
pula, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas
tanah.
__ADS_1