
Tak sempat menanyai
keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa2, segera ia masuk keatas
rumah, perjalanan menjelajah sekelilingnya, tertampak bulan sabit tergatung tinggi
di cakrawala, menghembus sepoi2, namun tidak nampak bayangan
seorangpun Lip ting segera kembang ginkang, dalam sekejap ia sudah meronda
keadaan darurat satu keliling, namun tidak menemukan apa2, segera berita
turun kebawah pelantaran dan masuk kedalam rumah.
Disitu terlihat seorang
nyonya pertengahan umur sedang membopong liok bu siang dan anak laki2 tadi
masuk ke ruang tengah, tampa menghiraukan kucuran darah anak laki2 itu, si
nyonya berusaha menyambung tulang kaki liok bu siang yang patah.
Bibir ting semulah
putrinya sudah di celakai orang, kini melihat hanya tulang tulang yang patah,
dia dia rada lega, tanyanya pada istrinya: ”kau tidak apa2 bukan?”
Liok toanio
mengelengkan kepala, ia sobek lengan baju untuk membalut jidat anak laki2 itu
yang terluka, ingin dia memeriksa luka kaki putrinya, tak terduga baru saja
melangkah, kakinya sendiri linu lemas, tampa kuasa ia jatuh terduduk.
Nyonya pertengahan umur
itu menutuk hiat-to pekhay-hiat dan hwi-tiong-hiat di kedua paha liok bu siang
untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangan menakan pada kedua sisi
tulang yang patah untuk menyambungnya.
Melihat gerak gerik
orang yang cetakan, ilmu tutuknya terang tingkat tinggi makin curigalah
lip ting, serunya: ”Siapa Toanio ini?Ada petumjuk apa berkunjung kesini? ”
Nyonya itu tumplek seluruh
__ADS_1
perhatian untuk menyambung tulang kaki liok bu siang yang patah, sedikitpun
tidak menghiraukan pertanyaannya, diam2 liok lip tiang memperhatikan tangan
kiri oang yang memegangi kaki putrinya, sementara tangan kanan diangkat dan berputar
setengah lingkaran terus munutuk turun pelan2, gerakan yang-ci yang
menurut cerita menunjukkan merupakan kepandaian khas musuh besar, maka tampa
ragu2 lagi, kedua telapak tangan Liok Li [Ting terus menghantam kepunggung
orang itu.
Mendengar deru angin
dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menutuk pek-kay-hiat Liok Bu
Siang, telapak tangan lain menutuk balik kebelakang menangkis menggulung bibir ting.
Bibir kontan merasakan tenaga dasyat mendorong kearah dirirnya, seketika
dada terasa sesak, tampak kuasa ia tergentak mundur dua langka.
Karena mengunakan
Telapak tangan kiri sehingga si nyonya tidak dapat memegangi sebelah kaki liok
tulang kaki liok bu siang yang patah kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh
pinsan lagi.
Pada saat dari sinyal
atas genteng terdengar suara tertawa seorang, serunya: ”aku hanya membunuh
sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar segera keluar! ”
Waktu lip ting angkat
kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang tokoh, dibawah cahaya bulan
yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan
belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, di punggunnya terselip sepasang
pedang.
Lip ting segera berseru
lantang. “aku inilah Liok Lip-ting, apa yang tayo datang dari jik-lian-to ?” si
__ADS_1
tokoh mendegus:”baik sekali kalau kau sudah tau, lekas kau bunuh istri dan
putri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu
turun tangan !”
Sikapnya congkak,
kata2nya pedas, sedikitpn tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah.
Meski lip ting perna
angkat nama di kalagan kangouw, betapapun dia keturunan pendekar besar, mana
mandah di hina di hadapan orang luar, segera ia memburuh keluar dan melompat
keatas seraya membentak: bair kau kenal dulu keahlianku!”
Sikap si tokoh acuh tak
acuh, di saat kedua kaki liok lip ting hampir menginjak genteng, badan masih
terapung di udara, memedadak kedua
pedangnya bergerak lakasana bianglah, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah
mengurung seluruh badannya, serangan kedua pedang ini amat lihay dan hebat
sekali, meski ilmu silat Lip Ting amat tinggi, betapapun dia kurang pengalaman
menghadapi musuh yang tangguh, tahu2 hawa pedang yang dinggin itu sudah
menyambar lehernya, dalam keadaan begitu jelas ia tidak mampu menangkis atau
menyelamatkan diri, terpaksa ia penjamkan mata menunggu ajak.
“Trang," tiba2
seseorang telah menangkiskan pedang yang menyerang lehernya itu, waktu lip ting
membuka mata, dilihatnya nyonya setengah umur tadi sedang menempur si tokoh
dengan begaman sebatang pedang panjang.
Nyonya itu berpakai
warna abu-abu, semetara tokoh mudah itu mengenakan jubah kuning, tertampak
bayangan abu2 dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diseling
semberan sinar kemilau yang berwaha, dingin, sedemikian sengit pertempuran itu,
__ADS_1
namun tidak terdengar suara benturan kedua senjanta masing2.