Pendekar Rajawali

Pendekar Rajawali
Episode 7 PEMBUNUH DATANG


__ADS_3

Tak sempat menanyai


keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa2, segera ia masuk keatas


rumah, perjalanan menjelajah sekelilingnya, tertampak bulan sabit tergatung tinggi


di cakrawala, menghembus sepoi2, namun tidak nampak bayangan


seorangpun Lip ting segera kembang ginkang, dalam sekejap ia sudah meronda


keadaan darurat satu keliling, namun tidak menemukan apa2, segera berita


turun kebawah pelantaran dan masuk kedalam rumah.


Disitu terlihat seorang


nyonya pertengahan umur sedang membopong liok bu siang dan anak laki2 tadi


masuk ke ruang tengah, tampa menghiraukan kucuran darah anak laki2 itu, si


nyonya berusaha menyambung tulang kaki liok bu siang yang patah.


Bibir ting semulah


putrinya sudah di celakai orang, kini melihat hanya tulang tulang yang patah,


dia dia rada lega, tanyanya pada istrinya: ”kau tidak apa2 bukan?”


Liok toanio


mengelengkan kepala, ia sobek lengan baju untuk membalut jidat anak laki2 itu


yang terluka, ingin dia memeriksa luka kaki putrinya, tak terduga baru saja


melangkah, kakinya sendiri linu lemas, tampa kuasa ia jatuh terduduk.


Nyonya pertengahan umur


itu menutuk hiat-to pekhay-hiat dan hwi-tiong-hiat di kedua paha liok bu siang


untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangan menakan pada kedua sisi


tulang yang patah untuk menyambungnya.


Melihat gerak gerik


orang yang cetakan, ilmu tutuknya terang tingkat tinggi makin curigalah


lip ting, serunya: ”Siapa Toanio ini?Ada petumjuk apa berkunjung kesini? ”


Nyonya itu tumplek seluruh

__ADS_1


perhatian untuk menyambung tulang kaki liok bu siang yang patah, sedikitpun


tidak menghiraukan pertanyaannya, diam2 liok lip tiang memperhatikan tangan


kiri oang yang memegangi kaki putrinya, sementara tangan kanan diangkat dan berputar


setengah lingkaran terus munutuk turun pelan2, gerakan yang-ci yang


menurut cerita menunjukkan merupakan kepandaian khas musuh besar, maka tampa


ragu2 lagi, kedua telapak tangan Liok Li [Ting terus menghantam kepunggung


orang itu.


Mendengar deru angin


dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menutuk pek-kay-hiat Liok Bu


Siang, telapak tangan lain menutuk balik kebelakang menangkis menggulung bibir ting.


Bibir kontan merasakan tenaga dasyat mendorong kearah dirirnya, seketika


dada terasa sesak, tampak kuasa ia tergentak mundur dua langka.


Karena mengunakan


Telapak tangan kiri sehingga si nyonya tidak dapat memegangi sebelah kaki liok


tulang kaki liok bu siang yang patah kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh


pinsan lagi.


Pada saat dari sinyal


atas genteng terdengar suara tertawa seorang, serunya: ”aku hanya membunuh


sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar segera keluar! ”


Waktu lip ting angkat


kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang tokoh, dibawah cahaya bulan


yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan


belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, di punggunnya terselip sepasang


pedang.


Lip ting segera berseru


lantang. “aku inilah Liok Lip-ting, apa yang tayo datang dari jik-lian-to ?” si

__ADS_1


tokoh mendegus:”baik sekali kalau kau sudah tau, lekas kau bunuh istri dan


putri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu


turun tangan !”


Sikapnya congkak,


kata2nya pedas, sedikitpn tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah.


Meski lip ting perna


angkat nama di kalagan kangouw, betapapun dia keturunan pendekar besar, mana


mandah di hina di hadapan orang luar, segera ia memburuh keluar dan melompat


keatas seraya membentak: bair kau kenal dulu keahlianku!”


Sikap si tokoh acuh tak


acuh, di saat kedua kaki liok lip ting hampir menginjak genteng, badan masih


terapung di udara, memedadak  kedua


pedangnya bergerak lakasana bianglah, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah


mengurung seluruh badannya, serangan kedua pedang ini amat lihay dan hebat


sekali, meski ilmu silat Lip Ting amat tinggi, betapapun dia kurang pengalaman


menghadapi musuh yang tangguh, tahu2 hawa pedang yang dinggin itu sudah


menyambar lehernya, dalam keadaan begitu jelas ia tidak mampu menangkis atau


menyelamatkan diri, terpaksa ia penjamkan mata menunggu ajak.


“Trang," tiba2


seseorang telah menangkiskan pedang yang menyerang lehernya itu, waktu lip ting


membuka mata, dilihatnya nyonya setengah umur tadi sedang menempur si tokoh


dengan begaman sebatang pedang panjang.


Nyonya itu berpakai


warna abu-abu, semetara tokoh mudah itu mengenakan jubah kuning, tertampak


bayangan abu2 dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diseling


semberan sinar kemilau yang berwaha, dingin, sedemikian sengit pertempuran itu,

__ADS_1


namun tidak terdengar suara benturan kedua senjanta masing2.


__ADS_2