Pendekar Rajawali

Pendekar Rajawali
Episode 4 TAPAK TANGAN DARAH


__ADS_3

Tutur Liong-piausu lebih lanjut: "Tokoh itu hanya terseyum saja, sesaat kemudian lalu berkata: "baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu. dia sudi menolong tidak terserah pada keberentunganmu sendiri, Nah, lekas pergi ke Ling Tian-goanciu, mintalah pertolongan kepada Ling Tian-goan,ciu. Dalam dunia ini hanya dia saja yang seorang yang dapat mengobati luka-luka ini. katakan pula kepadanya. Dalam waktu dekat akupun akan menemui dirinya.


Tersentak hati Liok Lip-ting, tersentak kaget: "Memang orang yang mencuri janajah ayah bundaku ada sangkut pautnya dengan persoalan ini? ini wah sulit"


"Begitulah cayhe berfikir," Kata Liong-piausu" Setelah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon padanya, tapi dia lantas menukas:"Perjalanan ke oh-ciu cukup jauh, memang kalian hendak menbuang-buang waktu," tampa kelihatan dia angkat kakinya, entah bagaiman tauh2 badanya sudah melayang ketubuh keledainya. Cepat sekali keledai itu mencongklan pergi, dikejarpun tidak keburu lagi aku melongo sekian lamanya, kulihat So dan Cu-hiate masih gemetar, terpaksa kupayang mereka naik keatas kereta,


"Begitu tiba kota segera ku panggil tabib terpandai, namun para tabib itu mana dapat mengobati ? waktu kami buka baju, diatas pundak kami masing2 ada tanda tapak tangan merah yang menyolok sekali sampai besok paginya, rada,dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar, kuigat pesan si tokoh, kalau hawa merag sampai merembes sampai kedada dan ujng jari, jiawa kami bertiga akan tak tertolong lagi, maka kami tidak perdulikan  lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, siapa tauh  Ling-leonggiong ternyata sudah wafat memang cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata2 sitokoh, tak taunya liok-ya telah mendapat ajaran leluhur, engkaulah yang menjadi harapan  sebagai tuan penolong jiwa kami."

__ADS_1


Dasar banyak pengalaman dan banyak bicara lagi, belum l Liok lip-ting memberi jawaban, dia sudah sebut orang sebagai tuan penolong jiwa meraka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak"


Liok lip-ting tersenyum ewa, katana: "Sejak kecil aku mendapat didikan keluraga, tetapi tidak berani berkelana di kangouw, jika kalian tidak kenal namaku yang yang rendah, inipun tidak perku di buat heran." lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati, pelahan iya angkat kepala mendadak iya melonjak dan berteriak kaget: "Apa itu ?" dibawaa pelita jelas sekali kelihatan diatas dinding tembok putih itu berderet sembilan tepak tangan darah.


Merreka berempat terlongong mengawaasi ke sembilan tapak tangan merah itu, seperti orang tersihir dan linglung, sesat lamanya tak mampu bicara, para piausu dari An-wan Piaukiok tidak tauh asal usus tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta meraka merasa kesembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang,kesembilan telapak tangan itu berjajar tinggi diatas tembok dekat atap rumah, dua yangpaling diatas berjajar, demikian terus menurun kebawah masing2 berjajar dua, paling bawa berjajar radajauh dan berjumlah tiga, ketiga tapak terbaeah inipun tingginya kira2 tiga meter lebih, kalau tidak naik tangga, tidak mungkin bisa menjajarkan cap2 tangan itu sedemikian rapi.


Dasar orang kasar, Cu-piauthau segera bertanya: " Liok-ya apa maksud kesembilan tapak tangan darah ini ?"

__ADS_1


Hati dengan gundah, menguatirkan keselamatan istrinya lagi, maka Liok  Lip-ting tidak menghirau kan pertanyaannya, ia keluar rumah dan melihat istrinya, Liok-toanio, sedang mendatangi sambil menggandeng Thie Eng Dan Liok-Bu-siang, begitu berhadapan dengan sang suami, nyonya itu hanya mengelengkan kepalanya saja.


Supaya sang istri tidak kuatir, L iok Lip-ting tidak menyinggung tapak tangan darah diatas dinding itu, segera ia iring masuk orang kedalam kamar di belaang, lalu ia tuturkan ketiga Piau-thau yang terkena pukulan jI-lisng-sin-ciang dan minta diobati.


"Lip-tiang ," ujar Liok-toanio,"malam ini jangan kita tidor dirumah, bagaimana pendapatmu ?"


"Kenapa ?" Liok Lip-tiang menegas,

__ADS_1


Liok-toanio suruh Thia Ing dan  Liok Bu-siang keluar, setelah tutup pintu ia berkata lirih:" Kejadian hari ini amat ganjil,ayam dan anjing dalam rumah kita ini sudah tiada satupun yang hidup."


__ADS_2