
Keesokan paginya.
Deni berjalan dari rumahnya sendirian. Deni berjalan menuju rumah Dini seperti biasa. Namun Deni berjalan dengan tatapan dan pikiran kosong. Deni terus melamun sepanjang perjalanan. Tanpa disadari Deni telah sampai di depan rumah Dini. Deni berhenti dan menatap dengan tatapan kosong ke arah rumah Dini. Tiba-tiba Dini keluar dari pintu rumahnya Mereka saling kontak mata. Dini tersenyum melihat Deni yang sudah menunggunya di depan rumah. Dini berjalan menghampiri Deni. Namun Dini melihat Deni terlihat seperti melamun.
"Den" Sesampainya di hadapan Deni, Dini memanggil namanya.
"Iya" Balas Deni tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa dari tadi ngelamun terus?" Dini bertanya kepada Deni.
"Ngga kok, udah siang nih ayo berangkat" Ucap Deni. Deni tidak menanggapi pertanyaan Dini. Melihat sikapnya Dini tidak mempertanyakan lagi pertanyaan. Mungkin Deni punya alasan sendiri kenapa tidak memberi tahu dirinya. Mereka berjalan menuju halte bus. Mereka menunggu bus beberapa saat. Deni terlihat sangat pendiam dan terus melamun. Tidak seperti Deni yang biasanya.
...************************************...
"Rio bangun, cepet bangun nanti telat" Ibu Rio atau Ibu Dini terus berusaha membangunkan Rio yang males-malasesan bangun di kanakan habis bergadang main game online semalem. "Berulang kali Ibunya memabangunkannya namun tidak berhasil. Ibunya mulai kesal kepada Rio karena sudah mendekati jam 07:00 pagi.
"Oiya Pake air aja" Ucap Ibu Rio dalam batinnya. Ibu Rio bergegas mengambil air menggunakan gayung dari kamar mandi. Ibu Rio menciprat-cipratkan air yang sudah diambilnya ke muka Rio dengan kesal. "Rio bangun, bangun..... " Ibu Rio sambil memanggilnya untuk membangunkannya. Rio mulai merasa risih karena cipratan air tersebut.
"Apa sih mah" Teriak Rio kesal. Rio bangun dan duduk di atas kasur masih lesu.
"Apa? kamu bilang apa? Sekolah Rio udah jam 7" Teriak Ibu Rio sambil marah.
"Ayo bangun bangun" Mamah sambil menarik-narik selimut dan tangan Rio agar cepat bangun.
Rio bangun dari tempat tidurnya dan mengambil HP untuk melihat jam. Rio terbelalak ternyata Ibunya tidak berbohong. "Ha udah jan 7" Rio berteriak karena tidak percaya kalo dirinya bakal bangun kesiangan. jam menunjukan pukul 06:45. Rio langsung bergegas ke kamar mandi. Dia tidak mandi namun hanya menyikat giginya dan mencuci muka. Rio asal memasukan buku yang terlihat tanpa melihat jadwal pelajaran. Rio langsung berpamitan kepada Ibunya dan berlari tanpa sarapan dulu di rumah.
Bus yang dinaiki Deni dan Dini sampai di halte depan sekolah. Mereka turun dari bus. Deni turun lebih dulu dari Dini. Deni masih tampak melamun. Mereka berjalan menuju sekolah namun Dini terus memperhatikan Deni dari belakang. Tiba-tiba Deni tersandung dan hampir terjatuh ke depan. Melihat Deni yang akan terjatuh Dini langsung memegang tas Deni dari belakang dan menariknya agar tidak terjatuh.
"Hampir saja" Lirih Deni.
Deni menatap Dini. "Makasih" Ucap Deni kepada Dini.
"Kamu kenapa si dari tadi pagi ngelamun terus, ada masalah?" Dini bertanya kepada Deni. Dini merasa khawatir kepada Deni barangkali sahabatnya itu memiliki masalah. Namun disisi lain Dini juga tidak tahu harus berbuat apa karena tidak tahu masalah Deni.
"Ngga lah, udah yuk buruan ke kelas sebentar lagi masuk" Deni mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Dini agar bergegas untuk ke kelas. Melihat sikap Deni yang terus bersikap seperti itu Dini hanya bisa mengikuti kemauannya.
Rio sampai di sekolah dengan terlambat. Karena terlambat membuatnya di hukum oleh guru BP di pintu gerbang selama beberapa saat. Saat sedang dihukum Rio melihat Dini sedang berjalan. Melihat Dini membuat Rio inging memanggilnya dan bertanya kenapa Dini tidak membangunkan Rio.
"Mba" Rio berteriak memanggil Dini. Dini berhenti berjalan lalu menoleh ke arah Rio. "Dia terlambat apa" Lirihnya tidak percaya. Melihat Dini yang menatapnya Rio berlari menghampiri Dini.
__ADS_1
"Rio mau ke mana hukumannya belum selesai" Guru BP melarang Rio pergi.
"Sebentar Pak" Balas Rio berteriak. Rio menghapiri Dini "Mba kamu tadi kenapa ngga ngebangunin aku?" Rio bertanya kepada Dini dengan kesal.
"Apaan si, kamu nya aja yang susah dibangunin. Dari subuh aku sama Mamah udah bangunin Kamu berulang kali. Dasar Kamu nya aja yang susah dibangunin main game terus kalo malem. Udah lah Aku mau ke kelas dah" Balas Dini. Dini berjalan meninggalkan Rio.
"Mba bentar-bentar Aku belum selesai bicara" Teriak Rio kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya karena kesal.
"Rio sini" Guru BP memanggil Rio.
"Iya Pak" Balas Rio pasrah.
Bel istirahat berbunyi.
"Kita akhiri dulu pembelajaran kali ini selamat beristirahat" Ucap Guru. Semua siswa merapihkan bukunya. Aldi menatap Dini berniat menghampirinya.
"Al ke kantin yuk" Udin mengajak Aldi ke kantin bersama. Udin adalah teman satu bangku dengan Aldi
"Kalian duluan aja" Balas Aldi.
"Oke" Balas Udin.
Aldi menghampiri Dini yang masih duduk di tempat duduknya. "Din mau ke perpustakaan bareng?" Aldi mengajak Dini. Kali ini Aldi berniat untuk semakin dekat dengan Dini.
"Kita ke kantin aja yok" Ajak Riska.
"Ayo" Balas Zen. Riska dan Zen beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Zen melihat Rio hanya terdiam duduk di kursinya.
"Hey ayo ke kantin" Zen menepuk pundak Deni. Rio tersentak kaget dibuatnya.
"Iya ayo" Balas Deni. Zen hanya menatap Deni heran ngga biasanya Deni terlihat seperti itu. Mereka bertiga pergi ke kantin bersama.
Aldi dan Dini berada di perpustakaan. Mereka masing-masing mencari buku yang mereka inginkan. Dini melihat ada buku yang ingin dibacanya namun letaknya terlalu tinggi. Dini berusaha mengambilnya namun tetap belum berhasil. Tiba-tiba seseorang mengambilkan buku itu. Dini menatap seseorang yang mengambilkan buku itu. Ternyata dia adalah Aldi. Aldi tersenyum kepada Dini.
"Kalo butuh bantuan jangan diem aja" Ucap Aldi sambil memberikan buku yang baru diambilnya.
Dini menerima buku yang sudah diambilkan oleh Aldi. "Iya makasih" Balas Dini.
"Ayo" Aldi mengajak Dini untuk mencari tempat duduk.
__ADS_1
Deni, Riska dan Zen sedang memakan jajanan di kantin.
"Kamu ngga salah beli sebanyak itu?" Zen menatap Riska heran tidak percaya.
"Kenapa, apa ini terlalu banyak ya. Aku laper banget soalnya tadi belum sarapan". Dini membeli jajanan yang cukup banyak tidak seperti biasanya. Riska memakan makanannya dengan sangat lahap.
Zen menatap Deni yang terlihat sangat murung dan tidak bersemangat. "Den" Zen memanggil Deni.
"Iya kenapa?" Balas Deni.
"Kamu kenapa si ada masalah?" Zen bertanya kepada Deni.
"Ngga" Balas Deni murung. Zen tidak percaya kalau Deni tidak ada apa-apa. Dilihat dari sikapnya hari ini Deni terlihat sangat murung tidak seperti biasanya.
"Sebenarnya hari ini kenapa si ngga kaya biasanya. Yang satu Beli jajan banyak banget, yang satunya lagi murung terus" Ucap Zen tidak percaya akan apa yang terjadi pada hari itu.
Deni mulai berpikir apa sebaiknya kalau dirinya meminta saran dari temannya. Deni menatap Zen ragu "Zen".
"Ada apa?" Zen bertanya kepada Deni.
"Nih aku cuma mau tanya" Ucap Deni.
"Iya" Balas Zen.
"Aku cuma tanya loh ya jangan mikir yang engga-engga dan ini juga ngga ada hubungannya sama aku" Balas Deni menyakinkan Zen.
"Iya ada apa?" Zen bertanya kepada Deni.
"Misal kamu suka sama seseorang tapi kamu ngga sengaja denger ketika orang yang kamu sekarang sedang berbicara dengan temannya dia mengatakan kalau dia tidak menyukaimu. Kalau seperti itu apa yang akan kamu lakukan?" Deni bertanya kepada Zen dengan serius.
"Kamu suka sama Dini?" Ketus Riska. Riska mengatakan seperti itu karena Riska melihat beberapa kali kalau Deni terlihat menyukai Dini.
Mendengar perkataan Riska Deni langsung membantahnya. "Ngga lah masa aku suka sama Dini" Balas Deni.
"Gimana Zen menurutmu?" Deni bertanya lagi kepada Zen.
"Tentu saja aku akan bertanya langsung kepadanya. Aku tidak akan menyerah sebelum aku mendengarnya langsung dia mengatakannya kepadaku" Balas Zen.
Mendengar perkataan Zen, Deni memikirkannya lagi. Kalau yang dikatakan Zen ada benernya juga. Deni tersenyum setelah memahami perkataan Zen. Deni berencana untuk bertanya langsung kepada Dini.
__ADS_1
"Kenapa, jangan-jangan kamu lagi suka sama seseorang ya?" Zen bertanya penasaran. Namun Deni tidak menanggapinya.
"Aku duluan ya" Deni beranjak dari tempat duduknya dan berlari untuk menghampiri Dini yang sedang berada di perpustakaan.