Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 14


__ADS_3

Riska langsung tanggap ketika Dini terjatuh. Riska membantu Dini berdiri.


"Kamu gimana si Din bisa-bisanya jatuh" Ucap Riska sambil membantu Dini.


"Iya Din bisa-bisanya jatuh, tapi ngga papa kan?" Zen merasa khawatir.


"Ngga kok aku cuma lagi cape aja pengin istirahat" Balas Dini. Deni hanya terdiam sambil memperhatikan tingkah Dini.


"Aku pulang duluan ya" Ucap Dini. Dini menatap Deni. Deni hanya terdiam menatap Dini. Deni tidak paham apa yang dimaksud Dini dengan menatapnya.


"Mau pulang bareng ngga" Dini bertanya kepada Deni. Dini masih merasa canggung berbicara dengan Deni.


"Oh iya" Balas Deni tersadar.


"Aku sama Dini duluan ya bye" Ucap Deni kepada Riska dan Zen. Deni dan Dini berjalan meninggalkan. Mereka berjalan berdampingan. Mereka merasa sangat canggung berjalan berdua. Zen hanya menatap dengan tatapan aneh. Sedangkan Riska menatap sambil tersenyum karena Riska menyadari kalau ada apa-apa di antara Deni dan Dini.


"Mereka sebenarnya kenapa si aneh banget ngga kaya biasanya. Apalagi Deni tadi di kantin terlihat sangat seneng eh sepulang dari perpustakaan tiba-tiba moodnya jadi buruk" Zen menggelengkan kepala tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu ini payah apa gimana si" Ucap Riska tersenyum percaya diri.


"Apa?" Sambung Zen penasaran.


"Deni suka sama Dini" Ucap Riska percaya diri.


"Apa... Deni suka sama Dini?" Zen bertanya kepada Riska tidak percaya.


"Iya" Balas Riska.


"Eh ngga mungkin lah" Zen masih belum percaya.


"Kita tunggu aja nanti" Balas Riska percaya diri.

__ADS_1


Deni dan Dini berjalan beriringan sepanjang jalan. Mereka saling diam dan tidak ada yang membuka percakapan. Mereka sangat merasa tidak nyaman akan situasi yang terjadi. Keduanya merasa canggung dan tidak berani berbicara terlebih dahulu. Namun Deni merasa kalau dirinya tidak bisa terus-terusan seperti ini dengan Dini. Akhirnya Deni memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Dini. Deni menatap Dini berusaha memberanikan diri. "Din" Deni memanggil nama Dini dengan penuh keraguan.


"Iya Den gimana" Riska berhenti berjalan dan menatap Deni. Deni juga ikut berhenti berjalan. Mereka saling berhadapan satu sama lain. Dini masih merasa grogi didepan Deni. Namun Dini tersenyum berusaha menutupi perasaannya.


Deni gelagapan mencari topik pembicaraan. Deni melirik ke sana ke mari untuk menemukan ide. Akhirnya deni menemukan topik pembicaraan. "Tadi di perpustakaan baca buku apa?" Deni bertanya kepada Dini untuk mencairkan suasana.


"Oh biasa aku baca buku fiksi di perpustakaan. Seperti yang kami tau aku kamu suka baca buku-buku fiksi" Balas Dini sambil berjalan begitu pula Deni. Dini mulai menceritakan aktifitasnya di perpustakaan kepada Deni.


"Iya kamu dari dulu memang suka baca buku fiksi" Balas Deni tersenyum. Deni merasa lebih nyaman dari sebelumnya. Suasana diantara keduanya sudah mulai mencair.


"Iya kan bahkan aku jarang ke kantin dan memilih pergi ke perpustakaan hanya untuk bisa membaca buku-buku fiksi" Balas Dini.


"Sebegitu sukanya kamu baca buku-buku fiksi?" Deni bertanya kepada Dini.


"Tentu saja, membaca buku fiksi itu bisa membuat pikiran rileks dan tidak membosankan. Selain itu juga banyak pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari setiap cerita" Balas Dini bangga pada dirinya sendiri.


"Wah apa ini, kamu bercerita seakan kamu menguasai semua cerita-cerita fiksi" Balas Deni kagum. Deni merasa senang karena melihat Dini bisa tersenyum bahagian.


"Tentu saja" Balas Dini percaya diri. Suasana diantara Deni dan Dini sudah kembali normal seperti biasa. Mereka sudah lupa akan apa yang sudah terjadi di depan perpustakaan. Mereka menikmati bersama selama perjalanan pulang.


"Mba" Rio berteriak sambil berlari. Mendengar ada yang memanggilnya Dini dan Deni membalikan menoleh dan membalikkan badan. Rio sampai di hadapan Dini dengan nafas yang tidak teratur. Dini menatap Rio heran.


"Kenapa, ada apa?" Dini bertanya kepada Rio.


"Mba kenapa tadi pagi aku ngga dibangunin?" Rio bertanya kepada Dini.


"Tadi juga udah tanya. Tanya aja sama mamah kalo ngga percaya" Balas Dini kesal.


"Makannya kalau main game jangan sampe kemaleman" Balas Dini kesal.


"Itu bukan karena main game tapi kamunya yang bener mbanguninnya" Balas Rio kesal.

__ADS_1


"Loh kok malah nyalahin aku, kamu lah yang salah" Balas Dini kesal.


"Ya ngga lah, kamu yang salah ngga bener mbanguninnya" Balas Rio kesal.


"Kamu lah yang salah main game terus sampe malem" Balas Dini kesal. Deni hanya diam dan melihat Dini dan Rio yang sedang berantem. Deni merasa kalau sebaiknya dirinya pergi dari sini.


"Din aku pulang dulu ya" Deni berbicara kepada Dini.


"Oh iya Den hati-hati" Balas Dini. Deni pergi meninggalkan Dini dan Rio yang sedang berantem. Deni tersenyum karena merasa sangat bahagia karena dirinya dan Dini sudah kembali seperti biasa. Deni merasa lebih tenang dan nyaman dari sebelumnya.


...*************************************...


Aldi sampai di rumahnya sepulang sekolah. Aldi tiduran di atas kasur dalam kamarnya. Aldi masih ingat perkataan Dini di depan perpustakaan. Aldi merasa kecewa. Aldi belum tau harus berbuat apa. Aldi merasa gelisah apalagi melihat sikap Deni yang kelihatannya juga menyukai Dini. Aldi tidak ingin kalau nantinya Deni mengungkapkan perasaannya kepada Dini. Aldi terus berpikir mengenai bagaimana solusi dari apa yang dialaminya.


Pada akhirnya Aldi memutuskan untuk menemui Deni. Aldi ingin memastikan kalau Deni memang suka pada Dini atau ada maksud lain kenapa Deni bersikap seperti itu kepada Dini. Deni bangun dari tempat tidurnya dan mengambil HP yang ada di meja kamarnya. Aldi membuka HP dan mengirimkan pesan kepada Deni.


"Den bisa ketemu sekarang?" Aldi mengirimkan pesan kepada Deni. Aldi menunggu balasan dari Deni.


HP Deni berbunyi menandakan ada pesan masuk. Deni mengambil HP nya dan membukanya. Ternyata itu adalah pesan dari Aldi. "Apa ini, tumben dia ngajakin ketemu" lirih Deni.


"Iya bisa" Deni membalas pesan Aldi.


Aldi membuka balasan dari Deni. Aldi langsung bersiap untuk menemui Deni.


Aldi sudah sampai di tempat. Aldi sedang menunggu Deni sendirian. "Al" Deni memanggil Aldi. Aldi menolehkan kepala dan melihat ada Deni yang baru saja sampai.


Deni menghampiri Aldi "Ada Al tumben ngajakin ketemu".


"Aku mau ngomong serius sama kamu" Balas Aldi.


"Ngomong serius, tentang apa?" Deni bertanya kepada Aldi.

__ADS_1


"Dini" Balas Aldi. Mendengar jawaban Aldi, Deni langsung mengerutkan dahinya. Deni tidak percaya ternyata Aldi mengajak nya bertemu karena ada kaitannya sama Dini.


"Kamu suka sama Dini?" Aldi bertanya kepada Deni.


__ADS_2