Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 13


__ADS_3

Aldi dan Dini sedang membaca buku masing-masing namun mereka duduk berdampingan di perpustakaan. Masing-masing menikmati buku yang mereka baca. Mereka hanya fokus pada buku yang mereka baca dan tidak menghiraukan orang yang ada di sekitarnya.


Deni berlari menuju perpustakaan dan terlihat sangat bergembira. Deni terlihat sangat bersemangat dan percaya diri. Sesampainya di perpustakaan Deni mencari-cari keberadaan Dini. Deni menyelusuri ruang perpustakaan untuk mencari Dini. Hingga akhirnya Deni menemukan Dini yang sedang membaca buku bersama Aldi. Aldi tersenyum lega karena dirinya telah menemukan sosok yang dicarinya. Deni berjalan menghampiri Dini dan Duduk di samping Dini tanpa mengatakan apapun kepada Dini dan Aldi. Aldi dan Dini menatap Deni yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Dini serta terlihat berkeringat yang dikarenakan Deni telah berlari dari kantin menuju perpustakaan.


"Loh Den ngapain ke sini?" Dini bertanya kepada Deni sambil berbisik.


"Iya" Balas Deni tersengal-sengal (berbisik).


"Kamu ke sini sambil lari apa kok berkeringat gitu" Bisik Dini. Dini melihat keringat Deni yang bercucuran di muka dan badannya.


"Iya, Din aku mau ngomong penting" Bisik Deni.


"Mau ngomong apa?" Bisik Dini. Deni beranjak dari duduknya dan mengajak Dini keluar bersama "Ayo cuma sebentar". Dini berdiri dari duduknya. Dini menatap Aldi dan berbisik "Al aku keluar dulu ya".


"Iya ngga papa Din" Aldi menganggukkan kepalanya. Deni dan Dini keluar bersama dari perpustakaan. Aldi hanya menatap mereka dari belakang lalu mengabaikannya. Deni dan Dini sudah berada di depan perpustakaan. Deni menoleh ke sana kemari untuk memastikan tidak ada orang. Keadaan di sana sepi tidak ada siswa atau siswi yang berada di depan ruang perpustakaan. Dini mengerutkan keningnya dan menatap Deni yang sedang celingukan celingukan ke sana ke mari.


"Apa si den mau ngomong apa?" Dini bertanya kepada Deni. Mendengar pertanyaan Dini membuatnya merasa ragu. Jantung Deni berdebar-debar semakin kencang dan membuatnya sangat gugup. Deni menjadi tidak yakin untuk menanyakan nya secara langsung kepada Dini kalau sebenarnya Dini menyukai dirinya atau tidak. Atau bahkan bisa saja Dini justru menyukai orang lain.


Dini menatap Deni yang terlihat gelisah dan ragu. "Gimana mau ngomong apa?" Dini bertanya lagi kepada Deni.


Deni masih merasa ragu dan gelisah namun kali ini Deni berusaha memberanikan diri. "Din aku mau bertanya" Ucap Deni sangat gelisah. Deni takut kalau nantinya akan membuat hubungan mereka terasa kaku atau menjadi tidak seperti sebelumnya. Lebih dikhawatirkan lagi kalau nantinya Dini akan menghindari dirinya.


"Iya tanya apa?" Dini bertanya lagi kepada Deni.

__ADS_1


"Din kamu suka sama Aldi" Akhirnya Deni menanyakan hal itu.


"Apa kamu ngga salah tanya ke gitu?" Dini tertawa mendengar perkataan Deni. Deni terlihat tidak seperti biasanya membuat Dini ingin menertawakan Deni karena sikapnya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.


"Aku serius Din kamu beneran ngga suka sama Aldi?" Deni bertanya lagi kepada Dini karena menurutnya jawaban Dini belum jelas dan belum meyakinkan dirinya.


"Beneran lah" Jawab Dini masih tertawa.


"Kalau aku gimana?" Deni bertanya kepada Dini. Mendengar pertanyaan Deni, Dini berhenti tertawa. Pertanyaan Deni membuat hati Dini berdebar. Dini menatap Deni apakah Deni memang benar-benar menanyakan hal itu.


"Apa?" Dini bertanya kepada Deni.


"Kalau aku gimana?" Deni bertanya lagi kepada Dini dengan tatapan serius dan penasaran. Pertanyaan Deni membuat Dini semakin berdebar. Dini menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Aku ke kelas dulu ya udah selesai kan, aku duluan" Dini pergi meninggalkan Deni dengan tergesa-gesa. Jatung Dini berdebar sangat cepat dan Dini juga merasa sangat gugup. Dini tidak ingin menjawab pertanyaan Deni. Dini tidak ingin berbohong atau jujur kepada Deni.


Deni hanya menatap Deni dari belakang. Deni tidak menjawab pertanyaan yang membuat Deni sangat penasaran akan jawabannya. Deni merasa kecewa karena belum mendapatkan jawaban. Namun selain itu Deni juga merasa sedikit menyesal Deni merasa sudah membuat Dini merasa tidak nyaman. Deni pergi ke kelas mengikuti Dini dari belakang.


Aldi berada di samping pintu masuk ruang perpustakaan. Aldi telah mendengar semua perkataan Deni dan Dini tadi. Aldi merasa kecewa akan perkataan Dini tadi.


Riska dan Zen sedang kembali dari kantin menuju ruang kelas. Mereka sampai di depan ruang kelas. Tak sengaja mereka melihat Dini dan Deni yang juga akan kembali ke kelas. Riska dan Zen melihat kalau Deni dan Dini terlihat sangat aneh.


"Din" Riska memanggil Dini.

__ADS_1


"Iya Ris" Dini berlari ke Riska sambil tersenyum berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Kamu baru dari kantin sama Zen?" Dini bertanya kepada Riska.


"Iya, Kamu sama Deni juga dari perpustakaan kan?" Riska bertanya kepada Dini.


"Iya" Balas Dini. Deni sampai di depan ruang kelas dan berkumpul dengan Dini, Riska dan Zen. Deni hanya berdiam dengan raut muka kecewa. Zen melihat raut muka Deni yang terlihat kecewa dan murung.


"Hai bro kamu kenapa, kok mukamu ke gitu" Zen merangkul bahu Deni. Namun Deni hanya terdiam. Riska yang melihat raut muka Deni menyadari kemungkinan apa yang terjadi di antara Deni dan Dini. Riska berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.


"Ya udah yuk masuk sebentar lagi bel bunyi" Riska mengajak Dini, Deni dan Zen untuk masuk ke kelas. Mereka memasuki kelas. Mereka duduk di masing-masing kursi mereka. Namun kali ini agak berbeda Deni dan Dini merasa sangat canggung dan tidak nyaman.


Bel pulang sudah berbunyi.


"Sekian pembelajaran kali Wassalamu'alaikum wr wb" Guru mengakhiri pembelajaran.


"Wa'alaikumsalam wr wb" Semua siswa menjawab salah Guru. Semua sisiwa mengemasi barangnya.


Aldi mengemasi barangnya. Aldi berdiri dari tempat duduknya dan menatap Dini sebentar dengan pandangan kecewa. Aldi yang masih merasa kecewa akibat mendengar perkataan Dini kalau dirinya tidak menyukai Aldi. Aldi pergi meninggalkan kelas dengan perasaan kecewa yang didapatnya.


Riska, Deni, Dini dan Zen berjalan bersama meninggalkan ruang kelas.


"Oiya Den tadi kamu ngapain pergi ke perpustakaan ninggalin aku sama Riska lagi" Zen bertanya kepada Deni. Zen belum menyadari kalau Deni sebenarnya menyukai Dini.

__ADS_1


"Ngga ngapa-ngapain tadi cuma lewat aja sama liat-liat buku sebentar" Balas Deni menutupi kebenarannya. Dini yang mendengar percakapan Deni dan Zen membuatnya merasa salah tingkah lagi. Dini tak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh. "Ahhh" Dini berteriak karena sakit. Dini mengangkat kepalanya dan menoleh ke sekitar. Dini merasa sangat malu karena masih ada siswa lain yang berada di sekolah dan melihat Dini terjatuh.


__ADS_2