
Bel menandakan pulang berbunyi.
"Karena Bel sudah berbunyi. "Ketua kelas untuk bisa memimpin berdoa bersama" Ucap guru.
"Baik Pak" Balas ketua kelas.
"Berdoa dimulai" Ketua kelas memimpin berdoa bersama sebelum pulang. Semua siswa berdoa bersama sebelum pulang.
"Berdoa selesai" ucap Ketua kelas. Semua siswa berhenti berdoa.
"Baik, sepulang sekolah terus belajar materinya dipelajari lagi. Bagi yang belum paham bisa belajar kelompok bersama teman yang lain. Terimakasih selamat pulang hati-hati di jalan.
"Baik pak" ucap semua siswa bersama.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Guru mengucapkan sapa untuk menutup pertemuan hari ini.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab semua siswa bersama.
Guru pergi meninggalkan kelas. Satu-persatu siswa keluar dari kelas. Begitu pula dengan Deni, Dini, Riska dan Zen juga bersiap dan bergegas untuk pulang. Mereka beranjak dari tempat duduknya.
Dini menghadapkan badannya ke arap Riska dan Zen. "Nanti mau belajar kelompok lagi ngga?" Dini bertanya kepada Deni, Riska dan Zen.
"Boleh" Balas Zen.
"Di mana?" Tanya Dini.
"Di rumah kamu aja ya ngga papa Din" Balas Riska.
"Boleh" Balas Dini.
"Deni" Cici menghampiri Deni.
"Iya kenapa?" Balas Deni.
"Sepulang sekolah kamu mau ngga belajar bareng aku soalnya aku masih bingung terkait beberapa materi" Cici mengajak Deni belajar bersama.
Dini sedikit terheran karena cici mengajak Deni untuk belajar bersama. Namun Dini tidak mau ikut campur urusan mereka. Riska yang sudah tau bahwa Deni menyukai Dini hanya menyeringai Cici karena bagi Riska, Cici sangat menunjukan ketertarikannya kepada Deni. Namun Riska yakin bahwa Cici tidak akan bisa mendapatkan hatinya Deni.
__ADS_1
"Tapi nanti aku juga mau belajar bersama Dini, Riska sama Zen" Balas Deni.
"Terus gimana dong" Balas Cici sok kebingungan.
"Kamu ikut kami aja" Balas Deni.
"Tapi aku kesulitan kalau belajar ramai-ramai jadi kurang fokus" Balas Cici.
"Ya udah kamu belajar sendiri aja di rumah" Balas Riska sedikit kesal.
"Tapi aku juga pengin diajarin sama Deni" Balas Cici.
"Ya udah gini aja hari ini aku temenin kamu belajar ya ngga papa" Balas Deni.
Aldi datang menghampiri Dini dan teman-temannya. "Kalo aku ikut kelompok belajar kalian boleh ngga?" Aldi bertanya kepada Dini dan teman-temannya.
"Kamu beneran mau ikut bersama kami Al?" Dini bertanya balik kepada Aldi.
"Iya Din" Balas Aldi.
"Iya boleh-boleh kok Al" Balas Riska ramah.
"Oh iya jadi kok" Balas Deni. Deni merasa resah karena Aldi ikut kelompok belajarnya. Pikirnya bahwa dengan cara itu maka Aldi bisa terus berusaha mendekati Dini. Deni ingin mencegahnya tetapi bagaimana caranya. Akhirnya Deni pun membiarkan dan tanpa mencegah Aldi untuk mengikuti belajar kelompok bersama Dini.
Di samping itu keresahan Deni, Dini juga merasa resah karena Deni dan Cici akan belajar bersama. Berdua pula apalagi Dini juga melihat ada yang aneh sama Cici. Dini merasa bahwa Cici menyukai Deni. Tapi apa yang bisa dilakukan olehnya. Akhirnya Dini pun berusaha mengabaikan hal itu dan berusaha bersikap bodoh amat.
Dini, Aldi, Riska dan Zen sepulang sekolah langsung menuju ke rumah Dini. Mereka belajar bersama di rumah Dini. Di rumah Dini hanya ada mereka berempat. Ayah dan ibunya belum pulang sedang pergi sedangkan Rio juga sedang bermain bersama temennya.
Dini sedang mempelajari sebuah materi. Namun Dini masih kebingungan. Kebingungan itu pun terlihat dari wajahnya. Aldi yang sedang belajar melihat Dini yang tampak kebingungan.
"Kenapa Din" Aldi bertanya kepada Dini.
"Ngga papa Al cuma ini kok agak sulit dipahami hehe" Balas Dini tertawa malu.
"Coba sini aku liat" Ucap Aldi.
"Ini" Deni menunjukan materi itu kepada Deni.
__ADS_1
"Oh ini itu......." Aldi menjelaskan materi itu kepada Dini.
"Ohhh" Balas Dini.
"Gimana udah paham kan?" Ucap Aldi.
"Iya udah makasih ya" Balas Dini.
"Iya sama-sama kalo bingung tanyakan aja sama aku barangkali aku bisa bantu" Balas Aldi.
"Oke" Balas Dini.
Riska yang melihat Aldi terus-terusan memperhatikan Dini membuatnya berfirasat. Riska berfirasat bahwa Aldi mempunyai maksud tertentu mengapa dirinya iku kelompok belajar ini.
Zen yang tak sengaja melihat Riska yang sedang memperhatikan Aldi dan Dini membuatnya itu menjaili Riska. "Tek" Zen menyentil kepala Riska menggunakan pulpen.
"Aww" Balas Riska.
"Sakit, apaan si Zen sakit tau" Balas Riska marah sambil memegang kepalanya kesakitan.
"Haha kamu si nglamun terus" Balas Zen tertawa puas.
"Dasar kamu" Balas Riska kesal.
"Kalian berantem terus, belajar aja sempet-senpetnya berantem" Sambung Dini.
"Iya nih Zen jail banget" Balas Riska.
"Ngga ada Deni rasanya kaya ada yang kurang ya" Ucap Zen.
"Makannya tadi kamu tarik aja biar dia belajar sama kita" Balas Riska ngegas.
"Cici juga kenapa si ngga minta ajarin sama yang lain aja, kenapa harus Deni" Balas Zen.
"Orang Cici maunya sama Deni gimana lagi" Balas Riska.
"Udah-udah lah malah jadi nggosip, lanjutin belajarnya" Balas Riska kesal.
__ADS_1
"Iya-iya" Sambung Zen kesal.
Karena perkataan Riska dan Zen, Dini jadi memikirkan Deni dan Cici. Dini jadi resah lagi karena itu. Dini juga ingin mencegah Deni tadinya, tapi mengapa dirinya harus mencegahnya lagian itu juga hak Deni. Deni mau belajar bareng dirinya atau bareng Cici itu kan terserah Dia. Itu yang selalu dipikirkan oleh Dini.