Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 23


__ADS_3

Keesokan paginya


Kamar Dini masih gelap. Dini masih tertidur pulas di dalam kamar dengan lampu mati.


"Kringggg...... " Alarm Dini berbunyi menandakan sudah lagi dan harus bangun dari tidurnya. Beberapa saat alarm berbunyi namun Dini masih saja tertidur.


Ibu Dini terbangun dari tidurnya karena mendengar suara alarm berbunyi dari kamar Dini. Ibu Dini menguap sambil menggeliat di atas tempat tidurnya. Perlahan Ibu Dini terbangun dari tidurnya. Ibu Dini duduk sebentar sambil membersihkan kedua matanya menggunakan kedua tangannya. Ibu Dini berdiri dan mulai berjalan keluar dari kamarnya. Ibu Dini membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Ibu Dini berjalan menuju kamar Dini. Ibu Dini membuka pintu kamar Dini dan melangkah menuju Dini. Ibu Dini menepuk-nepuk pundak Dini.


"Dini bangun udah pagi" Ucap Ibu Dini sambil menggoyang-goyangkan pundak Dini.


"Dini bangun udah pagi" Lagi-lagi Ibu Dini berusaha membangunkan Dini. Dini masih saja belum tersadar. Lalu Ibu Dini menarik selimut Dini. Namun Dini masih saja belum tersadar. Akhirnya karena agak kesal Ibu Dini mengambil HP Dini yang masih berbunyi di samping telinga Dini.


"Ayo cepat bangun, pasang alarm keras-keras. asih aja ngga bangun-bangun" Ucap Ibu Dini sambil marah-marah.


Dini mulai terbangun. Perlahan Dini membuka kedua matanya. "Apaan si brisik banget" Ucap Dini sambil mencari hpnya yang terus berbunyi.


"Brisi-brisik, bangun-bangun udah pagi" Ucap Ibu Dini sambil marah-marah.


"Iya-iya mah" Balas Dini sambil beranjak duduk di atas tempat tidurnya. "Mamah keluar dulu aja" Ucap Dini sambil menganyunkan tangannya menyuruh ibunya pergi dari kamarnya.


"Awas ya kalau tidur lagi" Ancam Ibu Dini.


"Iya-iya mah" Balas Dini yang masih mengantuk.


Ibu Dini pergi keluar dari kamar Dini. Setelah melihat Ibunya keluar, Dini menurunkan kalinya dan beranjak dari tempat tidurnya. Sini berjalan sempoyongan menuju dapur. Sesampainya di dapur Dini mengambil sebuah gelas lalu mengambil air putih. Dini duduk lalu meminum air itu dengan perlahan.


Dini selesai mandi dan bersiap. Dini mengecek hpnya, ternyata tidak ada pesan apapun. Bahkan Deni yang biasanya mengirim pesan kepada Dini setiap akan berangkat ke sekolah. Kali ini Deni tidak mengirim pesan. Akhirnya Dini berangkat lebih awal dari biasanya dan meninggalkan Deni tanpa memberinya kabar.


"Mah Deni udah bangun apa belum, kok ngga keliatan?" Rangga (Kaka Deni) bertanya kepada Ibu Deni.


"Coba kamu liat di kamarnya" Balas Ibu Deni.

__ADS_1


"iya" Balas Rangga (Kaka Deni). Tangga pergi ke kamar Deni untuk memastikannya. Rangga membuka pintu kamar Deni lalu memasukinya. Tangga berhenti terpaku melotot melihat Deni yang masih tertidur lelap. Rangga geram melihatnya. Rangga menghampiri Deni dengan geram. Rangga mengambil bantal di bawah kepala Deni dengan sangat kencang.


"Deni bangun-bangun udah siang" Ucap Rangga sambil memukul-mukul tubuh Deni menggunakan bantal secara berulang kali sampai Deni tersadar. Lama kelamaan Deni merasa risih karena kelakuan Rangga. Deni bergegas duduk dan dengan cepat merebut bantal yang dipegang oleh Rangga untuk memukuli dirinya. Deni menatap Rangga dengan tatapan kesal.


"Iya-iya aku bangun" Ucap Deni kesal.


"Ya udah cepat berdiri" Balas Rangga tidak percaya perkataan Deni.


Deni kembali merebahkan badannya "Bentar kenapa sebentar lagi" Balas Deni kesal membujuk Rangga.


Rangga melotot geram "Apa nanti, sekarang cepat bangun udah siang".


"Jam 7" Balas Rangga.


Deni terbelalak dan langsung duduk dengan panik " Apa jam 7".


Deni segera mengambil HP nya dengan panik. Deni melihat layar HP untuk melihat sudah jam berapa. Deni terbelalak panik "Jam 7". Deni langsung berlari ke kamar dengan panik ke kamar mandi. Rangga hanya menggeleng-gelengkan kepala memaklumi adiknya.


"Mah aku berangkat" Ucap Deni kepada Ibunya sambil berlari. Deni berhenti di depan rumah Dini untuk menunggu Dini. Namun Deni lupa tidak mengirimnya pesan. Beberapa menit Deni menunggu Dini namun Dini masih belum keluar. Deni menunggu dengan sangat gelisah. Akhirnya Deni memutuskan untuk mengetik rumah Dini.


"Tok tok tok Assalamu'alaikum" Deni mengetuk-ketuk pintu rumah Dini.


"Wa'alaikumsalam" Balas Ibu Dini dari dalam.


Pintu rumah Dini terbuka. Ibu Dini membuka pintu. "Eh Deni ada apa?" Ibu Deni bertanya kepada Deni.


"Bu Dini nya ada?" Deni bertanya kepada Ibu Dini sambil tersenyum ramah.


"Loh memangnya Dini ngga ngabarin kamu?" Balas Ibu Deni.


"Dini tadi sudah berangkat pagi banget lebih awal dari biasanya. Ibu kira berangkat bareng kamu malah" Balas Ibu Dini.

__ADS_1


"Oh gitu ya Bu, ya udah Deni pamit berangkat ya Bu" Balas Deni sedikit terkejut mendengar bahwa kenyataannya Dini meninggalkan Deni. Deni mencium tangan Ibu Dini.


"Deni berangkat ya Bu" Ucap Deni sambil bergegas dari rumah Dini.


"Iya hati-hati" Balas Ibu Deni khawatir. Ibu Dini memperhatikan Deni yang berlari panik.


"Deni pasti panik semoga aja ngga telat" Lirih Ibu Dini.


Deni sampai di sekolah. Deni melihat sekolah sudah sangat sepi. Deni mendesah karena gagal untuk tidak telat. Deni berjalan menuju sekolah dengan malas dan kesal. Terlihat ada beberapa siswa yang sedang dihukum karena telat. Deni sampai di depan pintu gerbang sekolah. Semua siswa yang sedang dihukum melihat Deni yang baru sampai di depan pintu gerbang sekolah.


Guru yang sedang mendisiplinkan siswa melihat Deni yang baru sampai. Guru itu menghampiri Deni dan tampak kesal namun bersabar melihat ada banyaknya siswa yang telat.


"Udah jam segini masih aja ada yang baru berangkat" Ucap Guru itu kepada Deni. Guru itu membukakan pintu gerbang untuk Deni.


"Untung kamu jarang telat jadi Bapak maklumi. Lain kali jangan telat lagi ya, awas kalo telat lagi jam segini ngga ada toleransi" Ucap Guru itu.


"Iya pak" Balas Deni sambil menganggukkan kepala.


"Ya udah sana bergabung sama yang lain" Balas guri itu menyuruh Deni untuk ikut menjalani hukuman bersama siswa yang telat. Deni bergabung dengan siswa yang sedang menjalani hukuman. hukuman itu dilakukan beberapa saat dan biasa dilakukan untuk mendisiplinkan siswa.


Deni selesai menjalani hukuman. Deni memasuki kelas yang sedang pembelajaran.


"Assalamu'alaikum" Ucap Deni ketika hendak meminta izin ke guru.


Semua siswa dan Guru yang sedang mengajar melihat Deni yang terlambat.


"Wa'alaikumsalam" Balas Guru.


"Maaf Bu telat, boleh saya masuk" Deni meminta izin.


"Iya silahkan masuk saya. Tapi lain kali jangan pernah telat lagi ya" Balas Guru mengizinkan Deni untuk masuk dan ikut pembelajaran.

__ADS_1


"Baik Bu" Balas Deni. Deni berjalan memasuki ruang kelas. Deni menatap Dini yang tampak mengabaikan dirinya.


__ADS_2