Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 7


__ADS_3

Dini sudah kembali ke rumah setelah sebentar keluar. Dini masuk ke kamarnya dan berbaring di atas kasur. Dini masih sangat kesal kepada Deni.


"Deni itu kenapa si dia itu benar-benar ngga tau apa pura-pura ngga tau sebenarnya, ngga tau lah terserah" Dini berkata kepada Dirinya sendiri karena masih merasa sangat kesal kepada Deni.


Deni sampai di rumahnya setelah pergi ke rumah Dini untuk menghampiri nya. Deni benar-benar ngga tau apa kesalahannya sampai membuat Dini marah. Deni terus berpikir namun belum menemukan apa kesalahan yang telah diperbuatnya.


Kaka Deni datang menghampiri nya. "Deni kamu lagi mikirin apa si ko mukamu ke gitu banget" Tanya Kakak Deni.


"Aku ngga mikirin apa-apa ko" Jawab Deni.


"Ya udah kalo lagi ngga ngapa-ngapain mending temenin kaka" Ajak Kakak Deni.


"Kemana?" Tanya Deni.


"Potong rambut, rambutku udah panjang banget risih rasanya" Jawab Kakak Deni.


"Sebentar aku mau siap-siap dulu" ~ Kakak Deni. Kaka Deni bersiap dan Deni menunggu Kaka nya yang sedang bersiap. Deni dan Kakaknya pergi ke salon.


Deni dan Kakaknya sampai di rumah setelah pergi ke salon. Mereka duduk di ruang tamu. Deni masih berfikir mengenai apa kesalahan yang diperbuat sampai membuat Dini marah dan bagaimana caranya meminta maaf agar bisa dimaafkan oleh Dini. Deni menatap Kakaknya dan berfikir "apa sebaiknya aku tanya sama Kak Rangga aja ya" Ucap Deni dalam batin.


"Kak kamu pernah berantem sama cewe?" Tanya Deni serius.


Kak Rangga berfikir mendengar pertanyaan Deni. "Iya pernah" Jawab kak Rangga.


"Kenapa, Kamu sedang berantem sama cewe?" Tanya Kak Rangga kepada Deni.


Mendengar pertanyaan Kak Rangga Deni jadi merasa malu. "Ngga lah cuma pengen tanya" Deni pergi meninggalkan Kak Rangga.


Kak Rangga menatap Deni keheranan "Ada apa dengannya".


...*************************...


Keesokan paginya Deni menghampiri Dini. Deni tidak tahu apakah Dini sudah berangkat apa belum karena pesannya belum di bales oleh Dini. Deni menunggu beberapa saat di Depan rumah Dini. Saat itu Ibu Dini keluar dari rumah. Dengan cepat Deni menghampiri Ibu Dini.


"Ibu" Deni memanggil Ibu Dini.


"Loh Deni kok belum berangkat" Balas Ibu Dini.


"Bu Dini udah berangkat?" Tanya Deni.


"Dini udah berangkat tadi agak awal Den" Jawab Ibu Dini.


"Oh ya udah makasih Bu aku berangkat dulu" Jawab Deni.


"Iya hati-hati" Ibu Dini.


"Iya Bu" Balas Deni.

__ADS_1


Akhirnya Deni agak kesiangan berangkat ke sekolah. Untungnya Deni tidak terlambat sampai di sekolah. Sesampainya di kelas Deni melihat Dini susah di dalam kelas. Deni duduk di tempat duduknya. Deni diam dan tidak berkata apa-apa kepada Dini. Bel berbunyi menandakan masuk. Semua siswa mengikuti pembelajaran seperti biasa.


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Siswa yang lain pergi ke kantin. Dini berdiri dari kursinya mau pergi ke kantin. Namun saat itu Deni memanggil Dini.


"Din kita bicara sebentar ikuti aku" Deni mengajak Dini untuk berbicara dengannya. Dini tidak berkata apa-apa dan mengikuti kemauan Deni.


"Kamu sebenarnya kenapa si Din?" Deni bertanya dengan sangat lembut.


"Kenapa si, Aku ngga kenapa-napa kok" Jawab Dini.


"Lalu kenapa kamu terus-terusan mengabaikan pesan dariku" Balas Deni.


"Ngga papa lagi malas aja" Jawab Dini.


"Tuh kan kamu aja keliatan males kalo ngomong sama aku" Deni semakin jelas melihat kalau Dini benar-benar marah kepadanya.


"Udah lah ngga usah dibahas lagi cape Aku ngomongin gini terus, yang lain udah nungguin kita sebaiknya kita kembali". Dini berjalan meninggalkan Deni. Dini masih marah kepada Deni.


Bel menandakan waktunya pulang berbunyi. Deni dan Dini pulang bersama namun sepanjang perjalanan mereka tidak membicarakan apapun. Mereka saling diam sampai tiba di rumah masing-masing.


Waktu sudah sore Dini selesai melaksanakan Sholat Maghrib. Dini melipat mukenah dan sajadahnya setelah melaksanakan Sholat Maghrib di rumah. Dini mendengar ada suara di dapur. Dini pergi ke dapur untuk melihat apa yang didengarnya. Ternyata dia adalah Ibunya yang sedang menyiapkan makanan di kotak makanan. Dini penasaran mengapa Ibunya menyiapkan itu.


"Mah lagi ngapain kenapa makanannya dimasukin di kotak makanan?" Dini bertanya kepada Ibunya.


"Iya Din nanti tolong antarkan ini ke rumahnya Deni ya. Udah lama Mamah ngga berbagi makanan sama mereka" Ibunya Dini memintanya agar mengantarkan makanan ke rumah Dini.


"Udah kamu aja lagian Deni juga temen kamu kan. Sanah berangkat ngga usah banyak alasan". Ibu Dini memaksanya walaupun Dini sudah menolak


"Tapi Mah" Dini membujuk Ibunya sambil cemberut.


"Udah sanah berangkat jangan alasan terus" Ibu Dini tidak mau mendengarkan rengekan Dini. Ibu Dini pergi ke kamarnya.


Akhirnya Dini yang mengantarkan makanan itu ke rumah Deni sendirian. Sepanjang jalan Dini terus merasa gelisah. Dia malah karena harus bertemu dengan Deni.


Dini sampai di rumah Deni. Dini mengetok pintu rumah Deni. "Assalamu'alaikum" Dini mengucapkan salam. Tiba-tiba pintu rumah Deni terbuka.


Deni membukakan pintu rumah. "Dini" Deni kaget karena melihat Dini datang ke rumah Deni.


"Nih Ibuku membuatkannya" Dini menyodorkan kotak makan yang dibawanya. Deni menerima kotak makanan tersebut.


"Siapa itu Den" Ibu Deni bertanya sambil menghampiri Deni.


"Dini ke sini sama siapa" Ibu Deni kaget kerena melihat Dini datang ke rumahnya setelah Maghrib.


"Sendirian Bu" Jawab Dini sambil tersenyum.


"Loh itu apa?" Ibu Deni bertanya karena melihat kotak makan yang dipegang oleh Deni.

__ADS_1


"Oh ini Dini yang bawa mah katanya Ibunya yang memasak untuk kita" Jawab Deni.


"Benarkah ucapkan terimakasih kepada Mamah ya Din" Ibunya Deni menitipkan ucapan terimakasih nya kepada Dini.


"Baik Bu kalau begitu Dini mau pulang dulu ya" Dini berpamitan hendak pulang kepda Ibunya Deni.


"Kamu diantar Deni aja ya masa anak gadis malem-malem pulang sendiri". ~ Ibunya Deni.


"Ngga usah Bu Aku pulang sendiri aja" Jawab Dini.


"Udah dianter sama Deni aja" Jawab Ibu Deni.


"Udah sanah kamu antar Dini pulang" Ibu Deni menyuruhnya mengantar Dini pulang ke rumahnya.


"Iya Mah" Jawab Deni.


Dini tidak bisa menolak akhirnya terpaksa Dini hari pulang diantar oleh Deni. Mereka sama sekali tidak membicarakan apapun selama perjalanan. Sedangkan Deni terus berpikir bagaimana caranya meminta maaf kepada Dini. Akhirnya Deni mengajak Dini berbicara.


"Din" Deni memulai pembicaraan.


"Iya" Jawab Dini.


"Apa kamu ngga cape kita terus-terusan kegini kalo ketemu?" Tanya Deni kepada Dini.


"Kegini gimana" Balas Dini.


"Kamu tau maksud aku kan" Deni berhenti dan melembutkan suaranya.


"Kamu pikir aku seneng apa kalo kita terus kegini" Jawab Dini kesal.


"Aku udah tanya berkali-kali sebenarnya apa salahku. Tapi kamu tetap ngga mau jawab. Ya udah aku minta maaf apapun itu kesalahanku Aku minta maaf". Deni mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.


Dini menatap keseriusan Deni yang sedang meminta maaf. " Ya udah" Jawab Dini. Dini berjalan mendahului Deni.


Deni mengejar Dini "Ya udah berati sekarang kita baikan kan?" Tanya Deni.


"Iya" Balas Dini yang semakin kencang jalannya.


"Baikan nih?" Tanya Deni meledek.


"Iya" Ketus Dini.


"Beneran nih?" Deni meledek Dini lagi.


"Iya" Jawab Dini tersenyum sambil sedikit lari.


"Kalo gitu siapa yang yang terakhir sampai di rumah kamu. Besok harus trakri makan" Deni meledek Dini dan Berlari mendahului Dini. Mendengar itu Dini langsung berlari mengikuti Deni. Mereka tertawa bersama sampai tiba di rumah Dini.

__ADS_1


__ADS_2