Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 22


__ADS_3

Pulang sekolah


Dini dan Deni pulang bersama. Mereka berpisah dengan teman-temannya yang lain ketika berada di depan sekolah. Mereka berpencar untuk pulang ke rumah masing-masing.


Dini dan Deni hampir sampai di halte bus dekat rumah mereka. Lokasi halte bus sudah mulai terlihat. Orang-orang yang duduk mulai berdiri untuk bersiap turun dari bus. Orang-orang yang berdiri mulai berjalan mendekati pintu keluar. Dini dan Deni yang duduk di dalam bus juga ikut berdiri untuk bersiap keluar dari bus. Bus akhirnya berhenti. Orang-orang yang sudah berdiri di sebelah pintu keluar langsung keluar dari bus dengan antri. Orang-orang yang masih berada di dalam bus mulai berjalan menuju pintu keluar bus. Orang-orang keluar dari bus dengan antri dan tertib. Begitu pula dengan Dini dan Deni yang ikut mengantri dengan tertib untuk dapat keluar dari bus.


Orang-orang yang bertempat tinggal atau yang mempunyai kepentingan di daerah tersebut sudah turun semua dari bus. Begitu pula dengan Dini dan Deni. Orang-orang mulai berjalan menuju tujuan mereka masing-masing. Ada yang langsung bertelfonan dengan orang lain ada juga yang terus meneruskan perjalanannya dengan tenang. Mereka semua memiliki tujuan masing-masing.


Dini dan Deni berjalan beriringan menyusuri jalan menuju rumah mereka. Tidak ada orang lain yang sedang berjalan melewati jalan itu. Deni melirik jaket yang dikenakan oleh Dini. "Din aku denger tadi baju kamu tersiram es ya?" Deni bertanya kepada Dini.


"Ohh iya ini tadi ngga sengaja terkena bajuku" Balas Dini.


"Kok kamu pakai jaketnya Aldi?" Deni bertanya kepada Dini karena Deni masih penasaran.


"Iya tadi Aldi meminjamkannya, emm mungkin dia ingin membantuku" Balas Dini sambil terus menyusuri jalan.


"Aldi baik ya tanpa aku minta dia mau meminjamkan jaketnya ke aku" Ucap Dini sambil tersenyum memuji Aldi.


Melihat Dini yang terlihat senang sambil memuji Aldi membuat Deni kesal. "Kegitu aja kamu bilang baik, itu hal yang wajar dilakukan kali" Balas Deni sambil sedikit menggentak Dini karena kesal.


Dini terheran dibuatnya karena sikap Deni yang membingungkan. "Loh kenapa kamu marah apa salahnya memuji teman yang udah mau membantu dengan ikhlas" Balas Dini dengan kesal.


"Ya ngga usah dipuji kegitu cukup bilang terimakasih aja juga udah cukup, berlebihan banget" Balas Deni kesal masih belum mau mengalah.


"Apa berlebihan katamu, apanya yang berlebihan coba memuji teman aja dibilang berlebihan. Dasar aneh" Balas Dini kesal.

__ADS_1


"Kamu bilang aku aneh?" Balas Deni.


"Kamu yang aneh lah cuma dipinjemin jaket aja udah seneng banget pake puji-puji segala lagi" Balas Deni kesal.


"Kamu yang aneh lah masa denger aku muji temen kamu marah, kamu jelas yang paling aneh" Balas Dini kesal. Mereka terus berantem tidak ada yang mau mengalah.


"Dasar baperan" Balas Deni. Deni terus-terusan mengucapkan perkataan yang dirasakan di hatinya tanpa memikirkan terlebih dahulu apakah yang diucapkannya benar atau salah, apakah akan menyakiti perasaan orang lain atau tidak.


"Apa kamu bilang, aku baperan?" Balas Dini sangat marah.


"Iya memang aku baperan tandanya berperasaan ngga kaya kamu yang ngga pekaan ngga punya perasaan" Balas Dini dengan sangat marah. Dini sangat kesal dan marah kepada Deni karena sikapnya yang baginya itu sangat menyebalkan.


Dini berjalan cepat bergegas meninggalkan Deni. Dini tidak ingin melihat Deni. Dini merasa sangat marah kepadanya sampai malas meladeninya lagi. Namun melihat Dini yang marah kepada Deni, Deni masih belum sadar kalau perkataannya sangat keterlaluan bagi Dini. Deni memang tidak berniat berkata seperti itu kepada Dini. Deni hanya kesal melihat Dini yang terlihat mulai menyukai Aldi.


"Dini tunggu kita belum selesai bicara" Ucap Deni dengan keras dan emosi. Namun Dini tidak menanggapi perkataan Deni. Dini sudah terlanjur marah besar dan tidak ingin melihat Deni. Dini terus berjalan meninggalkan Deni. Deni tertinggal di belakang.


"Apa... bisa-bisanya dia mengatai aku kalau aku baperan. Memang dari segi mana aku baperan. Orang muji teman aja kok di bilang baperan. Memang apa salahnya coba muji kebaikan temen. Aneh memang dasar orang aneh. Dia yang aneh buka aku, bisa-bisanya bilang aku aneh. Dia yang aneh lah ngga kaya biasanya. Dasar orang aneh, dasar orang aneh.... " Dini berbicara dengan dirinya sendiri dengan berapi-api karena saking emosinya.


Rio membuka pintu kamar Dini dari luar dan berkata "Brisik".


"Apa kamu bilang brisik dasar orang aneh, ini kamar aku bukan kamar kamu" Balas Dini emosi.


Rio menyeringai sambil memperagakan mengatakan orang gila "Orang gila".


"Apa orang gila, awas kamu ya" Balas Dini bertambah emosi. Dini mengambil bantal dan mengejar Rio dengan sangat emosi. Dini sangat ingin memukul Rio yang menurutnya sangat menyebalkan. Melihat itu mata Rio pun langsung terbelalak dan bergegas untuk kabur menghindar dari Dini yang tampak garang. Rio terus berlari menghindari Dini. Sampai akhirnya Rio tertangkap oleh Dini di depan TV. Dini terus memukul-mukul Rio menggunakan bantal dengan agresif. Sedangkan Rio hanya bisa berusaha melindungi dirinya.

__ADS_1


"Aw aw sakit sakit. Mba udah sakit sakit" Ucap Rio terus menerus berusaha menghentikan Dini yang terus-terusan memukuli Rio sambil melampiaskan amarahnya.


Mamah Dini dan Rio pulang. "Assalamu'alaikum" Ucap mamah sambil membuka pintu rumah. Mendengar suara mamahnya Dini dan Rio terbelalak dan saling menatap. Dini langsung berlari ke kamarnya dan Rio berpura-pura sedang duduk santai di depan TV.


Mamah Dini dan Rio berjalan memasuki rumah. Mamah melihat Rio yang sedang duduk santai dan terlihat sedang menonton TV. "Udah pulang?" Mamah bertanya kepada Rio sambil berjalan menuju kamar mamah.


"Iya udah" Balas Rio terlihat tenang.


"Dini udah pulang belum" Balas Mamah dari dalam kamarnya.


"Udah kenapa?" Rio bertanya kepada mamah.


"Dini mau ngga?" Mamah memanggil Dini sambil menawarkan sesuatu. Mendengar itu Rio langsung melihat ke arah mamahnya.


"Apa mah" Balas Dini dari dalam kamarnya.


"Wah mamah beli apa" Ucap Rio sambil menghampiri mamah.


"Kalo ngga mau ya udah nanti habis sama Rio" Balas mama.


Mendengar itu Dini langsung berdiri dan bergegas menghampiri mamahnya. "Apa itu mah" Balas Dini sambil berjalan menghampiri mamahnya.


"Ihh ayam bakar.... mau... " Ucap Dini kegirangan.


"Uwah keliatannya enak" Ucap Dini sambil mengambil beberapa bagian ayam bakar.

__ADS_1


"Jangan dihabisin, sisain ayah sama kaka belum makan" Ucap mamah.


"Iya mah... " Balas Dini.


__ADS_2