Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 17


__ADS_3

"Nih" Deni memberikan buku tersebut kepada Dini. Dini menerima buku yang sudah diambilkan oleh Deni.


"Iya makasih" Balas Dini.


"Ayo" Deni mengajak Dini untuk membaca buku bersama. Mereka mencari tempat duduk yang kosong. Dari jauh terlihat Aldi sudah duduk sambil membaca buku. Aldi mwngosongkan beberapa kursi disekitarnya.


Aldi melihat Dini dan Deni yang terlihat sedang mencari tempat duduk. "Dini" Aldi memanggil Dini dengan pelan sambil melambaikan tangan. "Sini" Ucap Aldi. Melihat itu Dini dan Deni langsung berjalan menuju Aldi. Dini dan Deni duduk di meja yang sama dengan Aldi. Masing-masing membaca buku yang diambilnya.


Riska dan Zen pergi ke kantin berdua. Mereka nongkrong di kantin bersama.


"Ris Deni kenapa sih ya tumben banget ke perpustakaan" Ucap Zen kepada Riska.


"Kamu pura-pura ngga tau apa emang bener-bener ngga tau" Balas Riska.


"Kenapa apa ada sesuatu?" Balas Zen menjadi penasaran.


"Ngga tau lah kapan-kapan kamu pasti bakal paham sendiri" Balas Riska.


"Apa dong kasih tau, kan aku jadi penasaran" Balas Zen.

__ADS_1


"Deni suka sama Dini" Balas Riska. Spontan Zen berteruak dan berdiri karena kaget "Apa". Riska pun kaget karena sikap Zen. Riska langsung menarik tangan Zen dan merasa resah "Ih brisik kamu, diem ih". "Jangan beritau siapa-siapa duluh, diem aja" Balas Riska.


Riska dan Zen sudah kembali ke kelas. Tetapi Deni, Dini dan Aldi belum kembali ke kelas.


Deni, Dini dan Aldi memasuku pintu kelas. Zen langsung melihat Deni. Zen sangat penasaran apakah yang dikatakan oleh Riska benar atau hanya berbohong.


Zen langsung menghampiri Deni. "Aku mau bicara" Ucap Zen kepada Deni sambil mwrangkul bahu Deni. Mereka berjalan keluar kelas. Deni melepas tangan Zen di bahunya.


Deni berhenti berjalan "Apa si mau bilang apa" Ucap Deni merasa risih karena Zen.


"Kamu serius mau bicara di sini?" Ucap Zen.


"Kamu suka sama Dini?" Zen langsung bertanya kepada Deni. Seketika Deni langsung menutup mulut Zen.


"Kenapa kamu tanya di sini?" Balas Deni berbisik.


"Lah tadi kan kamu yang minta" Balas Zen berbisik.


"Ayo ikuti aku" Balas Deni. Deni mengajak Zen menuju tempat yang sepi dan tidak ada orang. Mereka sampai di tempat yang sepi dan tidak ada orang.

__ADS_1


"Apa" Ucap Deni.


"Den kamu beneran suka sama Dini?" Zen bertanya kepada Deni.


"Kamu kata siapa?" Balas Deni.


"Iya?" Zen kembali bertanya kepada Deni.


"Iya" Balas Deni tanpa menatap mata Zen.


"Kenapa kamu ngga bilang sama aku dari dulu" Balas Zen merasa kesal.


"Aku juga baru tau kalau aku suka sama Dini" Balas Deni.


"Awalnya aku cuma merasa suka kalau ada didekatnya, suka mbantu Dini. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa kesal kalau melihat Dini deket sama cowo lain. Bahkan aku merasa khawatir kalau sampai dia suka sama pria lain" Balas Deni. Deni bingung mengapa dirinya bisa suka sama Dini. Deni masih belum percaya pada apa yang dirasakan dirinya sendiri.


Melihat keadaan Deni sahabatnya. Zen pun ingin membantunya. Zen menghampiri Deni dan merangkul bahunya menggunakan salah satu tangannya. "Ngga papa sobat itu hal yang wajar kok. Apalagi kaya kamu, sahabatan dari kecil lagi. Ya wajar aja si menurutku. Kamu tenang aja aku sebagai sahabat siap untuk membantu kedepannya" Ucap Zen menghibur Deni sebagai sahabatnya.


"Ayo kembali ke kelas" Ucap Zen mengajak Deni. Deni dan Zen pergi menuju ruang kelas. Zen siap membantu sahabatnya apabila membutuhkan bantuannya. Deni dan Zen sampai di kelas. Mereka berhenti sejenak ketika melihat Dini. Zen menatap Deni yang terlihat bingung akan dirinya sendiri.

__ADS_1


Zen menepuk bahu Deni "Tenang sobat aku siap membantu". Deni hanya menatap Zen. Zen berjalan dan duduk di kursinya mendahului Deni. Deni berjalan pelan menuju kursinya dengan lemas.


__ADS_2