
Deni dan Dini pulang bersama. Mereka berjalan beriringan sepanjang jalan. Saat itu Deni memikirkan mengenai Dini meminjam buku milik Aldi. "Din" Deni memanggil Dini.
"Iya kenapa?" Jawab Dini.
"Besok kalo kamu kesulitan terkait materi pelajaran kamu pinjem buku aku aja atau kita belajar bersama seperti biasa di rumah kamu" Deni ingin menjadi orang pertama yang bisa membantu Dini apabila Dini memiliki masalah.
"Kenapa memang?" Dini bertanya kepada Deni.
"Ya ngga papa, kan aku malaikat pelindung" Deni meledek Dini dan lari mendahului Dini. Sudah kebiasaan Dini dari kecil apabila mendapatkan masalah pasti ceritanya kepada Deni. Bahkan mengeluh dan menangis pun di depan Deni. Hal itu selalu membuat Deni merasa kalau dirinya harus membantunya. Dan itu sudah mengikuti jadi kebiasaan mereka sejak kecil. Seolah-olah Dini selalu bergantung kepada Deni dan Deni sebagai malaikat pelindungnya. Oleh sebab itu Deni sering menyebut dirinya sebagai malaikat pelindung bagi Dini.
"Apa, awas kamu ya" Balas Dini kesal dan berlari mengejar Deni.
Aldi sampai di rumahnya. Aldi tersipu memandangi buku yang sedang dipegangnya, buku catatan matematikanya yang sudah dipinjamkan kepada Dini. "Buku ini ternyata lebih berguna dari yang aku duga" Aldi berbicara pada dirinya sendiri sambil membuka-buka buku itu. Aldi lalu berfikir untuk mengirim pesan kepada Dini.
"Din makasih ya udah ngembaliin bukunya hari ini" Aldi mengirim pesan kepada Dini. Aldi menyadari kalau dirinya tertarik kepada Dini.
"Sama-sama Al, makasih juga ya udah mau minjemin bukunya" Aldi menerima balasan dari Dini. Aldi semakin ingin berbincang lebih banyak dengan Dini melalui pesan.
"Udah sampai di rumah? " Balas Aldi.
"Iya baru aja, Kamu udah sampai? " Balas Dini.
"Iya baru aja sampe" Balas Aldi. Aldi merasa ingin semakin dekat dengan Dini bahkan menjadi orang yang terdekat dengan Dini.
Deni sampai di rumahnya dan sedang berada di kamarnya. Deni sedang berbaring di atar kasur karena baru saja sampai dan merasa lelah.
"Deni" Ayah Deni memanggilnya.
Mendengar panggilan dari Ayahnya Deni membuka matanya. "Kenapa Pah" Deni berteriak dari kamarnya. Deni beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Ayahnya yang sedang berada di dapur bersama Ibunya.
"Sana kamu ke rumahnya Dini" ~ Ayah Deni.
"Ngapain?" Deni bertanya kepada Ayahnya.
"Mengembalikan kotak makanan, kemarin belum sempet Mamah kembalikan" Sambung Ibu Deni sambil mengemasi kotak makanannya.
"Oh gitu" Balas Deni.
"Nih jangan lupa bilang terimakasih kepada Ibunya Dini ya" Ibu Deni memberikan beberapa kotak makanan kepada Deni.
"Siap Mah" Deni menerima kotak makanan itu.
__ADS_1
"Deni berangkat" Ucap Deni kepada Ibu dan Ayahnya sambil berjalan keluar. Deni menuju ke rumah Dini sendirian. Tak lama kemudian Deni sampai di rumah Dini.
"Assalamu'alaikum" Deni mengetuk pintu rumah Dini.
"Wa'alaikumsalam" Jawab seseorang dari dalam rumah.
Seseorang membukakan pintu rumah Dini. "Loh Mas Deni ngapain ke sini?" Ucap Rio.
"Mau ngembaliin kotak makanan, oiya sampain juga makasih ya ke Ibumu" Deni memberikan kotak makanan yang dibawanya.
"Oke, sekalian kan?" Rio bertanya kepada Deni.
"Ngga usah aku langsung pulang aja" Balas Deni
"Udah masuk dulu aja itu Mba Dini lagi di dalem" Rio memaksa Deni dan menariknya ke dalam rumah.
"Mba ni Mas Deni dateng" Rio memanggil Dini.
"Apa" Balas Dini berteriak. Dini sedang minum di dapur. Dini menghampiri Rio yang sedang berada di ruang tamu.
"Loh Deni ngapain ke siki" Dini melihat Deni sedang duduk di kursi sofa. Dini duduk di kursi sofa.
"Iya Dini aku disuruh Ibuku ngembaliin kotak makanan" Balas Deni.
"Nih simpan di dapur" Rio melemparkan kotak makanannya kepada Dini.
Dini menangkap kotak makanan yang dilemparkan oleh Rio kepada Dini. "Kenapa ngga kamu sekalian" Balas Dini kesal.
"Mas gimana kabar yang lain di rumah" Rio bertanya kepada Deni dan mengabaikan Dini. Melihat sikap Rio yang sengaja mengabaikannya Dini juga tidak menanggapi sikapnya. Dini pergi ke dapur untuk menyimpan kotak makanan yang baru saja di kembalikan oleh Deni.
"Hey bersikap lebih baik sama Dini kenapa, liat tuh keliatannya lagi kesal" Balas Deni menasihati Rio.
"Biarin aja emang kegitu dia" Balas Rio tidak memperdulikan nasihat dari Deni.
"Kamu ini memang suka banget gangguin Dini" Deni menghela nafas memahami kebiasaan Rio.
"Pertanyaan ku tadi belum dijawab. Gimana kabar keluarga di rumah Mas udah lama aku soalnya ngga main" Rio bertanya kembali kepada Deni.
Dini kembali dari dapur. "Kalo penasaran ya main simpel kan" Sambung Dini.
Rio melirik sinis ke Dini. "Maaf ya aku sibuk" Balas Rio sinis.
__ADS_1
"Haha sibuk apanya, orang kamu sibuknya ngga penting main game terus" Balas Dini kesal.
"Bermain game juga belajar mba, main game kan juga butuh keterampilan" Balas Rio membela dirinya.
"Dasar kamu ya alasan terus" Dini mencubit Rio kesal. Rio kesakitan membela dirinya.
"Udah-udah kalian dari dulu ngga berubah kegitu aja di berantemin" Sambung Deni meninggikan suaranya. Deni berusaha menghentikan pertengkaran kakak beradik itu.
"Udah lah keluar aja yuk Den males di rumah terus" Dini berhenti mencubit Rio. Dini mengajak Deni keluar bersamanya. Dini pergi menuju kamarnya untuk bersiap. Rio hanya mendapat Dini dengan kesal. "Ih orang kok nyebelin banget" Rio berkata kepada dirinya sendiri.
"Udah lagian kamu juga main game terus" Deni menasehati Rio. Rio hanya menatapnya kesal karena tidak membelanya. Rio pergi menuju ke kamarnya dengan kesal.
"Ih jadi orang kok nyebelin banget alasan terus" Dini berkata pada dirinya sendiri di kamarnya. Dini masih kesal kepada Rio. Dini selesai bersiap dan menuju ruang tamu untuk menghampiri Deni.
"Ayo Den" Dini mengajak Deni keluar. Dini masih merasa kesal karena Rio.
"Ayo" Balas Deni. Deni beranjak dari duduknya.
Di jalan Deni dan Dini berjalan beriringan. Deni tidak tahu Dini mau mengajaknya pergi kemana. "Din sebenarnya kita mau kemana si?" Deni bertanya kepada Dini.
"Ngga ke mana-mana kita jalan-jalan aja ngga papa kan?" Balas Dini.
"Iya ngga papa lah, kamu masih kesal sama Rio apa?" Deni bertanya kepada Dini.
"Sedikit" Balas Dini tersenyum.
"Kenapa si kamu tadi marah banget sama Rio?" Deni bertanya kepada Dini.
"Orang dia nyebelin kalo disuruh ngapain pasti ngga mau. Jadi ya aku kesal apalagi liat-liat pasti lagi main game" Balas Dini kesal karena membicarakan Rio.
"Mungkin dia punya alasan kenapa seperti itu" Deni menasihati Dini.
"Kamu pernah bertanya kepda Rio kenapa dia sering main game" Deni bertanya kepada Dini.
"Buat apa bertanya apapun alasannya tetap kalau bermain game terus ya ngga baik" Balas Dini kesal. Deni tidak menanggapi perkataan Dini karena menurutnya dirinya hanya perlu menasehati. Saat mereka berjalan bersama akhirnya mereka sampai di sebuah taman.
"Din kita duduk dulu di taman gimana?" Deni mengajak Dini untuk duduk di taman.
"Boleh" Balas Dini. Mereka duduk berdampingan di sebuah kursi panjang di taman.
"Dini" Seseorang memanggil nama Dini.
__ADS_1
Dini melihat sekeliling mencari tahu siapa yang memanggil namanya. Saat sedang melihat sekelilingnya Dini melihat Aldi sedang berjalan menuju ke arahnya. "Loh Aldi" Ucap Dini. Deni hanya menatap Aldi yang sedang berjalan ke arahnya.