
Deni belajar bersama Cici. Mereka belajar di rumah Cici berdua. Mereka saling membantu satu sama lain. Cici menyukai Deni. Karena itu Cici mengajak Deni untuk belajar berdua. Namun Cici mengajak Deni untuk belajar bersama bukan sekedar belajar, namun Cici juga berniat untuk menyatakan perasaannya kepada Deni. Cici tipikal cewek yang berani lebih dulu mengungkapkan perasaannya kepada orang yang disukainya.
"Deni" Cici memanggil Deni.
"Iya kenapa" Balas Deni.
"Aku mau ngomong penting" Balas Cici.
"Ini penting bagi aku" Lanjut Cici.
"Iya mau bilang apa?" Balas Deni.
"Tapi kamu jawab jujur ya" Balas Cici
"Kamu tanya apa dulu, tergantung pertanyaan kamu nanti" Balas Deni.
"Aku suka sama kamu" Ucap Cici. Deni hanya terdiam karena terkejut akan pernyataan Cici.
"Deni" Cici menyadarkan Deni.
"Oh iya Ci" Ketua Deni bingung.
"Gimana tanggapan kamu?" Cici bertanya kepada Deni.
"Gimana ya Ci, Aku ngga ada niatan untuk pacaran" Balas Deni.
"Kamu ada perasaan sama aku kan?" Cici bertanya kepada Deni.
"Gimana ya Ci sebenarnya aku anggap kamu cuma temen biasa" Balas Deni.
"Loh kok bisa padahal kamu selalu mau bantu aku setiap kali aku minta bantuan ke kamu, kamu pasti mau bantuin aku. Contohnya sekarang kenapa kamu mau belajar bareng aku padahal kamu udah punya kelompok belajar sendiri" Balas Cici berusaha meminta penjelasan.
"Itu karena aku merasa kamu perlu bantuan aku, makannya aku bantu. Sama kaya temen yang juga ke gitu setiap mereka butuh bantuan aku, aku akan berusaha untuk membantu juga" Balas Deni berusaha meluruskan semuanya.
"Tapi walaupun seperti itu kamu mau kasih aku waktu biar bisa membuat kamu tertarik sama aku kan?" Cici bertanya kepada Deni. Cici tidak ingin menyerah untuk mendapatkan hati Deni.
"Maaf ya Ci sepertinya ngga bisa" Balas Deni.
"Loh memangnya kenapa?" Cici bertanya kepada Deni.
"Atau jangan-jangan di hati kamu ada seseorang?" Lanjut Cici. Deni hanya terdiam dan tidak menjawab Cici.
Cici memperhatikan wajah Deni. Dari wajahnya menunjukkan bahwa Deni sedang menyukai seseorang. "Benar, udah ada seseorang di hati kamu pasti". Cici sangat yakin akan hal itu.
"Siapa?" Cici bertanya kepada Deni.
__ADS_1
"Kamu ngga perlu tau" Balas Deni.
"Kita udah kan belajarnya. Kalo gitu aku mau pulang dulu aku juga udah selesai belajar" Balas Deni. Deni merapihkan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
Cici hanya menatap Deni kesal. Namun Cici tetap berusaha untuk dapat mengontrol emosinya. Cici hanya terdiam memperhatikan Deni yang tampak tergesa-gesa untuk pergi dan berusaha menghindari dirinya.
"Aku pulang dulu ya Ci" Deni berpamitan kepada Cici untuk pulang lebih awal. Deni pergi meninggalkan Cici di rumahnya. Deni merasa sangat tidak nyaman karena Cici sudah mengungkit terkait isi hatinya. Deni bergegas untuk pulang.
Ketika Deni melewati rumah Dini tiba-tiba Dini, Aldi, Riska dan Zen keluar bersama dari dalam rumah Dini. Deni terlebih dahulu melihat mereka. Namun Deni hanya diam diam memperhatikan mereka terutama Dini.
Zen melihat Deni yang sedang terdiam sambil memperhatikan. "Deni" Zen memanggil Deni.
"Oyy" Balas Deni sambil melambaikan tangannya. Dini, Aldi dan Riska melihat ke arah Deni karena mendengar suaranya Deni. Dini, aldi, Riska dan Zen berjalan bersama keluar dari rumah Dini. Melihat itu Deni berjalan untuk menghampiri mereka.
"Gimana tadi belajarnya Den sama Cici?" Ucap Zen.
"Ya gitu lah seperti biasa" Balas Deni.
"Loh kok cuma sebentar" Sambung Riska. Riska selalu merasa tidak suka kalau Deni bersama Cici. Karena Cici tau kalau Dini menyukai Deni dan begitu pula sebaliknya.
"Iya soalnya tadi Cici juga ada urusan" Balas Deni tidak mengatakan kejadian sebenarnya.
"Ohh gitu" Balas Riska.
"Kalian juga mau pulang kan?" Tanya Deni.
*********************************
Cici berada di dalam kamarnya. Cici masih sangat kesal karena Deni. Cici masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Deni tidak menyukai dirinya. Terlebih Cici mengetahui bahwa Deni menyimpan perasaan kepada seseorang. Siapa dia wanita yang bisa mendapatkan hati Deni. Cici terus-terusan memikirkan hal itu.
Mendengar pernyataan seperti itu dadi Deni tidak membuatnya menyerah seketika itu juga. Namun Cici berkeinginan untuk terus berusaha mendapatkan hati Deni. Seseorang membuka pintu kamar Cici.
"Mba dipanggil sama mamah" Adik Cici memanggil Cici untuk keluar.
"Iya nanti" Balas Cici tidak ingin diganggu.
"Cepat itu ditungguin mamah"
"Iya sebentar" Balas Cici kesal dengan nada tinggi. Adik Cici hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Adik Cici menutup pintu kamar Cici dan pergi dari kamar Cici.
"Mah katanya nanti" Adik Cici berteriak kepada mamahnya.
Tiba-tiba Ibu Cici membuka pintu kamar Cici. "Cici kalo dipanggil sama mamah ngga pernah diperhatikan ya, nanti-nanti terus" Mamah Cici memarahi Cici.
"Iya-iya mah" Balas Cici kesal dan Cici bangkit dari kasurnya.
__ADS_1
**********************************
Riska dan Zen pulang bersama dari rumah Dini. Riska memukul punggung Zen dengan keras.
Zen kaget dibuatnya dan kesakitan. "Apaan si Ris tiba-tiba mukul keras lagi" Ucap Zen kesal sambil memegang punggungnya kesakitan.
Riska mengacungkan jarinya ke muka Zen. "Kamu ya tadi ungkit-ungkit Deni sama Cici" Ucap Riska kesal.
"Lah memangnya kenapa?" Balas Zen masih belum mengerti.
"Nih Dini itu suka sama Deni" Balas Riska kesal.
"Loh apa iya?" Balas Zen masih belum percaya.
"Iya, bukannya aku udah pernah bilang ke kamu?" Balas Riska.
"Ihh belum lah" Balas Zen kesal.
"Benarkah, Ya pokoknya kegitu lah Dini suka sama Deni begitu pula sebaliknya Deni juga suka sama Dini. Tapi sayang di antara mereka berdua sama-sama ngga berani mengungkapkan perasaannya" Balas Riska.
"Terus kita sebagai teman gimana?" Balas Zen.
"Kita hanya diem aja gitu?" Lanjut Zen.
"Memangnya kita bisa apa?" Tanya Riska kepada Zen.
"Ya bantu mereka lah" Balas Zen.
"Oiya bener kamu" Balas Riska senang mendengar itu.
"Tapi gimana caranya?" Lanjut Riska. Zen berpikir akan hal itu. Apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu Dini dan Deni.
"Ah aku tau" Balas Zen sangat senang.
"Gimana-gimana?" Riska bertanya kepada Zen.
"Sini.......... " Zen membisiki Riska mengenai rencananya. Riska manggut-manggut mendengarkan ide dari Zen.
"Gimana mantap kan?" Ucal Zen.
"Iya boleh-boleh" Balas Riska.
"Pokoknya kita sebisa mungkin membantu kedua teman kita" Ucap Zen bersemangat.
"Tapi apakah dengan cara ini berhasil?" Balas Riska.
__ADS_1
"Berhasil tidak berhasil kita sebagai teman harus tetap berusaha semampu kita untuk membantu merek" Balas Zen bersemangat. Riska dan Zen memiliki rencana untuk membantu Deni dan Dini untuk saling mengungkapkan perasaannya.