Pengakuan Hati

Pengakuan Hati
BAB 15


__ADS_3

"Kamu suka sama Dini?" Aldi bertanya serius kepada Deni. Mendengar pertanyaan Aldi kali ini Deni ingin menjawab jujur. Deni tidak ingin membiarkan Aldi mendekati Dini sesukanya dan membiarkannya begitu saja. Deni merasa kali ini dirinya juga harus mencoba dan berusaha. Dari semua perbuatan pasti akan ada akibatnya. Kali ini apapun akibatnya Deni tetap akan berusaha untuk membuat Dini menyukainya seperti dirinya yang menyukai dirinya.


Deni menatap Aldi dengan tatap tajam dan serius. "Iya aku suka Dini" Balas Deni percaya diri. Mendengar jawaban Deni, Aldi menjadi sedikit geram namun bagaimana pula ini bukan kesalahannya karena memiliki perasaan kepada Dini. Sama halnya dengan dirinya yang memiliki perasaan kepada Dini. Aldi berusaha menahan amarahnya. Menurutnya akan lebih baik kalau mereka bersaing dengan benar.


"Baiklah kita sama-sama memiliki perasaan kepada Dini. cukup bertanding dengan benar. Siapapun yang nantinya bisa memikat hati Dini maka yang lain harus bisa melepaskannya" Balas Aldi.


"Baiklah kedengarannya bagus" Balas Deni.


...*****************************...


Malam di rumah Dini.


Rio sedang tiduran di kamarnya sambil bermain game online. Rio terlihat sangat asik memainkannya. Dini datang dan membuka pintu kamar Rio. Dini melihat Rio yang masih bermain game online. Dini menggelengkan kepalanya tidak percaya kalau Rio lagi-lagi main game online sampe malem.


"Rio tuh kan main game lagi" Ucap Dini. Rio yang sedang asik dan serius bermain game tidak menyadari ada Dini yang sedang berbicara dengannya. Dini jadi merasa kesal dibuatnya.


"Tuh kan main game terus, tidur-tidur udah malem" Dini memukul-mukul Rio menggunakan bantal karena kesal.


"Apa si mba iya-iya ini cuma sebentar. Bentar lagi juga udahan kok" Balas Rio sambil menahan pukulan Dini.


"Beneran loh ya awas aja kalau besok kesiangan lagi dan nyalahin aku lagi ya" Balas Dini kesal.

__ADS_1


"Iya-iya udah sana pergi" Balas Rio kesal. Dini berjalan untuk keluar dari kamar Rio. Rio memperhatikan Dini yang masih terlihat kesalahan akan keluar dari kamarnya. Sesampainya Dini di pintu kamar Rio "Sekalian tutup pintunya".


Dini menatap Rio kesal "Iya". Dini pergi meninggalkan Rio sendirian di kamarnya. Rio kembali tiduran di atas kasurnya dan melanjutkan bermain game. Dini masih merasa sangat kesal kepada Rio. Dini pergi ke dapur dan mengambil segelas air untuk di minumnya.


"Dasar jadi anak kok bisa susah banget diatur" Dini berkata kepada Dirinya sendiri dengan kesal. Dini melihat Ayah dan Ibunya sedang menonton TV.


"Mah itu Rio dibilangin ya lah biar ngga main game terus. Kegitu kan jadinya ngga pernah belajar. Malahan tidurnya jadi malem terus bergadang cuma buat main game" Dini berbicara kepada Mamahnya sambil kesal.


"Kamu kan tau sendiri Mamah sudah sering nasihatin Rio. Main game boleh tapi harus ingat waktu juga" Balas Mamah Dini.


"Ya dibilangin gimana deh mah biar mau nurut" Balas Dini kesal.


"Udah biarin aja dulu Din kasian Rio lagi seneng main game" Ayah Dini membela Rio.


"Ih mamah terlalu baik sama Rio, ngga tau kah terserah mamah" Balas Dini kesal. Dini pergi ke kamarnya. Dini jadi marah sama Rio dan Mamahnya. Mamah dan Ayah Dini hanya menatap Dini yang pergi ke kamarnya dan masih terlihat kesal


...*****************************...


Keesokan paginya ketika bangun Dini langsung pergi ke kamar Rio. Dini berniat membangunkan Rio apabila belum bangun. Dini membuka pintu kamar Rio dan melihat Rio yang masih tertidur. Melihat Rio masih tertidur Dini langsung mendekati Rio dan membangunkannya.


"Rio bangun-Bangun" Dini membangunkan Rio. Dini menggoyang-goyangkan tubuh Rio. Namun Rio masih tidak bangun juga. Dini mengambil bantal yang ada di samping Rio dan memukulkannya ke Rio. Dini memukul-mukul kan bantal ke tubuh Rio termasuk di muka Rio. Namun Rio masih tidak bangun juga. Justru Rio malah membalikkan badan dan melindungi mukanya menggunakan kedua lengannya. Melihat perlakuan Rio, Dini jadi kesal. Pagi-pagi Rio sudah membuat Dini kesal.

__ADS_1


"Oh gini, oke kalo masih ngga mau bangun aku ambil air sekarang ya" Ucap Dini kesal. Namun masih tidak ada respon dari Rio. Dini akhirnya jadi semakin kesal. Akhirnya Dini memutuskan untuk mengambil sedikit air menggunakan gayung. Dini pergi ke kamar mandi untuk mengambil air dan kembali ke kamar Rio dengan membawa air yang akan digunakannya untuk membangunkan Rio.


"Nih aku udah bawa air dari kamar mandi ya. Aku kalau masih belum mau bangun aku siram sekarang ya" Ucap Dini kesal. Namun masih belum ada respon dari Rio. Akhirnya Dini mencelupkan tangannya ke dalam gayung yang berisi air dan mengambil sedikit air menggunakan salah satu tangannya. Dini meneteskan air itu ke muka Rio. Rio pun langsung mengelap air tersebut menggunakan tangannya namun masih belum mau bangun. Akhirnya Dini mengambil lebih banyak air dan menjatuhkannya di atas mukanya sampai bantal dan kasur Rio basah. Rio kaget dibuatnya. Rio langsung bangun dan duduk di atas tempat tidurnya karena terkena air yang cukup banyak di mukanya.


"Apaan si Mba dari tadi ganggu terus" Bentak Rio kesal.


"Apaan... Ngga salah kamu tanya ke gitu. Bangun-bangun sekolah masih untuk aku masih mau bangunin" Balas Dini kesal. Udah cepat bangun awas ya kalau tidur lagi" Ucap Dini kesal.


"Aku mau ke kamar mandi dulu. Bangun loh ya awas aja kalau sampe tidur lagi" Ucap Dini mengancam.


"Iya-iya pergi aja sana" Bentak Rio kesal. Dini pergi meninggalkan Rio. Rio bangun dari tempat tidurnya dan memandangi kasurnya yang terlihat sedikit basah akibat terkena air.


Dini dan Rio sudah sarapan. Dini keluar dari kamarnya sambil menggendong tas. Begitu pula dengan Rio yang keluar dari kamarnya sambil menggendong tas dan akan berpamitan untuk berangkat sekolah. Dini terdiam dan menatap Rio yang akan berpamitan untuk berangkat sekolah. Melihat Dini yang memandanginya Rio pun ikut memandangi Dini.


"Apa ngeliatin aku terus" Ucap Rio sinis.


"Kamu harus berterimakasih kepadaku kan. Kalo bukan karena aku kamu pasti berangkat telat lagi" Balas Dini sinis. Rio tidak ingin mengatakannya tapi Rio merasa bersyukur karena kali ini Rio tidak telat lagi.


"Iya makasih" Ketua Rio.


"Oke sama-sama" Balas Dini. Dini dan Rio menghampiri Mamah dan Ayahnya untuk berpamitan. Mereka keluar dari rumah bersamaan. Ketika keluar dari rumah Dini dan Rio melihat Deni yang sudah berada di depan rumahnya. Dini tersenyum dan memanggil Deni "Deni". Deni tersenyum melihat Dini.

__ADS_1


"Udah siap?" Deni bertanya kepada Dini dengan tersenyum ramah.


"Tentu saja" Balas Dini tersenyum ramah.


__ADS_2