
Mereka memilih duduk di meja pendek tanpa kursi, hanya ada bantal duduk saja.
"Heh kenapa kita gak duduk di sana aja," Rendi menunjuk meja yang ada kursinya,
"Kita mau makan nasi liwet, enaknya duduk seperti ini." Ujar Rita lalu duduk.
"Kamu pilih apa yang mau kamu makan," Sembari menyimpan menu yang di simpan rapih di tengah meja ke hadapan Rendi,
Rendi membolak balik melihat menu yang ia rasa semua bukan seleranya,
Mereka sudah memanggil pelayannya untuk memesan.
"Ren, mau pesan apa?" Tanya Anggi.
"Mmm gak tahu, sama aja deh kayak Lho," jawabnya bingung masih membolak balik menu, entah apa yang ia mau makan di sana.
"Hah serius Lho?" Tanya Rita tertawa kecil tak percaya.
"Nasi liwetnya tadi, untuk empat orang ya,"
"Minumnya?" Tanya Anggi lagi
"Jus mangga deh,"
"Ok mbak itu aja,"
Tak lama pesanan mereka pun siap,
Mbaknya menyimpan selembar daun pisang di tengah meja lalu menumpahkan nasi liwetnya yang terasa sekali wangi rempah - rempah yang menggiurkan, dan menyimpan lauknya secara terpisah untuk di tumpahkan sendiri oleh pelanggan.
Rendi melongo melihat yang di lakukan mbak itu, di tambah Anggi dan kedua temannya yang menumpahkan beberapa lauk pauknya di tumpukan nasi itu,
"Hah apa - apaan ini?" Tanya Rendi merasa aneh,
"Ya beginilah nasi liwet, di nikmati bersama dalam satu daun pisang, tak lupa makannya pake tangan" seraya mencuci tangannya yang sudah di siapkan teko berisi air dengan wadah untuk menampung air kotornya.
"Hah," ia masih bengong melihat mereka makan dengan lahap pake tangan.
"Heh cepat makanlah," ucap Anggi menunjuk air untuk mencuci tangannya dengan tatapan.
"Ini sangat enak dan nikmat lo" ujar Rita begitu sangat menikmati nasi liwetnya.
Rendi menelan ludah sendiri karena merasa jijik melihat cara makan mereka.
Terdengar suara cacing bergulat di perut Rendi yang memang belum makan, segera Rendi memegang perutnya itu.
"Sudah cepat makan, kamu bilang akan makan apa yang kita pesan."
"Huh, baiklah untuk kali ini saja," segera Rendi membersihkan tangannya lalu perlahan mendekati nasinya,
"Apa ada sendok, aku makan pakai sendok aja," menarik lagi tangannya,
"Pakai tangan lebih nikmat, cobalah!" Bujuk Anggi
__ADS_1
Rendi pun terpaksa menyomot nasi dengan kaku, ya Rendi tidak bisa berbohong nasi liwet itu nikmat juga, Anggi yang memperhatikan Rendi makan pun tersenyum, karena terlihat ia mulai menikmatinya dan mulai diam tidak mengeluh lagi.
Setelah mereka selesai makan, mereka segera naik mobil,
"Kita mau kemana?" Tanya Rendi yang memang tidak tahu harus membawa mereka kemana,
"Mmm ke mana ya? Ke tempat di mana banyak barang atau hadiah yang mau di beli, kamu tahu kan?" Bahkan mereka pun bingung mau mencari di mana hadiah untuk Luna.
"Hah, hadiah?" Seoleh bingung,
"Iya, hadiah untuk Luna," ujar Anggi memperjelas
"Okh, jadi kalian juga di undang sama Luna ya?"
"Iya, tapi kita bingung mau kasih kado apa," jawab Rita tidak bersemangat,
Tak terasa Rendi pun memarkirkan mobilnya di sebuah mall yang besar, bisa di bilang paling besar di kota itu.
"Kenapa lho markirin mobilnya, lho boleh balik kok, kita gak akan minta tolong lho jemput lagi." Ujar Anggi.
"Gue juga sekalian mau cari hadiah buat Luna," seraya keluar dari mobil.
Mereka keliling - keliling mall dari lantai bawah sampai atas, entah apa yang mau mereka beli.
"Apa kita beli baju saja,"
"Tapi rasanya dia banyak baju deh,"
"Gini aja deh kita beli baju, tas dan sepatu." Ide Gina boleh juga,
Gina mengambil hpnya dan melihat untuk mencari tahu tentangnya di sosial media
"Nah ketemu, 27 ukurannya."
"Kalau baju, sepertinya dia punya tubuh seperti Anggi deh," pikir Rita di setujui oleh mereka
Mereka pun segera memasuki toko ternama, karena gak mungkin membeli pakaian murahan untuk di berikan pada Luna,
"Wahhh mahal - mahal sekali," dompet mereka seperti di peras seketika, membuat mereka lemas tak bersemangat,
Akhirnya mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari meskipun dengan perasaan tidak berdaya,
"Ren lho mau beli apa?" Tanya Anggi
"Gii kita ketoilet dulu nih, Lho mau ikut gak?"
" Enggak deh jangan lama - lama ya!" jawab Anggi dengan terus mengikuti Langkah Rendi.
Sampai di toko emas putih Rendi masuk ke dalam di ikuti Anggi yang seolah takjub melihat emas - emas yang cantik dan berkilauan itu.
"Selamat datang di toko emas kami, bisa saya bantu anda mau mencari apa?" Ucap pelayan toko emas itu sopan, rendi hanya tersenyum manis dan melihat - lihat,
"Wahh cantik sekali!" Tak sadar Anggi mengucapkannya dengan nada tinggi saking terpukaunya pada satu cincin yang di pajang terpisah,
__ADS_1
"Ya nona, selera anda bagus sekali ini adalah cincin yang terbatas bahkan di toko ini pun cuman ada satu, jadi anda beruntung jika pas di jari anda," sembari ingin mengambilnya.
"Ahhh tidak tidak, aku hanya melihatnya saja kok," mana ada uang aku untuk membelinya, pasti mahal bantinnya.
"Coba sini aku lihat," pinta Rendi, segera pelayan itu memberikan cincin itu pada Rendi.
"Mmm ukuran jari luna?" Memutar - mutar dan memperhatikan cincin itu "coba kamu pakai, apa Luna memiliki jari yang sama denganmu?" Sembari memakaikan nya di jari manis anggi
"Pas,"
"Apa kamu mau beliin Luna emas?" Tanya Anggi bengong
"Cantik sekali!" Melihat jarinya yang sudah terpasang cincin,
"Wah mbak beruntung sekali, cincin itu pas di jari manis mbak"
Anggi hanya tersenyum, lalu melepas cincin itu dan di berikan pada Rendi,
"Aku juga gak tahu ukuran jari Luna," Rendi pun mengambil dan memberikan pada pelayan itu,
"Tolong pilihkan gelang ini," menunjuk barisan gelang rantai.
"Yang ini cantik, simple namun elegan," tunjuk Anggi pada salah satu gelang itu, kemudian anggi melangkah ke arah lain melihat - lihat lagi,
"Ok, yang ini mbak." Tanpa pikir panjang Rendi memutuskan gelang yang di tunjuk Anggi untuk hadian Luna.
Anggi pun menelpon rita untuk menanyakan keberadaan mereka,
"Halo rit, kamu dimana Rendi sudah dapat kado untuk luna, ayo kita balik!"
"Kita tadi cari kalian, tapi karena haus kita cari minuman dulu," jawab rita
"Ya sudah, kita bertemu di parkiran mobil ya." Seraya menutup panggilannya.
Anggi dan Rendi pun berjalan menuju parkiran dimana Rendi memarkirkan mobilnya.
Begitupun Rita dan Gina segera menuju parkiran, mereka bertemu dan segera masuk mobil Rendi.
Belum sempat Rendi menancapkan gas mobilnya, mereka di kejut kan oleh Relin yang berlalu dengan merangkul pria tua, mereka tertawa kecil dan terlihat mesra.
"Relin, apa itu benar - benar dia?" Mereka terpaku seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat,
Relin dan pria tua itu pun masuk ke dalam mobil mewah dan pergi entah kemana, mereka tak ingin tahu lagi
"Heuh om hendra, jadi teman kalian itu pacaran sama om om pengusaha kaya ya." Ujar Rendi tersenyum licik
"Heh jaga bicaramu, jangan sampai Lho bergosip di kampus ya," ancam Anggi dengan tatapan membunuh.
"Betul, mana tahu kan kalau itu mungkin saja memang om nya Relin atau bokapnya atau siapanya gitu." Kata Rita menyangkal agar Rendi tak bergosip, padahal di pikirannya pun sama dengan Rendi.
Rendi mendengar itu terkekeh
"Itu om hendra, pengusaha sukses teman bokap gue juga, yaa bisa di bilang dia partner kerja bokap gue, gue bahkan sesekali bertemu dengan keluarganya," Ucap Rendi yang merasa tahu betul keluarga om hendra seperti apa.
__ADS_1
"Tenang aja, gue gak akan bergosip kok," kata Rendi karena Anggi terus menatapnya sinis.