
Suasana pesta dansa yang begitu romantis, ya untuk pasangan kekasih pastinya.
Anggi sangat canggung dan kaku karena ini pertama kalinya ia berdansa, terlebih lagi bukan dengan seorang kekasih, namun Rendi yang sudah cukup lihay bisa menuntun Anggi, sampai Rendi tak sadar terus memandangi Anggi.
Cantik juga ni cewek, batin Rendi terus menatap Anggi terpesona, Anggi sedikit mendongakkan kepalanya, sejenak ia memandang Rendi lalu sadar dengan tatapan Rendi yang penuh makna, ia pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Kenapa dia menolak ajakan Luna? Padahal aku rasa dia menyukai Luna, mm mungkin karena Luna sudah tunangan.
Luna yang menjadi putri di pesta nya itu, justru memiliki suasana hati tidak begitu baik, ia merasa kesal melihat Rendi dan Anggi yang terlihat mesra.
Sementara Rita dan Adit berdansa jauh dari kata romantis, mereka justru malah bertengkar saling menyalahkan karena keduanya sama sekali tidak bisa berdansa.
Setelah musik berhenti, semua orang pun menghentikan dansa dan melanjutkan ke acara selanjutnya.
Sampai waktunya tiba tak terasa jam sudah menunjukan pukul 12:00 pesta ulang tahun sudah selesai.
"Anggi lho sama Rita pulang bareng gue aja," kata Rendi menawarkan tumpangan,
"Mm boleh," Jawab Anggi menyetujui tawaran Rendi,
Di dalam mobil suasana sangat hening di tambah Rita tidur pulas terlentang di kursi belakang karena kecapean,
Anggi pun memberanikan diri untuk memulai percakapan, dan menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran selama di pesta ulang tahun Luna.
"Mm boleh aku tanya sesuatu gak?" Tanya Anggi berhati - hati,
"Yaa tanyalah!" Jawab Rendi pandangannya tetap fokus pada jalan,
"Kamu sama Luna, sebenarnya saling menyukai ya?" Tanya Anggi hati - hati,
Sejenak Rendi diam tersenyum sinis lalu memandang sekilas ke arah Anggi, Anggi pun sadar kalau seharusnya ia tidak menanyakan hal bodoh itu,
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Tanya Rendi heran,
"Mmm yaa, karena kelihatannya kamu cemburu setiap melihat Luna sama pria lain, begitupun Luna yang jadikan kamu orang spesial di ulang tahunnya, tapi kenapa kamu menolak tawaran dansa dengannya?"
"Benarkah, apa ia aku terlihat cemburu padanya?" Ni cewek rupanya bisa kepo juga, apa memang diam - diam dia memperhatikan gue ya! Hmm
"Ahh itu sangat jelas, sudahlah lupakan," Kenapa juga aku harus penasaran dan bertanya itu padanya, aisss memalukan,
Anggi pun mengalihkan pandangannya ke arah jendela, tidak ingin membahasnya lagi.
"Luna mantan pacarku, kita pacaran cukup lama dari SMA, lalu Luna di jodohkan oleh orang tuanya, dia bilang terpaksa tapi aku lihat dia bahagia, lagi pula Luna bisa saja menolak perjodohan itu, ku pikir itu hanya alasan." Entah kenapa Rendi ingin menjelaskannya kepada Anggi,
__ADS_1
"Okhh jadi begitu." Anggi yang sudah cukup puas mendengar penjelasan Rendi pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela tak ingin bertanya lebih lagi.
Tunggu, kalau Luna mantannya, semestinya dia tahu ukuran jari Luna, mm sudahlah gak penting juga. Pikir Anggi.
***
Pagi harinya di kampus
Terlihat Luna sangat bahagia dengan mengenakan tas baru yang selama ini ia inginkan, tas limited edition dari paris,
"Relin," Teriak Luna menghampiri terlihat sangat bahagia, Relin dan teman - temannya menghentikan langkah mereka,
"Relin terima kasih, kamu tahu aja apa yang ku inginkan," Memeluk erat Relin sangat berterima kasih,
Anggi dan yang lain saling menatap heran, sementara Relin merasa sesak dengan pelukan Luna,
"Lun lepasin, Gue kagak bisa napas nih," teriak Relin mengernyitkan alis dan matanya,
"Eh iya sory sory," melepaskan pelukannya
"Tapi aku benar - benar makasih ya, kok kamu bisa tahu dan bisa dapatkan tas yang aku incar selama ini?" Tanya Luna bahagia,
"Iya sama - sama, Mmm (menggaruk kepala yang tidak gatal) sory ya Lun kita buru - buru masuk kelas," Ujar Relin mengalihkan pembicaraan, lalu menghampiri teman - temannya dan mengajak mereka segera pergi,
Ketika Luna hendak mengikuti Relin, langkahnya terhenti karena Alexa dan Disa memanggilnya,
"Kelihatannya kamu akrab sama cewek penggoda itu," Tanya Alexa penasaran dengan sikap Luna yang tak biasa,
"Aku cuma mengucapkan sangat terima kasih sama Relin, lihat nih." Memamerkan tas pemberian Relin dengan sangat bahagia,
"Wahhhh ini tas dari paris kan, mahal dan susah di dapatkan," ucap Disa takjub dengan tas itu,
"Maksud lho dia kasih kado tas ini?" Tanya Alexa, Luna hanya mengangguk mengiyakan,
"Jadi tu cewek minta ATM sama pengusaha itu untuk membeli tas branded ini, heh." Ujar Alexa tersenyum sinis,
"Maksud Lho?" Tanya Luna tak mengerti,
"Ya ampun saking senangnya, lho sampe lupa berita terupdate kampus hari ini,"
Segera Luna mengambil hp dari tasnya lalu melihat berita kampus terbaru hari ini, ia cukup kaget karena beritanya memperlihatkan photo Relin yang yang mengambil kartu ATM dari pengusaha yang wajahnya di bloor.
"Tapi gue gak perduli dari mana dia dapat uang, yang penting gue seneng banget bisa mendapatkan tas ini." Memeluk tasnya bahagia.
__ADS_1
Di sisi lain
Relin dan teman - temannya tak kalah terkejut dengan berita itu,
"Relin, aku pikir kita itu temenan udah cukup lama, jadi seperti apapun kamu, seharusnya kamu jujur aja sama kita!" Ucap Rita meyakinkan,
"Iya Lin, kita bisa hargai kejujuran lho, kita gak bisa larang lho, tapi sebagai teman mungkin kita cuma bisa nasehatin dan memberi saran." Sambung Anggi,
"Apapun keputusanmu, kita tetap akan mendukungmu kok." Sambung Gina juga,
"Kalian benar, maaf ya mungkin memang sudah saatnya aku jujur sama kalian, Aku.."
Trt,trt,trt
panggilan masuk dari hp Relin, segera Relin mengambil handponenya, "Gilang," ia pun segera mengangkatnya.
"Ya halo, mm ya baiklah," menutup kembali teleponnya, dan menatap teman - temannya.
"Gilang mau bertemu, aku pergi dulu ya,"
"Ya Gilang pasti marah, sudah sana!" Ujar Anggi,
Relin mengangguk dan segera bergegas menemui Gilang yang menunggunya di lapangan basket kampus,
Sesampainya di lapangan basket, terlihat Gilang sedang bermain basket sendiri dengan raut wajah yang sangat kesal penuh amarah.
Ketika Gilang melihat Relin sudah berdiri di tepi lapangan, ia pun memasukan bolanya ke ranjang dan menghentikan permainannya,
Segera Relin mengambil handuk kecil dan air botol Gilang di kursi,
Gilang menghampiri dan duduk di kursi itu lalu Relin memberikan handuk kecil untuk mengelap keringat Gilang, dan membukakan tutup air botol tadi kemudian memberikannya pada Gilang.
Tidak seperti biasanya Gilang hanya menerima tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan ia tidak memandang Relin sedikit pun, Melihat tingkah Gilang, Relin memulai obrolannya.
"Kamu mau membahas tentang berita kampus hari ini kan?" Tanya Relin menebak, karena sudah pasti Gilang ingin membahas itu dan sangat marah dengan berita itu.
"Huh," Menghela napas sembari menaruh botol air di sebelahnya,
"Aku selalu percaya kamu kan, aku selalu berusaha percaya, aku sudah berjanji akan mempercayaimu." Ujar Gilang menatap ke arah Relin yang sedang menutup botol yang Gilang simpan tadi.
"Ya sudah, aku bisa jelasin semuanya kok," ucap Relin merasa semakin bersalah.
"Sudahlah gak usah, aku percaya kamu kok, aku ganti baju dulu ya," Ucapan Gilang sangat jelas berbanding terbalik dengan isi hatinya yang kecewa dan sudah tidak mempercayai Relin.
__ADS_1
Gilang berdiri bengambil barangnya lalu pergi meninggalkan Relin untuk ganti baju, Relin hanya diam menatap ke pergian Gilang.
Gilang memang selalu mempercayai Relin meski banyak gosip buruk tentang Relin, dia bahkan tidak mengekang dan selalu ada untuk Relin, itu yang membuat Relin merasa nyaman bersama Gilang.