
Lusiana mulai jenuh dengan semua yang terjadi pada hidupnya ini.
Mencoba mengabaikan, tapi hati masih memikirkan. Dari yang ia rasa hingga perasaan yang mulai merindu.
Mulut berkata tidak, tapi di hati berbeda rasa. Tuan Andreas. Sedang apa kau saat ini. Apakah kau juga merindukan ku.
Aku ingin saat ini di pelukmu. Merasa hangat belaian kasih sayangmu.
Anak mu menginginkan, selalu bersama mu.
Walau kini ada sosok yang mulai mendekatiku.
Tapi hati tak dapat di paksakan. Rindu ini hanya untuk mu sayang. Sambil menunduk, mengelus perutnya yang sudah sangat terlihat.
Tingga menunggu hari untuk melihat dunia.
Tapi raga, masih terpisah. Lusiana sungguh menderita saat ini.
Ia yang mulai membayangkan, kini keluarlah cairan bening itu.
Berharap bisa bertemu, tapi harapan, tinggallah harapan.
Dan disaat Lusiana yang termenung. Datang lah seorang pelayan, sambil membawakan sarapan untuknya.
Lusiana menyambut dengan senyuman.
Melihat pelayan, dan berusaha menanyakan.
Ini dimana ?
Maaf Nyonya ! Saya tidak bisa memberitahu nyonya.
Tapi Tuan berpesan, agar nyonya menghabiskan sarapan ini.
Ah....iya ! Kalian pasti tidak berani memberitahu ku. Dan sekarang aku ingin keluar dari ruangan ini.
Aku bosan terus berada didalam ruangan ini.
Tidak bisa Nyonya. Tampa seizin Tuan, Nyonya hanya bisa berada didalam kamar ini.
Dan kami diperintah, hanya untuk menuruti segala keperluan Nyonya saja.
Selebihnya, keputusan diambil oleh Tuan ! Nyonya, sambil menundukkan kepalanya, pelayan tersebut, masih hormat kepada Lusiana.
Apa ..! Lusiana nampak terkaget.
Ia sungguh bisan selalu di kurung didalam sebuah kamar ini.
Tidak bisa bebas, membuatnya ingin marah. Ditambah mood karna hamil, ia oun akhirnya berotak dengan tidak mau menyantap sarapan yang di bawakan okeh pelayan tadi.
Sampai sang pelayang bingung, dan kini, ia mulai menelpon Tuan Carlos, mencoba melapor.
Hingga membuat Tuan Carlos mengeram marah. Dan berkata.
Paksa dia ! Sampai dia pulang dan saya menemukan dia belum menyantap sarapannya.
Kamu lebih baik kemasi barang-barang mu itu.
Membuat sang pelayan bergidik ngeri dan takut. Hingga ia berucap.
__ADS_1
Baiklah Tuan. Lalu sambungan telpon segerah terputus.
Nyonya....saya mohon, segeralah santap sarapannya, atau saya yang akan mendapat imbasnya Nyonya.
Kalau tidak kasihan sama keluarga saya nyonya, saya mohon. Saya tau nyonya orang yang baik hati.
Maka dari itu, saya sangat memohon sekali nyonya. Sambil menunduk, sang pelayan sangat memohon.
Hingga membuat Lusiana tidak tega, dan akhirnya menyantap sarapan tersebut.
Setelah selesai, sang pelayan segerah mengambil fotonya.
Segerah mengirim ke Tuan Carlos, sebagai bukti, kalau tugasnya telah selesai.
Tuan Carlos, yang saat ini sedang meeting bersama kliennya.
Merasa puas, setelah menerima kiriman pesan tersebut.
Ia tau lusiana tak akan bisa melawannya saat ini.
Selama ia masih di genggaman tangannya. Ia tidak akan melepaskannya. Dan akan selalu membuatnya, selalu disisinya.
"Dan ditempat lain, Tuan Andreas masih menyelidiki benda yang dia dapat dari tempat menyergapan sang istri kemarin.
Ia masih penasaran. Benda tersebut seperti ia melihatnya. Tapi dimana dan siapa yang pernah menggunakan ini.
Ia nasih larut salam pikirannya. Hingga pekerjaan saat ini pun menjadi banyak yang terbengkalai.
Sang asisten mencoba mengingatkan. Barulah Andreas tersadar dan kembali fokus.
Tapi tak lama, pikiran masih bersama sang istri. Bagai ada telepati.
Barulah setelahnya mereka tersadar. Disaat Andreas yang kini di ingatkan sang asisten untuk segerah keluar dan istirahat, untuk sarapan siangnya.
Begitu pun Lusiana, yang di kaget kan kedatangan dari Tuan Carlos, dan mengajaknya sarapan siang bersama didalam kamar ini.
Lusiana dengan engan Lusiana. Menyantap sarapannya.
Iyah ...kalau bukan karna ancaman sari Tuan Carlos, mana mau Lusiana dengan mudah nya menuruti semua perkataan Tuan Carlos.
Tuan Carlos mengancam, akan semakin membuatnya sengsara, ditambah ia yang sedang mengandung ini.
Membutuh kan banyak perawatan, atau bayi yang didalam kandungan nya pun akan tertimpa masalah.
Dan akhirnya. Lusiana hanya bisa pasrah. Mengikuti sarapan bersama, dengan menerima kelembutan Tuan Carlos.
Layak nya benar sepasang suami istri. Mereka tampak mesra dipandang mata orang lain.
Tuan Carlos merasa puas. Hingga ia mengecup kening Lusiana.
Lusiana hendak mengelak. Tapi ditahan Tuan Carlos dengan cengkraman di wajahnya.
Membuat ia, tak bisa berkutik dan hanya bisa menahan amarahnya saja.
Dengan perasaan senang Tuan Carlos kini melenggang keluar, dan kembali menuju kantornya.
Ia tidak perduli saat ini kalah tender dari Andreas.
Yang terpenting baginya adalah. Pujaan hatinya saat ini, ada bersamanya.
__ADS_1
Dan itu milik rivalnya sendiri, serta membuat sang rival tertekan akan tak dapat bersama pujaan hatinya itu.
Membuat kepuasan pada dirinya sendiri. Dan membuat sang rival merasakan, apa yang ia rasakan selama ini.
Itu juga suatu kesenangan yang tak bisa dikatakan.
Sedang kan Tuan Andreas koni sedang menyantap sarapannya disebuah restoran ternama.
Ia nampak tidak bersemangat untuk sarapan, hingga memutuskan untuk segerah pulang, kembali kekantornya.
Dan saat ia berada di kantor. Andreas melihat beberapa kabar saham yang naik turun. Diantaranya, antara dia dan Tuan Carlos, yang saat ini masih menjadi saingan ketat.
Hingga ia melihat nilai saham nya yang mulai normal. Dan diatas dari semuanya.
Ia mulai nampak lega, sampai matanya kini tampa sengaja menuju ke suatu benda.
Aaahhhhh.....benda itu, bukan kah benda itu.
Dimana benda itu ! Andreas mulai mengobrak abrik laci kerjanya. Mencari benda yang sama seperti yang ia lihat saat ini.
Ia sungguh yakin, benda tersebut sama persis, dan sering dipakai oleh orang ini .
Bila benar, besar kemungkinan. Orang inilah pelakunya.
Dengan gelisah dan sangat kesal, karena benda tersebut sangat susah di temukan.
Hingga Andreas memekik sang asisten dan bertanya.
Dimana benda itu ?
Sang asisten baru menjawab, kalau benda tersebut tertinggal di Mansion nya.
Andreas memerintah, untuk segerah pulang ke Mansion.
Berharap mendapatkan kejelasan, dan menemukan titik terang. Dapat secepatnya menemukan keberadaan sang istri saat ini.
Dengan bergegas, akhirnya mereka pulang, dan kini sampai di Mansion Andreas.
Ia mulai mencari benda tersebut di ruang kerjanya yang berada di Mansion tersebut, engan dibantu oleh sang asisten.
Sampai seluruh ruangan hancur, oleh ulah mereka berdua.
Tapi hasilnya kini, benar....mereka telah menemukannya.
Dan kini, tersungging senyuman dibibir Andreas.
Ia nampak mulai yakin. Bahwa orang ini benar telah menyembunyikan sang istri.
Segerah memerintah sang asisten, untuk menyelidiki, serta mengikuti segala gerak gerik dari orang yang diperintah.
Sang asisten mengangguk patuh. Dan lekas melaksanakan perintahnya.
Andreas meminta untuk kali ini. Jangan sampai musuh mengetahui pergerakan mereka.
Atau sangat sulit untuk kembali menemukan sang istri.
Karena Andreas tau watak dari rivalnya ini.
Ia yang dulu sahabat baik dan berubah menjadi musuh, hanya karena salah faham.
__ADS_1
Dan kini Andreas mulai mendapat harapan, untuk segerah berkumpul bersama dang istri.