
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Long xue sambil menatap Sheng Feng.
"Sheng Feng."
"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanyanya lagi.
"Aku ingin pergi ke kota Gang Ma." Sheng Feng menjawab dengan jujur.
"Kebetulan kami dari kota Gang Ma."
"Benarkah?" Sheng Feng berseru dengan nada senang. Jika mereka dari kota Gang Ma, mungkin mereka bisa memandunya.
Lalu melanjutkan Sheng Feng melanjutkan.
"Lalu kenapa kalian di sini."
"It, itu." Long Xue seperti ingin menjawab, namun dia sedikit ragu akan sesuatu.
"Tidak masalah jika tidak ingin mengatakannya." Melihat keragu dari Long Xue, jadi Sheng Feng tidak ingin memaksa.
Tiba-tiba Jian Ming berkata dengan santai.
"Tidak masalah, lagi pula berita itu sudah menyebar."
Mendengar apa yang di katakan Jian Ming. Long Xue pun ahkirnya mengatakan nya.
"Kami ingin menyelidiki tentang 'Kolam Qi Sejati'."
"Kolam Qi Sejati, ya." Sheng Feng sambil mengangguk bawah dia mengerti.
"Ya, sudah banyak kekuatan yang mengirim ahli mereka untuk mengevaluasi berita itu. Namun kami tidak mengira kami di serang Beast yang kuat sebelum masuk terlalu jauh." Meng Yu mengatakan dengan nada sedih. Mengingat kembali dia telah di permainkan Beast itu.
"Maksudmu Daemon?"
"Daemon?" mereka bertiga terkejut, faktanya mereka tidak perna mendengar kata itu.
Jadi apa itu daemon?
"Ada orang yang pernah mengatakan padaku kalau Monster Beast yang memiliki kebijaksanaan di sebut Daemon." jelas Sheng Feng.
Mereka bertiga ahkirnya mengerti.
Pada awalnya Sheng Feng berniat meminta tolong untuk di pandu oleh mereka. Namun sepertinya mereka memiliki ke kesibukannya sendiri.
Sheng Feng mulai beranjak dari akar pohon kemudian berdiri. Lalu dia menatap ke arah ketiganya dan mengatakan.
"Aku akan pergi dulu, jadi jaga diri kalian." Lalu perlahan pergi meninggalkan mereka bertiga.
Setelah Sheng Feng pergi, tiba-tiba Meng Yu berkata. "Jadi apakah kita harus kembali?"
"Bagaimana kita bisa kembali, kita bahka belum masuk lebih dalam." kata Jian Ming tegas.
"Tapi bukankah ada banyak Beast kuat? Lebih baik menyuruh murid bagian dalam atau murid inti saja untuk menyelidikinya." Kata Long Xue. Dia juga merasa cukup cemas.
Mereka mungkin sudah mencapai ranah Penyempurnaan Qi tahap ahkir, namun di Sekte yang kekuatan nya di nilai sebagai kekutan kelas dua. Mereka hanya butiran debu di tumpukan pasir.
Mereka bertiga hanya murid bagian luar. Dan kalau ingin manjadi murid bagian dalam paling tidak mereka harus menjadi Pratisi Qi lapisan pertama.
"Jadi apakah kita kembali atau tidak?" Meng Yu mendesak.
"Kita akan menjelajah sedikit lebih dalam." Jian Ming berkata dengan tatapan tajam.
"Ta, tapi." Long Xue.mencoba mengatakan sesuatu.
"Tidak masalah, kalo terjadi sesuatu yang mendesak kita gunakan meriammu." Jian Ming berkata sambil menatap Long Xue dengan penuh arti.
"Tidak, aku butuh 1 tahun penghasilanku untuk 1 tembakan!" teriak Long Xue seperti tidak senang dengan keputusan Jian Ming.
Long Xue adalah master mosiem jadi dia bertarung menggunaka meriam atau golem yang di kendalikan tadi. Namun itu butuh batu roh untuk biaya oprasional yang cukup besar, jadi dia jarang menggunakan nya.
__ADS_1
"Itu lebih baik dari pada harus membayar dengan nyawa."
"Tidak mau."
"Aku yang akan mengganti batu roh nya."
"Baiklah, sepakat."
"Sialan!"
...
..
Matahari mulai terbenam langit mulai gelap. Sheng Feng ahkirnya sampai di sebuah desa kecil.
Desa itu cukup sederhana dan terlihat tidak terlalu ramai. Hanya ada sekitar 20 rumah di desa tersebut. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu. Dengan atap yang terbuat dari anyaman jerami.
Obor-obor berdiri di sekitar jalan. menerangi desa itu dengan cahaya api yang membara. Namun hal itu membuat suasana di sini menjadi lebih damai dan tenang. kunang-kunang berterbangan menambah sejuknya udara di sana.
Sheng Feng berjalan menelusuri desa dan menemukan anak-anak yang sedang bermain di bawah rembulan. mereka tertawa dan bergembira bermandikan cahaya bulan.
"Aduu."
Tampa sadar tongkat yang mereka mainkan mengenai kepala Sheng Feng. Sheng Feng mengusap kepalanya yang kesakitan.
Anak-anak melihat ini dan menghampiri Sheng Feng. Mereka menatap Sheng Feng menggunakan mata bulat nya yang polos. Dengan ekpresi ingin tau, karena mereka tidak pernah melihat Sheng Feng.
Sheng Feng hanya berdiri di sana dan menatap anak-anak itu dengan senyum.
Tiba-tiba soeorang gadis kecil keluar dari kerumunan anak-anak. Dia berjalan sampai di depan Sheng Feng. Tubuh nya kurus terlihat sangat kacil dengan baju berwarna coklat biasa. Gadis itu berumur sekitar 12 tahun.
Dia menundukan kepala dan berkata dengan terbata-bata.
"Ma-maaf."
Sheng Feng hanya tersenyum pada gadis itu sambil mengusap kepalanya. Lalu mengatakan.
"A-aku Shi Mei." kata gadis itu gugup.
Sheng Feng hanya menenangkan Gadis itu.
"Tidak perlu gugup aku tidak akan memakan mu." kata Sheng Feng bercanda.
Gadis itu menjadi tenang dan mengatakan.
"Paman apa yang kamu cari di desa ini?"
Paman?
"Aku tidak setua itu, panggil aku kakak dan apa yang kucari di desa ini? tidak ada. aku hanya lewat untuk pergi ke kota Gang Ma." jelas Sheng Feng.
"Begitu ya."
"Oh apakah ada tempat untuk ku tidur malam ini, aku akan membayar mu." Sheng Feng mengatakan itu sambil melemparkan koin emas.
Shi Mei itu menangkap koin itu lalu menatap ke arah Sheng Feng dengan tatapan penuh dengan kejutan. Dia bersemangat dan berjalan pergi sambil mengatakan ke teman-temannya.
"aku pergi dulu."
Sheng Feng mengikutinya.
Anak-anak pun mulai bubar.
Sambil berjalan Shi Mei berkata." Ini hanya desa kecil jadi tidak terlalu banyak kamar, tapi kakak bisa tidur di kamar ku."
"Lalu kau tidur di mana?" Sheng Feng merasa tidak yakin.
"Aku bisa tidur di luar. Hehe aku sudah terbiasa." Kata gadis itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ah tidak perlu, kau bisa tidur dengan ku."
"Tidak boleh seperti itu, lagi pula aku sudah di bayar." bantah gadis itu.
"Tidak masalah, aku tidak keberatan sama sekali." kata Sheng Feng dengan
Gadis itu menatap Sheng Feng dengan sedikit keraguan namun segera dia mengangguk.
...
..
Di ruangan yang sederhana.
Hanya ada kasur kecil sedehana. Seorang pemuda dan seorang gadis kecil tidur di atas ranjang yang sama.
Namun Sheng Feng tidak bisa tidur.
Tenangkan dirimu Sheng Feng! Tenangkan dirimu! Itu hanya seorang loli!! Kenapa kau begitu gugup.
Tiba-tiba loli itu berguling dan memeluk Sheng Feng. Dia menggunakan dada Sheng Feng sebagai bantal dan terlihat sangat nyaman. Namun di sisi lain Sheng Feng seperti tidak bisa benafas karena terlalu gugup.
Seperti merasakan Sheng Feng masih bangun, Loli itu pun membuka mata. Dia menatap Sheng Feng dengan rasa ingin tau dan bertanya.
"Kakak, kau masih bangun?"
Mendengar itu Sheng Feng langsung kaget seperti kucing yang di injak ekornya. Dan menatap mata bening dan polos gadis yang memeluknya itu.
"Aku belum bisa tidur." ucap Sheng Feng.
"Kenapa?" tanya gadis itu.
"Tidak apa- apa." jawab Sheng Feng sambil menenagkan diri.
"Kalo begitu aku akan menemanimu untuk terjaga."
"Ah, bagaimana?" Sheng Feng bingung.
"Hehe kakak, dadamu cukup lebar dan baunya juga membuatku nyaman aku ingin di peluk oleh mu seperti ini setiap saat."
Sheng Feng mulai berkeringat.
"Hei, jangan mengatakan itu dengan wajah polos."
Gadis itu malah menatap Sheng Feng dengan bingung. Sheng Feng hanya menatapnya kembali tidak tau harus berkata apa.
Jangan bilang dia bahkan tidak sadar, apa yang baru saja dia katakan?
Lalu gadis itu tiba-tiba berkata.
"Sejak kematian ayah dan ibu ku, tidak ada yang memelukku seperti ini lagi." katanya sambil menyandarkan kepalanya di dada Sheng Feng.
Tiba-tiba Sheng Feng ingat kalo rumahnya hanya ada 1 kamar dan dia belum melihat orang tua gadis itu.
Jadi Sheng Feng menghela nafas sambil mengelus kepala.
Gadis itu merasa sangat nyaman saat kepalanya di usap. Dia memjamkan matanya dan menikmatinya.
"Kakak apakah kamu akan ke kota?" tanya gadis itu tiba-tiba.
"Ya."
Sedikit kekecewaan muncul di tatapan gadis itu.
Melihat ini Sheng Feng berkata."Apa ada yang kau suka aku akan membelikannya untukmu."
Mendengar ini gadis itu sedikit bersemangat dengan mata yang berbinar dia berkata.
"Apa saja, aku suka selama kau kembali dan memelukku." katanya penuh harap.
__ADS_1
Sheng Feng hanya mengiyakan nya.
Waktu terus berlalu mereka terus berbicara, hingga pada ahkirnya mereka tertidur.