
Setelah perjalanan yang cukup panjang Sheng Feng sampai di desa tersebut. Dari pada bahagia dan gembira Sheng Feng malah di buat sangat terkejut.
Pasalnya yang dia temui di depannya bukanlah desa yang damai penuh dengan anak-anak yang bermain seperti saat pertama kali dia singga. Malinkan puing-puing reruntuan rumah yang hangus terbakar menjadi abu.
Tidak seperti suasana hidup saat itu, ini malah terlihat seperti zona mati. Ini tidak terlihat seperti desa yang hancur karena bencana alam. Tapi seperti sengaja di hancurkan oleh seseorang dan di bakar habis. Bahkan para penduduk mungkin sudah terkremasi bersama desa ini. Hal tersebut membuat Sheng Feng sangat syok.
Apa yang terjadi?
Dia tidak bisa berpikir jernih untuk beberapa waktu. Dia tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi. Siapa yang melakukannya? Bagaimana nasib penduduk? Bagaimana nasib anak-anak? Bagaimana nasib Shi Mei?
Dia sudah menganggap Shi Mei sebagai adiknya sendiri. Dia tidak membawah Shi Mei karena dia berpikir dia akan lebih aman di desa. Walaupun dia baru saja bertemu dengannya. Sheng Feng sudah sedikit merasakan kasih sayang pada gadis itu.
Gadis itu sudah cukup kesakitan. Dia hidup dalam kesendirian seperti dirinya. Setidaknya Sheng Feng ingin membuatnya bahagia dan sebagai pelindung untuknya.
Mungkin karena Sheng Feng pernah merasakan hidup tampa ayah dan ibu. Yang membuatnya bisa merasakan penderitaan gadis itu.
Sama seperti dirinya kehidupan gadis itu pasti sangat sulit. Kalo saja tidak ada Zhang Mo saat itu, Sheng Feng mungkin sudah menyerah untuk hidup di dunia yang buruk ini.
Namun gadis itu berbeda dia masih bisa tersenyum. Walaupun senyum masih tersirat sedikit rasa sakit. Dan dia mencoba masih untuk terlihat ceria. Tapi Sheng Feng tau kalo banyak rasa sakit yang dia derita. Jadi Sheng Feng ingin mengahkiri semua penderitaannya.
Jadi sekarang apa? Sheng Feng sekarang menjadi lebih kuat. Dia telah mencapai tujuannya untuk berkultivasi. Dia ingin melindungi dirinya sendiri di dunia ini. Namun sekarang dia sadar, dia tidak hanya ingin melindungi dirinya sendiri melainkan juga orang-orang yang ia sayangi.
Sheng Feng sangat sedih. Seluru tubuhnya menjadi lemas seperti tidak punya energi. Dia berlutut di tanah. Dia merasaka. dadanya sakit seperti di tusuk tombak. Dia menjadi sedikit kesulitan untuk bernafas. Entah kenapa dia seperti memiliki dorongan untuk menangis tapi dia masih menahannya.
Sheng Feng seperti sudah gila. Dia mencengkram rambutnya dan berteriak menghadap langit.
"Kenapaaa!" Teriaknya sangat keras. Suaranya mengandung kesedian dan rasa sakit yang sangat dalam. Angin menyapu teriakan itu dan menyebarkannya ke seluruh hutan.
Alam seakan prihatin melihat kesedian Sheng Feng. Langit menjadi gelap dan rintik hujan mulai turun. Sheng Feng jatuh tersungkur. Dia berbaring lemas di tanah sambil bergumam.
"Kenapa, kenapa, kenapa?"
Tampa sadar sederet air keluar dari kedua sudut matanya. Namun rintik hujan menjadi lebih deras menyamarkannya.
Jika orang lain melihat ini, mungkin dia hanya akan di sangka orang gila. Namun seperti hanya alam yang memahami kesedian Sheng Feng. Langit seakan menangis bersamanya.
Lalu tampa sadar Sheng Feng menemukan bendera hitam tidak jauh darinya. Dia perlahan mulai berdiri dan berjalan mendekati bendera itu. Dia mengambil bendera tersebut.
__ADS_1
Setelah di lihat di bendera itu terdapat gambar yang tidak asing. Itu adalah lambang bandit yang meminta upeti beberapa hari yang lalu.
Bukankah aku sudah membayarnya saat itu? Kenapa mereka melakukan ini?
Sheng Feng sangat geram dia mencengkram bendera itu dan menghacurkannya menjadi abu. Dadanya menjadi panas dia di penuhi dengan amarah.
Dia memang pernah membunuh saat itu. Tapi baru kali ini Sheng Feng merasakan perasaan ini. Perasaan yang sangat berbeda dengan saat dia membasmi kelompok serigala.
Perasaan ini seakan dia tidak hanya membunuh mungsunya. Dia seperti ingin memotong mungsunya menjadi 10.000 keping. Dia ingin meminum daranya dan membunuhnya secara perlahan. Dia seperti ingin menyiksa mereka agar dendamnya bisa mereda.
" Dunia benar-benar tidak adil. Apakah keadilan ada di tangan dewa? Hehe sepertinya tidak. Kedilan ada di tangan mereka yang memiliki kekuatan. Jika kau tidak punya kekuatan untuk membeli ke adilan itu. Kau hanya bisa pasra di perlakukan tidak adil, Seperti mereka." Gumam Sheng Feng seperti sedang bicara pada seseorang. Tapi dia mengatakan itu untuk dirinya sendiri.
Dia mengingat kembali saat di kota Gang Ma. Beberapa kali dia di perlakukan tidak adil bahkan hampir di bunuh.
Dia diri tegak mengadap ke arah puing-puing. Tatapan matanya menjadi sangat tajam. Dia seperti binatang buas yang haus darah. Namun jika binatang buas melihatnya saat ini mungkin binatang itu akan lari terbirit-birit sambil kencing di celana.
Dia berjalan menuju kota Gang Ma. Dia berniat mencari informasi di mana markas kelompok bandit itu.
...
Di guild pemburu bayaran.
Sheng Feng memasuki guild itu dengan wajah dingin dan tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap. Bahkan jika ada jarum jatuh mungkin bisa terdengar.
Entah kenapa mereka memiliki dorongan untuk berhenti. Mereka merasakan aura membunuh yang luar biasa yang membuat mereka merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Beberapa dari mereka tidak tau siapa Sheng Feng. Namun mereka tau kalo Sheng Feng bukan orang yang bisa mereka singgung. Dari auranya saja sudah membuat mereka ketakutan.
Dan mereka yang tau Sheng Feng telah memburu penjahat pratisi qi sangat menghormatinya. Jadi mereka bertanya-tanya. Siapa yang berani menyinggungnya, yang membuatnya mengeluarkan aura yang mengerikan.
Sheng Feng berjalan menuju resepsionis dengan pelan. Resepsionis itu menggigil ketakutan. Dia menunsukkan kepala tidak berani menatap mata Sheng Feng. Dia takut Sheng Feng marah karena tidak puas atas pelayanannya.
Orang-orang juga berpikir begitu. Mereka menatap Sheng Feng yang berjalan ke resepsionis itu dengan tenang. Waktu seakan berjalan sangat lambat.
Sesampai di depan resepsionis itu Sheng Feng berkata, "Apa kau tau di mana markas para bandit."
Melihat Sheng Feng tidak marah padanya reseosionis itu menghela nafas lega. Dia menjawab, "Bandit yang mana yang anda maksud, tuan."
__ADS_1
Resepsionis itu berusaha bersikap sangat sopan. Dia tidak ingin memancing kemarahan Sheng Feng.
Sheng Feng sedikit berpikir lalu menjawab, "Em, itu yang lambangnya adalah kain hitam dengan tengkorak kuda."
Resepsionis itu terkejut. Orang-orang juga terkejut.
"Bukankah itu bandit terkuat di wilayah ini?"
"Di katakan mereka adalah kekuatan kelas satu."
"Apa yang ingin dia lakukan?"
Orang-orang saling berdiskusi satu sama lain. Tapi mereka memelankan suaranya takut kalo di dengar oleh Sheng Feng. Namun bagaimana mungkin itu tidak terdengar oleh Sheng Feng yang memiliki kultivasi pratisi qi lapisan ke-3?
Jadi kekuatan kelas 1? itu sama dengan 5 keluarga besar di kota Gang Ma dan Sekte Lembah Obat.
Namun Sheng Feng menyuekinya dan menatap resepsionis itu. Yang dia butukan adalah di mana lokasi bandit sialan itu. Dia tidak perduli seberapa populer dan kuat bandit itu.
"Tu-tuan itu kelompok yang cukup kuat, it-itu mungkin...." Sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya resepsionis itu sudah di hentikan oleh Sheng Feng.
BRAKKK.
Sheng Feng menggeprak meja dan berteriak. "Katakan saja tau atau tidak. Jangan terlalu banyak omong kosong."
Di teriaki oleh Sheng Feng resepsionis itu menundukan kepalanya lagi. "Ba-baik."
Dia mengeluarkan sebuah peta dan menunjuk ke satu arah. "Di-di sini."
Sheng Feng menatap dengan tajam ke peta itu. Lalu Sheng Feng mengeluarkan 100 koin emas di berikan ke resepsionis itu dan segera pergi.
Resepsionis itu terkejut, dia berniat mengembalikan koun itu. "Ah, ini tidak perlu."
Namun Sheng Feng sudah menghilang. Resepsionis itu berdiri kosong untuk beberapa waktu. Dia tidak menyangka anak yang terlihat periang dan baik hati saat itu akan berubah sangat mengerikan saat ini. Dia seperti orang yang berbeda.
"Dunia akan terus berubah, bahkan seekor ulat akan menjadi kupu-kupu. Seekor anak harimau lucu akan menjadi predator pemangsa." gumamnya.
.
__ADS_1
.