PERJALANAN DEWA RENKARNASI

PERJALANAN DEWA RENKARNASI
Apakah aku bisa membunuh?


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Sheng Feng bangun dari tidur dengan ekpresi puas. Sudah seminggu dia tidur di hutan ber alas kan daun kering. Sekarang walaupun tidak tidur di kasur yang sangat mewah dan lembut. Namun dia merasakan itu sangat nyaman seperti di dalam pelukan seorang dewi. Karena saat di hutan selain keras tapi juga banyak nyamuk. Sehingga dia merasa gatal di sekujur tubuh ketika baru saja bangun.


Dia perlahan menyingkirka loli kecil yang tertidur pulas di dadanya. Sheng Feng tidak membangun kannya dan langsung keluar dari rumah itu.


Dia membuka pintu dan cahaya cermelang menyinarinya yang membuatnya silau.


"Sudah berapa lama aku tidak tidur senyaman ini. Ini membuat ku bangun kesiang an." gumam Sheng Feng.


Tiba-tiba dia mendengar keributan yang ada di gerbang desa. Kerumunan orang berkumpul seperti seekor semut yang menemukan gula. Ada teriakan demi teriakan yang membuat Sheng Feng berpikir ada pertengkaran.


Sheng Feng ingin melihat apa yang terjadi. Alhasil dia mendekati kerumunan itu.


Di tengah kerumunan ada 3 orang dengan wajah yang garang dan terlihat mengerikan. Mereka ber tiga mengenakan baju berwarna hitam. Sehingga dapat di pastikan mereka dari suatu kelompok tertentu.


Wajah mereka memiliki bekas luka sehingga menambah kegarangan nya. Selain itu mereka membawah pedang yang terlihat sangat tajam. Satu pria sepertinya di ranah 'Pembekuan darah' dan dua lain nya di level 'Master beladiri'.


Seorang pria yang berada di ranah 'Pembekuan Darah' berteriak.


"Cepat bayar upeti, seperti biasanya!" Sambil meng acungkan pedang nya ke arah orang-orang.


Ini membuat Sheng Feng tercengang. Apakah mereka utusan kerajaan?


Akan tetapi semua penduduk desa memiliki ekpresi ketakutan yang terlukis di wajah mereka. seperti sedang melihat dewa kematian turun. Namun seseorang memberanikan diri untuk berbicara.


"Maaf, tapi memang desa kami sedang mengalami gagal panen jadi kami tidak terlalu banyak memiliki pemasukan." dia adalah lelaki tua dengan janggut yang sudah penuh uban dan membawah tongkat. Lelaki tua itu adalah Kepala Desa di desa ini.


"Memangnya aku terlihat memperdulikan itu? Jika kalian tidak bisa di atur dengan perkataan, terpaksa kami menggunakan kekerasan."


"Hancurkan semuanya!" Teriaknya memerintakan bawahan nya.


"Baik." kedua orang dengan ranah Master beladiri itu segera berjalan maju dan bersiap melakukan pembantaian.


Jadi bagaimana jika ada banyak orang. Bagi mereka itu hanya seperti memburuh beberapa ayam.


Para penduduk mulai mengigil karena merasa takut.


Sebelum kedua master beladiri itu bisa bertindak lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara keras terdengar.

__ADS_1


"Hentikan semua itu!"


Yang membuat semuanya berhenti.


Semua orang memalingkan muka ke arah sumber suara. Mereka hanya menemukan seorang pemuda dengan tubuh yang tinggi dan bagus. Dengan otot yang memancarkan daya ledak. Kulit pemuda itu berwarna kecoklatan. Siapa lagi kalau bukan Sheng Feng.


Para penduduk menatap Sheng Feng dengan pandangan tidak terlalu meyakinkan. Namun tidak sedikit pula yang menatapnya dengan ingin tau.


Siapa dia? Kenapa ada di desa ini? Aku belum perna melihatnya!


Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka.


Sheng Feng perlahan maju di depan semua penduduk. Lalu menatap ketiga penjahat itu.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?"


Lalu pemimpin kelompok itu menjawab. "Siapa kami? Hehe kau tidak belihat tanda ini?" katanya sambil menunjukan tanda di dada kiri nya. Tanda itu berbentuk seperti tengkorak kepala kuda berwarna hitam.


Namun Sheng Feng hanya membalas dengan tenang.


"Tidak."


"Siapa yang berani tidak mengetahui bandit terkuat di daera ini. Bunuh saja dia, dia layak untuk mati karena kebodohannya." Mengatakan itu sambil menunjuk ke arah Sheng Feng.


Bandit? Sheng Feng sedikit tercengang.


Melihat kemaraan ketiga bandit itu, para penduduk desa yang ketakutan pun mundur beberapa langkah.


2 bandit itu menyerang Sheng Feng terlebih dahulu. Mereka mengedarkan kekuatan internalnya untuk memperkuat tubuhnya. Lalu yang pertama memukul ke arah kepala Sheng Feng. Pukulan itu sangat berat bahkan bisa menghancurkan batu besar.


Pemimpin bandit itu yang menonton dibelakang sudah berimajinasi bahwa kepala Sheng Feng hencur berkeping-keping. Namun semua sebagai hasil nya tidak sama, seperti apa yang dia pikirkan.


Sheng Feng menangkis pukulan itu dengan satu tangan. Lalu dia mencengkram tangan bandit itu agar tidak bergerak. Sebuah suara tulang patah cukup keras terdengar yang membuat orang-orang linu. Kemudian dia memukul ke arah uluh hati dengan tenang. Namun pukulan itu mementalkan bandit tersebut 10 meter jauh nya.


Bandit yang lain juga menyerang ke arah Sheng Feng, pukula.bandit itu hampir mengenai wajah nya . Sheng Feng menghindarinya dengan sedikit berjongkok. Setelah itu dia memukul ke arah tulang rusuk. Dan lagi-lagi bunyi patah tulang terdengar cukup keras.


Pemimpin itu menatap Sheng Feng dengan terkejut. Dia gemeter entah karena marah atau karena ketakuran.


Mungkinkah dia berada di ranah Penyempurnaan jiwa! Tapi kenapa sulit di deteksi?

__ADS_1


"Jangan berpikir untuk memiliki ahkir yang baik setelah menyinggung kami?" Katanya sebelum dia ahkirnya berniat meninggalkan desa itu.


Namun tiba-tiba Sheng Feng berkata." Bukankah kau di sini untuk pajak?"


Pemimpin itu berbalik dan menatapnya dengan tatapan penuh dengan permungsuan.


"Aku akan membayarnya dan jangan ganggu desa ini lagi!" kata Sheng Feng.


Lalu dia melemparkan 100 keping emas kearah mereka. Faktanya ini puluan kali lebih banyak dari pajak yang mereka ingin ambil dari desa tersebut.


Melihat banyak sekali emas penduduk menatapnya dengan kagum sambil menelan ludah mereka.


Pemimpin itu hanya tersenyum misterius dan pergi begitu saja. Para bawah an nya mengambil koin-koin itu dan mengikuti pemimpin mereka.


Melihat ke arah perginya bandit-bandit itu. Sheng Feng hanya berdiri kaku dengan ekpresi tertekan. Jantungnya berdetak sangat kenjang seperti drum. Nafasnya cukup cepat dan butiran-buriran halus keringat keluar di dahinya.


Dia tidak tau apa yang terjadi padanya. Yang jelas dia sangat gugup. Sheng Feng yakin kalau dia serius dia pasti bisa membunuh mereka. Namun faktanya sampai saat ini dia belum pernah membunuh manusia.


Selain itu ada perasaan yang aneh saat melawan makluk hidup yang memiliki kecerdasan. Seperti ada dinding yang besar yang sulit untuk di tembus. Dan Seperti ada garis merah yang benar-benar tidak bisa dia langgar.


Lalu secara tiba-tiba dia mengingat wajah Zhang Mo yang menatapnya dengan ekpresi kawatir.


Zhang Mo mengerti seperti apa Sheng Feng. Dia adalah orang yang baik hati dan penuh simpatik. Bahkan dia tidak tega melihat seorang nenek tua kelaparan di pinggir jalan. Walupun sedikit dia akan memberi nenek itu roti, paling tidak.


Walaupun sebenarnya dia perna hidup di dunia sebelumnya, Secara pikiran dia lebih dewasa dari pada anak seusia nya. Namun bagaimana jika dia sudah lebih dewasa? Lalu apa? Pada ahkirnya dunia yang dia tempati dulu adalah dunia yang damai.


Dan dia sangat asing dengan yang namanya pembunuhan. Dia hanya pegawai kantor biasa, dan bukan pembunuh bayaran.


Walaupun dia telah melihat mayat setelah berengkarnasi di dunia ini. Dan mayat itu terbunuh secara kejam dan tidak manusiawi. Dia secara mentalitas bisa di katakan cukup siap.


Akan tetapi melihat orang lain terbunuh dengan membunuh orang dengan tangan mu sendiri adalah dua hal yang berbeda. Terutama untuk orang yang terlalu bersimpati seperti Sheng Feng.


Apa? Apa ini yang di kawatirkan Kak Mo? Apakah dia berpikir bahwa aku terlalu lembut untuk dunia yang begitu kejam? Tapi kenapa dia hanya berpesan 'Apapun yang terjadi, jadilah dirimu sendiri'


Dia benar-benar tidak mengerti apa yang di maksud Zhang Mo.


"Kakak Feng." tiba-tiba suara kecil dan manis terdengar yang membubarkan semua lamunan nya.


"Apa yang terjadi pada mu?" Shi Mei menatap Sheng Feng dengan mata yang jernih, sejernih mata air abadi.

__ADS_1


"Tidak ada."


__ADS_2