PERJALANAN DEWA RENKARNASI

PERJALANAN DEWA RENKARNASI
Aku berjanji.


__ADS_3

Desa kembali tenang setelah para bandit itu pergi. Para penduduk berdiskusi satu sama lain, mengenai siapa sebenarnya Sheng Feng.


Setelah mereka melihat Sheng Feng mendekati mereka kegaduan itu berhenti secara serentak. Suasana menjadi sunyi seperti kolam tampa ikan. Para penduduk menatap Sheng Feng dengan tatapan yang berbeda.


Tiba-tiba pak tua kepala desa itu maju dan sambil mengepalkan tangan, dengan sopan dia mengatakan.


"Mohon maaf atas ketidak sopan nan kami sebelum nya. Dan saya juga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyak nya, atas bantuan anda."


"Ah tidak masalah, itu bukan apa-apa." Kata Sheng Feng menjawabnya.


Meskipun para penduduk terkejut. Apakah 100 keping koin emas bukan apa-apa? Namun tidak ada yang berani mengucapkan sesuatu. Melihat Sheng Feng bisa mengalakan bandit. Itu sudah mengartikan dia bukan orang biasa, bagaimana mungkin manusia yang bahkan tidak tau beladiri sama sekali berani memprofokasi para ahli beladiri.


Karena dalam pikiran mereka para ahli beladiri itu orang yang sulit di tebak. Meskipun sekarang dia tersenyum dengan ramah, dan terlihat damai. Namun siapa yang tau kalo mereka tiba-tiba di penggal gara-gara tidak sengaja menyinggung. Maka dari itu kebanyakan orang awam akan sangat berhati-hati dengan ahli beladiri.Terutama ahli bela diri yang baru mereka temui.


Dari pada di sebut takut mereka lebih seperti harus menghormati dan menghargai mereka agar tidak merasa tersigung.


Karena di dunia yang rusak ini nyawa manusia tidak ada artinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sheng Feng dengan ingin tau.


"Itu, sebenarnya hari ini telah memasuki musim panen. jadi waktunya untuk mengirim upeti ke kerajaan." kata Kakek Kepala Desa itu.


"Upeti kerajaan?"


"Ya, hari ini sudah waktunya untuk memberikan upeti ke kerajaan. Namun bandit itu juga meng ingin kan upeti mereka dan mereka meminta 2 kali lipat dari biasanya. Jika itu terjadi maka kami sama sekali tidak memiliki persediaan makanan." Kakek itu menjelaskan.


"Begitu ya." Sheng Feng sangat bersimpati jadi dia mengeluarkan 100 keping emas lagi. Lalu dia memberikanya ke lelaki tua itu.


Pak tua itu cukup terkejut dengan tindakan Sheng Feng yang tiba-tiba. Para penduduk juga sedikit terkejut. Faktanya baru kali ini mereka menemukan seorang kulivator yang baik hati. Tatapan mereka ke Sheng Feng pun sedikit berubah.


"Bagaimana ini mungkin?" Kakek tua itu seperti tidak ingin menyusakan Sheng Feng terlalu jauh.


"Tidak apa-apa." kata Sheng Feng.


"Tidak, tidak tidak bisa seperti itu. Kami sudah sangat berterima kasih karena anda sudah menyelamatkan kami. Jika kami mengambil ini juga maka kami benar-benar sangat tidak tau malu." kata pak tua itu mencoba menolak dengan tegas.


Para penduduk desa mentap Kakek tua itu dengan tatapan yang berbeda. Ada yang menatap dengan persetujuan 'Kami bukan orang yang tidak tau terima kasih'. Dan ada juga yang menatap seperti melihat orang bodoh 'Apa kau berniat menolak sebuah berkah?'. Namun tidak ada yang berani mengatakan apa pun.


Melihat kalo kakek tua itu menolak dengan sangat gigih. Sheng Feng hanya mengatakan.


"Kalo begitu sebagai gantinya tolong jaga dia untuk ku selama aku pergi." sambil mengelus kepala Shi Mei yang berada di sampingnya. Shi Mei memejamkan mata sambil menikmati elusan Sheng Feng.

__ADS_1


Penduduk desa sedikit bingun pada awalnya namun mereka mengerti.


"Kau ingin pergi?" tanya pak tua itu.


"Ya, aku ingin pergi ke kota Gang Ma!"


"Kalo begitu anda dapat yakin, kami akan menjaga Shi Mei sebaik menjaga nyawa kami sendiri." kata pak tua itu.


"Kalo begitu terima kasih." Dia mengucapkan itu sebelum berbalik dan berjalan menuju kota Gang Ma.


Saat Sheng Feng berjalan tiba-tiba ada yang memeluk kaki nya dari belakang. Itu adalah Shi Mei dia mengais sambil berkata.


"Jangan pergi!" Walau pun baru satu hari dia bertemu Sheng Feng namun 1 hari itu lebih berharga dari pada satu tahun baginya.


Shi Mei yang kedua orang tuanya telah meninggal sejak lama, yang membuatnya kesepian. Sekarang ada orang yang memberi kehangatan yang sama seperti orang tuanya dulu. Dia merasa bahagia dan sangat nyaman saat tidur di pelukannya.


Namun melihat orang itu akan pergi meninggal kannya, membuat dia sangat sedih.


Sheng Feng berbalik dia sedikit berjongkok lalu menatap Shi Mei yang menangis.


"Aku harus pergi." kata Sheng Feng dengan nada tenang.


"Kalau begitu bawah aku bersama mu!" kata Shi Mei.


Dengan mempertimbangkan itu semua Sheng Feng berkata.


"Aku tidak bisa."


"Ke, kenapa apa kakak membenci Shi Mei?" dia seperti akan menangis. Hal ini malah mengingat kan nya ke pada Xia Xiao. Bedanya dia saat itu di hujat orang namun saat ini tidak ada yang berani menyinggungnya.


Apakah ini rasanya menjadi kuat?


Lalu dia menghilang semua pikiran itu dan mengatakan kepada Shi Mei.


"Tenang saja, aku pasti akan kembali."


Namun Shi Mei masih menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Aku akan kembali dan membawa mu pergi bersamaku."


"Benarkah?" Shi Mei berkata dengan ekpresi gembira di wajahnya itu. lalu mengangkat tangannya kanannya dan menunjukan jari kelingkingnya. Dia menatap Sheng Feng dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Apa?" Sheng Feng yang tidak tau apa maksudnya. Dia hanya menatap Shi mei dengan bingung.


"Janji." kata Shi Mei dengan suara kecil yang membuatnya menjadi sangat imut.


Sheng Feng tertawa pahit. Apakah setelah berengkarnasi cukup lama dia ahkirnya berjanji kelingking alah anak kecil.


Dia pun menghela nafas lalu mengait kan kelingking Shi Mei dengan kelingking nya dan berkata.


"Aku berjanji."


Lalu pergi meninggalkan desa itu.


Gadis itu menjadi lebih tenang dia melihat kearah kepergian Sheng Feng. Sheng Feng sudah menghilang dari penglihatan, Semua orang juga sudah bubar. Namun gadis kecil itu tetap berdiri di sana dengan senyum yang terlukis di wajah nya.


Lalu setelah sekian lama dia hanya bergumam.


"Kakak, kembali lah dengan selamat." Lalu pergi menuju rumah nya.


...


..


.


Di sebuah ruangan yang indah.


Dan cukup luas sekitar 10 meter persegi. Dengan desain yang sangat menarik. Ada kepala beruang dan kepala rusa yang di gantung di dinding sebagai hiasan. Kursi yang yang indah dengan motif yang sangat cantik, namun juga sangat nyaman. Dan ada meja panjang di depan kursi itu yang penuh dengan makanan.


Di atas kursi duduk dua orang yang yang satu tua dan yang lain parubaya. Pria parubaya itu memakai baju hitam dan jubah hitam. Di baju itu terdapat lambang tengkorak kepala kuda berwarna hitam. Tidak sampai di situ saja bahkan ikat pinggang nya juga berwarna hitam dengan ornamen kepala kuda.


Dan orang tua itu mengunakan seragam biru tua, dengan jubah biru tua juga. Tatapan matanya sangat dingin seakan membekukan apapun yang dia lihat. Dia membawa pedang berukirkan naga di pinggangnya.


Di depan mereka ada beberapa wanita yang menari menghibur mereka. Gerakan mereka sangat anggun dengan tubuh yang indah. Membuat orang yang melihatnya sangat terpesona.


Suasana sangat ramai penuh dengan alunan musik klasik. Yang membuat orang menjadi nyaman. Pikiran menjadi tenang.


.


"Kakak Ma apa yang membawah mu kemari?" Tanya pria paru baya.


Ma Fengyan menjawab "Adik Li Mingyu tidak perlu sopan. Kamu sudah mencapai ranah Pratisi Qi lapisan ke dua. Bagaimana bisa bersikap seperti itu pada orang tua sepertiku?"

__ADS_1


Li Mingyu menatapnya dengan senyum, faktanya dia sangat senang di puji. Namun dia berkata.


"Bagaimana mungkin seperti itu. Kakak Ma adalah penyelamat hidup junior ini. Kalau tidak ada kakak Ma bagaimana mungkin junior masih hidup."


__ADS_2