PERJALANAN DEWA RENKARNASI

PERJALANAN DEWA RENKARNASI
Di hianati.


__ADS_3

Setelah menyetujuai itu Sheng Feng keluar dari guild pemburu bayaran. Dia berjalan menelusuri jalan di tengah arus orang-orang yang mengalir.


Dia ahkirnya berhenti di depan toko yang bertulis 'Toko Senjata'. Ah benar aku kan belum punya pedang. Mungkin teknik pedang kematian membutukan pedang supaya bisa menerobos. Mengingat dia dulu sulit sekali untuk menerobos teknik pedang kematian. Mungkin dengan mempunyai sebuah pedang teknik itu bisa mencapai lapisan pertama.


Memikirkan hal ini Sheng Feng memasuki toko itu. Seperti namanya toko ini memiliki banyak senjata yang di pajang. ada tombak, pedang, balati dan masih banyak jenis senjata lainnya. Dan tentu saja dengan berbagai kualitas.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba seorang pria tua dengan tubuh kekar menghampiri Sheng Feng. Pak tua itu mempunyai kumis dan jenggot putih penuh uban. Wajahnya kusut karena usia tua namun dia terlihat penuh dengan bersemangat.


"Aku butuh sebuah pedang." Jawab Sheng Feng setelah mendengar apa yang di katakan pak tua itu.


"Ah, pedang kualitas seperti apa yang anda butuhkan?" tanya pak tua itu lagi.


"Apakah ada kualitas bumi?" mengingat pedang kuat milik Lie Yu itu dia jadi menginginkan nya.


"Kalo itu tidak ada, ini hanya toko senjata kecil," jawab pak tua itu.


"Begitu ya, oke beri saja aku pedang terbaik," Katanya. Setelah itu pak tua itu berjalan ke belakang. Lalu dia kembali lagi sambil membawah pedang. Pedang itu berwarna hitam panjang, dengan dua mata pedang dan ujung yang sangat runcing yang terlihat tajam.


"Ini adalah pedang kualitas tertinggi." Pak tua itu berkata dan memberikan oedang itu.


Sheng Feng menerimanya dan memainkannya beberapa ayunan. Ehm, cukup baik!


"Berapa harganya?" tanya Sheng Feng.


"Hanya 1200 koin emas saja," jawab Pak Tua itu.


"Baiklah." Setelah membayar pedang Sheng Feng keluar. Dia berjalan menuju penginapan. Di kamar Sheng Feng mulai mempraktekan gerakan taknik pedang kematian. Dia menari-nari seperti rumput yang tertiup angin. namun tidak ada kemajuan sama sekali.


Setelah itu dia duduk dan mengeluarkan kristal sumber. Dia mulai berkultivasi taknik pedang kematian. Namun lagi-lagi sama sekali tidak ada kemajuan.


Tampa di sadari sore hari telah tiba. Jadi dia bangkit dan mulai berjalan menuju tempat kelompok serigala. Dia menyandang pedangnya di pinggang.


Mungkin dengan membawah pedang aku akan menemukan jalan pedang.


Sudah lama Sheng Feng ingin mecapai lapisan pertama teknik pedang kematian. Meskipun dia tau itu akan menyakitkan jika dia memaksa menerobos sebelum penyakitnya sembuh. Namun dengan peningkatan kekuatan itu seharusnya dia menjadi lebih aman.


Sheng Feng ahkirnya sampai di tempat kelompok serigala. Tempat adalah rumah besar 3 lantai, dari luar rumah itu terlihat cukup mewah. Setelah masuk interior di dalam juga cukup memukau.


"Ini adalah tempat kami, bagaimana menurutmu?" tanya Cie Zhu.


"Cukup bagus," puji Sheng Feng.


"Hehe tentu saja karena grub kami adalah kelompok nomer satu di seluru kota Gang Ma." ucapnya dengan bangga.

__ADS_1


Setelah ongbrol-ongbrol singkat ahkirnya mereka memutuskan untuk berangkat.


"Tapi bukankah Li Mingyu seorang pratisi qi lapisan ke 2? Bagaimana caranya kita mengalakannya?" tanya Sheng Feng. Pasalnya orang yang akan di lawan adalah pratisi qi lapisan ke2, Apakah bisa di kalahkan hanya dengan 3 pratisi qi lapisan pertama? Dan kenapa memintaku untuk ikut? Sheng Feng jadi merasa ada yang aneh.


Ya Sheng Feng ikut pun itu karena dia tergoda 5000 batu roh. Bukankah dengan ini dia bisa membeli herbal yang dia butukan?


"Tenang saja kami punya caranya." kata Li Mingyu.


"Begitu ya, kalo begitu ayo! aku jadi tidak sabar." seru Sheng Feng.


Meraka mulai menelusuri jalan. Dengan Li Mingyu yang memimpin dan Sheng Feng mengikutinya dari belakang.


Sekarang mereka sudah sampai di luar kota Gang Ma. Mereka berada di pinggir sungai yang cukup lebar sekitar 20 meter. Situasi malam dengan cahaya rembulan yang jatuh di atas sungai. Air sungai sangat jernih seperti kaca bening, dengan pantulan cahaya bulan dari air yang bergelombang membuatnya terlihat lebih indah. Dan di atas kaca yang bergelombang itu terlukis sebuah bulan yang menawan.


Namun dibalik semua pemandangan yang indah itu Sheng Feng merasa sangat buruk.


Tiba-tiba rasa sakit terasa dari dada Sheng Feng. Setelah melihat ke bahwa ternyata ujung pedang yang lancip di penuhi dengan darah tertembus kedadanya.


Dia merintih kesakitan dengan ekpresi yang bahkan lebih jelek dari pada menangis. Darah mengalir dari sudut mulutnya seperti aliran air. Darah itu secara perlahan menetes tetes demi tetes membasai baju nya.


Rasa sakit yang luar biasa seperti hatinya sudah hancur berkeping-keping. Dari pada rasa sakit dari pedang saat dia ditusuk dari belakang ini lebih dari itu, ini adalah penyesalan, Kenapa aku harus percaya?


Dalam kesedian dan kesensaraan dia hanya punya satu pertanyaan.


Mengapa? Mengapa?


Cie Zhu hanya menatapnya dengan senyum lalu menjawab. "Haha mengapa? tentu saja kau mudah di bodohi!"


"Mudah di bod...."


"Buang dia sekarang!" perinta Cie Zhu. Sebelum berbalik dan pergi,


"Baik pak!" Mereka mengambil kantung semesta Sheng Feng nya dan membuang Sheng Feng ke sungai. Tubuh Sheng Feng perlahan tenggelam.


Berjalan meninggalkan sungai itu salah seorang mengatakan. "Jadi apa yang kita lakukan bos?"


"Tentu saja kita berpesta apa lagi, ku dengar anak itu cukup kaya." jawab Cie Zhu.


"Anak itu benar-benar mudah di bodohi. sahut yang lain.


"Hehe dia benar-benar berpikir kita akan membunuh Li Mingyu. Siapa yang berani berurusan dengan pasukan kelas 1 seperti itu? Bodoh sekali hahaha." Cie Zhu tertawa keras.


Setelah itu raungan tawa terdengar di seluru penjuru sungai.

__ADS_1


...


Di tenga hutan banyak dengan pepohonan yang berdiri sepanjang jalan. Langit malam penuh bintang dengan bulan cerah yang menyinari daera hutan dengan cahaya lembut. Meskkipun begitu suasana juga tampak menyeramkan karena tidak ada lampu yang menerangi jalan.


Di tenga hutan itu terdapat jalan kecil yang di buat untuk perjalanan kerata kuda. Jalan itu selebar 5 meter yang memanjang membelah hutan menjadi dua bagian.


Sebuah kereta kuda yang ditarik dengan dua kuda berjalan secara perlahan menelusuri hutan. Kereta itu seperti memuat bahan-bahan pokok dan koin-koin.


Di dalam kereta kuda terdapat seorang gadis muda dengan wajah yang mempesona. Bibir merah cantik seperti mawar dan terlihat sangat manis. Di duduk di dalam kereta kuda dengan wajah datar.


Dia terlihat dingin dan acuh takacuh. Kalo Sheng Feng ada di sini dia pasti sangat terkejut, pasalnya gadis itu adalah Hua Qinyin. Ada apa dengannya? Dimana gadis ceria dan selalu ingin bertindak heroik itu berubah?


Di luar gerbang juga ada gadis yang tidak kalah cantik dengan yang di dalam. Hanya buah dadanya sedikit lebih matang dari yang tadi. Kecantikan luar biasa yang membuat orang merasa tunduk padanya. Dia memegang tali kuda dan bertindak seperti kusir.


"Qinyin Sejak dia pergi kenapa kamu menjadi pendiam? Apa kau juga menyukainya?" Kata Xia Xiao dengan lembut menanyakan itu ke Hua Qinyin. Meski dia sedikit berat hati untuk berbagi cintanya namun dia tidak bisa menyalakannya karena menyukai Sheng Feng.


Karena perilaku Hua Qinyin setelah Sheng Feng pergi seperti seorang istri yang di tinggalkan suaminya. Dia hanya diam dan termenung sepenjang hari bahkan lupa makan. Ya, meskipun dia tidak mengakuinya.


Apa Hua Qinyin juga menyukainya juga. Jika iya maka ini akan sulit bagiku. Hemm paling tidak aku harus jadi yang pertama. Terahir kali aku gagal menyergapnya karena malu. Apa aku harus mendoron nya lebih keras?


Perlahan tatapa Xia Xiao menjadi penuh tekat.


Hehe, Aku tidak akan melepaskannya!


Teriakan yang tampak kesal terdengar dari dalam gerbang. "Hentikan omong kosong itu!"


Setelah mendengar itu Xia Xiao menghela nafas lega. "Begitu ya, syukurlah."


Di dalam kereta Hua Qinyin memiliki ekpresi tertekan. Wajahnya pucat seperti kertas. dia memegang dadanya yang terasa sesak. dia merasa seolah hatinya telah di potong-potong menjadi ribuan keping. Dia seperti telah memakan buah maja yang sangat pait.


Kenapa? Kenapa? Kenapa dadaku terasa sakit? Apa aku benar-benar menyukainya? Tidak, mungkin aku hanya menyesal karena belum minta maaf.


Dan lagi sepertinya dia sangat membenciku. Aku memukulnya lagi sebelum bisa minta maaf. Dia bahkan pergi tampa mengabariku dulu. Dia pasti benar-benar membenciku.


Tiba-tiba suara teriakan terdengar.


"Jangan biarkan dia pergi!"


"Kita harus menangkapnya hidup-hidup!"


"Tangkap dia!"


Hua Qinyin kembali menenangkan diri. Dia bertanya pada xia Xiao. "Ada apa?"

__ADS_1


"Sepertinya mereka mengejar sesuatu?" jawabnya.


"Begitu?"


__ADS_2