PERJALANAN DEWA RENKARNASI

PERJALANAN DEWA RENKARNASI
Mati kau Li Mingyu.


__ADS_3

Sheng Feng hanya tersenyum menyeramkan. Hal ini membuat para bandit itu merinding ketakutan. Sedikit kilatan merah meuncul di mata kiri Sheng Feng. Lalu di melesat dan mulai melkukan pembantaian.


Tebasan demi tebasan membunuh banyak sekali bandit. Sheng Feng menebas kesana kemari seperti orang gila. Dia membunuh ratusan orang seperti memotong sayuran tampa merasakan perasaan bersalah sedikitpun.


Li Mingyu yang ahkirnya sampai di sana menyaksikan adegan ini. Dia hanya berdiri di kejauan menatap kosong ke sosok Sheng Feng. Dia memiliki ilusi seolah dewa kematian telah turun. Mata merah Sheng Feng juga menambah ke ngerian nya.


"Apa dia benar-benar anak itu?" Li Mingyu tidak tau apa yang di lihatnya saat ini mimpi atau kenyataan. Jika dia tidak melihatnya secara langsung, dia tidak akan bisa percaya. Bocah yang di ranah penyempurnaan qi baberapa hari yang lalu sekarang sudah benar-benar berubah. Dia lebih cocok di sebut dewa kematian dari pada bocah kemarin sore.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah dia bisa merasakan perasaan tertekan di hadapan bocah itu. Dia merasa bocah itu lebih kuat dari nya.


"Mungkin itu hanya perasaanku saja! Karena melihat pembantaian ini!" gumamnya. Dia merasa perasaan tertekan saat bertemu Sheng Feng hanyalah ilusi yang di buat karena kesadisan adegan saat ini.


Para kriminal yang datang juga menyaksikan ini. Mereka menatap kosong ke arah Sheng Feng. Siapa yang berani mengacau di markas pasukan kelas 3? Apa bocah itu sudah gila?


Mereka semua tidak tau kultivasi Sheng Feng. Karena saat ini Sheng Feng hanya menggunakan kekuatan fisik untuk menghajar kroco-kroco. Berbeda dengan Li Mingyu yang sedikit lebih peka namun mereka semua sama sekali tidak bisa mendetekasi. Lebih tepatnya mereka tidak mencoba untuk mendeteksinya.


"Siapa bocah itu saudara Li?" tanya Gu Wei.


"Dia bocah yang satu minggu yang lalu masih seorang master di ranah penyempurnaan qi, aku tidak tau dia sudah sekuat itu." jawab Li Mingyu.


"Jika itu benar, bukankah sekarang seharusnya dia pratisi qi lapisan pertama. Tapi kenapa aku tidak bisa menentukan tingkat kultivasinya," ujar Chi Xu.


"Benar," ucap Gu Wei setuju.


"Mungkin dia menggunakan artefak." Yang lain mengatakan pendapatnya.


"Itu mungkin." Pemuanya sepertinya setuju dengan pendapat orang itu.


"Hei bocah apa kau sudah bosan hidup." Gu Wei berteriak dengan keras yang menyebabkan gelombang angin halus menyapu area luas.


Sheng Feng yang melakukan pembantaian itu seketika berhenti. Dengan pedang yang masih tertancap di dada mayat pria parubaya. Dalam pembantaian sejenak itu setengah dari para bandit itu telah musnah. Dia menghadap ke arah sumber suara dan mendapati seorang lelaki tua dengan tajam memelototinya.


Sheng Feng menajamkan tatapannya dan bertanya dengan nada yang sangat dalam. "Apakah, Kau, Li Mingyu?"


Gu Wei sedikit bingung dengan pertanyaan Sheng Feng. Apa kau mengacau di sini tampa mengetahui apapun? Dan kenapa dia menanyakan Li Mingyu?


Lalu Gu Wei melirik ke arah Li Mingyu. Li Mingyu hanya berdiam di sana tampa ada keinginan untuk menjawab. Jadi dia mencoba mencari muka. Dia ingin menunjukan kekuatannya di hadapan orang-orang kuat di sini.


"Benar aku Li Mingyu, kau bocah sialan berani sekali membuat seperti ini di wilayahku. Aku akan mengajarimu apa itu yang namanya kehidupan lebih buruk dari pada kemarian." Kata Gu Wei dengan ganas. Dia manatap Sheng Feng seperti binatang buas yang melihat kelinci.

__ADS_1


"Benarkah?" jawab Sheng Feng dengan nada mengejek.


Mendengar ejekan Sheng Feng seperti mengenai titik lemah Gu Wei. Dia merasah sangat di permalukan oleh bocah kemaren sore. Dia merasa seperti binatang buas yang sedang menargetkan kelinci kecil. Namun kelinci itu malah menendang wajahnya. Bagaimana mungkin itu tidak membuatnya marah?


"Sialan kau!" teriak Gu Wei kesal. Dia mengeluarkan pedang panjang dari kantong semesta. Itu adalah artefak tingkat bumi kualitas rendah.


Dia melompat ke atas langit tinggi-tinggi di atas Sheng Feng. Dia mulai mengembunkan Qi sejati kaluar tubuh dan di salurkan ke pedangnya. Kilatan-kilatan halus keluar dari tubuhnya dan menyebar ke seluruh pedangnya. Langit seakan menjadi gelap seluru tubuhnya di selimuti oleh kilatan petir. Kilat itu perlahan mengembun seperti bentuk naga.


Melihat ini para bandit yang masih hidup mulai menjauh dari area pertarungan untuk menghindari terkena serangan.


"Tebasan Naga Kilat!"


Dia melesat ke arah Sheng Feng dengan kecepatan cahaya. Di iringi dengan suara petir yang sangat keras.


BLAAAR!


BOOOOM!


Dengan ledakan yang sangat hebat. Arus angin naik menghembus area sekitar dengan kencang. Kerikil dan batu-batu berterbangan dan debu naik ke atas sekitar 10 meter.


"Apakah bocah itu ahkirnya mati?"


Para bandit mulai bersemangat. Di sisi lain para buronan tua yang melihat aksi Gu Wei juga tertawa.


"Haha layak menjadi orang yang di rumorkan akan mencapai pratisi qi lapisan ke dua tidak lama lagi."


"Lagi pula bocah itu tidak meng hindarinya dia sudah pasti mati Bagaimana mungkin pratisi qi pemula bisa menahan secara langsung."


"Ku pukir dia tidak akan bisa menghindarinya."


"Benar jika aku yang mendapatkan serangan itu. Aku pasti akan sangat kesulitan."


"Jangan bicara seperti itu. Bahkan seorang pratisi qi lapisan ke dua harus hati-hati jika mendapat serangan itu. Bagaimana mungkin kami dengan kultivasi pratisi qi lapisan pertama bisa menahannya. Bukan begitu saudara junior Li Mingyu?"


Namun Li Mingyu di sisi lain sama sekali tidak bicara. Dia hanya menatap ke arah kabut debu besar di depan dengan tajam. Dia sangat serius yang membuat yang lain kebingungan.


"Ada apa?" Para buronan tua itu bertanya-tanya. Lalu mereka juga melirik ke arah debu besar yang di tatap Li Mingyu dengan serius.


Debu itu perlahn tersapu oleh angin dan memperlihatkan dua siluet yang berdiri. Itu terlihat siluet orang yang menebas pundak yang lain. Perlahan debu tersapu dan dua sosok menjadi lebih jelas.

__ADS_1


Gu Wei dengan pedang terhundur ke depan menebas pundak Sheng Feng. Dan itu telah memotong beberapa inci kebawah. Sheng Feng hanya bediri di depannya sambil menggenggam pedang itu agar tidak memotang terlalu jauh. Tangan Sheng Feng yang memegang bila pedang itu berdara.


Sheng Feng seperti tidak merasakan rasa sakit dari luka yang ia derita. Dia melah tersenyum seperti orang gila. Dengan banyak darah yang di sekujur tubuhnya dengan satu mata yang berwarna merah membuatnya terlihas sangat ganas.


Gu Wei menatap Sheng Feng dengan pandangan tidak percaya sekaligus ketakutan. Namun dia tidak ingin di permalukan jadi dia terus menekan pedangnya untuk memotong Sheng Feng.


"Haha jadi kau Li Mingyu itu ya, jadi kau Li Mingyu, jadi kau Li Mingyu." Sheng Feng mengulangi kata-kata itu terus menerus. Dia seperti ingin merobek daging dari orang yang ada di depannya menjadu sepulu ribu keping.


Di menggertakan giginya dan menatap lurus ke arah Gu Wei. Mata kirinya bersinar dengan cahaya kemerahan.


"Mata ibil pemusna," teriak Sheng Feng.


Gu Wei langsung merasakan kepalanya telah pecah. Dia merasa ada yang hancur dalam dirinya.


"Aargggg."


Dia berteriak lalu kehilangan energi dan pedangnya terjatuh begitu saja. Pada saat yang sama tekanan tubuh Sheng Feng meningkat yang membuat Li Mingyu dan yang lainnya mengetahui kultivasinya.


"Pratisi qi lapisan ke3!" seru mereka bersamaan.


Ahkirnya Li Mingyu tau kenapa dia merasakan tekanan yang tidak biasa beberapa saat yang lalu. Ternyata bocah itu memiliki kultivasi yang lebih tinggi dariku! Tapi bagaimana mungkin? Mungkinkah itu karena dia mendapatkan sumber qi sejati?


Ya, itu adalah satu-satunya penjelasan yang dapat menjelaskan hal ini.


"Apa yang kau katakan tadi?"


Sheng Feng mencengkram kepala Gu Wei yang berteriak kesakitan. Perlahan luka-luka yang Sheng Feng derita dari serangan tadi sembuh. Gu Wei mendengis menahan rasa sakit yang ia derita. Dia menatap Sheng Feng seperti melihat monster.


"Penempaan tubuh mayat," gumam Sheng Feng


Kabut darah keluar dari jari Sheng Feng yang mencengkram kepala Gu Wei. Vitalitas Gu Wei secara perlahan terkuras. Tububnya perlahan mengering dia berteriak dan berteriak seakan merasakan penyiksaan paling menyedikan di dunia.


Dan hal terahkir yang ia katakan adalah. "A,aku bukan, Li."


Namun dia terlanjur mati, tubuhnya kering seperti mummi yang mati ribuan tahun. Dia jatuh begitu saja seperti benda yang tidak berharga.


Adegan ini membuat semua orang terdiam. Keringat dingin keluar dari kulit kepala mereka. Suasana menjadi sunyi hanya hembusan angin yang berlarian membawah dedaunnan kering kesana-kemari.


Sheng Feng tidak lagi perduli akan hal itu. Dia berdiri tegak dan menatap ke arah keenam orang yang berdiri di atas sana. Tatapa tajamnya seakan menusk jantung ke enam dari mereka.

__ADS_1


"Jadi yang mana Li Mingyu?" tanyanya lagi.


__ADS_2